Skip to content Skip to sidebar Skip to footer

HIDUP BERSAMA TINNITUS

Hidup Bersama Tinnitus

Hingga hari ini, tak ada hari-hari sepi lagi dalam kehidupanku. Tak ada hening yang hampa suara lagi, karena definisi kata itu sudah menjadi sangat relatif sekali, sekejap be-revolusi sudah jadi peyoratif. Dan ini, ini bukanlah idiomatik sederetan kata-kata puitis, atau semacam metafora, tetapi sebaliknya, ini adalah realita di mana aku harus pasrah menerima kondisi nyata apa yang telah terjadi pada indera pendengaranku.

Kecuali saat aku terlelap, maka suara denging panjang setiap saat selalu aku dengar. Tak akan pernah bisa kuhindari, tak pula guna menutup telinga, karena memang suara bising itu sendiri berada dalam tubuhku. Tepatnya, dia berada di dalam telinga.

Bagaimana bunyi dalam telingaku itu? Ya, bisa aku gambarkan sebagai nada tunggal bunyi jangkrik yang tak berkeputusan. Monoton tanpa irama, denging datar.

Ya, itulah tinnitus.

Tinnitus permanen! Begitu vonis dokter, Oktober 2013 lalu. Itu artinya organ dalam telingaku sudah mengalami kerusakan parah. Denging yang selalu ada di telingaku harus dioperasi dan diterapi secara serius, tidak bisa hanya sekedar diobati hasil dari mengunjungi dokter THT di rumah sakit saja lagi.

Memang tidak ada keluhan-keluhan lainnya. Ini juga masih patut aku syukuri, karena tinnitus yang aku alami merupakan kondisi yang umum dialami oleh penderita tinnitus lainnya, yakni hanya ada denging panjang di dalam telinga serta turunnya kualitas pendengaran.

Image Source

Mengapa masih mesti bersyukur?

Beberapa kisah kawan, bahkan mengalami tinnitus pada tingkat yang begitu parah, memunculkan depresi pada penderitanya, hingga membuat kualitas hidup yang bersangkutan pun menjadi merosot. Sebagaimana seorang tinnie (ini sebutan "gaul" yang dipergunakan oleh sesama penderita tinnitus) berkisah, bahwa bukan lagi sekedar denging di telinganya, tetapi raungan kecil yang ia dengar, dan itu dialami kedua telinganya. Kondisinya ini sering juga diperparah dengan munculnya sakit kepala, rasa mual dan pusing. Situasi ini begitu menyiksanya, hingga membuatnya pernah sempat berpikir untuk bunuh diri saja.

Bagaimana awal aku menderita tinnitus?

2012 lalu, aku bersama anak-anak berenang di sebuah pool renang dekat rumah orang tuaku di Curup, sebuah kota kecil ibu kota Kabupaten Rejang Lebong, Provinsi Bengkulu. Sempat telingaku kemasukan air, hal yang wajar saja kukira yang akan dialami oleh banyak orang saat berenang. Air itu bisa aku keluarkan dengan cara-cara yang sudah sangat aku pahami, karena dari sejak kecil dulu sudah melakukannya. Cara itu adalah memasukkan sedikit ke telinga yang bermasalah, ketika terdengar suara air masuk, dengan cepat kepala dimiringkan ke arah berlawanan, agar air di dalam telinga tadi bisa keluar. Cara ini selalu sukses, terbukti suara dengung karena guncangan air dalam telinga tidak terdengar lagi, pertanda air sudah keluar dari telinga.

Namun, malamnya, tiba-tiba saja telinga kananku seperti kehilangan kemampuan mendengar. Kututup telinga kiri, maka hampir tak ada suara yang bisa ditangkap telinga kanan. Aku menjadi sangat panik. Penuh kegugupan berusaha menemukan cara apa yang harus dilakukan. Kugosok-gosok telingaku, mengorek-ngoreknya, memancing memasukkan air, tetapi semua itu tak ada gunanya. Telinga kananku tiba-tiba telah menjadi tuli!

Besoknya, aku ke rumah sakit umum kota Curup. Dari dokter yang memeriksa, aku mendapat keterangan bahwa ada pengerakan dalam rongga telingaku, yang disebabkan oleh air yang masuk ke telinga. Dokter memberiku obat tetes telinga, dan menyuruh aku kembali periksa 4 hari lagi.

Selama empat hari itu aku rajin menggunakan obat yang diberikan oleh dokter. Siapa yang mau tuli? Aku juga tidak mau. Mengendarai mobil sangat membutuhkan telinga yang baik. Aku sudah merasakan, bagaimana dalam empat hari itu aku mengalami siksaan saat mengendarai mobil saat pergi ke kantor atau bersama keluarga. Apalagi telinga kanan berhadapan langsung dengan situasi di luar jendela. Aku tak bisa mendengar suara di luar, deru kendaraan lain di sisi dekat mobilku, bahkan tak ada bunyi klakson yang terdengar oleh telinga kananku.

