Skip to content Skip to sidebar Skip to footer

10 FAKTA UNIK KEPAHIANG

Ilustrasi. Pemandangan dari atas Kampung Bogor, Kepahiang

FAKTA UNIK 1

Kepahiang pernah menjadi ibukota Onderafdeling Redjang dan Kabupaten Rejang Lebong.
Setelah resmi dianeksasi Belanda, pada 1870, Kepahiang ditetapkan sebagai ibukota Onderafdeling Redjang, bagian dari Afdeling Tebing Tinggi, Keresidenan Palembang. Pada 1908 Onderafdeling Redjang menjadi bagian dari Afdeling Lebong, Keresidenan Bengkulu. Terakhir, pada 1922 bagian Afdeling Bengkulu, Keresidenan Bengkulu. Pada masa penjajahan Jepang, Onderafdeling Rejang dan Onderafdeling Lebong disatukan menjadi Gun (Kabupaten) Rejang Lebong beribukota Kepahiang. Penyatuan ini berlanjut hingga Indonesia merdeka, yang ditetapkan melalui Peraturan Pemerintah Nomor 2 Tahun 1945.

Pada 1956 Kepahiang tidak lagi menjadi ibukota kabupaten. Berdasarkan Undang-Undang Darurat Nomor 4 Tahun 1956, Curup ditetapkan sebagai ibukota Kabupaten Daerah Tingkat II Rejang Lebong menggantikan Kepahiang.

Pada 2004, berkat perjuangan panjang para sesepuh di Kepahiang, Kecamatan Kepahiang pun berhasil dimekarkan menjadi Kabupaten Kepahiang, dengan ibukota di Kepahiang. Status ini ditetapkan dengan Undang-Undang Nomor 39 Tahun 2003 Tentang Pembentukan Kabupaten Lebong dan Kabupaten Kepahiang Di Provinsi Bengkulu.

Pranala:

FAKTA UNIK 2

Kepahiang memiliki bahasa daerah asli, yakni bahasa Rejang
Bahasa Rejang merupakan bahasa dengan jumlah penutur terbanyak di Provinsi Bengkulu. Dengan jumlah penutur lebih dari 1 juta orang, bahasa Rejang juga termasuk dalam bahasa daerah terbesar di Indonesia. Terdapat empat dialek besar bahasa Rejang, yaitu Dialek Lebong, Dialek Musi, Dialek Pesisir dan Dialek Kepahiang.

Bahasa Rejang dialek Kepahiang dipergunakan di sebagian besar masyarakat berbahasa Rejang di Kabupaten Kepahiang. Sebagian masyarakat di Kecamatan Merigi menggunakan bahasa Rejang Dialek Musi yang umum dipakai di Kabupaten Rejang Lebong.

Bahasa Rejang dialek Kepahiang pun terbagi atas dua dialek regional atau regiolek, yakni regiolek Pasar Kepahiang dan Regiolek Keban Agung. Regiolek Pasar Kepahiang dipergunakan masyarakat penutur bahasa Rejang di Kecamatan Kepahiang, Kecamatan Ujan Mas dan Kecamatan Merigi. Regiolek Keban Agung umum dipergunakan oleh masyarakat penutur bahasa Rejang di Kecamatan Tebat Karai, Kecamatan Bermani Ilir, Kecamatan Muara Kemumu dan Kecamatan Seberang Musi.

Kecamatan Kabawetan masyarakatnya mayoritas berbahasa Jawa, namun jika mereka bertutur dengan bahasa Rejang, karena lebih dekat dengan masyarakat Marga Merigi, maka akan ada kecenderungan menggunakan regiolek Pasar Kepahiang.

Pranala:

FAKTA UNIK 3

Kepahiang adalah daerah dengan penutur mayoritas berbahasa Rejang yang memiliki perkampungan-perkampungan orang-orang bertutur bukan-bahasa Rejang.
Bahasa Rejang adalah bahasa asli yang dipergunakan oleh mayoritas masyarakat di Kabupaten Kepahiang. Namun, terdapat perkampungan-perkampungan yang tidak menggunakan bahasa Rejang itu. Pasar Tengah di Kecamatan Kepahiang, mayoritas penduduknya berbahasa Melayu Palembang. Desa-desa seperti Nanti Agung, Karang Tengah, Talang Karet, di Kecamatan Tebat Karai dan beberapa desa di Kecamatan Seberang Musi, mayoritas masyarakatnya menggunakan bahasa Serawai. Desa Suro Bali di Kecamatan Merigi mayoritas masyarakatnya menggunakan bahasa Bali. Desa Kampung Bogor dan Bogor Baru masyarakatnya mayoritas menggunakan bahasa Sunda. Pemakaian bahasa Sunda ini juga terdapat di sebagian masyarakat Desa Imigrasi Permu. Secara umum, di wilayah Kecamatan Kabawetan, masyarakatnya mayoritas berbahasa Jawa. Satu desa di Kecamatan Ujan Mas, yakni Desa Suro Lembak, masyarakatnya menggunakan bahasa Lembak Bengkulu. Satu desa di Kecamatan Bermani Ilir, yaknik Desa Bukit Menyan, penduduknya mayoritas berbahasa Jawa. Terdapat pula satu lingkungan pemukiman di Kelurahan Pasar Kepahiang, yaknik Mandi Angin, mayoritas penduduknya menggunakan bahasa Minang.

