Skip to content Skip to sidebar Skip to footer

KISAH SEBUAH KAMPUNG REDJANG DI KEPAHIANG, 1913 (BAGIAN I)

Ilustrasi. Pasar Kepahiang, circa 1932
(KITLV dengan pewarnaan)

Pagi Hari

Kampung/dusun yang dikisahkan ini adalah sebuah pemukiman orang-orang Rejang, di pinggiran Distrik Kepahiang, ibukota Onderafdeling Redjang, Afdeling Tebing Tinggi. Kampung ini telah cukup lama berdiri dan berada di sisi-sisi jalan lintas Kepahiang-Lebong. Dulu, dari ladang-ladang yang berpencaran, dengan keinginan sendiri atau mengikuti anjuran pemerintah, mereka telah pindah ke dekat jalan raya yang telah usai dibangun. Rumah pondok di ladang-ladang tempat bermukim sebelumnya sudah ditinggalkan, untuk selanjutnya hanya sebagai tempat berteduh saat mengerjakan kebun. Secara berkelompok, kini mereka hidup bersama dalam satu lokasi dusun, di mana rumah-rumah didirikan saling berdekatan dengan cukup rapat, namun diatur rapi berjejer mengikuti jalur jalan.

Masih terlalu pagi, di kokok ayam jantan pertama, para perempuan bangun; pintu dibuka dan mereka terlihat hanya mengenakan sarung yang dililitkan sedikit di atas dada dengan rambut yang masih terurai. Bersama dengan wanita-wanita lain akan menuju ke pancuran di pinggir dusun, membawa keranjang (beronang) yang penuh dengan tabung bambu (gerigik/tikoa).

Mereka kembali beberapa saat kemudian. Tabung bambu berisi penuh air jernih, dibawa pulang dalam beronang dengan tali dari kulit kayu menutupi dahi. Sementara kaum laki-laki yang bangun lebih siang juga sudah keluar. Ada yang membongkar ternak, sambil masih terkantuk-kantuk ada yang mengasah parang, atau membetulkan alat pancing. Yang lain berjalan mondar-mandir di alun-alun desa, atau berdiri berkelompok mengobrol bersama.

Saat perempuan sedang memasak, anak-anak yang sangat kecil digendong oleh ayah atau anggota keluarga lainnya. Kakak dan adik yang belum bisa membantu mengurus rumah melompat-lompat dan bermain di alun-alun desa atau di sekitar rumah.

Usai sarapan pagi yang terdiri dari nasi dengan sedikit garam dan sambal, semua berangkat kerja. Kebanyakan dari mereka pergi ke ladang, kebun kopi atau tembakau; beberapa pergi memancing atau mengumpulkan hasil hutan atau berburu. Orang-orang tua tinggal bersama para perempuan dan anak-anak kecil untuk menjaga rumah.

Pada saat-saat sibuk, ketika padi akan ditanam atau dipanen, atau ketika ladang akan disiangi, perempuan juga ikut pergi ke ladang bersama mereka. Para ibu akan membawa serta bayi mereka, yang digendong di punggung dengan kain.

Jika di ladang tidak ada yang dikerjakan lagi, para perempuan akan pergi mengambil kayu atau kebutuhan rumah tangga lainnya. Sekitar pukul 8 pagi, terlihat juga perempuan dari beberapa rumah menjemur tembakau di rak-rak bambu yang memanjang (bidai). Tembakau-tembakau itu sebelumnya sudah dirajang oleh para pria dengan sebuah alat perajang (dalam bahasa Rejang disebut selpeak lading odot, penerjemah)

Di dekat rumah, ada tikar menjemur ikatan-ikatan padi untuk makan besok atau lusa. Seorang anak laki-laki yang cukup besar di jarak yang cukup jauh dengan memegang sebatang bambu panjang. akan menjaga jemuran itu dari unggas-unggas kelaparan yang mengintai akan mencuri padi-padi. Setelah padi kering, perempuan-perempuan tua akan mengirik (meremas) padi itu dengan kaki, memisahkan padi dengan tangkainya.

Di sana-sini terlihat juga orang menjemur biji kopi di bawah sinar matahari. Kopi yang kering sebagian kecil akan ditumbuk untuk keperluan sendiri, sebagian lainnya dijual di pasar yang diadakan seminggu sekali di desa terdekat. Biasanya kopi-kopi itu akan dibawa dengan menggunakan keranjang daun kelapa yang dianyam rapat dan diusung di kepala.

Makan siang disajikan di tengah hari. Ini terdiri dari nasi, beberapa sayuran, garam dan sambal. Terkadang ada juga ikan atau potongan daging. Jika tidak memungkinkan disiapkan dari rumah, mereka yang berladang terletak terlalu jauh dari dusun, maka makan siang akan disiapkan di ladang pondok.

