SUASANA RAMADHAN DAN IDUL FITRI DI AIR RAMBAI CURUP TEMPO DOELOE
![]() |
| Masjid Darussalam Air Rambai, Curup, hari ini sumber: maps |
Dusun Air Rambai dan Curup Tempo Doeloe
Dikatakan semasa kecil, adalah ditahun 1950-an, ketika saya masih duduk di Sekolah Rakyat atau SR (sekarang SD) dan SMP. Sekalipun berada dalam pengawasan ketat dan terikat disiplin dari Nenenda Datuk Bakri dan Mak Uti, kegembiraan anak-anak menyambut suasana puasa Ramadhan dan Idul Fitri tetap ada, apalagi tanpa diminta diberi sedikit kebebasan menikmati hal-hal yang umum dilakukan anak-anak sebaya pada waktu itu. Tetapi keluar rumah ikut anak-anak kampung berkeliling membangunkan sahur benar-benar dilarang walau sekolah libur panjang.
Berbeda dengan di pasar, dusun Air Rambai pada waktu itu benar-benar mewakili dusun suku Rejang asli. Sekalipun terletak pada lintasan antar kota, gelap dan sepi selalu menguasai suasana malam. Lampu jalan dari gardu listrik tenaga disel Kampung Jawa hanya sampai depan rumah Guru R. Hafdli, simpang Iskandar Ong sekarang. Tentu belum ada Jalan Iskandar Ong. Tidak ada yang berani ke tempat yang dialiri Air Sengak, walau kecil angker dan terkenal dengan semat bioa sengak (setan air sengak). Rumah penduduk dusun Air Rambai hanya berada sejajar kiri kanan jalan raya. Selebih itu Air Rambai dikepung hutan, kebun dan sawah.
Dwitunggal pun baru dibuka tahun 1955. Bangunan pertama adalah gedung SMA dan SKP (Sekolah Kepandaian Puteri). Dwitunggal yang pada waktu itu bernama Katakura (diambil dari nama Jepang ), berbatas dengan aliran Air Merah berupa padang rumput dan semak belukar yang luas tempat latihan tentara. Konon dalam zaman Jepang tempat tentera bermarkas. Bekas lapangan terbang militer juga masih ditemui, namun sekarang sudah menjadi perumahan penduduk. Jalan Sukowati menuju Kantor Bupati belum ada, masih kebun dan hutan. Kantor Bupati masih berlokasi di sebelah Gedung BRI, sebuah gedung bekas hotel atau pesanggerahan, sekarang menjadi gedung GOR.
Kalau diukur sekarang, satu-satunya pasar di Curup waktu itu sebenarnya tidak begitu jauh. Pasar Bang Mego dahulu disebut Pasar Tengah atau Pekan Selasa, karena pada awalnya dibuka hanya pada setiap hari Selasa. Di sanalah pusat keramaian kota Curup. Talang Rimbo masih dusun sekali. Di sekitar pasar penduduknya multi etnis. Selain penduduk asli berdiam pula kaum pedagang Minang, Palembang dan Cina. India hanya satu toko bernama H.P. Dial. Selain punya toko tekstil, Dial memiliki satu-satunya bioskop di Curup bernama Bioskop Kaba. Dinding bioskop ini terbuat dari seng tebal. Didekat bioskop itu diam juga kerabatnya dari Bombay membuka usaha pabrik roti. Tempatnya tidak jauh dari Gedung Wanita dan Gedung Muhammadiah. Selain toko tekstil dan bioskop, Dial juga mengusahakan pompa bensin. Mengeluarkan bensin dari tangki benar-benar dipompa dengan tangan melalui tuas yang diayunkan kiri kanan. Sekitar tahun 1957 berdiri bioskop Sempurna di Jalan Baru kepunyaan pengusaha asli Rejang Lebong bernama H.M Abas Saleh. Lebih megah dan modern.
