Skip to content Skip to sidebar Skip to footer

DRAMA: PELAJARAN (EUGENE IONESCO)

Ilustrasi

DRAMA KOMEDI: PELAJARAN

: Eugene Ionesco

DEKOR

Kamar kerja PROFESOR, merangkap kamar makan. Di sebelah kiri, pintu yang menuju ke bagian rumah yang bertetangga; di bagian belakang sebelah kanan, ada sebuah pintu lain, dengan sebuah lorong di belakangnya. Di bagian belakang, agak di sebelah kiri, ada sebuah jendela yang tidak terlalu besar,dengan gorden-gorden yang sederhana. Di atas bagian bawah jendela yang diperlebar di sebelah luar, ada beberapa pot bunga. Di kejauhan kita melihat beberapa buah rumah yang rendah dengan genting-genting merah:kotanya, langitnya biru kelabu. Di sebelah kana nada sebuah buffetyang biasa dimiliki petani. Mejayang berada di tengah-tengah pentas juga dipakai sebagai meja tulis. Di sekitar meja itu ada tiga buah kursi dan dua buah kursi lagi di kanan kiri jendela. Kain dindingnyaberwarna cerah. Di situ ada pula beberapa buah papan dengan buku-buku.(Setelah layar diangkat, pentas nampak kosong. Ini berlangsung untuk beberapa saat. Setelah itu terdengar orang membunyikan bel di pintu luar).

SUARA PEMBANTU:
(dari balik dinding samping pentas) “ Ya, sebentar”, (Pembantu muncul. Dia datang dari atas. Terdengar suara bersungut-sungut. Tubuhnya tegap, umurnya antara empat puluh lima dan lima puluh tahun, mukanya berseri-seri, dandanan rambutnya seperti petani. Dia berjalan bergegas, menutupkan pintu sebelah kanan di belakangnya dengan keras, menyapukan kedua tangannya pada ‘ schort ‘ nya. Ini dilakukannya sambil berjalan kearah pintu seblah kiri. Sementara itu terdengar pula dering bel untuk kedua kalinya )

PEMBANTU:
“ Sabar. Saya datang . “ (Dia membuka pintu )

(Tampak seorang murid perempuan yang masih muda, berusia delapan belas tahun, mengenakan ‘schort‘ kelabu, kerah baju lehernya berwarna putih dan di lengannya tersangkut tas buku)

PEMBANTU:
Selamat siang, nona

MURID:
Selamat siang, nyonya. Professor ada di rumah?

PEMBANTU:
Apakah anda datang untuk belajar?

MURID: Ya, nyonya.

PEMBANTU:
Dia menunggu anda.Silakan duduk sebentar. Akan saya beritahu dia.

MURID: 
Terima kasih, nyonya.
( Dia duduk di dekat meja, mukanya menghadap ke arah penonton. Di sebelah kirinya terletak pintu luar,dia duduk membelakangi pintu yang lainnya,yang dengan bergegas pula di lalui oleh pembantu untuk pergi ke luar )

PEMBANTU:
(memanggil) Tuan, silakan turun, murid anda sudah datang.

SUARA PROFESOR:
(agak lemah  Terima kasih, saya segera datang….dua menit lagi.

(pembantu keluar, murid perempuan itu menarik kedua kakinya di bawah kursi, tasnya terletak di atas lutut, dia menunggu dengan sabar, dengan hati-hati matanya memperhatikan kamar,perabot rumah dan langit-langit. Kemudian dia mengambil sebuah buku tulis dari tasnya. Dia membuka buka-buka halaman buku tulis itu dan pada salah satu halamnnya dia berhenti agak lama, seolah-olah dia sedang mengulang pelajarannya,seolah-olah dia terakhir kalinya mengamati pekerjaan rumahnya. Dia kelihatan sopan,berpendidikan baik namun dia bukan seorang gadis pemalu, dia riang dan lincah dan senyum yang kekanak-kanakan tergores di seputar bibirnya. Sementara pertunjukan ini berlangsung, irama lincah dari gerak-gerik dan tingkah lakunya ini secara berangsur-angsur berubah menjadi mengendur, berkurang. Gadis yang mula-mula tampak lincah ini lama-kelamaan jadi semakin letih,pada akhir pertunjukan dia jelas tampak mengalami tekanan jiwa, cara bicaranya nampak berubah dengan jelas, lidahnya jadi berat, dia semakin sulit mengenai kata-kata, yang ternyata semakin pula keluar dari mulutnya dan ini merupakan awal dari aposie ( penyakit tidak mampu bicara yang di sebabkan oleh hilangnya kemampuan mengingat kata-kata ). Gadis yang mula-mula begitu penuh kemampuan, bahkan hampir agresif ini,lambat laun jadi semakin pasif, sehingga dia hanya tinggal merupakan alat yang lemah,tidak berkemauan dan seolah-olah tidak berjiwa di tangan professor itu dan dia tidak lagi memberikan reaksi ketika professor itu melakukan tindakannya yang terakhir. Dalam keadaan seolah-olah terpukau dia tidak lagi mampu memberikan reaksi,dia sama sekali tak berdaya, matanya Cuma mencerminkan keheranan dan rasa takut yang tidak terkatakan. Tetapi peralihan dari keadaan yang satu kepada keadaan yanglain ini tidak terlihat dengan jelas.

