Skip to content Skip to sidebar Skip to footer

ANAK MUDA DISESATKAN FILSAFAT

Anak Muda Disesatkan Filsafat

Image Source

Dengan bermodalkan pemahaman dasar eksistensialisme Sartre dan segera silau hanya karena seberkas cahaya pemikiran Nietzsche, seorang mahasiswa “baru” menjadi viral di media sosial, khususnya di Bengkulu, karena postingan-postingannya yang berani melawan doktrin dan pemikiran agama, memandang rendah orang-orang suci dalam tradisi keagamaan dan memanusiakan kebesaran Tuhan. Sebagaimana yang bisa diduga, pada akhir anak muda itu tidak berdaya oleh suara orang banyak, yang jelas tidak berpihak kepadanya. Dia kalah melawan opini manusia-lain, sekaligus dia tak mampu mempertahankan opini yang telah dibangunnya, karena memang opini yang dia bangun hanya berdasarkan kesan sebuah ide sederhana tanpa mampu dia pertanggungjawabkan secara eksistensial.

Sebagai pembuktian diri sebagai sosok yang kritis dan intelektual, maka generasi muda dan mahasiswa sering melibatkan diri dengan filsafat. Eksistensialisme telah menjadi pilihan filsafat yang dipandang cocok dengan gejolak muda dan sikap kritis. Walaupun cahaya eksistensialisme sendiri tidak secemerlang 10 tahun lalu, namun tak dipungkiri jika eksistensialisme dengan konsep kebebasannya mungkin masih menyilaukan bagi banyak generasi muda dan mahasiswa. Pengedepanan subyektivitas dan sikap kritis dianggap sebagai sebuah tindakan eksistensial.

Penulis pribadi dengan beberapa kawan mahasiswa dan aktivis, pada saat masih menjalani studi S1 1990-an lalu, sempat mengalami trend eksistensialisme. Tulisan-tulisan Sartre dan Nietzshe adalah bagian dari literatur yang harus dimiliki. Diskusi sekitar eksistensialisme selalu menjadi topik yang hangat dan mengasyikkan.

Namun, banyak pula mahasiswa atau seseorang yang tanpa sikap kritis yang tinggi, ditambah dengan kekosongan atau kekurangpahaman terhadap filsafat dan aliran-alirannya, maka eksistensialisme sering terpahami hanyalah sebagai sekumpulan alasan egoisme dan sikap subyektif yang absurd. Ini mungkin adalah kecerobohan, ketika meletakkan sebuah aliran filsafat sebagai penguatan pribadi untuk bertindak dan berbicara. Filsafat yang hakekatnya adalah memberikan pengarahan dalam berpikir, disalahartikan sebagai pembenaran konsep pribadi atau individual.

Hal ini terjadi, karena melupakan atau memang tidak memahami, bahwa eksistensialisme bukanlah sebuah sistem filsafat yang utuh. Dia terpecah-pecah atas banyak konsep, di mana masing-masing konsep itu sendiri belum tentu memiliki koherensi. Tak aneh, jika kemudian ada mahasiswa yang mensejajarkan begitu saja antara pendapat Sartre yang atheis dengan Heidegger yang agnostik, sambil menyebut pula nama Karl Jaspers yang religius, dengan tentu tak lupa menyertakan secara intuitif pandangan-pandangan Marx (sebuah pandangan umum juga yang dianggap prestisius, bahwa mahasiswa kritis dan aktivis harus membaca buku-buku Marx).

Banyak kawan-kawan ternyata tidak menyadari, bahkan tidak memahami, bahwa banyak pemikiran eksistensialisme tidak dapat diterapkan secara praktis. Dominasi dan situasi masyarakat Eropah begitu mempengaruhi lahirnya filsafat ini, yang di banyak sisi tidak begitu isomorfis dengan kondisi sosial, budaya dan filosofis masyarakat Indonesia. Pemikiran Nietsche yang pada sisi-sisi tertentu sangat anti-toleransi, tentu tidak dapat diterapkan dalam kehidupan masyarakat Indonesia cenderung komunal.
Emong Soewandi
Emong Soewandi Blogger sejak 2014, dengan minat pada sejarah, sastra dan teater

Post a Comment for "ANAK MUDA DISESATKAN FILSAFAT"