Skip to content Skip to sidebar Skip to footer

PENJUAL KAIN KASUR KELILING

Penjual Kain Kasur Keliling

di pendakian

Perjumpaan

Sebulan atau dua bulan sekali aku bersama keluarga biasanya pulang ke Curup mengunjungi orang tuaku, di sebuah rumah tua tempat ayahku menjalani hari-hari tuanya. Sendiri, sejak ditinggal ibu yang telah berpulang hampir 4 tahun lalu.

Curup adalah sebuah kota kecil yang dikelilingi pegunungan, kurang lebih 75 km dari Bengkulu dan 25 km dari kota Kepahiang tempat aku bekerja dan kini bermukim bersama keluarga. Biasanya aku bersama keluarga menginap satu atau dua malam di sini.

Sore hari dengan mengajak dua bocah lanangku, kami mengelilingi kota dengan menggunakan sepeda motor milik ayah. Nah, pada suatu tempat di pinggiran kota, aku tengah berdiri di pinggiran sebuah tebing untuk mencari-cari obyek yang bagus untuk dipotret, saat itulah aku sempat kaget menyaksikan sebuah pemandangan yang aku kira tak akan pernah aku lihat lagi.

Tukang jual kain kasur keliling!

mendaki kehidupan?

Ya, penjual kasur keliling yang menggunakan sepeda. Sungguh, sudah lama sekali aku tidak melihatnya. Tercengang aku beberapa lama. Terpesona, bahwa hari ini masih ada penjual kain kasur keliling, yang saat kecil itu sangat kukenal teriak-teriakan khasnya.

masih ada dakian lain

Kaiiiiiiiin (jeda) kasuuuuuur (jeda) kaiiin! (jeda) Suuuuuur (jeda) kain kasuuuuuur (melemah)

Teriakan itu terus diulang-ulangnya, dengan suara yang lantang. Pelan dia mengayuh sepeda, dimana pada stang bertumpuk kain kasur, sedangkan di bangku belakang tegak karung yang berisi penuh kapuk. Di karung itu juga biasanya terikat sebuah kayu kurang lebih berukuran 1,5 m, gunanya untuk mendorong dan menyusun kapuk-kapuk, jika sedang rezeki ada pelanggan yang mau mengisi ulang kasurnya yang sudah kempes. Bahkan, saat kecil dulu pernah aku lihat seorang penjual kain kasur yang membawa karung kasur di kepalanya. Sungguh hebat dia berakrobat, menjaga keseimbangan sepedanya di atas aspal jalanan yang masih sangat compang-camping waktu itu.

Dan hari ini, ternyata masih ada kutemui, penjual kain kasur keliling! Walaupun tidak disertai dengan teriak-teriak "trademerk"-nya lagi, tetapi bentuk rupanya belum berubah dari yang pernah kukenal saat kecil dulu. Bersama kawan-kawan lainnya, bagaimana dulu kami berlarian gembira mengiringi tukang kasur itu ketika masuk kampung kami, sambil ikut berteriak-teriak: kain kasur! kain kasur! Ada seorang kawan yang ikut mengiring berlarian sambil menghela sebuah ban sepeda bekas. Tukang kasur itu tersenyum saja melihat tingkah kami.

Tukang patri keliling dengan alat panggilnya yang khas, tak usahlah diceritakan lagi, telah berserpih jadi kisah masa lalu. Tukang kerupuk keliling, tidak lagi berjalan kaki menggendong sebuah kaleng bulat raksasa, yang jika berjalan akan seperti orang menari, maka hari ini mereka telah menggunakan sepeda motor, kaleng bulat raksasa telah digantikan dengan kantung plastik besar yang lebih ringan. Tukang-tukang sayur keliling pun rata-rata sudah menggunakan sepeda motor, demikian juga tukang bakso, siomay bahkan bibi tukang jamu.

Tetapi, ini, tukang kasur keliling, masih dalam bingkai lama, sepeda onthel! Tidak seperti sepeda jengki, yang bersifat gender (desainnya bisa dipakai baik laki-laki atau wanita), maka sepeda yang kulihat itu, dengan adanya pipa besi dari sadel ke tiang kemudi, jelas itu adalah sepeda onthel laki-laki. Ukuran sepeda onthel juga lebih besar dan tinggi dibandingkan sepeda jengki.

Tahukah dia, jika jenis sepeda yang ia pakai itu sekarang sudah tergolong barang antik yang bisa berharga mahal? Apakah tak terpikirkan olehnya untuk menjual sepeda itu. Atau, apakah kenyataannya sepeda itu memang tidak layak jual lagi.

Saat penjual itu harus turun dari sepeda tuanya, karena tidak terkayuh di sebuah pendakian, tanpa sadar aku mengambil gambarnya beberapa kali dari sebuah tebing di atas jalan itu. Tertatih ia menuntun sepedanya untuk menaiki jalan mendaki yang cukup panjang itu. Pakaiannya lusuh, sedangkan keringat membanjiri tubuhnya, hingga nyaris badannya tenggelam dalam peluh.

Lelahkah dia? Tak perlu aku jawab, karena asal tahu saja, bahwa pendakian yang dilaluinya itu bukanlah satu-satunya; sebagai sebuah wilayah yang berada di pegunungan, tidak ada jalanan yang benar-benar datar di kota Curup.

potret kehidupan

Sungguh, ini luar biasa. Di hari ini, sore ini, di kota masa kecil dan remajaku, aku kembali melihat seorang penjual kain kasur keliling. Mungkin telah seperempat abad lebih aku tak pernah melihatnya.

Apakah masih ada yang lainnya, atau apakah dia satu-satunya penjual kain kasur keliling dia di kota ini? Mungkinkah dia adalah sisa dari sebuah masa lalu yang masih bertahan hidup dalam peradaban “springbed” pada hari ini?

All photos: Private Collection
Taken by: Canon EOS 100D
x

Emong Soewandi
Emong Soewandi Blogger sejak 2014, dengan minat pada sejarah, sastra dan teater

Post a Comment for "PENJUAL KAIN KASUR KELILING"