Profesor itu masuk. Dia seorang laki-laki tua yang berjanggut putih. Dia memakai 'lorgnette' (kaca mata jepit), peci hitam, kemeja panjang hitam seorang guru sekolah, celana hitam dan sepatu, kerah-semu berwarna putih dandasi hitam. Dia sopan bukan main, sangat pemalu, suaranya tertahan-tahan karena rasa malu. Dia sangat tertib, sikapnya betul-betul sikap seorang professor. Dia terus-menerus menggosok-gosokkan kedua tangannya, sekali-sekali sinar matanya nampak jalang. Tetapi kejalangannyaini ditekannya. Sementara pertunjukkan berlangsung sikapnya yang pemalu itu secara berangsur-angsur lenyap tanpa diketahui, dan sinaryang jalang ini akhirnya berubah menjadi nyala. Api yang taktak terputus-putus menelan mangsanya. Professor yang mula tampak begitu tenang ini makin lama makin merasa yakin akan dirinya, dia jadi semakin gugup, agresif dan haus kekuasaan-sehingga dengan sesuka hati dia memperlakukan murid perempuannya ini, yang di dalam tangannya hanya tinggal merupakan boneka mainan belaka. Suara professor itu mesti terdengar dengan jelas. Mula-mula suaranya terdengar ringan dan lemah tetapi suara itu makin lama jadi semakin kuat dan akhirnya menjadi penuh gema, nyaring, seperti bunyi terompet, sedang suara murid perempuan itu, mula-mula terdengar jernih dan enak, tetapi makin lama suara itu hamper-hampir tidak bisa didengar. Pada adegan – adegan pertama suara professor itu boleh sedikit gagap )

PROFESOR:
Selamat siang, nona……… bukankah anda murid baru itu? Ya?

MURID:
(Dengan cepat dia memutar, tanpa kecanggungan, sikapnya seperti gadis zaman sekarang; dia kemudia berdiri, berjalan kea rah PROFESOR itu dan mengulurkan tangannya) Ya, tuan. Selamat siang, tuan. Seperti anda lihat, saya datang tepat. Saya tidak mau datang terlambat. 

PROFESOR:
Bagus sekali, nona, terima kasih. Tetapi anda tidak perlu terburu-buru. Saya tidak tahu bagaimana saya harus minta maaf karena telah membiarkan anda menunggu. Saya sedang sibuk….. maafkan saya. Maukah anda memaafkan saya ?

MURID:
Anda tidak perlu minta maaf. Tidak apa.

PROFESOR:
Maafkan saya……… anda dapat mencari rumah saya dengan mudah?

MURID:
Ya, tentu saja. Lagi pula….. saya telah menanyakannya. Ternyata setiap orang mengenal anda.

PROFESOR:
Saya sudah tiga puluh tahun tinggal di kota ini. Anda belum lama tinggal di sini? Bagaimana keadaan di sini menurut anda?

MURID:
Saya merasa betah juga di sini. Kotanya bagus, menyenangkan, tamannya indah, ada sekolah asrama, toko-tokonya bagus, jalannya banyak dan ada pula jalan-jalan yang diapit pepohonan

PROFESOR:
Benar, nona. Tetapi rasanya ingin juga saya tinggal di kota lain, di Paris misalnya, atau di Bordeaux?

MURID:
Anda suka Bordeaux?

PROFESOR:
Entahlah, saya tak pernah ke sana.

MURID:
Anda pernah ke Paris?

PROFESOR:
Juga tidak nona. Tetapi, kalau boleh, dapatkah anda mengatakan, Paris itu ibukota negeri mana, nona?

