Skip to content Skip to sidebar Skip to footer

BERBURU ORANG-PANDAK DI TANAH REJANG, 1915-1918

Keberadaan Orang Pandak Atau Orang Pendek

Keberadaan orang-pandak atau orang pendek di kawasan hutan Kerinci Seblat masih penuh misteri. Dikabarkan mereka mendiami daerah Pesisir Selatan dan Pasaman Sumatera Barat, Muko-Muko Bengkulu, Merangin, Gunung Kerinci dan Gunung Tujuh Kabupaten Kerinci Provinsi Jambi. Orang-orang di wilayah Onderafdeling Rejang diceritakan juga sering melihat mahluk ini memasuki hutan-hutan hingga ke kaki Gunung Kaba.

Jejak kaki yang dikira milik Orang Pandak yang diditemukan Jacobson di Gunung Kaba

Pengantar dari Penerjemah

Masyarakat Kerinci dan Rejang meyakini adanya orang-pandak atau orang pendek ini secara turun temurun. Secara umum, mereka digambarkan hidup di tanah, berjalan tegak dengan 2 kaki terbalik, tumitnya ke depan. Apabila bertemu manusia mereka akan cepat menghindar. Versi lain, ada juga yang mengatakan orang-pandak sebagai manusia kerdil atau manusia pendek. Ada juga versi yang mengatakan, bahwa orang-pandai mirip kera, atau di antara kera dan manusia, semacam kera yang berjalan dengan dua kaki. Sebagian kisah dalam versi orang Rejang mendeskripsikan orang-pandak sebagai manusia yang dikutuk menjadi kera.

Tak kurang, Residen Bengkulu, L.C. Westenenk, juga tertarik untuk menelusuri misteri mahluk ini. Saat berada di rumah peristirahatannya di Kepahiang, dia sering dikunjungi warga pribumi. Dari mereka, dia menerima cerita-cerita tentang orang pendek dari Kerinci yang memasuki wilayah Rejang. Sebuah artikel istimewa tentang orang-pandak/orang pendek untuk jurnal biologi telah ditulis Westenenk.

Artikel itu menarik perhatian Edward Richard Jacobson, yang telah lebih dulu mengetahui kisah-kisah tentang orang pendek. Dengan alasan tidak masuk akal, kisah-kisah itu hanya disimpan dalam catatan-catatan pribadinya. Namun, dengan adanya artikel Westenenk tersebut, membuat dia pun tidak segan-segan lagi untuk mempublikasikannya.

Edward Richard Jacobson (1870-1944) adalah seorang pengusaha Belanda dan naturalis amatir yang terampil. Dia adalah manajer sebuah perusahaan perdagangan di Jawa, tetapi dia juga tinggal selama beberapa tahun di Sumatera. Meninggalkan dunia bisnis (1910), dia mengabdikan dirinya pada sejarah alam, dengan minat utamanya adalah entomologi. Sepanjang karirnya sebagai entomolog, ia telah banyak menyumbang benda-benda koleksi serangga tropis untuk Museum Belanda. Pada 1944, dia meninggal karena sakit di kamp interniran selama pendudukan Jepang.

Mari kita ikuti kisah Jacobson berdasarkan catatan-catatan perjalanannya yang telah ditulisnya menjadi satu artikel, saat dia berada di Padang, Agustus 1918.

Orang-Pandak - Orang Pendek

Saya ingin menanggapi artikel dari teman saya, Mr. Westenenk (Resident Benkoelen) tentang “orang-pandak” atau orang pendek. Dia mengatakan, hal ini masih sangat gelap dan misterius, cahaya kebenarannya hanya pijar redup dan bisa saja jadi pada akhirnya akan berubah menjadi cahaya palsu. Kehati-hatian sangat disarankan saat menarik kesimpulan.

Laporan pertama yang saya terima tentang orang pendek pada 1914 dari Mr. Coomans, Kepala Operasi Kereta Api Negara untuk Sumatera, yang berkantor pusat di Padang. Mr. Coomans bercerita, saat melakukan eksplorasi pertambangan di pedalaman Bengkulu, salah seorang pengawas Eropa, orang yang sangat dipercaya, telah menelusuri jejak manusia kerdil di wilayah Rejang di pantai utara hingga Bukit Barisan di Ulu Sebelat. Tanda itu adalah seperti jejak kaki manusia, tetapi jauh lebih kecil, dapat dibandingkan dengan jejak kaki yang mungkin ditinggalkan anak-anak.

