Skip to content Skip to sidebar Skip to footer

TIGA PUISI DALAM ANTOLOGI KEMALA

TIGA PUISI DALAM ANTOLOGI "KEMALA",
70 TAHUN PENYAIR AHMAD KAMAL ABDULLAH, 2011

Penerbit Hasandi, Kuala Lumpur, 2011

KEPADA ORANG-ORANG YANG MERENUNG
LALU MENARUH HARAPNYA PADA MIMPI


orang-orang kalah.
tersisi dari gempuran ombak yang mempias-piaskan
cahaya bulan. kota-kota memperpendek malam.
matahari mereka yang dulu setia telah terikat di
tengah jalan yang selalu sibuk. peradaban ribut
telah memerangi lelap-tidur hingga gugur. mimpi
lalu mati, mimpi terserak.
seperti kembang dihancurkan kumbang lalu terkubur di waktu.

padahal mimpi adalah tempat terakhir untuk bercinta
maka di kotaku tak ada saat lagi untuk mencipta puisi,
kala sudah membunuh segala sepi dengan terang
dan suara. hening jadi puing kenangan yang
kemudian dimonumenkan
tapi bukan sebagai pahlawan
hanya pecundang yang terelakkan dalam semua
kesempatan cerita

mari
lantaran luka jadi bersama
kita yang tersisa melangkah menuju hutan
sebelum senja. kita cari telaga yang dulu selalu
dikabarkan berpagar bunga bakung.
bawa sisa keinginan untuk menang atas nama
pencarian yang panjang. lalu bergegas membangun
gubuk perlindungan dari jurang dan lelah.
lalu tidur dan merebut lelap.

kepahiang, 15 desember 2006


PERJALANAN DALAM TAHAJUD

kalau tidur memang telah jadi tepian maut
sebelum tikungan maka turunkanlah kecepatan
hentikan malam sejenak
ke sisian. tempat petualang sering menjumpa kekasihnya
biar sebentar singgah untuk ziarahi suka-duka abadi
dan sekedar bertanya kita pada siapa pun di sana
atau melihat peta kota di persimpangan
seperti apa keinginan harus diujungkan

sementara engkau pun tahu
bahwa kehidupan adalah jalan raya
dalam kota yang sibuk ini untuk perjalanan panjang
di mana kita selalu perlu kendaraan yang baik
untuk membataskannya
mari
hentikan malam sejenak
ke sisian. tempat petualang sering menjumpa kekasihnya

kepahiang, 29 september 2008


KAFILAH

(padang-padang memang terlalu cepat memetang)

malam tak berpelana
lalu menunggangnya?
mengejar jenjang
tersandar di pagi

- memanjati matahari di ketinggian
sembilu!

kafilah tak banyak waktunya
lelah dan rehatnya
hitam biru hitam langitnya

pun

tak ada mengeluh
: aku jenuh

kepahiang, 5 agustus 2010
Emong Soewandi
Emong Soewandi Blogger sejak 2014, dengan minat pada sejarah, sastra dan teater

Post a Comment for "TIGA PUISI DALAM ANTOLOGI KEMALA"