MURID:
(Berfikir sejenak, lalu dia merasa gembira setelah dia mengetahuinya) Paris, ialah ibukota….. Perancis?

PROFESOR:
Tentu saja, nona. Bagus! Bagus sekali. Terimalah ucapan selamat saya. Rupanya anda sangat hafal ilmu bumi Negara anda, kota-kota anda.

MURID:
Oh, saya tidak hafal semuanya. Saya tidak bisa menghafalkannya dengan begitu mudah. Saya sukar mengingatnya.

PROFESOR:
Oh, itu gampang….. anda tak perlu berkecil hati. Jangan gusar nona….. andaharus sabar. Pelan-pelan saha, pelan-pelan saja. Andaakan lihat nanti bahwa segalanya akan berjalan lancar. Hari ini cuacanya baik, ataulebih baik dikatakan, hari ini cuacanya tidak begitu baik. Atau, baik juga mungkin. Namun betapapun juga, yang paling penting hari ini cuacanya tidak buruk. Dan ….. oh, tidak ada hujan. Juga tidak ada salju.

MURID:
Itu akan sangat aneh, sebab sekarang musim panas.

PROFESOR: “ Maafkan saya, nona, sebab sebenarnya saya juga mau berkata begitu…… Tetapi anda juga harus belajar bahwa segalanya bisa saja terjadi. “
MURID: “ Boleh jadi juga, tuan. “
PROFESOR: “ Kita tidak punya kepastian di dunia ini, nona. “
MURID: “ Salju jatuh dalam musim dingin. Musim dingin adalah salah satu dari keempat musim. Yang tiga lainnya ialah….. musim….. “
PROFESOR: “ Ya?”
MURID: “ Semi. Dan sesudah itu musim panas dan eh ….. “
PROFESOR: “ Kedengarannya hamper sama dengan guntur, nona. “
MURID: “ Ah, ya. Musim gugur. “
PROFESOR: “ Bagus sekali, nona. Jawaban yang bagus sekali. Bagus. Saya yakin bahwa anda akan jadi murid yang baik. Anda akan banyak mencapai kemajuan. Anda pintar. Menurut hemat saya, anda cukup cendekia, daya ingat anda baik. “
MURID: “ Bukankah saya menguasai musim yang empat itu, tuan? ”
PROFESOR: “ Tentu saja, nona……... anda hampir menguasainya. Tetapiitu gampang. Sekarangpun sudah baik sekali. Anda akan bisa mengahafalkan musim yang empat itu dengan mudah sekali. Seperti saya. “
MURID: “ Alangkah sukarnya! “
PROFESOR: “ Oh, tidak. Anda akan bisa menghafalkannya dengan sedikit usaha, dengan sedikit kemauan baik, nona. Akan anda lihat nanti……bahwa segalanya akan beres. Anda harus yakin akan hal itu. “
MURID: “ Oh, saya ingin sekali, tuan. Saya gemar belajar. Orang tua saya juga ingin sekali agar saya memperdalam pengetahuan saya. Mereka ingin agar saya mengkhususkan diri dalam sesuatu. Mereka berpendapat bahwa pendidikan yang bersifat umum, betapapun juga mendalamnya, kurang cukup memadai untuk jaman kita. “
PROFESOR: “ Orang tua anda, benar sekali, nona. Anda harus melanjutkan pendidikan anda. Maafkan saya karena saya terpaksa mengatakannya, tetapi itu memang mutlak perlu. Kehidupan sudah menjadi sangat kompleks dewasa ini. ”
MURID: “ Dan begitu rumit…….. untung bagi saya bahwa orang tua saya cukup berada. Mereka mampumenunjang usaha saya dan pendidikan lanjutan saya. “
PROFESOR: “ Dan anda mau mendaftarkan diri untuk………. “
MURID: “ Untuk secepat-cepatnya menempuh ujian doctoral persamaan yang akan datang. Dalam waktu tiga minggu. “
PROFESOR: “ Anda sudah lulus menempuh ujian persiapan? Kalau boleh saya menanyakannya. “
MURID: “ Ya, tuan. Saya sudah lulus ujian persiapan untuk ilmu pengetahuan dan sastra. “