Sangat menyiksa sekali. Begitu panik, sampai aku berpikir bagaimana saat itu aku punya cara untuk memindahkan setir mobil ke sebelah kiri.

Tiga hari setelah dari rumah sakit dan rutin memakai obat tetes yang diberikan, pendengaranku perlahan pulih kembali. Telinga kananku telah berfungsi kembali, walaupun tidak begitu maksimal lagi seperti sebelum kemasukan air kemarin.

Saat malam, dalam suasana sepi aku merasakan mendengar denging panjang. Kukira itu wajar-wajar saja, karena setiap orang pasti akan mengalami telinga berdenging, Namun, denging itu tidak hilang-hilang, bahkan telah terdengar bising, walaupun sudah kugosok-gosok telingaku. Hingga bangun tidur esok harinya suara denging itu masih ada, bahkan semakin mengeras volumenya.

Kembali ke rumah sakit, aku pun membawa keluhan baru, telinga berdenging tak putus-putus. Dan di rumah sakit aku pun kemudian mendengar sebuah kata yang belum pernah aku dengar sebelumnya: tinnitus!

Berbagai upaya pengobatan untuk menghilangkan tinnitus sudah aku jalani. Untuk mengobati tinnitus ini, rasa sakit yang rasanya sampai ke otak, sementara tangan mencengkeram kuat pinggiran meja operasi, karena telinga dijejali selang-selang beraneka rupa sudah 2 kali aku rasakan. Lebih baik pingsan saja rasanya, daripada merasakan bagaimana rongga dalam telinga diobok-obok. Sakitnya tak terbayangkan. Sakit sekali. Hasilnya? Telingaku menjadi bersih, kemampuan dengar menjadi lebih baik, namun... tinnitus tetap ada.

Termasuk beberapa cara alternatif juga sudah aku lakukan, salah satunya dengan terapi lilin. Namun, cara ini tetap tidak bisa menghilangkan atau sedikit membuat lebih pelan lagi volume suara denging dalam telingaku.

Dengan enggan-engganan, ide pengobatan tradisional yang diusulkan pun aku terima juga. Nasi panas digulung dalam daun pisang yang berbentuk kerucut. Ujung kerucut diletakkan di pintu rongga telinga. Dari bagian yang menganga nasi ditiup-tiup, hingga udara panas atau hangat masuk ke telinga. Tetapi, ini juga sama sekali tak membantu, tinnitus lekat menempel di kehidupanku.

Terakhir ke dokter spesialis 2013 lalu. Saat itulah aku menerima vonis: tinnitus permanen.

Apa yang harus aku lakukan selanjutnya adalah melakukan proses habituasi (pembiasaan). Melalui proses atau kegiatan ini, aku harus bisa mampu berdamai dengan tinnitus. Jika habituasi telah tercapai, maka tinnitus pun tidak akan terasa menjadi gangguan dalam menjalani kehidupan, dengan menjadikan suara-suara denging itu adalah bagian dari diri sendiri.

Proses pembiasaan ini sendiri memang sudah aku lakukan sebelum aku divonis tinnitus permanen. Ini kadang berjalan tidak mudah, karena aku harus bisa menyisihkan tinnitus agar lebih konsentrasi dengan suara luar. Bahkan, di tengah jalanan yang sibuk atau di sebuah keramain pesta, bunyi-bunyi di luar tak bisa sedikit pun menyamarkan suara bising dalam telingaku. Apalagi jika berada dalam situasi yang overlapping, dimana bunyi-bunyi seperti desis nyata, suara jangkrik atau desis serangga lainnya yang tidak bisa aku bedakan dengan tinnitus, bisa membuat aku emosi dengan stres yang hampir tidak terkontrol.

Situasi yang disebut hyperacusis ini dapat membuat penderita tinnitus sangat sensitif dengan suara, di mana suara-suara yang overlapping tadi akan dirasakan sebagai peningkatan volume bising tinnitus.

----------------------------------------
Apa yang bisa dilakukan untuk membiasakan diri terhadap tinnitus? Inilah yang aku lakukan, dan masih terus kulakukan:

DAMAI

Menerima tinnitus dengan damai. Berkontemplasi, menenangkan diri beberapa waktu, mengatur napas dengan teratur, lalu menikmati denging yang begitu dekat dengan kita itu. Tindakan emosional penolakan terhadap tinnitus hanya akan memperburuk keadaan, menimbulkan marah, lalu stres akan meningkat, yang berujung akan membuat parah keadaan tinnitus.