Etnis Jawa dan Sunda pada umumnya berdiam di dusun-dusun mengelola kebun dan sawah. Daerah persawahan terkenal adalah Talang Benih dan Rimbo Recap. Di Talang Benih rata-rata Jawa sedang di Rimbo Recap kebanyakan Sunda Banten. Banyak kantong-kantong lain yang didiami komunitas Jawa seperti Air Bang, Tempelrejo, Adirejo, Kampung Jawa dll. Sementara kelompok pendatang dari Bengkulu yang pada umumnya pegawai pemerintah dari zaman Belanda mendiami wilayah ujung Air Rambai hingga Rejang Setia. Kebanyakan bergelar Raden seperti Raden Hafdli, Raden Ismail, Raden Ais, drh Raden Basri, Raden Arifin Lothing, Raden Firman Alisyahbana dll. Sebelum pindah ke dusun Air Rambai keluarga Datuk Bakri juga tinggal disini, menyewa rumah Raden Ismail di depan SR (SD) I.
Sungai Air Rambai jernih dan banyak airnya. Dibendung dan ditabur benih ikan mas. Setelah dipanen 6 bulan sekali, hasilnya untuk keperluan masjid. Istilah lokalnya menangguk, dimulai dari kepala tebat. Sayangnya sering tertutup enceng gondok. Saya sering mencuri waktu mancing ikan cepedak dan seluang di tepian belakang rumah, sekaligus kesempatan mandi dan berenang. Kalau terpancing ikan mas harus dilepas kembali. Kadang dapat mujair dan ruan (kan wen, gabus). Kalau mancing lele (kan kalang, limbek) cukup digantungkan pancing yang ada umpannya, lalu lumpur di dasar sungai diaduk dengan tongkat bambu atau kayu. Sebentar kemudian lele menarik-narik tali pancing yang terikat di sebuah ranting. Tentu tidak hanya satu, dibuat beberapa pancingan di tempat berbeda. Menangkap gabus bisa juga dengan cara demikian, tetapi memasangnya sore dan ditinggal semalaman. Umpannya bukan cacing tapi anak kodok yang dikaitkan tengkuknya di mata pancing. Anak kodok yang melompat-lompat di permukaan air akan menarik perhatian ikan gabus. Besoknya pagi-pagi, bila tidak dicuri orang saya akan menenteng gabus besar ke rumah. Pancing demikian namanya tagang.
Mamang Sulai, lengkapnya Sulaiman, adalah seorang warga Air Rambai yang kehidupannya menyendiri dengan gestur dan berbicara seperti pernah kena kelumpuhan (stroke). Terkenal ahli menangkap ikan gabus hanya dengan mengaitkan mata pancing ke dagu si gabus. Ketika matahari baru sepenggalah, ketika gabus naik ke permukaan air, waktu itulah perburuan Mamang Sulai. Anehnya setiap hari hanya terbatas satu ekor saja dan besarnya harus tidak kurang dari lengan orang dewasa. Tidak setiap hari Mamang Sulai mengait gabus. Seperti satu kearifan lokal menjaga kelestarian keberadaannya. Kalau Mamang Sulai lewat depan rumah Mak Uti sering membeli ikannya.
Di sekitar sungai banyak biawak dan ular. Di pohon-pohon bambu masih bergelantungan monyet jenis beruk, bencai, siamang dan simpai.
Beduk Kiai Sujak dan Terompet Saman
Menjelang malam tanggal satu Ramadhan ditandai suara beduk bertalu sejak selesai lohor dari masjid Kiai Sujak yang berada di kampung Adirejo, masjid orang Jawa yang memang konsisten memukul beduk setiap masuk waktu sholat lima waktu. Pada waktu itu masjid Kiai Sujak ini sederhana sekali bentuknya. Berlantai dan berdinding pelupuh, beratap daun ilalang dengan kubah limas khas Jawa. Memakai tiang setinggi lebih kurang setengah meter dari tanah. Luasnya tidak lebih dari 7 x 7 meter persegi. Kalau masjid Air Rambai (sekarang masjid Darussalam) bangunannya sudah lebih baik dan luas. Dindingnya terbuat dari papan berlantai semen. Kubahnya bulat dari seng cukup besar dan disangga oleh atap limas berundak seperti Masjid Agung Demak atau Masjid Agung Banten. Tempat wuduk berupa kolam atau kulah. Di sebelah masjid ada tangga ke bawah menuju mesin tumbuk nenek Ketib. Orang-orang bisa mandi dan mengambil wuduk di bendungan airnya. Hanya agak keruh karena sungai Air Rambai sudah bercampur dengan Air Sengak. Nenek Ketib adalah kakeknya teman saya Wan (kalau tidak salah belakangan dipanggil Wan Ketot).
