Skip to content Skip to sidebar Skip to footer

BUSANA PEREMPUAN REJANG: DARI CAK DAS HINGGA BAJU KURUNG

Perempuan Rejang dan para penari kejei berbaju kurung, di Kesambe, ca. 1920-1930
sumber: KITLV
Pertemuan

Pada Juli 2026, Bang Rais, salah seorang peneliti senior di Balai Pelestarian Kebudayaan Provinsi Bengkulu meminta kesediaan saya menjadi narasumber untuk seorang mahasiswi dari Universitas Negeri Jakarta yang tengah melakukan penelitan tentang baju kurung di Bengkulu. Setelah saya bersedia, saya pun dihubungkan dengan mahasiswi tersebut. Dari wawancara daring yang dilakukan, akhirnya terpikir juga oleh saya untuk menulis tentang busana tradisional, khususnya busana perempuan Rejang. Tentu saja, karena saya tidak punya banyak pengetahuan tentang dunia fashion atau pun teori-teori busana, dalam tulisan ini saya lebih fokus pada bagaimana perkembangan busana orang Rejang hingga kemudian mengadaptasi busana "luar" ke dalam kebudayaan mereka. Tulisan ini merupakan sebuah "rangkuman" dari diskusi yang saya lakukan bersama mahasiswi itu.

Salah satu perdebatan yang hingga kini masih muncul dalam kajian budaya Rejang adalah mengenai pakaian asli masyarakat Rejang. Sebagian kalangan beranggapan bahwa baju kurung merupakan pakaian adat perempuan Rejang yang telah diwariskan secara turun-temurun. Di sisi lain, terdapat pandangan yang menyatakan bahwa pakaian asli perempuan Rejang sesungguhnya adalah cak das, yakni kain yang dililit dan diikat sebatas dada, sementara baju kurung merupakan pengaruh yang datang belakangan.

Perdebatan ini sering kali berakhir pada pertanyaan sederhana, tetapi sesungguhnya sulit dijawab secara hitam-putih: manakah yang benar-benar merupakan pakaian asli Rejang? Jawabannya tidak sesederhana memilih salah satu. Justru ketika berbagai sumber lisan, dokumentasi foto lama, dan catatan etnografi disandingkan, tampak bahwa sejarah busana perempuan Rejang merupakan sebuah proses perkembangan yang panjang. Kebudayaan Rejang tidak berhenti pada satu bentuk pakaian, melainkan mengalami adaptasi tanpa kehilangan identitasnya.

Cak Das: Jejak Busana Tertua Perempuan Rejang

Dalam tradisi lisan masyarakat Rejang dikenal istilah cak das, yang secara harfiah berarti ikatan atas. Sebagaimana istilah cak uleu berarti ikat kepala, maka cak das merujuk pada kain yang dililit mengelilingi tubuh perempuan dan diikat sebatas dada.

Bentuk pakaian seperti ini bukanlah sesuatu yang asing di Nusantara. Sebelum pakaian berjahit dikenal luas, berbagai masyarakat di Sumatra, Jawa, Bali, hingga Indonesia bagian timur mengenakan busana berbasis kain lilit. Namun menariknya, perempuan Rejang tidak hanya mengenakan kain lilit tersebut. Berdasarkan tradisi lisan, mereka juga melengkapinya dengan kain lain yang disampirkan untuk menutupi pundak dan dada, menjulur hingga ke bawah tubuh. Kain tambahan inilah yang menjadi salah satu ciri penting dalam tata busana perempuan Rejang. Ia bukan sekadar aksesori, melainkan bagian dari konsep berpakaian yang telah berkembang sebelum masyarakat mengenal baju kurung.

