Skip to content Skip to sidebar Skip to footer

DARI BUYUNG KE UJANG TIPI KABEL DAN UPIK GELAMAI



Di kotaku, nama Ujang dan Buyung adalah nama yang sangat umum dipergunakan orang tua untuk memanggil anaknya, tidak peduli anak tersebut suka atau tidak dengan nama panggilan itu. Terpaksa atau dengan sukarela sang anak harus menanggung nama itu sampai dia besar, bahkan sudah tua renta. Ada peluang dia mendurhakai nama pemberian orang tuanya itu, jika pergi keluar dari kota ke kota lainnya, di mana dia bisa mengenalkan dirinya dengan nama yang dianggapnya lebih keren. Tetapi, jika dia bertahan di kota itu, maka sampai kapan pun dia akan terikat dengan nama itu.

Kawan-kawanku saat bocah dulu saja seingatku ada 4 atau 5 yang bernama Ujang, ada 3 bernama Buyung. Itu baru untuk di satu RT saja. Jika aku main ke RT lain, maka akan bertemu lagi dengan orang-orang yang bernama demikan. Adakah pembaca pernah mengenal atau mengingat kata-kata guyonan semacam "Buyung samo Buyung duduk date meja, apo kerjo Buyung, cucuk buntut gajah" (Buyung sama Buyung duduk di atas meja, apa kerja Buyung, menusuk-nusuk buntut gajah)?

Ujang atau Bujang artinya anak laki-laki. Sementara Buyung artinya juga anak laki-laki. Nama panggilan manja ini biasanya diberikan pada anak sulung laki-laki atau satu-satunya anak laki-laki di rumah.

Begitu melekatnya nama panggilan ini, sampai-sampai banyak yang tidak tahu nama asli si Ujang atau Buyung itu. Orang-orang di kampung baru tahu kemudian nama aslinya setelah yang bersangkutan mendapatkan karunia ijazah kehidupan berupa sepotong papan nisan, di mana dapat dibaca nama asli dituliskan.

Bisa jadi juga dengan pemberian nama Ujang atau Buyung ini sekaligus sebagai ruwat bagi sang anak, karena anak sulung, atau anak laki-laki satu-satunya (bahasa Jawa: anak pipilan). Semoga saja statusnya sebagai anak sulung atau anak pipilan ini tidak berpengaruhi terhadap nasibnya untuk menjalani roda kehidupan.

Tentang tradisi pemberian nama di masyarakat Melayu, dapat dilihat di tulisan saya Memberi Nama untuk Tokoh Anonim dalam Folklor di blog ini berjudul Literasi Folklor, Kisah-Kisah Rakyat Untuk Proyeksi Penulisan Naskah Drama (Bagian Ii - Habis)

Tak usahlah kita membayangkan bagaimana jika 11 orang dengan nama Ujang atau Buyung sedang berkumpul, yang selanjutnya bisa saja mereka rapat akan membuat komunitas atau sebuah organisasi kesebelasan sepak bola, semacam Ujang FC misalnya, atau PS Buyung. Cukup dua atau tiga orang Buyung saja yang duduk bersama di atas meja tadi, akan serempak memutar batang leher mereka ketika dari belakang ada memanggil: “Buyung!”, lalu hampir menyerupai sebuar koor mereka akan bernyanyi: “Buyung yang mana?”

Tetapi, dengan kearifan lokalnya, masyarakat pun telah cerdas untuk membedakan Ujang atau Buyung yang satu dengan yang lainnya. Hampir tidak pernah ada kekeliruan, baik bagi Buyung lama atau dengan adanya kemunculan Buyung baru yang mencoba eksis. Sepuluh orang dengan nama Ujang, orang-orang di kotaku tak akan punya masalah untuk membedakannya. Tidak akan pernah salah maksud Ujang yang mana yang dipanggil dalam sebuah komunitas Persatuan Orang Bernama Ujang (POBU)

Ada semacam konvensi, bahwa Ujang-Ujang atau Buyung-Buyung itu akan diberikan tambahan nama belakangnya. Nama tambahan ini biasanya disesuaikan dengan kebiasaan, pekerjaan hingga ciri khas fisiknya.