![]() |
| Masjid Nurul Huda, Adirejo-Curup, hari ini, pada masa lalu dikenal sebagai Masjid Kyai Sujak Sumber: maps |
Malam yang biasanya dibalut sunyi berubah pada bulan Ramadhan. Penduduk yang kebanyakan bila siang hari bekerja di kebun atau di ladang mengurangi kegiatannya. Masjid menjadi ramai dan terang benderang dengan lampu gas strongking atau petromak. Rumah-rumah warga yang punya lampu sejenis menyalakan lampunya hingga jauh malam. Saat-saat setelah berbuka puasa itulah menjadi waktu berkumpul bagi anak-anak se Air Rambai di masjid. Mulai Maghrib, Isya dilanjutkan Taraweh bersama. Selesai Taraweh adalah waktu yang menggembirakan dan ditungu-tunggu.
Bermain Meriam Bambu atau Bedea Boloak
Walaupun selesai taraweh saya diwajibkan segera pulang ke rumah, tetapi masih diberi kesempatan bermain meriam bambu bersama teman-teman sebelah rumah. Tidak ada petasan seperti sekarang. Dimana-mana di dusun-dusun sekitar Curup satu-satunya permainan tradisional bulan puasa hanya meriam bambu, istilah zaman itu long bambu atau bedea boloak dalam bahasa Rejang. Saya boleh mengambil minyak tanah secukupnya untuk diisi ke dalam bambu. Tambah besar bambu betung tambah besar pula letusannya. Beberapa meriam bambu di tempat lain lebih menggelegar suaranya karena dicampur bensin. Tapi berbahaya karena sering terjadi bambunya pecah. Tanpa dicampur bensin pun saya sendiri pernah tersembur api dari lubang tiupannya sehingga membakar alis dan rambut. Alhamdulillah muka tidak apa-apa, hanya sedikit panas. Tentu saja Datuk Bakri agak marah setelah tercium aroma rambut yang terbakar. Sejak itu saya lebih berhati-hati bermain bedea boloak.
Kadang-kadang terjadi perang-perangan antar beberapa kelompok dengan menaikkan meriam keatas sebuah gerobak. Lalu didorong kesana-kemari seakan mengincar musuh yang ada di depan. Musuhpun akan berusaha mengatur strategi menyerang dan menghindar. Setiap kelompok terdiri dari 3 sampai 5 orang anak-anak. Setiap anak mempunyai tugas sendiri-sendiri seperti mendorong gerobak sekaligus mengatur strategi penyerangan, meniup lubang pemantik, menyulutkan tongkat api ke lubang. Perang-perangan ini tanpa skenario dan perjanjian terlebih dahulu. Kelompok yang sedang enak-enak bermain siap untuk diserang dan menyerang. Biasanya inisiatif dimulai dari salah satu kelompok diawali dentuman dan “teriakan perang” sambil mengarahkan meriamnya ke salah satu kelompok. Seterusnya kelompok lain tentu berjaga-jaga atau bergerak ikut menyerang. Bukan main gembiranya bila ada yang terpojok dan menyerah. Malam itu riuh rendah dengan dentuman meriam, teriakan dan tertawa. Jarang terjadi perkelahian sesungguhnya. Yang menang dan yang kalah sama-sama puas. Ada juga yang tidak bersedia ikut perang dengan memberi tanda, dan dia tidak diganggu. Akibat yang tidak enak, paling celana, baju dan sarung menjadi kotor. Kadang peci hilang. Tapi tidak masalah. Besoknya ramai-ramai mencuci di Tebat Air Rambai, yaitu area sungai yang dibendung atau ditebat sebelum pertemuan dengan Air Sengak sehingga dalam dan bening airnya. Bersama-sama mencuci, mandi dan berenang mendinginkan badan. Bercengkerama mengulangi betapa serunya situasi tadi malam, sekaligus merencanakan acara nanti malam dengan komunikasi bahasa Rejang. Asal Datuk Bakri tidak tahu saya main di tebat, tidak akan dimarahi. Kalau peci atau songkok hilang, di rumah masih ada satu lagi.
