Skip to content Skip to sidebar Skip to footer

PECAH BAN TENGAH MALAM DAN MISI PENYELAMATAN DENGAN GOOGLE MAPS

Sumber: Google Maps

Pulang Tengah Malam

Aku berproses di Teater Petak Rumbia Bengkulu. Sesekali aku diminta melatih di Teater Besurek dan Sanggar Teater Bahtra, keduanya di Universitas Bengkulu. Semua teater itu berada di Kota Bengkulu, 60 km dari rumahku di kota Kepahiang.

Begitulah, setiap Sabtu aku akan ke Bengkulu, lalu Minggu malam aku akan pulang ke Kepahiang. Perjalanan pergi-pulang itu tiap minggu aku tempuh biasanya dengan sepeda motor, hanya sesekali saja aku menggunakan mobil. Dalam beberapa kali kesempatan pulang malam, kawan-kawan biasanya tidak membiarkanku untuk pulang sendiri. Sesekali 1 atau 2 orang akan mengawal perjalananku. Nantinya mereka akan menginap, untuk besok pagi pulang kembali ke Bengkulu.

Kisah Dimulai

Minggu malam, 19 Maret 2018, aku akan pulang ke Kepahiang. Karena tidak membawa kendaraan, aku minta Budi mengantar dengan menggunakan sepeda motor miliknya. Aku memang harus pulang, karena besoknya harus masuk kerja.

Sekitar pukul 20.30 kami memulai perjalanan menuju Kepahiang.

Sebenarnya, aku dan Budi sudah begitu lelah. Sepanjang hari Minggu kami telah berlatih untuk pementasan ulang “Tamu Medan Dari Medan Perang”, drama karya Dinsman, seorang sastrawan dan dramawan Malaysia. Pementasan sebelumnya telah kami laksanakan dengan sukses di Batam, Kepulauan Riau. Pementasan ulang ini direncanakan dua minggu lagi, di Laboratorium Kreatif Universitas Bengkulu. Selain itu, bersama teman-teman juga menggarap sebuah dramatisasi puisi “Pelajaran Mengingat”, puisi karya Ganda Sucipta.

Sungguh, siang tadi benar-benar melelahkan.

Sepanjang perjalanan aku dan Budi banyak diam. Aku termenung-menung saja di belakang Budi yang memegang kendali sepeda motor. Kami saling mencoba membuka obrolan-obrolan, tapi cuma sebentar, benar-benar kehilangan selera, lebih banyak akhirnya cuma berdiam diri. Sesekali aku mengejutkan Budi, hanya untuk memastikan dia tetap terjaga dan sadar, karena aku kuatir dia mengantuk.

Benar saja, memasuki wilayah Kabupaten Bengkulu Tengah, motor sedikit meliuk-liuk jalannya, hingga ke tengah jalan. Hm, jangan-jangan Budi sempat tertidur ini, pikirku. Ini bahaya sekali!

Akhirnya, di depan sebuah SPBU Bengkulu Tengah, aku mengambil alih untuk mengemudikan sepeda motor. Namun, karena mengantuk juga, kami tetap kehilangan selera untuk mengobrol.

Biasanya, dalam perjalanan malam dengan Budi atau kawan-kawan lainnya akan selalu heboh sepanjang perjalanan, ada-ada saja yang bisa jadi bahan obrolan dan gurauan. Jalan dan malam benar-benar bisa menjadi milik kami, sehingga bisa teriak-teriak tidak menentu, menyanyi, membaca puisi keras-keras, atau mengulang-ulang dialog drama.

Sering pula kami menyempatkan diri untuk berhenti di tengah perjalanan. Tengah malam, dikelilingi hutan belantara, lalu lintas telah sepi, berselimut dingin udara gunung, di satu ketinggian di wilayah pegunungan, kami duduk ditemani kopi panas yang kami bawa dalam termos, menikmati panorama indah di kejauhan berupa hamparan kelip lampu-lampu di kota Bengkulu. Perjalanan malam telah selalu menjadi pengalaman sexy yang begitu mengasyikkan.