Dengan konvensi-konvensi ini, maka hadirlah Buyung Hansip, Buyung Sate, Ujang Tipi Kabel atau Ujang Konter. Atau nama-nama berikut:

Buyung Parabola, dengan pekerjaannya tukang instalasi parabola
Buyung Porkas, dulu kerjanya tukang jual kupon-kupon lotere Porkas
Buyung Sumur Bor, karena pekerjaan utamanya adalah tukang pasang sumur bor.
Buyung Loyo, karena sering ditemui dia membeli obat kuat atau minum jamu laki-laki di warung jamu kaki lima.
Ujang Silek, karena jadi guru silat, atau juga suka mengkhayal jadi pendekar silat.
Ujang Konter, pemilik sebuah gerai kecil yang pulsa dan hp bekas
Ujang Mancing, kesukaannya setiap hari adalah memancing ikan
Ujang Tenggeng, hampir setiap malam kerjanya cuma mabuk tuak
Ujang Lengi (Pening), ini orang tidak pernah nyambung kalau diajak ngobrol, sering juga terlihat ngomong sendiri

-----------------------------------
Kamus Besar Bahasa Indonesia (KBBI)
nama/na·ma/ n 1 kata untuk menyebut atau memanggil orang (tempat, barang, binatang, dan sebagainya): -- anjing itu Miki; 2 gelar; sebutan: dikaruniai -- Adipati; -- nya saja pegawai tinggi, tetapi kekuasaannya tidak ada; 3 kemasyhuran; kebaikan (keunggulan); kehormatan: ia beroleh (mendapat) --;menodai -- orang tua, ki merusak harga diri orang tua; telah rusak -- nya, ki telah hilang kebaikannya; menjaga -- baik, ki menjaga harga diri;
-- julukan nama yang ditambahkan pada nama asli; nama yang dipakai untuk mengganti nama asli (biasanya berkaitan dengan ciri-ciri tubuh atau watak khas pemilik nama);
-- panggilan nama yang digunakan dalam penyapaan;
-- pedengan nama samaran;
-----------------------------------------

Memang seperti kurang akhlak saja, memanggil seseorang dengan ciri khas fisik, namun apa mau dikata, kalau orang-orang seperti ada semacam konsensus, yang mau tidak mau harus diterima oleh kawan kita yang beruntung itu. Bahkan pemilik nama panggilan itu nantinya akan punya kebanggaan tersendiri dengan namanya itu. Nama-nama itu akan disapa dan dituliskan di mana saja yang sifatnya informal. Dari undangan sunatan tetangga, undangan resepsi sampai nama di kontak telepon selular.

“Infaq lima puluh ribu rupiah dari Bapak Buyung Panglong. Alhamdulillah. Terima kasih," teriak pengurus masjid di suatu hari Jumat. Kebetulan Hamba Allah yang bernama Buyung ini punya usaha penggergajian kayu kecil-kecilan di pinggir kota, karena itu dia mendapat karunia dari orang-orang di kampungnya nama tambahan "Panglong", sementara nama formalnya sendiri di KTP agak berbau kebarat-baratan.

Jika diamati lebih jauh, ternyata pemberian nama tambahan ini tidak asal diberikan saja. Konvensi yang berlaku dalam pemberian nama ini, bahwa Ujang atau Buyung itu memiliki ciri-ciri yang bersifat khas. Ciri-ciri khas inilah yang kemudian menjadi sebuah nama generik untuk Si Ujang atau Si Buyung. Ciri-ciri khas yang menggenerik ke nama ini mungkin karena pekerjaan, kekhasan fisik atau tingkah laku yang bersangkutan.
____________________________________
Bentuk Nama-Nama Generik yang Dikenal
Supermie telah menjadi nama generik untuk semua mie instan, karena memang Supermie merupakan nama pelopor untuk mie instan. Atau seluruh air mineral memiliki nama generik aqua (dimana Aqua sendiri awalnya adalah merk air mineral pertama di Indonesia). Pernah pula seluruh deterjen bubuk disebut rinso, berasal dari merk Rinso, yang dikenal sebagai pelopor deterjen bubuk

Sampai hari ini masih banyak orang menyebut kamera foto dengan sebutan kodak, yang sebenarnya juga adalah merk kamera. Di lain tempat, seperti di Medan-Sumatera Utara, tidak akan ada yang namanya sepeda motor, yang ada adalah honda.

"Apa merk hondamu, bah?"

"Honda!"
____________________________________

Mengapa dia dipanggil Ujang Tipi Kabel, karena pernah suatu waktu dia adalah orang pertama yang membuat usaha tv kabel di kota. Di lain tempat, karena dia adalah satu-satunya orang yang membuka usaha gerai pulsa yang bernama Ujang, maka dia pun populer dengan nama Ujang Konter.

Usaha tv kabel, gerai pulsa, suka mabuk, hobi memancing atau lainnya merupakan kekhasan yang menggenerik, lalu menjadi pembeda antara Ujang yang satu dengan Ujang yang lainnya. Untuk orang yang bernama lain (yang tidak pasaran), ciri khas ini tidak akan menggenerik, hanya sekedar menjadi penegas terhadap oknum yang dituju.