Lalu di mana arenanya? Jangan salah, kami anak-anak Air Rambai tidak bermain di jalan raya. Keme main neak datet. Kami bermain di halaman rumah. Dahulu rumah penduduk di Air Rambai, demikian juga di dusun lain, jarang diberi pagar pembatas halaman. Boleh dikatakan tidak ada bangunan yang rapat ke jalan. Kalaupun ada pohon atau tanaman bunga tidak sampai menghalangi untuk bermain. Jadi sangat leluasa untuk tempat bermain. Sebagai contoh bisa dibayangkan pada waktu itu kita bisa bermain dan berlari tanpa dihalang pagar mulai dari halaman rumah H. Abdul Malik orang tua Encik Saniah yang disebelahnya ada saluran irigasi, hingga ke halaman rumah orang tua Paman Abu Bakar (Bakek, suami Bibi Ana orang tua Buyung Zulkarnain). Mulai dari halaman rumah Ginde Umar orang tua Runi dekat jembatan sampai bertemu siring halaman rumah H. Yahya orang tua Ujang Anas (Jln MH Thamrin sekarang). Dari sebelah masjid langsung ke halaman rumah Aliati, orang tua Anang Ali atau Nanang Idin seberang rumah Datuk Bakri. Tidak ada orang tua yang melarang, malah menonton dan mengawasi dari beranda rumah yang kebanyakan bertiang tinggi.
Kue Wajib Lebaran: Dodol, Gelamai atau Pojoak
Ciri khas lain di Air Rambai, juga di dusun-dusun lain adalah membuat penganan dodol atau gelamai sebelum masuk bulan puasa. Bahasa Rejangnya pojoak. Makanan yang bahan utamanya tepung beras ketan, santan dan gula merah. Membuat dodol adalah pekerjaan biasa, tapi ada kekhasan tersendiri di Curup khususnya yang saya alami di Air Rambai. Memasaknya memakai kuali atau wajan besi super besar diatas tungku yang disesuaikan ukurannya. Pengaduknya dari kayu berbentuk seperti pengayuh sampan. Karena ukuran propertinya besar-besar dan memerlukan waktu seharian, maka mengerjakannya tidak di dapur dalam rumah, tetapi di halaman. Kadang-kadang didirikan semacam tenda sederhana. Dengan ukuran wajan berdiameter sampai satu meter, tentu bahannyapun tidak sedikit. Diperlukan puluhan kilo tepung dan bahan lain. Mengapa sampai demikian? Nah, inilah cermin kekompakan antar keluarga atau antar tetangga zaman itu.
Dodol atau pojoak yang dimasak tidak untuk satu keluarga saja. Beberapa keluarga biasanya kerabat dekat yang berdekatan rumah urunan bahan dan bergotong-royong mengerjakannya. Maka dalam waktu bersamaan sebelum bulan puasa sepanjang dusun Air Rambai terlihat kepulan asap dari tungku dan di bawah tenda-tenda pelindung, sementara beberapa orang laki-laki atau perempuan mengaduk pojoak sambil mengobrol, bergurau, tertawa-tawa dengan gembira.
Pada jam-jam pertama, adukan tidaklah begitu liat sehingga mengaduknya tidak memerlukan tenaga yang besar. Tetapi setelah adonan mulai mengental maka pada jam berikutnya khusus menjadi tugas laki-laki bergantian mengaduk dan tidak boleh ada jeda. Kaum perempuan mengatur nyala api agar nyalanya sesuai dengan kebutuhan. Terlampau besar apinya dan kalau terhenti mengaduk adonan akan gosong.
Bila dimulai pagi hari, maka sore menjelang maghrib biasanya sudah matang. Pojoak yang masih panas agak lembek dan belum bisa dimakan, dituang kedalam tabung-tabung bambu yang sudah disiapkan. Seberapa banyak tabung yang sudah diisi, dibagi rata kepada para keluarga yang urunan. Biasanya tabung-tabung itu ditaruh diatas para-para di dapur. Tiba waktunya nanti akan mengeras dan siap untuk diiris sebelum disantap. Sepanjang lebaran di setiap rumah pasti ada jenis kue ini terhidang di meja bersama kue modern lain seperti kue tat (tart), bolu lapis dlsb.