Keunikan tambahan, walaupun bahasa Rejang merupakan bahasa asli dan keberadaaannya mayoritas, namun bukan menjadi lingua franca (bahasa penghubung) di Kabupaten Kepahiang. Sebagai bahasa penghubung utama dalam komunikasi antar penduduk beda bahasa, masyarakat Kepahiang selalu menggunakan bahasa Melayu Bengkulu.

FAKTA UNIK 4

Masyarakat Kepahiang saling menghargai dan menghormati kehidupan keberagaman
Kepahiang bermayoritas penduduknya berbahasa, berkebudayaan Rejang dan beragama Islam. Namun, dalam mayoritas ini terdapat masyarakat yang berbahasa, budaya dan agama lain.

Ada tiga gereja berdiri nyaman di tengah pemukiman mayoritas penduduk beragama Islam. Dikelilingi oleh desa-desa bermayoritas beragama Islam, Desa Suro Bali, di Kecamatan Ujan Mas, masyarakatnya mayoritas berbahasa Bali dan beragama Hindu. Sementara di Desa Bumi Sari, Kecamatan Merigi, berdiri sebuah vihara pemeluk agama Budha (Vihara Suryabhumi) berdekatan dengan sebuah masjid.

Semua ini hidup dalam kedamaian dan penuh toleransi. Warga-warga yang bertutur dalam bahasa Rejang, Serawai, Sunda, Jawa, Bali, Lembak, Pasemah, Melayu Palembang, Minang dan Tapanuli serta sedikit Tionghoa, semuanya mengaku sebagai Orang Kepahiang.

FAKTA UNIK 5

Kepahiang punya dua pahlawan yang begitu dikenang: Letnan Kolonel Santoso dan Mayor Salim Batubara
Letnan Kolonel Santoso Suriaatmadja dengan jabatan sebagai Komandan Batalyon Bengkulu gugur dalam pertempuran melawan tentara Jepang, November 1945, di Pasar Kepahiang. Mayor Salim Batubara dalam jabatan Komandan Batalyon 28 Sub Teritorium Bengkulu dan Komandan Front Kepahiang gugur saat menyergap tentara Belanda di Penanjung Panjang, Februari 1949.

Nama Letnan Kolonel Santoso telah terabadikan sebagai nama jalan protokol di Kepahiang, juga diabadikan sebagai nama jalan di Kota Curup dan Kota Bengkulu. Mayor Salim Baturabara pun diabadikan sebagai nama jalan di Kepahiang sendiri, di Bengkulu, Curup, Sumatera Selatan dan Lampung.

Fakta lain tentang kedua pahlawan ini adalah tidak bermakam di taman makam pahlawan. Letnan Kolonel Santoso makamnya berada di Pemakaman Umum Pasar Ujung, Kecamatan Kepahiang, sedangkan Mayor Salim Batubara bermakam di Pemakaman Umum Keban Agung, Kecamatan Bermani Ilir.

Referensi:
Batubara, Hamid, Faisal Basri dan Ramdan Malik. Mayor Salim Batubara. Pantang Mundur Membela Negara. Jakarta: IRSA Press, 2021
Soewandi Emong. Perjuangan Rakyat Kota Curup. Curup: Pemda Rejang Lebong. 2000
---------------------. Kepahiang Di Lintas Waktu. Tribute To: Letnan Kolonel Santoso dan Mayor Salim Batubara. Kepahiang: Pemkab Kepahiang. 2020 (naskah)

FAKTA UNIK 6

Kepahiang memiliki kebun teh terluas di Provinsi Bengkulu
Perkebunan teh Kabawetan yang berada di Kecamatan Kabawetan merupakan perkebunan teh terluas di Provinsi Bengkulu. Saat ini, perkebunan itu telah jadi salah satu destinasi wisata unggulan Kabupaten Kepahiang, yang cukup diminati oleh pengunjung, baik dari dalam maupun luar Bengkulu.

