Skip to content Skip to sidebar Skip to footer

KETIKA MATOA PERTAMA KALI BERBUAH

Ketika Matoa Pertama Kali Berbuda


Matoa (Pometia pinnata) di halaman belakang rumah dulu bibitnya diberi oleh adikku, beberapa tahun lalu. Memang, aslinya matoa adalah tanaman endemik Papua, namun bibit yang diberikan kepadaku katanya adalah hasil pengembangan pembibitan di Provinsi Riau.

Setelah lewat 6 tahun, pohon itu telah tinggi dan rimbun. Daunannya yang gugur betul-betul membuat sampah yang menggunung di halaman belakang.


Sebetulnya aku sangsi dia akan berbuah, karena sebagaimana pohon buah-buahan lainnya tidak ada yang baik dan banyak buahnya di kota. Dengan wilayah di dataran tinggi, yang suhunya sangat dingin, tentu kurang ideal untuk bertanam tanaman buah-buah secara alami.

Aku memutuskan untuk menebang matoa itu. Pertama, kuatir akarnya akan merusak pondasi rumah dan tembok, karena memang ditanam terlalu dekat dinding dan tembok pagar belakang. Kedua, ini yang mungkin menjadi alasan utama, pohon itu tidak berbuah atau menunjukkan tanda-tanda akan berbuah, sementara batangnya sudah tinggi besar dan sudah lewat usia ideal (6-7 tahun) untuk berbuah.

Aku pun telah menemui tetanggaku yang punya senso (chain saw), mengutarakan niatku untuk meminjam alat pemotong-mesin itu untuk aku pakai hari Minggu besok. Dia mengizinkan, tetapi dia masih mau memakainya besok, karena dia sudah berjanji dengan kakaknya untuk memanen tanaman kayu sengonnya.

Baik, kalau begitu hari Minggu depan saja.

Sepakat!

Ternyata... ternyata pengunduran waktu untuk menebangnya itu memberikan sebuah keberkahan.

Sore harinya, ketika aku sedang asyik di depan komputer di ruang kerja, istri memanggil-manggilku dari halaman belakang.

Cepatlah! teriaknya. Semangat betul.

Ada apa? Apa tali jemuran putus? Atau jemuran kerupuk mentahnya di atap gudang diserak-serakkan kucing?

Setelah aku mendatanginya, ia sambil menunjuk-nunjuk ke arah rimbunan daun pohon matoa, ia bertanya apa yang putih-putih di antara daunan itu bunga matoa.


Kuperhatikan baik-baik... Ya, Tuhanku, matoa berbunga!

Benar. Matoa kami berbunga.

Sungguh tak bisa dipercaya, matoa yang kami kira tak akan berbuah itu telah berbunga.

Minggu demi minggu, bunga-bunga matoa itu semakin banyak. Dan... aku pun sudah lupa dan melupakan untuk menebangnya.

Lalu, datanglah masa yang menyenangkan bagi keluarga kami. Panen matoa.

Hampir 1 karung lebih matoa itu bisa kami panen. Sambil memetiknya, di atas pohon aku mencicipi buah yang sering disebut-sebut sebagai "buah surga dari Tanah Papua" itu. Gabungan rasa rambutan, lengkeng, cita rasa daging kelapa muda dan sedikit aroma durian, membuat orang yang pertama kali makan buah matoa seperti mimpi, tak terceritakan tapi benar-benar merasakan sensasi.

Tentu, tidak boleh kami sendiri yang merasakan kelezatan buah itu. Kepada orang tua banyak aku kirim. Tetangga kiri kanan juga harus dibagi biar pun berdikit-dikit, bahkan ada beberapa tetangga yang "nodong" minta lagi.

Panjat sendiri, ujarku kepadanya.

Asyiiik! teriak mereka.

Hahaha... benar-benar salah satu dari mereka memanjatnya dengan yang lain membawa tangga yang lebih panjang lagi yang dipinjam pula dari tetangga lain.

Tahun kemaren, matoa tidak begitu baik berbuahnya. Sepanjang tahun curah hujan begitu tinggi, sehingga selalu menggugurkan bunga-bunganya....




Emong Soewandi
Emong Soewandi Blogger sejak 2014, dengan minat pada sejarah, sastra dan teater

2 comments for "KETIKA MATOA PERTAMA KALI BERBUAH"