Juada Kere dengan Cetakan Pelepah Gedebog Pisang
Juada kere artinya kue keras. Sekarang kue ini bernama Perut Punai dimodifikasi dengan segala macam rasa. Kalau dahulu hanya dua macam rasa, tawar dan manis karena dilumuri gula. Kue ini kesenangan saya waktu masih kecil. Dan Mak Uti setiap menjelang puasa pasti sudah menggoreng juada kere. Bahan utamanya yang saya tahu hanya tepung beras, garam, gula merah dan sedikit kapur sirih. Menurut Mak Uti, adonan kue ini jangan sampai kemasukan pasir atau kotoran lain. Kalau ada maka akan meletus bila digoreng. Pengalaman memang demikian adanya.
Kalau sekarang membuat perut punai mungkin sudah ada cetakan khusus yang praktis. Tapi zaman dulu untuk membentuk tekstur juada kere cukup unik, yaitu dengan memakai pelepah pohon pisang atau gedebog. Mulanya adonan yang sudah jadi dibentuk bulat panjang langsung dipenyet tipis secukupnya, lalu dipotong-potong miring berbentuk lupis kecil. Potongan-potongan ini diletakkan diantara dua gedebog pisang dan di tekan. Jadilah potongan juada kere yang bertekstur pola gedebog pisang, siap untuk digoreng. Sebelumnya lapisan kulit dalam pelepah gedebog dikupas dahulu agar kelihatan pola tengahnya dan diolesi minyak kelapa agar tidak lengket. Mencetak kue seperti ini tentu memakan banyak waktu, namun asyik juga karena waktu itu kehidupan tidak terburu-buru seperti sekarang.
Perno: Oven dari Kaleng Minyak Tanah
Sebagaimana sekarang, dahulu untuk membakar kue tertentu juga memakai oven. Tapi wujudnya tidak seperti sekarang yang sudah setting menggunakan pemanas listrik atau gas dengan segala perangkat pengukurnya. Oven zaman dulu terbuat dari kaleng minyak tanah (sebenarnya kaleng minyak makan/minyak manis atau bekas tempat biskuit). Salah satu sisi samping kaleng dibuang dan sepanjang bekas guntingannya dilipat rapi agar tidak tajam. Sisi yang berlawanan menjadi dasar oven lalu diisi pasir secukupnya. Berubahlah kaleng bekas tadi menjadi sebuah oven, namanyapun berubah menjadi perno (awas, bukan por**). Tutupnya dibuat dari seng yang lebih tebal dan lebar agar bisa menutup seluruh permukaan perno.
Tentu harus ada bahan pemanas untuk membakar kue agar matangnya merata. Pemanasnya bara api di tungku dan bara yang diletakkan di atas seng penutup. Tungku untuk menaruh perno ini dibuat khusus di halaman belakang dapur. Bila loyang yang berisi adonan kue yang masih basah sudah dimasukkan ke dalam perno, maka tugas sayalah menjaga keseimbangan apinya. Api bawah yang di tungku dan api yang di atas. Kadang kala teledor juga, jadilah kuenya gosong bagian bawah atau separuh bagian atas. Kalau kuenya saya senangi, paling tidak satu loyang justru sengaja dibuat gagal. Failed cake ini bisa saya santap waktu buka puasa, tidak usah menunggu lebaran. Saya suka kue mutung atau setengah gosong. Dengan minuman dingin sirop vanili buatan Mak Uti sendiri adalah sensasi yang tidak bisa dilupakan. Paling rumit adalah membuat dan memanggang kue lapis kerena harus memasukkan adonannya berulang-ulang. Api atas dan api bawah harus dijaga betul keseimbangannya karena lapisan awal tentu lebih dahulu matang.
Kurma Dikira Asam Jawa
Suatu hari dalam bulan puasa Datuk Bakri membawa sebuah bungkusan berisi sesuatu berwarna hitam. Saya heran mengapa Datuk membeli begitu banyak asam jawa. Lebih heran lagi saya lihat ketika berbuka puasa Datuk dan Mak Uti melahap beberapa butir asam jawa yang menurut bayangan saya rasa pasti kecutnya bukan main. Akhirnya saya putuskan untuk tidak mencoba memakannya sama sekali. Datuk dan Mak Uti tertawa melihat sikap saya yang tidak peduli dengan asam jawa tersebut.