Pecah Ban

Memasuki Desa Taba Pasmah, kurang lebih 5 km dari SPBU tadi, aku merasakan motor menjadi goyang. Apa lagi ini? Ban pecah atau kempes?

Ban pecah ternyata! Aduh, celaka ini. Sementara perjalanan ke Kepahiang masih berjarak 60-an km lagi, dan waktu juga sudah menunjukkan pukul 21.00 malam. Di mana ada bengkel motor yang masih buka di desa ini? Desa-desa di Bengkulu Tengah di sepanjang jalan provinsi itu pukul 20.00 saja biasanya sudah sepi.

Budi turun lalu berjalan. Aku kendarai motor pelan-pelan mencari-cari kalau-kalau ada bengkel yang masih buka.

Sekitar 1 km dari tempat Budi turun tadi ada bengkel yang sudah tutup, tetapi pintu rolling-door-nya masih terbuka sedikit. Ada beberapa lelaki tengah mengobrol di depannya.

Siapa tahu, pikirku. Aku hentikan motor, turun, kemudian menghampiri orang-orang itu. Aku bertanya apa bisa untuk mengganti ban dalam? Kutekankan juga kalau aku akan pulang ke Kepahiang, agar bisa menggerakkan hati mereka untuk membantu.

Sayang sekali, bukan tidak mau membantu, jawab salah satu orang dari mereka, tapi teknisinya sudah pulang, rumahnya di Dusun Lubuk Sini Dalam. Kunci lemari peralatan juga dibawanya.

Waduh! Dusun yang disebut itu jauh dari jalan provinsi.

Setelah mengucapkan terima kasih, aku kembali men-starter motor dan melanjutkan pencarian.

Nah, nasib baik sepertinya. Sebuah bengkel yang menyatu dengan sebuah warung masih buka.

Dengan yakin aku berkata kepada seorang ibu yang berada di dalam warung itu: “Bu, minta ganti ban dalam, ya.”

Dan... lagi-lagi aku kecewa. “Suami aku belum pulang dari memancing, Pak,” jawab ibu sambil berjalan keluar warungnya.

Aduh, kalau memang tidak beroperasi mengapa masih buka? Omelku dalam hati. Tetapi segera aku paham, jika bengkel dan warung itu memang dalam satu tempat dan pintu yang sama.

Sempat sedikit memaksa, aku menawari diri untuk membongkar dan memasang ban sendiri, tapi sayangnya mesin pompa ada di gudang belakang. Kuncinya dibawa suami, jelas ibu itu. Hm, baiklah. Terima kasih, Bu....

Oya, apa kabar Budi?

Budi segera kutelepon, di mana posisi dan lagi apa? Dia menjawab sedang duduk di sebuah warung. Ok, jawabku, tunggu saja di sana, segera ban beres aku balik jemput nanti.

Aku sudah tiba di Desa Taba Terunjam. Karena itu adalah desa yang cukup ramai penduduknya dan lumayan panjang, ada harapan menemukan bengkel yang masih buka. Dan harus temu, karena selepas desa ini untuk menuju desa berikutnya aku akan melalui sebuah hutan karet dan kebun sawit yang cukup panjang. Tentu aku tak mau melewati jalan yang gelap dan sepi mencekam itu.

Empat buah bengkel tutup semua. 2 buah bengkel yang menyatu dengan rumah aku gedor, hasilnya: 1 bengkel orangnya pergi ke Bengkulu, 1 bengkel lainnya orangnya pergi menghadiri undangan di dusun lain. Semua itu yang menjawab adalah istri dari pemilik-pemilik bengkel itu.

Hm, apa memang semua pemilik bengkel kalau malam punya hobi pergi-pergi, ya? Sampai-sampai mereka tidak memikirkan bakal ada dua orang berlagak seniman, yang karena nasib celaka, pecah ban malam-malam lalu bakal meminta pertolongan mereka.