Perkebunan ini dibangun oleh Belanda pada awal 1900-an. Belanda membeli hutan-hutan belantara yang luas di kaki Gunung Hitam dari penguasa Marga Merigi. Hutan belantara itu kemudian dibuka untuk dijadikan lahan perkebunan kopi yang dimiliki oleh perusahaan swasta, perladangan padi dan palawija. Kebun-kebun itu diusahakan oleh bekas-bekas kuli pembuatan jalur jalan dari Bengkulu, Taba Penanjung, Kepahiang ke Empat Lawang.

Perkebunan kopi itu kemudian bangkrut dilindas krisis ekonomi dunia pada 1926. Kebun-kebun kopi itu kemudian dibongkar dan digantikan dengan tanaman teh.

Referensi:
Ardiansyah. Perkebunan Teh Kabawetan 1928-1997. Padang: Fakultas Sastra Universitas Andalas. 1999.
Soewandi, Emong. Kepahiang Di Lintas Waktu. Tribute To: Letnan Kolonel Santoso dan Mayor Salim Batubara. Kepahiang: Pemkab Kepahiang. 2020 (naskah)

FAKTA UNIK 7

Kepahiang punya habitat puspa langka Rafflesia Arnoldi dan Bunga Bangkai
Bunga Rafflesia yang menjadi ikon provinsi Bengkulu banyak ditemukan titik tumbuhnya di Kabupaten Kepahiang. Di jalan lintas Bengkulu-Kepahiang, beberapa titik-tumbuh bunga terbesar di dunia itu bahkan cukup mudah untuk dijangkau. Masih kerap juga dijumpai bunga-bunga itu tumbuh tak jauh dari pemukiman penduduk atau kebun-kebun rakyat.

Selain Bunga Rafflesia, di Kepahiang juga banyak habitat tumbuh Bunga Bangkai (Amorphopallus Titanum). Bahkan, bunga tertinggi di dunia ini telah dibudidayakan di sebuah penangkaran yang bernama Taman Amorphopallus. Di Desa Tebat Monok. Taman yang telah menjadi tujuan wisata ini berada di sisi jalan lintas Bengkulu-Kepahiang. Selain Amorphopallus Titanum, di taman ini ditangkar juga jenis-jenis bunga bangkai raksasa lainnya.

FAKTA UNIK 8

Kepahiang memiliki Pembangkit Listrik Tenaga Air (PLTA) terbesar di Sumatera
PLTA Musi merupakan PLTA terbesar di Sumatera, dan terbesar kelima di Indonesia.
Dengan cara membendung Sungai Musi, PLTA Musi merupakan pembangkit listrik dengan tipe Run of River. Bendungan dengan tipe ini memanfaatkan aliran air sungai yang sebagian dilewatkan pada suatu saluran, memutar turbin dan kemudian dibuang kembali menuju sungai induk. Pabrik pembangkit listrik PLTA berada di 400 meter di bawah tanah, yang menjadikannya sebagai salah satu PLTA terdalam di Indonesia.

PLTA Musi mampu membangkitkan energi listrik sebesar 1,150 GWh per tahun dengan kemampuan suplai listrik antara 150 Kv sampai dengan 275 Kv. Dengan daya listrik yang sangat besar ini, maka PLTA Musi menjadi andalan listrik Sumatera, yang saat ini masih merupakan satu-satunya PLTA yang mampu mensuplai listrik ke banyak wilayah di Pulau Sumatera.

Waduk tampung air Sungai Musi sebagai sumber penggerak turbin menjadi sebuah danau buatan, telah dimanfaatkan juga sebagai destinasi wisata. Di danau yang di kelilingi perbukitan yang hijau alam itu, wisatawan dapat mengelilingi danau menggunakan rakit bambu bermotor. Selain itu, telah tersedia juga fasilitas sepeda air dan fasilitas wisata lainnya.