Bagaimana jika ada Ujang yang tidak punya ciri-ciri khas, atau orang tidak populer? Dengan kondisi itu, maka dia harus rela namanya akan ditempeli dengan nama orang tuanya. Karena nama orang tuanya Usman, maka dia akan bernama Ujang Usman. Dengan mengikutsertakan nama orang tua ini, bersiaplah dengan yang akan sering yang terjadi, saat seseorang memanggilnya, nama Ujang akan diteriakkan dengan pelan, lalu diikuti nama orang tua yang dipekikkan sekuat-kuatnya.

Upik Gelamai, Upik Sepatu Roda

Untuk nama panggilan bagi anak-anak perempuan, Upik adalah nama yang pernah kerap dipergunakan. Hampir setiap rumah yang memiliki beberapa anak gadis dipastikan akan ada di antara mereka dipanggil dengan nama Upik.

Situasinya pun sama dengan Buyung yang menjadi tetangganya. Dengan banyaknya nama Upik ini, maka perlu pula diterapkan metode pembedaan, yang diperlukan masyarakat untuk menghindarkan diri dari kerepotan memberikan deskripsi Upik mana yang dipanggil itu, pada saat Upik-Upik itu sedang kumpul merumpi atau saling cari kutu.

Kebetulan seorang Upik punya kekurangan di mana matanya sedikit juling, maka dia pun menahan tanggungan untuk di panggil Upik Belong sampai dia tua. Beruntung Upik lain, yang karena kepandaiannya membuat dodol (Bahasa Bengkulu: gelamai) dan selalu pula saat menjelang Lebaran akan door to door keliling kampung memaksa ibu-ibu banyak untuk membeli, maka dia dipanggil Upik Gelamai.

Seorang Upik dari sebuah keluarga kaya ukuran kampung setelah pulang dari bioskop menonton film Olga dan Sepatu Roda yang dibintangi oleh Dessy Ratnasari dan Nike Ardilla meminta orang tuanya membelikannya sepatu roda. Pada tahun-tahun itu (1980-an) belumlah banyak anak-anak di kotaku yang punya sepatu roda. Masihlah pula pemandangan yang luar biasa melihat orang bersepatu roda, itu pun rata-rata anak laki-laki. Maka, setiap sore orang-orang di kampung melihat Si Upik, yang sebenarnya punya nama asli mirip nama penyanyi dangdut perempuan yang beken, tunggang-langgang belajar sepatu roda di aspal jalanan kampung yang compang-camping. Wah, akan tampak sekali wajah-wajah puas di antara para penonton, jika si Upik itu jatuh terduduk atau masuk selokan karena belum lihai mengerem. Dan, sampai dia tua - dimana tulang-tulangnya karena encok atau asam urat tidak lagi bersedia untuk diayun-ayunkan di atas sepatu roda - dan sepatu roda itu kalau tidak telah diwariskan ke anak cucunya, atau bernasib sial merana tergantung lusuh dan berkarat di dekat kandang ayam belakang rumah, dia tetap dipanggil Upik Sepatu Roda.

Penutup

Nama panggilan bukanlah sekedar sebutan, dia merupakan sesuatu yang unik. Di dalamnya terkandung pembeda, karakter, kehormatan, kebanggaan hingga harga diri. Melalui nama juga, dapat terekam perjalanan hidup seseorang, cita-citanya bahkan proyeksi dirinya. Bahkan, dalam agama pun kita mengetahui, bahwa yang pertama kali diajarkan Allah kepada Nabi Adam adalah nama-nama.

Pemberian nama-nama tambahan yang unik ini merupakan cermin kehidupan sosial masyarakat yang penuh keakraban. Kebiasaan ini hanya akan ada di situasi masyarakat yang masih bersifat komunal. Orang-orang yang memberikan tidak bermaksud mengejek, tetapi lebih kepada pengakuan terhadap pribadi, sementara yang memiliki nama merasakan nama tambahan itu sebagai sebuah kehormatan dan kebanggaan pribadi. Setidaknya dia memiliki nama unik, yang tidak dimiliki oleh orang-orang lain. Saya rasa, di saat-saat inilah dia kemudian berterima kasih kepada orang tuanya, yang telah memberikan dia nama Ujang, Buyung atau Upik.
Emong Soewandi
Emong Soewandi Blogger sejak 2014, dengan minat pada sejarah, sastra dan teater

7 comments for "DARI BUYUNG KE UJANG TIPI KABEL DAN UPIK GELAMAI"

  1. Kocak nian tulisannya. Masih banyak nama seperti itu di masyarakat..

    ReplyDelete
  2. tetangga dan kenalan sayo banyak bernamo buyung :D

    ReplyDelete
    Replies
    1. Wkwkwk.... bikin ceritonyo.
      Terimo kasih sudah berkunjung, sanak

      Delete
  3. ini bisa menjadi bahan kajian atau penelitian yang bagus. Sepengetahuan saya kata-kata sapaan pergaulan belum begitu banyak mendapat perhatian

    ReplyDelete