PROFESOR: “ Oh, kalau begitu anda sudah sangat berhasil, bahkan terlalu berhasil untuk usia anda. Dan ujian doctoral apa yang ingin anda capai? Ilmu pengetahuan atau filsafat biasa? ”
MURID: “ Kalau mungkin menurut anda, orang tua saya ingin agar saya dalam waktu yang singkat dapat mencapai tingkat doctoral saya dalam bidang umum. “
PROFESOR: “ Bidang umum? Anda betul-betul bersemangat, nona. Terimalah ucapan selamat saya. Kita harus berusaha sebaik-baiknya, nona. Lagipula anda sudah cepat dewasa. Dalam usia semuda itu. “
MURID: “Oh, tuan! “
PROFESOR: “ Nah. Kalau anda tidak berkeberatan, maafkanlah saya untuk ini, maka harus saya katakan bahwa kita harus segera mulai bekerja sekarang. Kita sama sekali tidak boleh membuang-buang waktu. ”
MURID: “ Benar, tuan. Saya siap. Silakan. ”
PROFESOR: “ Kalau begitu, silakan duduk………di situ. Kalau anda tidak keberatan, bolehkah saya duduk di muka anda? ”
MURID: “ Tentu saja, tuan. Silakan. ”
PROFESOR: “ Terima kasih, nona. ”
( Mereka duduk berhadap-hadapan menghadapi meja )
“ Nah, apakah anda membawa buku-buku dan buku-buku tulis anda? ”
MURID: ( Memegang buku-buku dan buku-buku tulisnya di dalam tas ) “ Ya, tuan. Yang kita perlukan, semuanya sudah ada di sini. “
PROFESOR: “ Bagus sekali, nona, bagus. Kalau anda tidak keberatan…………….bisakah kita mulai sekarang? “
MURID: “ Tentu saja, tuan. Saya sudah siap untuk melayani anda. ”
PROFESOR: “ Untuk melayani saya. ( Sinar’ matanya cepat berubah kembali. Dia menekan kecenderungannya ini )…… Oh, nona, saya sudah siap untuk melayani anda. Saya siap melayani. ”
MURID: “ Oh, tuan……….. ”
PROFESOR: “ Terserahlah….kalau begitu….kita….kita….saya….saya….akan mulai menguji anda dengan singkat mengenai pengetahuan yang sudah anda miliki dan anda kuasai agar kita bisa menentukan jalan man yang akan kita tempuh……… Bagus. Bagaimana pendapat anda mengenai bentuk jamak? ”
MURID: “ Sangat kabur……….dan kacau. ”
PROFESOR: “ Baik. Kalau begitu mari kita mencobanya. ( Dia menggosok-gosokkan kedua tangannya. Pembantu rumah itu masuk. Perbuatannya ini agaknya membuat PROFESOR itu tersinggung perasaannya. PEMBANTU itupergi ke buffetdan dia mencari-cari sesuatu di dalamnya; dia berlambat-lambat ) Nah, nona, bagaimana kalau kita berhitung sekarang……… “
MURID: “ Baik, tuan. Tidak ada yang sukailebih dari pada itu. ”
PROFESOR: “ Ini ilmu pengetahuan yang boleh dikatakan baru, ilmu pengetahuan modern, atau lebih baik lagi kalau disebut suatu metode dari ada ilmu pengetahuan…. Ini juga satu therapie. Marie, apakah kau sudah siap? ”
PEMBANTU: “ Sudah, tuan. Piringnya sudah saya temukan. Saya akan segera pergi…….. ”
PROFESOR: “Cepatlah. Pergi lekas ke dapur. ”
PEMBANTU: “ Ya, tuan, saya akan segera pergi. ( Dia sudah siap untuk pergi ) Maafkan, tuan, tetapi anda harus berhati-hati. Saya nasihatkan agar anda berlaku tenang. ”
PROFESOR: “ Kau gila Marie! Yuh! Kau tak perlu cemas. ”
PEMBANTU: “ Anda selalu berkata begitu, ”
PROFESOR: “ Saya tidak bisa menerima cercaanmu. Saya tahu betul bagaimana saya harus berbuat. Saya sudah cukup tua untuk itu. ”
PEMBANTU: “ Justru karena itu, tuan. Sebaiknya anda jangan mulai dengan berhitung dengan nona ini. Anda bisa jadi letih dan gugup karena berhitung. ”