Wilayah yang dimaksud itu benar-benar tidak berpenghuni. Berada dalam belantara liar, jalur itu bukanlah jalur yang jelas, maka sama sekali tidak ada kemungkinan telah ada anak-anak kecil berkelana begitu jauh ke dalam hutan belantara. Dengan pertimbangan ini, asumsi jejak itu berasal dari manusia tampaknya bukan sebuah kesimpulan yang berani. .

Belakangan, supervisor saya juga menemukan jejak kaki kecil yang sama di sepanjang tepi Sungai Klumbuk antara Lais dan Air Dingin. Sepanjang jalan yang terdapat jejak-jejak itu, di sana-sini batu-batu terbongkar dan dibalik. Namun, saya tidak bisa mengomentari lebih banyak cerita ini, karena tidak ada sketsa jejak kaki yang dibuat oleh supervisor itu dan dimensinya juga tidak disertakan.

Saya mencoba membandingkan, kebiasaan yang juga dilakukan oleh sebangsa kera (Macacus cynomolgus) yang sering disebut monyet jawa. Binatang ini diketahui pandai membongkar batu di daratan, dasar sungai dan pantai untuk mencari kepiting, udang dan hewan lain sebagai makanannya.

Macacus cynomolgus
sumber gambar

Kesaksian dan Cerita Penduduk

Dalam beberapa perjalanan di hutan-hutan Rejang hingga Kerinci, saya selalu berusaha mendapatkan informasi tentang ada atau tidaknya orang pendek itu. Misalnya, pada tahun 1915 di Siulak Deras, kampung paling utara di Kerinci, saya diberi tahu oleh beberapa penduduk asli, bahwa mereka pernah melihat orang-pandak sekali atau dua kali dalam hidup mereka. Dinyatakan dengan jelas, bahwa mereka bukanlah siamang (Gibbons, Hylobates syndactylus). Deskripsi yang diberikan tentang citra itu selalu sama, yaitu makhluk berbulu coklat tua yang tidak bergerak di pepohonan, melainkan di tanah.

Penduduk juga bercerita, dulu ketika masih banyak ditemukan badak di Kerinci, orang-pandak lebih sering terlihat. Orang-pandak itu telah membunuh badak-badak yang masuk perangkap dalam lubang besar yang dibuat pemburu. Di atas badan badak yang sudah mati, terlihat orang-pandak duduk sambil memakan daging badak itu.

Tentu akan sangat menyederhanakan persoalan, jika kita menganggap kera besar yang telah melakukannya. Selain buah-buahan, kera juga biasa memakan makanan hewani berupa telur, reptil dan serangga, tetapi tidak pernah berlanjut menjadi hewan yang mampu membunuh seekor binatang besar, seperti halnya badak yang memiliki kulit cukup keras.

Berawal dari Siulak Deras, saya melanjutkan perjalanan ke tepi Danau Bento. Rawa raksasa yang terletak di kaki tenggara puncak Kerinci ini dikelilingi oleh hutan luas yang membentang hingga ke Jambi. Tidak ada penduduk tinggal di sini, hanya sesekali pemburu datang dari Kerinci untuk menjerat rusa. Saya mendirikan bivak tidak jauh dari tepi rawa.

Pada salah satu pengembaraan saya di sana, 21 Agustus 1915, kami tiba di salah satu dari sekian banyak aliran yang mengalir dari mata air ke rawa. Pemandu dan pembawa bekal saya, Mat Getup, menarik perhatian saya ke jalur yang sangat aneh, yang tercetak di tanah liat lembab di tepi sungai. Saya tidak bisa membandingkannya lebih baik daripada jejak manusia yang sangat pendek. Lebarnya seperti kaki manusia, dengan jejak jelas empat jari kecil dan satu jari besar, tumit bulat juga tampak jelas terlihat. Namun, panjang keseluruhan tidak lebih dari 12 cm.

Hanya ada satu jejak di kedua tepian itu, namun jelas mengarah melewati rerumputan tinggi. Tanah di rumputan itu terlalu sulit untuk menyerap jejak, membuat saya pun tidak berhasil mengikutinya, karena jejak itu menghilang.

Mat Getup berkata dengan sangat pasti, bahwa ini bukanlah jejak manusia, tetapi jejak kaki orang-pandak atau orang pendek. Saya kemudian mempelajari jari pendek dan lebar itu dengan hati-hati, tetapi itu tidak berhasil membuat saya bisa menarik sebuah kesimpulan.