Tiba-tiba Mak Uti menjejalkan ke mulut saya secuil ke mulut saya yang mulanya ingin saya lepehkan. Namun betapa terkejutnya saya ternyata rasanya manis. Barulah saya mengerti bahwa itulah kurma arab, makanan berbuka puasa yang pada waktu itu merupakan barang yang langka di Curup.
Suasana Puasa Sepuluh Hari Terakhir
Kue-kue dan masakan lain untuk menyambut lebaran tidak ada yang dibeli matang. Semua dibuat sendiri. Proses pengerjaan ini biasanya dimulai sejak hari atau malam selikur, puasa hari ke 21. Aroma kue yang segar dan khas tercium dimana-mana. Pada hari ke 28 atau 29 semua kue sudah siap. Bara api sudah dipadamkan, tungku di halaman dibersihkan dan perno dipersilahkan istirahat di belakang dapur sampai bulan puasa tahun depan. Hari terakhir puasa khusus menyiapkan lauk pauk makanan besar untuk hidangan selamatan atau minta do’a pagi-pagi hari lebaran pertama. Aromanya berubah menjadi aroma masakan daging dan ayam yang sedap. Hampir semua rumah begitu aktivitasnya.
Mulai malam selikur keadaan beranjak sepi. Masjid sebagaimana biasa berkurang jama’ahnya. Tapi suasana malam di luar rumah menjadi lebih terang. Setiap rumah memasang lampu minyak tanah di halaman rumah. Lampu terbuat dari ruas bambu yang dibuat beberapa lubang tempat menancapkan bambu kecil yang sudah dipasang sumbu dari kain. Lampu ini ditancap di halaman sampai malam ke 27 atau akhir Ramadhan. Ibu-ibu mulai sibuk di dapur. Bapak-bapak membersihkan pekarangan dan merapikan rumah. Anak-anak mulai memikirkan baju baru yang akan dipakai lebaran.
Sepuluh hari menjelang hari raya sebenarnya terasa lebih syahdu. Dentuman meriam bambu lenyap. Di masjid Air Rambai selesai taraweh jelas terdengar suara tadarusan. Di beberapa rumah juga terdengar orang membaca Al Qur’an. Dari masjid Kiai Sujak Adirejo selesai taraweh seperti biasa beduk dipukul berirama, suaranya terdengar berat. Sayup-sayup terdengar lagu shalawat, pujian dan nasihat dalam bahasa dan langgam Jawa. Mirip Syi’ir Tanpo Wathon yang dilantunkan Almarhum Gus Dur sekarang. Terompet Saman masih setia meneriakkan jeritan pilu setiap masuk waktu sholat lima waktu, seakan menyatakan isi hati kepada kekasihnya yang hilang bahwa dia masih menunggu.
Lalu Idul Fitri yang dinanti tiba, suara beduk dan takbir dari masjid berkumandang semalam suntuk tanpa pengeras suara seperti sekarang. Selain bertakbir, panitia atau perorangan sibuk menyalurkan zakat fitrah. Di jalan terlihat beberapa pasangan membawa makanan dalam rantang menuju rumah orangtua, kerabat yang dituakan atau tokoh masyarakat yang dihormati.
Idul Fitri dan Pesiar dengan Truk
Malam takbiran terasa istimewa. Tapi seingat saya tidak ada takbir keliling. Entah di pasar atau di tempat lain. Siangnya rumah sudah rapi bersih. Lampu tidak dimatikan dan jendela tetap dibuka semalaman. Ruang tengah dikosongkan dari kursi meja dan dihamparkan permadani. Pagi-pagi sekali di ruang tengah disiapkan piring-piring nasi dan lauk pauk. Tidak ketinggalan kue-kue. Hampir setiap rumah selesai sholat Id mengundang jamuan selamatan. Tidak ada berkat yang dibawa pulang, selesai berdo’a lalu makan bersama di tempat. Bayangkan betapa penuhnya perut setelah menghadiri jamuan di beberapa rumah. Kiatnya makan sedikit saja sebagai formalitas, tetapi kewajiban hadir untuk berdo’a terpenuhi. Saya sendiri kadang-kadang ikut Datuk Bakri, tetapi kebanyakan tidak. Sibuk membantu Mak Uti dan memada-madai baju baru. Suasana ceria sekali. Seharian itu bergantian datang anak menantu beserta cucu serta kerabat dekat yang lebih muda untuk bermaaf-maafan. Kadang saya diberi uang. Lumayan untuk jajan nanti kalau pesiar.