"Hingga kurun 1990-an, penulis masih bisa menemui perempuan-perempuan Rejang yang pulang dari mandi di sungai atau pancuran di pinggir desa pada petang hari, mengenakan cak das berupa selembar kain atau handuk lebar untuk menutupi tubuhnya. Selain itu, mereka juga mengenakan kain lain yang dipakai untuk menutupi pundak dan dadanya. Namun, dengan berkembangnya konsep kamar mandi dan juga penurunan kualitas dan kuantitas sungai pemandangan ini sudah hampir punah untuk dapat dilihat lagi" 

Dua perempuan muda menggunakan cak das dan penutup pundak, akan ke air
sumber: KITLV
Salah satu dokumentasi yang sangat menarik memperlihatkan dua gadis Rejang sedang membawa kendil labu, kemungkinan dalam perjalanan mengambil atau membawa air. Kedua gadis tersebut tampak mengenakan: kain yang dililit hingga sebatas dada (cak das); kain tipis berlengan panjang yang menutupi pundak dan lengan; tanpa menggunakan baju kurung. Foto ini memiliki nilai sejarah yang tinggi karena memperlihatkan busana sehari-hari, bukan pakaian upacara.

Dari foto tersebut tampak bahwa konsep berpakaian perempuan Rejang bukan hanya berupa kain lilit, tetapi juga telah mengenal lapisan penutup tubuh bagian atas. Dengan demikian, ketika kemudian baju kurung mulai digunakan, masyarakat Rejang sebenarnya telah memiliki tradisi menutup pundak dan dada sejak sebelumnya.

Kapan dari Kain Lepas yang Dililit ke Kain Berjahit?

Salah satu persoalan mendasar dalam kajian sejarah busana Rejang adalah belum ditemukannya sumber primer yang secara eksplisit mencatat kapan baju kurung mulai digunakan oleh masyarakat Rejang. Ketiadaan sumber tersebut menyebabkan setiap upaya penanggalan harus dibangun melalui pendekatan tidak langsung, yakni dengan menggabungkan tradisi lisan, dokumentasi visual, serta konteks sejarah hubungan budaya di Sumatra bagian selatan.

Dua Ano Sanggeui latihan menari kejei. Sketsa van Hasselt (1891)
Sumber: Hasselt, 1891

Dokumentasi visual tertua yang sejauh ini diketahui berasal dari sketsa karya A.L. van Hasselt tahun 1891 yang menggambarkan dua penari Kejei perempuan (anok sangei). Meskipun berupa sketsa, bukan fotografi, gambar tersebut memperlihatkan pakaian berlengan panjang dengan potongan longgar yang secara morfologis sangat dekat dengan bentuk baju kurung. Sebagai sumber sejarah, sketsa tentu tidak dapat diperlakukan sebagai representasi fotografis yang sepenuhnya akurat. Namun, ia tetap memiliki nilai etnografis karena dibuat berdasarkan pengamatan langsung terhadap masyarakat Rejang pada akhir abad ke-19.

Dokumentasi tersebut kemudian diperkuat oleh sejumlah foto awal abad ke-20 yang memperlihatkan perempuan Rejang, baik dalam konteks upacara adat maupun busana pengantin, telah mengenakan baju kurung yang dipadukan dengan kain songket, perhiasan dada, serta tata hias kepala khas Rejang. Konsistensi kemunculan bentuk busana tersebut dalam berbagai dokumentasi yang berbeda menunjukkan bahwa pada pergantian abad ke-20, baju kurung bukan lagi merupakan unsur asing, melainkan telah menjadi bagian yang mapan dalam tata busana adat masyarakat Rejang.

Dengan demikian, batas kesimpulan yang dapat ditarik bukanlah bahwa baju kurung mulai dikenal pada tahun 1891, melainkan bahwa pada akhir abad ke-19 penggunaannya telah terdokumentasikan secara jelas dalam lingkungan budaya Rejang. Kemungkinan penggunaannya telah berlangsung lebih awal tetap terbuka, tetapi hingga kini belum tersedia bukti sejarah yang memungkinkan penanggalan tersebut dilakukan secara lebih pasti.

Pertanyaan mengenai asal-usul baju kurung sering kali melahirkan dua pandangan yang sama-sama problematis. Di satu sisi terdapat anggapan bahwa baju kurung merupakan pakaian asli ciptaan masyarakat Rejang. Di sisi lain berkembang pandangan bahwa masyarakat Rejang sekadar mengadopsi budaya Melayu tanpa proses kreatif. Kedua pandangan tersebut sama-sama belum didukung oleh bukti sejarah yang memadai.