Dalam salah satu perjalanan lain, pada 10 Juli 1916, saya bertemu dengan seorang penduduk asli di sebuah ladang, yang memberi tahu saya, bahwa beberapa tahun sebelumnya, di ladang itu dia telah melihat orang-pandak duduk di bawah pohon durian, melahap buah durian. Menyerupai manusia, kepala mahluk itu memiliki rambut coklat kemerahan dan tubuhnya berukuran kecil. Mahluk itu menyeringai jahat, yang membuat dia pun segera meninggalkan tempat.

Juru bicara saya meyakinkan secara eksplisit, bahwa itu pasti bukan siamang; karena siamang berwarna hitam. Apa yang diceritakan penduduk itu, secara ajaib seperti mau menegaskan apa yang diceritakan Mr. Oostingh, seorang administratur perkebunan tembakau di Kepahiang.

Agustus 1916, saya berkemah di hutan di kaki timur gunung berapi Kaba, dekat perusahaan Suban Ayam. Area ini adalah area yang sama di mana Mr. Oosting bertemu dengan orang-pandak. Pemandu-pemandu saya dengan bersemangat sepanjang hari berkeliling menjelajahi belantara Gunung Kaba.

Di jalur itu mereka mengatakan melihat satu orang-pandak. Mahluk itu berjarak kurang lebih 20 meter dari mereka, terlihat tengah mencari larva serangga dari batang yang busuk. Makhluk itu berambut hitam, tetapi bukan siamang, karena rambutnya pendek. Ketika melihat pemandu-pemadu itu, ia berjalan menuju semak-semak dengan tanpa tergesa-gesa.

Saya kemudian memeriksa ke dalam semak-semak dan juga memeriksa batang pohon yang busuk itu. Ada potongan-potongannya telah putus, berceceran ke arah hilangnya orang pandak itu. Sayangnya, jejak tidak ditemukan di tanah yang keras. Hal yang paling aneh dalam cerita pemandu saya, bahwa mahluk yang terkejut itu telah berlari di atas tanah, sama sekali tidak menunjukkan prilaku siamang atau orang-utan yang akan segera mencari perlindungan di pohon-pohonan.

Apa Itu Orang Pandak

Ngomong-ngomong, kera besar (siamang atau orang-utan) sangat jarang turun ke tanah. Ini berbeda dengan kera yang lebih rendah seperti beruk (Macacus nemestrinus) yang juga sesekali mencari makan di tanah.

Bukankah sangat mungkin, bahwa makhluk yang dilihat oleh pemandu saya pemburu saya pada tahun 1917 adalah individu yang sama persis dengan yang ditemui Mr. Oostingh?

Makhluk apa itu, untuk sementara masih menjadi misteri, karena saya tidak berani untuk mengatakan bahwa kita sedang berurusan dengan manusia kera di sini. Untuk sementara, saya lebih suka dengan asumsi yang dikemukakan oleh Westenenk, orang-pandak adalah binatang masih dari golongan kera yang belum diketahui..

Pendapat saya, mengingat belantara Sumatera yang masih penuh misteri, bahwa keberadaan antropoid yang belum dikenal bukan sesuatu tidak mungkin. Karena saya begitu terkesan dengan kisah-kisah dari banyak pemburu pribumi, maka saya harus memikirkannya dengan lebih tenang.

Fakta ada golongan kera yang menjalani hidup dengan sangat tersembunyi. Terdapat juga fakta segolongan kera yang turun ke tanah untuk mencari makan, sementara golongan lainnya bertahan menghabiskan hidupnya di atas pohon. Dari semua golongan itu, maka ada saja kemungkinan keberadaan binatang dari golongan kera langka yang hidup di tanah. Golongan terakhir ini yang sering disebut sebagai orang-pandak.

Saya tidak bermaksud untuk menolak adanya hewan atau mahluk yang disebut sebagai "orang-pandak". Namun, selama tidak ada bukti kuat, tidak ada kulit yang ditemukan, tengkorak atau kerangkanya, maka saya masih terus beranggapan bahwa kisah orang-pandak adalah sesuatu yang direkayasa, kisah yang dilebih-lebihkan, tercipta di bawah pengaruh lingkungan misterius dari sebuah hutan purba yang sangat besar.

Orang-pandak masih akan terus menjadi misteri sebagaimana kelamnya belantara Sumatera.
Emong Soewandi
Emong Soewandi Blogger sejak 2014, dengan minat pada sejarah, sastra dan teater

Post a Comment for "BERBURU ORANG-PANDAK DI TANAH REJANG, 1915-1918"