Sebelum Datuk mempunyai pesawat radio, di rumah ada mesin nyanyi atau gramofon merek His Master Voice cap Anjing Duduk buatan Inggeris. Benda inilah yang dikeluarkan guna memeriahkan suasana lebaran di rumah. Ada 8 buah plat atau piringan hitam yang bisa diputar berisi 16 lagu-lagu keroncong, melayu, barat jazz serta country dan beberapa instrumental. Biduannya P. Ramlee, Saloma, Emma Gangga, Rubiah dan penyanyi barat yang saya lupa namanya. Dua plat yang lain berisi murotal beberapa Surah Al Qur’an dan berzanji suara seorang Sekh dari Suliki Sumatera Barat. Untuk membunyikannya, per pemutar plat diengkol dulu. Platnya digosok dengan minyak kayu putih, bukan karena masuk angin, tetapi agar jernih suaranya. Jarumnya kalau tumpul diasah hingga runcing. Seperti diketahui Nenenda Datuk Bakri dan Mak Uti penggemar musik juga.
![]() |
| gramafon His Master Voice cap Anjing Duduk buatan Inggeris sumber: Wikipedia |
Selama lebaran di pasar ada hiburan anak-anak yang sekarang namanya komidi putar. Di Curup dulu dinamakan kuda beleng. Disamping itu ada buaian keling dan kadang-kadang ada tong setan. Buaian keling adalah cikal bakal wahana bianglala (skywheel high roller) sekarang. Kerangkanya semua terbuat dari kayu dengan tinggi kurang lebih 7 meter. Empat buah gondolanya berbentuk kotak, masing-masing kabin dapat diisi 4 anak-anak. Berputar seperti kincir pada as besi memakai tenaga manusia. Kuda beleng juga bisa berputar karena ditarik dengan tali oleh beberapa orang krunya.
Saya punya acara sendiri. Diberi kebebasan selama tiga hari lebaran tanpa melalaikan kewajiban di rumah. Sudah bikin janji dengan beberapa teman sebaya. Acara favorit zaman itu adalah pesiar atau berwisata ke luar kota dengan naik truk barang yang sudah dimodifikasi. Kadang-kadang terbuka tanpa atap. Trayek dekatnya ada tiga yaitu Pasar Tengah – Pulogeto, Pasar Tengah – Kesambe dan Pasar Tengah - Tabarena. Lupa saya berapa ongkosnya. Trayek jauh hanya dua yaitu ke Bengkulu dan ke Lubuk Linggau. Untuk anak-anak cukup trayek dekat saja, namun ketiga trayek tersebut tadi wajib dicoba. Maka tambah ramailah jalan raya dengan truk-truk yang membawa rombongan anak-anak dengan sorak ria sepanjang jalan. Delman dan becakpun tidak kurang hilir mudik. Angkot dan odong-odong belum ada waktu itu. Delman yang paling kencang jalannya adalah delman yang dikusiri Juki (Marzuki) Belanda. Kudanya tinggi besar selaras juga dengan kusirnya yang berperawakan tinggi turunan Jerman. Sedangkan yang paling lamban jalannya adalah delman Mamang Kader. Delmannya ditarik kuda kacang yang kecil yang malas, kudisan lagi.
Dikatakan berwisata bukan juga, karena setelah sampai ke titik tertentu di Pulogeto, Kesambe atau Tabarenah truk langsung balik arah menuju pangkalan semula menunggu penumpang berikutnya. Hanya menikmati sensasi naik truk saja sepanjang jalan. Tapi itu sudah cukup membikin hati berbunga-bunga.
Sekali waktu saya diperbolehkan pesiar ke Lubuk Linggau. Aduh, bukan main senangnya. Naik truk modifikasi juga. Oleh Datuk Bakri saya dititipkan kepada H. Jalil, kakak Nanang Idin sekaligus orang tua Anwar teman sepermainan saya. Kalau trayek jauh ini biasanya orang tua bersama keluarga. Di Lubuk Linggau bisa melihat-lihat setasiun dan kereta api karena kendaraan parkir tidak jauh dari setasiun. Banyak diantara peserta baru pertamakali itu melihat lokomotif dan rangkaian gerbong. Wisata jarak jauh ini memakan waktu sehari penuh.