Hingga saat ini belum ditemukan data arkeologis, naskah lokal, maupun catatan kolonial yang menunjukkan bahwa masyarakat Rejang mengembangkan secara mandiri tradisi pakaian berjahit yang kemudian dikenal sebagai baju kurung. Di sisi lain, bentuk dasar baju kurung telah lama dikenal dan berkembang di kawasan budaya Melayu, baik di Sumatra maupun Semenanjung Malaya, sehingga sulit untuk mengabaikan adanya hubungan historis antara perkembangan busana tersebut dengan jaringan budaya Melayu yang lebih luas.

"Orang Rejang pedalaman tidak melakukan hubungan langsung dengan dunia Melayu, melainkan melalui berbagai pusat kekuasan"

Namun demikian, menyimpulkan bahwa baju kurung masuk ke Rejang sebagai hasil "peniruan" langsung terhadap budaya Melayu juga merupakan penyederhanaan yang kurang tepat. Sejarah wilayah Rejang menunjukkan bahwa masyarakat pedalaman tidak berhubungan secara langsung dengan seluruh dunia Melayu, melainkan melalui berbagai pusat kekuasaan. Dalam konteks Sumatra bagian selatan, Kesultanan Palembang merupakan salah satu jembatan atau simpul terpenting yang menghubungkan pedalaman dengan jaringan perdagangan, penyebaran Islam, tekstil, serta berbagai unsur budaya dari kawasan pesisir.

Dalam perspektif sejarah budaya, lebih masuk akal apabila baju kurung dipahami sebagai bagian dari proses difusi budaya yang berlangsung secara bertahap melalui jaringan perdagangan dan hubungan politik tersebut. Yang berpindah ke wilayah Rejang bukan semata-mata sebuah pakaian, melainkan juga teknologi menjahit, penggunaan kain tenun berkualitas, serta konsep berpakaian berlapis yang kemudian diolah sesuai dengan sistem busana lokal yang telah ada sebelumnya.

Hipotesis ini memperoleh relevansi ketika dihubungkan dengan tradisi lisan mengenai cak das, yaitu kain yang dililit dan diikat sebatas dada sebagai bentuk busana perempuan Rejang yang lebih tua. Alih-alih menggantikan sistem berpakaian tersebut, baju kurung justru tampak diintegrasikan ke dalamnya. Hal ini terlihat dari tetap dipertahankannya penggunaan kain penutup dada, songket, dan tata perhiasan adat dalam berbagai dokumentasi visual masyarakat Rejang pada akhir abad ke-19 hingga awal abad ke-20. Dengan demikian, baju kurung dalam konteks Rejang lebih tepat dipahami sebagai hasil adaptasi budaya, bukan sebagai ciptaan lokal yang sepenuhnya independen maupun sebagai adopsi pasif dari budaya luar.

Recolorizing by AI

Mungkinkah Penari Kejei Menjadi Kelompok Pertama yang Mengenakan Baju Kurung?

Salah satu hipotesis yang menarik muncul ketika memperhatikan sketsa Hasselt tahun 1891.
Penari Kejei perempuan pada masa lalu merupakan gadis pilihan yang belum menikah dan dipersiapkan secara khusus untuk tampil dalam upacara adat. Status sosial tersebut memungkinkan mereka menjadi kelompok pertama yang mengenakan busana yang lebih mewah atau lebih baru dibandingkan masyarakat umum. 

Baju kurung anok sanggeui penari kejei sejati dilengkapi dengan kain songket yang lebar dan panjang, dipakai dengan cara disampir menutupi pundak dan dada, lalu terjulur hingga ke bawah pinggul (sebagaimana terlihat pada foto paling atas di tulisan ini. Cara berbusana ini adalah kombinasi cara berpakain lama kain penutup pundak dan dada pada cak das dan diteruskan ketika orang Rejang mengadaptasi baju kurung. 

Fenomena serupa banyak ditemukan dalam sejarah kebudayaan Nusantara. Busana pengantin, penari ritual, maupun keluarga elite sering kali menjadi pelopor dalam penggunaan model pakaian baru sebelum akhirnya diikuti oleh masyarakat luas. Meskipun demikian, hipotesis ini masih memerlukan penelitian lebih lanjut melalui dokumentasi sejarah maupun tradisi lisan dari berbagai wilayah Rejang.