Harapan terakhir, di ujung desa adalah sebuah rumah makan persinggahan supir-supir truk. Aku tahu, di mana ada rumah makan seperti itu, maka akan ada bengkel atau tambal ban. Tapi itu juga tidak membuat aku bergembira. Bengkel itu tutup, gelap gulita.

Dengan kondisi ban yang terseok-seok, juga menggelincir, di mana ketika tikungan kedua kakiku harus menyentuh aspal untuk menjaga keseimbangan, kutempuh jalanan sepanjang 2 kilometer di antara hutan karet dan kelapa sawit. Aku teruskan perjalanan menuju Dusun Lubuk Sini Luar.

Waktu sudah menunjukkan pukul 21.30.

Kususuri jalan sepanjang desa kecil yang sepi, dengan harapan yang tipis. Harapan besarku hanya ada di Taba Penanjung, yang berada setelah dusun ini.

Sebagai ibukota sebuah kecamatan, Taba Penanjung sangat panjang, ramai dan padat, tentu masih ada bengkel yang buka. Kota kecil ini juga sering dijadikan tempat persinggahan mobil-mobil bus dan travel antar kota antar provinsi.

Tapi, lagi-lagi aku terlalu berharap. Tak ada lagi bengkel yang masih buka dan mau buka!

Taba Penanjung merupakan desa terakhir sebelum memasuki “gunung”, sebuah istilah yang biasa kami pergunakan untuk menyebutkan jalan yang berada di wilayah pegunungan untuk menuju Kabupaten Kepahiang, atau sebaliknya dari Kepahiang ke Taba Penanjung.

Taba Penanjung-Kepahiang berjarak kurang lebih 50 km dan tak ada lagi desa-desa atau pemukiman. Sepanjang perjalanan hanya ada hutan belantara, tepian jurang dan jalan yang berkelok-kelok dengan aspalnya yang pada beberapa tempat compang-camping. Setengah perjalanan kita akan menanjak terus hingga menuju batas wilayah. Batas Wilayah antara Kabupaten Bengkulu Tengah dengan Kabupaten Kepahiang ditandai sebuah gerbang besar, berdiri tepat di atas puncak perbukitan. Dari gerbang batas ini menuju Kepahiang jalan akan terus menurun hingga tiba di gerbang kota Kepahiang.

Sendiri Menuju Kepahiang

Antara aku dan Budi sekarang sudah berjarak kurang lebih 15 km. Di ujung Taba Penanjung, sebelum masuk gunung, aku telepon Budi. Kepadanya aku bilang agar dia pulang saja ke Bengkulu dengan menumpang mobil travel yang lewat. Motor akan aku bawa saja ke Kepahiang. Budi mengiyakan. Komunikasi pun berakhir.

Normalnya perjalanan Taba Penanjung-Kepahiang adalah 45-60 menit. Aku juga tidak takut untuk melakukan perjalanan itu, karena aku sendiri sudah sering juga berjalan malam untuk untuk pulang ke Kepahiang. Bahkan tengah malam, saat lalu lintas sudah begitu sepi, aku pernah pulang sendiri juga dengan sepeda motor. Titik-titik seram, yang katanya angker dan berhantu pun aku sudah hapal, tapi itu juga tak menakutkan bagiku.

Tapi, kali ini kau berada dalam kondisi yang tidak normal! Tengah malam, situasi dan kondisi yang gelap, sepi dan harus aku tempuh dengan sebuah sepeda motor yang pecah bannya. Untung saja cuaca walau sedikit mendung, tetapi tidak hujan.

Aku lajukan sepeda motor dengan kecepatan 30-40 km/jam. harus benar-benar konsentrasi, sepeda motor juga sudah benar-benar bergetar dan begitu goyang. Bannya berlari kiri-kanan. Sesekali terdengar juga suara ban yang aneh gedebak-gedebuk melindas aspal. Untunglah pula kantukku telah pergi lenyap.