Siang hari, kampung terlihat lengang, karena sebagian besar orang-orang berada di kebun. Sesekali suara kotekan dan kokok ayam memecah kesepian itu.

Pulang Bekerja

Pada pukul lima, orang-orang dari kebun perlahan-lahan masuk ke rumah di dusun. Wanita-wanita terlihat membawa beronang yang terlalu penuh dengan kayu bakar dan peralatan memasak. Anak-anak perempuan juga membawa beronang kecil, yang isinya sayur-sayuran dan peralatan mainan mereka. Sementara kaum laki-laki berjalan gagah, berjaga-jaga keamanan keluarganya sepanjang perjalanan melewati hutan-hutan.


Beronang, keranjang bambu Rejang
sumber foto: koleksi pribadi

Sesampai di dusun, kebanyakan dari mereka langsung pergi ke sungai untuk mandi. Para wanita dan gadis kembali mengambil air untuk memasak makan malam. Sore hari, sungai ramai dan riuh, penuh dengan orang-orang dewasa dan anak-anak yang mandi serta perempuan mencuci. Anak-anak telanjang berlarian di pesisir sungai, bermain, mengejar ikan atau kepiting. Terpisah dengan pria, perempuan-perempuan akan mandi di pancuran.

Sehabis mandi dan berganti pakaian, para laki-laki dewasa berkumpul di tengah jalan desa, berbincang bersama dalam kelompok dan mendiskusikan cerita hari ini. Beberapa dari mereka ada memegang tali ternak yang tadi telah dihela dari padang rumput di dekat hutan, untuk siap dikandangkan. Sesekali, saat tanah kering dan hari tidak hujan, mereka bersama-sama dalam permainan bola tangan atau sepak raga (takraw).

Saat malam tiba, pelita-pelita damar dari tanah liat atau batang bambu dinyalakan. Di depan beberapa rumah ada tertancap suluh daun kelapa kering menyala untuk menerangi halaman dan perempuan-perempuan yang akan menumbuk padi.

Setelah makan malam, sahabat dan kenalan saling mengunjungi. Tuan rumah duduk di tangga bambu rumah, beberapa pria lain berdiri atau duduk di tanah. Para pemuda pun mengunjungi para perawan (bertandang) dan menghibur mereka dengan puisi-puisi cinta (pantun).

Dari tiap halaman rumah, terlihat kaum ibu dan anak-anak gadis menumbuk padi. Kita akan mendengar gaung irama dari hentakan padi yang ditumbuk dalam lesung-lesung kayu, diselingi oleh suara sorak-sorai anak-anak yang bermain.

Apalagi saat bulan bersinar terang dan bayang-bayang rumah serta pepohonan tampak mencolok di alun-alun desa yang terang benderang, banyak terjadi keramaian. Anak-anak berlari-larian di jalan desa, berteriak-teriak, ada juga yang menangis diganggu kawannya.
Terkadang kepala desa berkeliling untuk menyampaikan perintah baru dari pemerintah. Jika ada yang harus didiskusikan tentang beberapa hal, para pria akan diundang untuk berkumpul di kediamannya. Sambil mengunyah sirih atau mengisap rokok daun, mereka khusuk mendengarkan penjelasan dari kepala desa.

Malam semakin larut.

Setiap orang kemudian kembali ke rumahnya. Teriak-teriakan cemoohan anak-anak dan suara hentakan alu menumbuk padi sudah berhenti. Sayup-sayup masih terdengar suara ibu-ibu mengomeli anaknya yang telat pulang.
Pelita-pelita dipadamkan, kampung pun gelap gulita dan semuanya beristirahat.
_____________________________________

Diterjemahkan secara bebas dari J.L.M. Swaab, Het Kampongleven, dalam Beschrijving Der Onderafdeeling Redjang, 01/1916

Kisah ini secara lengkap dalam:

Soewandi, Emong. Kepahiang Di Lintas Waktu, Mereka yang Dikenang dan Tak Dikenal, Tribute to Letnan Kolonel Santoso dan Mayor Salim Batubara. Kepahiang: Pemerintah Kabupaten Kepahiang. 2020. (dalam persiapan penerbitan)

Emong Soewandi
Emong Soewandi Blogger sejak 2014, dengan minat pada sejarah, sastra dan teater

4 comments for "KISAH SEBUAH KAMPUNG REDJANG DI KEPAHIANG, 1913 (BAGIAN I)"

  1. kak, padi diirik (mengirik), cabe dipirik (memirik)

    ReplyDelete
    Replies
    1. Siap diralat. Berarti kurang tepat terjemahan kito dari bahasa Belandanyo. Memang teks asli kalau diterjemahkan "meremas dengan kaki"
      Terimo kasih koreksinyo.

      Delete
  2. jadi ingek waktu masi kecik di air bening, air dingin

    ReplyDelete
    Replies
    1. Terimo kasih sudah berkunjung, Nis.
      Selamat bernostalgia, yo

      Delete