Pranala:

FAKTA UNIK 9

Kepahiang memiliki banyak air terjun
Secara umum perbukitan-perbukitan mengelilingi Kabupaten Kepahiang. Dengan kondisi alam seperti ini, maka banyak sungai yang ada akan menjadi air terjun, karena alirannya untuk menuju laut melalui tebing-tebing atau jurang-jurang. Air terjun-air terjun ini beberapa telah diolah untuk menjadi tujuan wisata, sementara banyak pula lainnya masih bersifat alami, belum diolah sebagai tujuan wisata

Beberapa air terjun yang telah diolah untuk menjadi tujuan wisata:
Air Terjun Donok, di Desa Batu Ampar, Kecamatan Merigi.
Air Terjun Batu Kampit, Air Terjun Bukit Hitam, Air Terjun Sengkuang dan Air Terjun Tangsi Duren di Kecamatan Kabawetan.
Air Terjun Daspetah di Desa Daspetah, Kecamatan Ujan Mas.
Air Terjun Curug Embun, di Desa Nanti Agung, Kecamatan Tebat Karai.
Air Terjun Langkap di Kecamatan Muara Kemumu
Air terjun lainnya di kawasan Bukit Hitam, Kecamatan Kabawetan, juga di Desa Air Selimang, Desa Benuang Galing, Desa Bayung, dalam wilayah Kecamatan Seberang Musi.

FAKTA UNIK 10

Kepahiang adalah tempat Sungai Musi berbelok menuju ke Palembang
Semua sungai besar dan kecil yang ada di Provinsi Bengkulu akan bermuara di Lautan Indonesia yang ada dalam wilayah Provinsi Bengkulu. Tetapi, ini tidak berlaku untuk Sungai Musi.

Kecuali Kecamatan Kabawetan dan Kecamatan Muara Kemumu, Sungai Musi melewati semua wilayah Kecamatan di Kabupaten Kepahiang. Secara geografis, saat mengalir melalui wilayah Kepahiang, jarak Sungai Musi dengan laut sudah cukup dekat, namun di lembah desa Dusun Kepahiang, Desa Tebat Monok dan Desa Kelilik, sungai ini “memilih” berbelok alirannya untuk menuju Palembang. Karena belokan ini juga, Sungai Musi pun hampir mengelilingi separuh Kabupaten Kepahiang, sebelum keluar menuju Provinsi Sumatera Selatan.

Dalam perjalanannya masih sebagai sungai kecil dari mata airnya di Ulu Musi, Kabupaten Rejang Lebong, sungai ini akan menghadang semua sungai yang ada di Kabupaten Rejang Lebong dan Kabupaten Kepahiang. Dengan menjadi muara sungai-sungai yang dihadang itu, semakin menambah debit air dan lebar Sungai Musi.

Uniknya lagi, bersisian dengan Sungai Musi, beberapa sungai di Kecamatan Seberang Musi, seperti Sungai Selimang tetap mengalir menuju laut. Ini terjadi, karena sungai-sungai itu tidak bertemu atau dihadang lagi Sungai Musi. Disebabkan relief alam yang memang penuh perbukitan dan dataran tinggi dan rendah, secara sederhana dapat digambarkan, jika sungai-sungai di Seberang Musi mengalir ke bawah, maka Sungai Musi mengalir ke atas.

Pranala:
Emong Soewandi
Emong Soewandi Blogger sejak 2014, dengan minat pada sejarah, sastra dan teater

15 comments for "10 FAKTA UNIK KEPAHIANG"

  1. wadaai.... aku yg orang kepahiang baru tahu iko. Mokasih, sanak

    ReplyDelete
    Replies
    1. Mokasih jugo, sanak, sudah bekunjung ke blog kito.
      Siapo ini, yo? :D

      Delete
  2. Menarik. Masih ada keunikan lain ttg Kepahiang yng bisa ditulis lagi.
    Semangat selalu

    ReplyDelete
  3. kak, air plta musi dibuang ke daerah susup dan ngalir ke barat (mungkin air senga kalu di peta lamo), idak balik ke sungai musi

    ReplyDelete
    Replies
    1. Terimo kasih informasi tambahannyo. Info ini jugo yang mungkin bisa menjelaskan kenapo sesudah dam Suro debit air Musi yang lewat Kepahiang menjadi kecil. Yo, dak?

      Delete
    2. yo nian. tambah sifat bendungan yang cak kapasitor.
      mokasih tulisannyo selamo ini. mulai baco bulan delapan tahun lalu. tapi baru sekali ni la berani komentar.

      Delete
    3. Terimo kasih. Semoga ado manfaat. Jangan segan eh kalu ado kritik dan masukan

      Delete
  4. aku nih orang payaang.... wkwkwk

    ReplyDelete
    Replies
    1. wkwkwkwk.... khas nian kato2 ini. Caknyo tau aku siapo ini? :D

      Delete
  5. Wai iyo dak, baru sadar, kalu Sungai Musi di Kepahiang tu jadi muara sungai2 di rejang lebong dan kepahiang....
    Mokasih pencerahannyo, Kak

    ReplyDelete