Armada truk yang digunakan untuk pesiar ini kebanyakan milik pengusaha Cina yang berdiam di lingkungan pasar. Belakangan diketahui salah satu pemiliknya adalah kakek teman sekolah saya Musa. Bapaknya menikah dengan semulen atau gadis Rejang Pulogeto dan menjadi mualaf. Setelah tamat dari Fakultas Sospol UGM, Musa lebih memilih berwiraswasta dari pada menjadi PNS. Kini selain memiliki beberapa bidang kebun kopi dan jahe di sekitar Curup, juga memiliki beberapa hotel. Salah satunya Hotel Wisata Baru. Musa kini sudah almarhum.
Suasana Berbeda Menurut Zamannya
Sekarang kota Curup sudah sangat berbeda. Air Rambai bukan dusun lagi. Pekarangan tempat bermain sudah lenyap. Halaman sudah tersita untuk pelebaran jalan. Jalan Air Rambai berubah menjadi jalan protokol yang hiruk pikuk sepanjang waktu, berganti nama MH Thamrin. Di kiri kanan penuh dengan tempat usaha. Tebat Air Rambai tempat mandi dan berenang hampir lenyap, mata airnya dicegat oleh sebuah perusahaan air mineral.
Dengan bertambahnya penduduk kota Curup, sudah berdiri beberapa lokasi pasar lagi. Pusat keramaian menjadi merata. Permukiman sudah merambah ke bukit-bukit dan lembah yang dahulunya kebun atau hutan. Tempat yang dulunya angker, sekarang penuh dengan rumah. “Semat” yang dulu ditakuti menyingkir entah kemana.
Masjid Air Rambai berubah megah dengan nama Masjid Darussalam. Begitu juga masjid Kiai Sujak di Adirejo dekat Lapas, sudah sangat bagus dan diberi nama Masjid Nurul Huda. Adirejo bukan kampung lagi, beraspal licin dan berubah nama menjadi Jalan Nusirwan. Saman sudah meninggal. Kiai Sujak sudah lama dipanggil Tuhan. Mamang Sulai penangkap ikan gabus tinggal nama. Teman-teman sebaya baik laki maupun perempuan tidak seberapa lagi yang masih hidup. Terasa sekali hidup sayapun sudah semakin tua, sudah kepala delapan.
Masa kecil berlalu, menyusul kemudian masa remaja dan dewasa. Berkelindan pula rangkaian pengalaman lain dengan warna berbeda sesuai ritme kehidupan mengarungi perputaran zaman. Kenangan masa-masa itu akan selalu tersimpan, dikisahkan agar bisa diketahui generasi berikut.
Selamat membaca.
Bogor, April 2021/ Ramadhan 1442 H. Diperbaharui Maret 2026 / Ramadhan 1447 H.
Catatan diksi Rejang dalam tulisan ini :
bioa sengak: air dingin
kan wen: ikan ruan, gabus
kan kalang: ikan lele
tagang: pancing tajur
bedea: bedil
boloak: bambu
keme: kami
neak: di
datet: halaman rumah
pojoak: dodol
semulen: gadis
Catatan editor (Emong Soewandi):
Saya menerima tulisan ini pada 22 Maret 2026, bertepatan dengan 3/2 Syawal 1447 H, dari penulisnya Dang Sjamsul Bahri, yang saat ini berdomisili di Bogor. Beliu lahir di Bengkulu, tetapi menghabiskan masa kecil hingga tamat SMA di kota Curup. Semasa di Curup, beliau berdomisili di Dusun Air Rambai, dekat dengan Masjid Jamik Darussalam. Pada 1964 beliau meninggalkan kota Curup untuk melanjutkan pendidikan di Surabaya. Orang tua beliau bernama M. Bakri yang pernah menjadi guru di SD Negeri Curup (SDN 01 Rejang Lebong hari ini).



Post a Comment for "SUASANA RAMADHAN DAN IDUL FITRI DI AIR RAMBAI CURUP TEMPO DOELOE"
Berkomentarlah dengan bijak. Semua komentar mengandung kata-kata tidak pantas, pornografi, undangan perjudian, ujaran kebencian dan berpotensi rasial, akan kami hapus