Misi Penyelamatan dengan Google Maps

Pukul 23.30

Aku tiba di rumah, di Kepahiang, dengan selamat. Dan, aku juga sudah berpikir baik, bahwa Budi pun sudah tiba di Bengkulu. Begitu turun dari sepeda motor, kurasakan semua sendi tulangku rasanya remuk setelah diguncang-guncang oleh motor. Badan yang sudah lelah, semakin menjadi lelah.

Sebelum masuk rumah, Budi kutelepon lagi. Ternyata dia masih di dusun apa, sedang menunggu Mamek.

“Tenang saja, Kak. Mamek bilang, setengah jam lagi, kalau aku belum dapat mobil, dia yang akan menjemput.”

“Ok, Bud,” jawabku. “Bawa tenang ya.”

“Ok, Kak,” ujar Budi kembali sebelum kami saling menutup telepon.

Aku pun masuk ke rumah. Berbincang sebentar dengan istri, kemudian mengintip sedikit ke kamar anak-anak.

Setelah menyegarkan badan, sambil menikmati kopi yang sudah disediakan istri, aku menyalakan komputer sebentar, sekedar untuk membaca-baca media sosial dan mengisi buku harianku. Selanjutnya, ah... aku kira aku sangat membutuhkan tidur.

Pukul 00.00.

Saat terkantuk-kantuk di depan komputer, di kamar kerjaku di lantai 2, SMS Budi masuk. Dia mengabarkan kalau Mamek belum tiba. Mamek ditelepon juga tidak menjawab-jawab.

“Aku kuatir nian kalau ada apa-apa sama Si Mamek, Kak.” Suara Budi jelas terdengar cemas. Tapi tidak jelas, cemas karena Mamek belum datang, atau cemas karena situasi dia sendirian tengah malam di sebuah dusun tanpa kenalan sepotong pun.

Wah, agak kacau ini. Mamek pun segera kutelepon, tapi tidak mengangkat. Kutelepon lagi, tapi tetap tidak ada jawaban. Aku juga mulai ikut cemas. Budi kutelepon kembali, menanyakan dia di mana. Budi menjawab di barusan pindah dari sebuah warung yang sudah mau tutup ke sebuah gerai kecil HP.

Kutelepon lagi Mamek, tapi tetap tidak ada jawaban.

Aduh, bagaimana ini? Kutelepon kembali Budi, menanyakan apa tidak ada mobil travel atau mobil lain yang lewat. Budi menjawab, tidak ada mobil yang lewat, yang banyak justru dari arah Bengkulu ke Kepahiang. Ya, memang benar, saat itu adalah jam-jam yang paling sepi kendaraan lewat. Nanti, jam-jam 2 dini hari baru lalu lintas beranjak bangun, di mana mobil-mobil angkutan sayur dari Curup ke Bengkulu mulai lewat.

Pukul 00.30.

Mamek berulang-ulang aku telepon kembali, tapi tetap tidak ada mengangkat. Aku sedikit kuatir, karena tadi Budi mengatakan, jika Mamek sudah siap untuk berangkat tadinya. Ada apa dengan Mamek? Jangan-jangan... jangan-jangan.... Ah!

Sedikit gugup, mulai kutelusuri nama-nama di daftar kontak. Rudi aku telepon. Mujur, Rudi belum tidur.

“Lagi apa?” tanyaku lagi tanpa basa-basi.

“Baru sudah makan, Kak,” jawab Rudi sambil mendesis-desis, untuk meyakinkan aku – mungkin – jika dia benar-benar barusan sudah makan.

Ah, itu tidak terlalu penting. Kepada Rudi langsung saja aku ceritakan kasus dengan singkat, kemudian aku minta dia untuk segera menjemput Budi.

Rudi mengatakan tidak ada kendaraan. Sepeda motor yang ada sedang dipakai adiknya pergi mendekorasi rumah yang akan hajatan perkawinan.