Sempatkan selalu untuk berkontemplasi. Kebetulan aku sendiri adalah pegiat teater, kegiatan kontemplasi dengan cara pemusatan pikiran yang sering dipraktikkan dalam latihan teater, ternyata sangat membantu saya untuk berdamai dengan tinnitus.

Move on, tak usah menyalahkan tinnitus, tak perlu lagi juga menyalahkan diri sendiri mengapa "terpilih" untuk menjadi penderita tinnitus.

SENYUM
Saat volume tinnitus terasa menguat, tenangkan diri. Tersenyumlah dengan bahagia. Tidak usah berpura-pura tidak mendengar denging itu.

SIBUK
Kesibukan-kesibukan bisa "menjauhkan" tinnitus dari kita. Carilah aktivitas yang tidak berkaitan dengan indera pendengaran, agar tinnitus tidak mengganggu konsentrasi kegiatan. Fokuslah pada aktivitas yang sedang dilakukan dengan sepenuh hati, agar kita tidak terkonsentrasi ke tinnitus.

Aku menulis juga punya blog, hobi bertanam anggrek, juga suka petualangan alam. Tiga aktivitas ini telah membantuku "jauh" dari tinnitus.

Ada baiknya, pada awal-awal hindari atau kurangi dulu aktivitas yang menggunakan telinga, seperti mendengar/bermain musik, karena nada-nada monoton pada tinnitus akan sangat mengganggu musik yang merupakan nada-nada berirama atau variatif, yang ingin kita simak. Aku sendiri pernah mengalami, bagaimana hampir membanting biola, karena suara denging tinnitus telah mencampur aduk bunyi gesekanku di dawai biola.

DOA
Doa yang terbaik adalah meminta kepada Yang Kuasa agar kita tabah untuk menjalani hari-hari bersama tinnitus.
------------------------------------------------------

Aku tak begitu terganggu lagi dengan tinnitus. Bahkan, dengan masih terus melakukan pengobatan reguler ke rumah sakit, Alhamdulillah, suara denging itu aku rasakan tidak terasa kuat dan bising lagi. Hanya saja, di malam yang biasa selalu sepi, dekat, begitu dekat desis dan denging membuat aku tersadar, bahwa aku penderita tinnitus. Pun, dalam kondisi tubuh lelah atau kurang tidur, maka suara bising tak putus-putus akan mengencang volumenya. Namun, lagi-lagi aku telah terbiasa, aku tetap bersemangat melaksanakan aktivitas kehidupan seperti menulis, berkesenian, berteater dan bermain biola dan bertanam anggrek.

Telinga adalah salah satu anugerah terbaik dari Tuhan kepada kita. Teman-teman, tinnitus tidak ada hubungannya dengan faktor usia. Tinnitus bisa diderita oleh siapa pun tak pandang usia. Perhatikanlah selalu perlakuan kita terhadap telinga. Hindari mengorek-ngorek telinga, jangan menggunakan headset dengan volume suara yang tinggi, hindari minuman beralkohol, jaga kualitas hidup dengan menjaga tingkat stres dan sesekali konsultasikanlah telinga kita kepada dokter.

Salam Ngiiiiiiiiiing...
Emong Soewandi
Emong Soewandi Blogger sejak 2014, dengan minat pada sejarah, sastra dan teater

11 comments for "HIDUP BERSAMA TINNITUS"

  1. Terima kasih informasinya. Telinga memang organ penting yg mesti kita jaga...

    ReplyDelete
  2. https://www.instagram.com/tv/CBp00oXhYi4

    ReplyDelete
  3. artinya feb jg tinnitus dong pak? telinga jg berdeging, aealmya terganggu kini sudah biasa

    ReplyDelete
    Replies
    1. Permanen atau bersifat temporer, Feb. Tinnitus bersifat permanen. Periksokanlah ke dokter lebih dulu bagusnyo.

      Delete
  4. nah kurang tau tp hampur tiap hari sih, malam malam tedengar nian tp dak bising..awalnya telinga berdenging dan menggangu karena tersumbat trus ke dokter untuk di bersihkan tp heran sudah bersih masih ada denging..akhirnya membiasakan diri karena agak takut ke dokter dan kini jd g terlalu mengganggu, masih trauma saat di bersihkan feb merasa sakit

    ReplyDelete
    Replies
    1. Bisa jadi Feb sudah mengalami tinni ringan. Jago kualitas hidup, jangan terlalu lelah. Tinni permanen kecil kemungkinan bisa sembuh. Tetap semangat....

      Delete
  5. Ada penurunan di pendengaran pada saat sekarang, Mas. Karena saya merasakan tinnitus sepertinya telah menurunkan pendengaran saya

    ReplyDelete
  6. sampai hari ini gimana tinninya, Pak, masih ada atau udah hilang?

    ReplyDelete