Mengapa tidak mengembalikan pakaian adat kepada cak das?

Dalam beberapa tahun terakhir muncul gagasan untuk merevitalisasi pakaian adat Rejang dengan mengembalikan bentuk berpakaian perempuan kepada cak das. Sebagai upaya pelestarian budaya, gagasan tersebut tentu memiliki dasar yang kuat karena cak das memang merupakan salah satu lapisan tertua dalam sejarah busana perempuan Rejang. Namun jika revitalisasi hanya berorientasi pada menghidupkan kembali cak das dan mengabaikan perkembangan berikutnya, maka pendekatan tersebut menjadi kurang adil terhadap sejarah kebudayaan Rejang itu sendiri.

"Baju kurung bukan lagi sekadar pengaruh luar. Selama lebih dari satu abad, baju kurung telah menjadi bagian dari identitas visual masyarakat Rejang. Ia hadir dalam busana pengantin, busana penari Kejei, hingga pakaian adat yang terdokumentasi dalam berbagai foto sejarah. Dengan demikian, baju kurung juga telah menjadi bagian dari perjalanan budaya Rejang"

Salah satu kekeliruan dalam memahami budaya adalah anggapan bahwa suatu kebudayaan hanya dianggap asli apabila tidak pernah berubah. Padahal hampir semua kebudayaan besar di Nusantara berkembang melalui proses adaptasi. Aksara mengalami perubahan. Rumah adat mengalami penyesuaian. Peralatan hidup berkembang. Begitu pula dengan pakaian.

Yang penting bukanlah apakah suatu unsur berasal dari luar, melainkan bagaimana masyarakat mengolah unsur tersebut hingga menjadi bagian dari identitasnya sendiri. Dalam konteks inilah masyarakat Rejang memperlihatkan kemampuan yang luar biasa. Mereka tidak kehilangan identitas ketika mengenal baju kurung. Sebaliknya, mereka menjadikan baju kurung sebagai bagian dari tata busana adat Rejang yang khas.

Penutup

Jika harus menjawab pertanyaan mengenai pakaian asli perempuan Rejang, maka jawaban yang paling proporsional bukanlah memilih antara cak das atau baju kurung. Bentuk busana tertua yang masih dapat ditelusuri melalui tradisi lisan tampaknya adalah cak das, yaitu kain yang dililit dan diikat sebatas dada, dilengkapi dengan kain penutup bahu dan dada.

Dalam perkembangan berikutnya, masyarakat Rejang mulai mengenal baju kurung, kemungkinan melalui jaringan budaya Sumatra bagian selatan, termasuk pengaruh Kesultanan Palembang. Namun baju kurung tidak menggantikan sistem berpakaian lama, melainkan diintegrasikan ke dalamnya sehingga melahirkan bentuk busana adat Rejang yang terdokumentasi sejak akhir abad ke-19 hingga awal abad ke-20.

Oleh karena itu, sejarah busana Rejang tidak seharusnya dipahami sebagai pertentangan antara cak das dan baju kurung, melainkan sebagai sebuah proses kebudayaan yang dinamis. Cak das merupakan fondasi awal tradisi berpakaian perempuan Rejang, sementara baju kurung adalah hasil adaptasi kreatif yang telah menjadi bagian sah dari identitas budaya Rejang selama lebih dari satu abad. Memahami kedua lapisan sejarah ini secara utuh akan memberikan dasar yang lebih kuat bagi upaya pelestarian dan revitalisasi pakaian adat Rejang di masa kini, tanpa harus menghilangkan salah satu bab penting dalam perjalanan kebudayaannya.

Bagaimana dengan busana kaum lelaki Rejang, bagaimana mereka bisa menerima jas sebagai bagian busana "adat" mereka? Hm, itu akan jadi tulisan tersendiri nantinya 😉

Emong Soewandi
Emong Soewandi Blogger sejak 2012, dengan minat pada sejarah, sastra dan teater

Post a Comment for "BUSANA PEREMPUAN REJANG: DARI CAK DAS HINGGA BAJU KURUNG"