“Itu urusanmu!”, jawabku. “Pokoknya sekarang, bagaimana caramu untuk bisa menjemput Budi!”

Rudi menjawab, dia usahakan mencari sepeda motor dulu.

Ok. Telepon pun kututup. Budi pun kutelepon kembali, sekedar untuk menanyakan kabarnya, dan agar dia juga merasa terus ada kontak denganku. Kepada Budi aku sampaikan, mungkin Rudi nanti yang akan menjemput. Untunglah, dari kondisi masih di jalan tadi, pulsa selular aku dan Budi mencukupi. Bagaimana jika kami, atau salah satu dari kami tidak ada pulsa?

Pukul 01.00.

Rudi aku telepon lagi. Tapi operator menjawab, HP-nya tidak aktif. Astaga! Aku sedikit panik dan mulai marah-marah sendiri. Rudi pun kukutuk-kutuk. Kubuka lagi HP mencari nama-nama di daftar kontak. Denis pun segera aku telepon, tapi tidak ada jawaban. Wajar, ini waktu yang memang sedang enak-enaknya untuk tidur. Apalagi seharian Minggu kita semua lelah latihan.

Deri aku telepon, juga tidak mengangkat. Ari HP-nya tidak aktif. Ganda kutelepon juga, tapi juga tidak menjawab. Aduh, siapa lagi yang harus aku telepon. Terpikir aku untuk menelepon kawan-kawan yang masih nongkrong di Taman Budaya, main domino. Tapi aku segera ingat, Taman Budaya sedang melakukan rehabilitasi besar-besaran, jadi kecil kemungkinan kawan-kawan masih ada yang begadang di sana.

Mamek pun kutelepon kembali, lagi-lagi aku hanya mendengar suara operator yang mengabarkan, bahwa penerima tidak menjawab. Kutelepon kembali Budi. Jawaban yang kuterima, jika dia masih berada di sebuah gerai HP, sudah tidak menerima jawaban juga dari Mamek.

Aku kemudian memutuskan, jika memang tidak ada yang bisa menjemput Budi, maka aku akan mengeluarkan mobil, lalu menempuh perjalanan kurang lebih 50 km untuk menjemputnya.

Pukul 01.30.

Kucoba menelepon Rudi lagi. Ya, siapa tahu sedang mujur.

Syukurlah, HP-nya aktif. Rudi pun menjawab. Rupanya tadi dia sedang mencari pinjaman sepeda motor dan sekarang siap untuk berangkat.

Kepada Rudi aku bilang, kamu berjalan saja terus sampai di depan Kantor Bupati Bengkulu Tengah. Di sana nanti misscall aku. Nah, sekarang tinggal memastikan di mana posisi Budi. Budi kutelepon, mengabarkan Rudi sudah jalan. Kutanya kemudian apakah dia masih berada di Desa Taba Pasmah atau desa apa sekarang?

Budi tidak paham desa-desa dan tempat-tempat sepanjang Bengkulu-Kepahiang. Ini cukup memberi kesulitan juga.

Kuminta dia menanyakan nama desa itu ke orang gerai HP. Dia mendapat jawaban: Desa Durian Demang. Segera kubuka Google Maps. Kulihat Desa Durian Demang sebagian wilayahnya berada di sisi jalan provinsi, jadi aku kira cukup mudah menentukan posisinya. Bagian desa itu berada di antara Desa Taba Pasmah dan Desa Taba Terunjam.

“Apa kira-kira petunjuk penting yang bisa kamu berikan, Bud?” tanyaku.

Kudengar suara Budi bertanya kepada seseorang.

“Simpang jalan ke Bukit Kandis, Kak,” jawab Budi kemudian.

Hm, kuperhatikan Google Maps. Ya, memang ada simpang tiga di sana.

“Berapa jauh jarakmu dari simpang itu?”

Budi ragu-ragu menjawab. “Dak tahu, Kak,” jawabnya kemudian.

Di Google Maps, di sekitar 100 meter dari simpang itu aku membaca ada Rumah Makan Padang "Anak Rantau". Kepada Budi, aku minta dia menunggu saja di rumah makan itu.

“Ya, di depanku ini rumah makan itu, Kak,” jawab Budi.

Mujur!

“Di dekat gerai HP tempatmu sekarang itu ada gerai HP lain, ya, namanya Henni Cell, ya?” tanyaku lagi sambil memperhatikan Google Maps yang sudah ku-zoom tampilannya.

“Ya, aku di Henni Cell itulah, Kak,” jawab Budi sedikit berteriak.

Ok, beres! Tinggal aku “mengatur” Rudi lagi sekarang.

Aku harus membuat perhitungan, agar Rudi bisa benar-benar tiba di posisi Budi.

Bukan pekerjaan gampang aku kira, mencari sebuah tempat di desa kecil di tengah malam, dengan penerangan umum yang minim, serta ciri khas tempat yang tidak jelas. Rudi juga tentu tidak bisa aku minta langsung jalan saja menuju desa itu, karena dia tidak akan tahu desa-desa apa yang ada di sepanjang jalan provinsi itu. Jadi, Agar Rudi tetap bisa melaju dengan cepat, aku pikir akan aku bagi-bagi saja perjalanannya dalam beberapa etape.

Pukul 02.00.

Rudi misscall.

Aku telepon balik. Dia mengatakan, kalau dia sudah berada di depan Kantor Bupati Bengkulu Tengah.

Kalau dari Google Maps antara dia dan Budi jaraknya berkisar 13 km. Aku minta dia terus dulu berjalan hingga tiba di Jembatan Desa Kancing.

"Jembatan Kancing itu yang mana, Kak?" tanyanya.

"Itu, jembatan tempat kita sering berhenti malam-malam itu," jawabku untuk mengingatkannya sebuah jembatan beton di atas Air Bengkulu.

"Oh, oke, Kak!"

Nah, dari jembatan itu nanti, terus melaju lagi hingga ke depan SMPN 1 Karang Tinggi. Perhatikan, SMP itu di sisi kanan, tak begitu jauh dari jembatan! Sekitar 10 menit kemudian Rudi misscall kembali. Tepat sekali. Dia mengatakan berada di depan SMPN 1 Karang Tinggi. Ini artinya, dari peta kurang lebih 3,2 km lagi dia dari Budi.

Aku tidak bisa meminta Rudi untuk menuju ke Simpang Bukit Kandis, karena pada situasi gelap simpangan dengan jalan-jalan kecilnya akan sulit dikenali. Jadi, kepada Rudi aku minta untuk membawa sepeda motornya dengan kecepatan sedang (kurang lebih 50 km/jam) selama 4 menit, setelah itu stop dan misscall kembali. Perhitunganku, di titik akhirnya itu nanti antara Rudi dan Budi hanya terpaut jarak beberapa meter lagi, tetapi tidak lebih dari 15 meter.

Pada menit yang telah kutentukan aku telepon Rudi kembali. Dan, sebelum aku menelepon, Rudi sudah misscall lebih dulu.

Kutelepon segera. Terdengar Rudi sepertinya sedang berbicara dengan seseorang.

Tepat sekali! Tadaaaaa!

“Dapat, Kak, dapat! Temu!” jawab Rudi dengan suara sedikit teriak karena keriangan. Terdengar juga suara Budi tertawa-tawa.

Alhamdulillah! Aku pun tak dapat aku menyembunyikan kegirangan. Aku tertawa terbahak-bahak di dini hari yang masih buta itu, sambil terus mengucapkan Alhamdulillah.

Budi tidak jadi mati. Hahahaha....

SELESAI

Emong Soewandi
Emong Soewandi Blogger sejak 2014, dengan minat pada sejarah, sastra dan teater

Post a Comment for "PECAH BAN TENGAH MALAM DAN MISI PENYELAMATAN DENGAN GOOGLE MAPS"