PROFESOR: “ Untuk orang seusiaku tudak.Lagipula mengapa kau harus turut campur. Ini urusanku, dan aku tahu masalah ini. Tempatmu bukan disini. ”
PEMBANTU: “ Baik, tuan, tetapi anda tidak boleh mengatakan bahwa saya telah tidak memperingatkan anda. ”
PROFESOR: “ Marie, kita sama-sama maklum akan hal itu. ”
PEMBANTU: “ Terserah, tuan. ” ( Dia keluar )
PROFESOR: “ Maafkan saya, nona, atas gangguan yang gila ini. Anda harus memaafkan perempuan itu. Dia selalu takut kalau-kalau saya menjadi terlalu letih. Dia mencemaskan kesehatan saya. ”
MURID: “ Tak ada yang perlu dimaafkan. Itu membuktikan bahwa perhatiannya sangat besar kepada anda. Dia saying kepada anda. Pegawai yang baik jarang sekali dijumpai sekarang.”
PROFESOR: “ Dia terlalu melebih-lebihkan persoalannya. Kecemasannya tidak beralasan. Mari kita kembali ke pekerjaan kita. Kepada ilmu hitung. ”
MURID: “ Saya sudah siap-sedia, tuan. Saya akan mengikuti anda. ”
PROFESOR:( Melucu ) “ Sementara anda tetap duduk…… ”
MURID: ( Menghargai ;e;ucon tersebut ) “ Seperti anda. ”
PROFESOR: “ Bagus, sekarang mari berhitung. ”
MURID: “ Baik, saya senang sekali, tuan. ”
PROFESOR: “ Tidak keberatankah anda untuk mengatakan kepada saya…………. ”
MURID: “ Tidak, tuan. Silahkan. ”
PROFESOR: “ Berapa1 + 1 ?
MURID: “ 1 + 1 = 2 “
PROFESOR:( Heran atas pengetahuan murid perempuan itu ) “ Oh, itu betul sekali! Ternyata anda sudah sangat maju dengan pelajaran anda. Anda tida akan mendapatkan kesulitan dengan pelajaran anda. Anda tidak akan mendapat kesulitan dengan ujian doctoral umum anda, nona. ”
MURID: “ Saya senang mendengarnya. Apalagi setelah anda mengatakannya sekarang. ”
PROFESOR: “ Mari kita lanjutkan. Berapa 2 + 1 ? ”
MURID: “ 3 “
PROFESOR: “ 3 + 1 ? “
MURID: “ 4 “
PROFESOR: “ 4 + 1 ? “
MURID: “ 5 “
PROFESOR: “ 5 + 1 ? “
MURID: “ 6 “
PROFESOR: “ 6 + 1 ? “
MURID: “ 7 “
PROFESOR: “ 7 + 1 ? “
MURID: “ 8 “
PROFESOR: “ 7 + 1 ? “
MURID: “ 8
PROFESOR: “ 7 + 1 ? “
MURID: “ 8 “
PROFESOR: “ Jawaban yang bagus, 7 + 1 ? “
MURID: “ 8 “
PROFESOR: “ Bagus, bagus sekali, 7 + 1 ? “
MURID: “ 8 dan kadang-kadang 9 “
PROFESOR: “ Hebat sekali. Anda hebat sekali. Anda luar biasa. Terimalah ucapan selamat saya, nona. Tak ada gunanya kalau kita teruskan hal ini. Anda pintar sekali dalam menjumlah. Sekarang mari kita mengurangi. Kalau anda tidak letih, katakanlah berapa 4 – 3 ? “
MURID: “ 4 – 3 ? ……….. 4 – 3 ? “
PROFESOR: “ Ya, maksud saya, 4 dikurangi 3. “
MURID: “ Yaitu……….7 ? “
PROFESOR: “ Maaf, saya harus menyangkal anda, 4 dikurangi 3 tidak sama dengan 7.Anda telah mengacaukannya : 4 ditambah 3 ialah 7, 4 dikurangi 3 tidak sama dengan 7…………… Ini bukan menjumlah, melainkan mengurangi. “
MURID:( Berusaha untuk mengerti ) “ Ya………ya…………… “
PROFESOR: “ 4 – 3 = ………berapa ? …………… berapa ? ”
MURID: “ 4 ? “
PROFESOR: “ Bukan, nona, itutidak betul. “
MURID: “ 3, kalau begitu. ”
PROFESOR: “ Juga bukan, nona ………. Maafkan, saya harus mengatakan bahwa itu salah. Maaf. “
MURID: “ 4 – 3 ……….. 4 – 3 ? Bukan 10 ? ”
PROFESOR: “Oh, tentu saja bukan, nona. Tetapi di sini kita tidak boleh menebak-nebak. Kita harus menggunakan akal kita. Mari kita memecahkannya bersama-sama. Maukah anda menghitung ? “
MURID: “ Ya, tuan. Satu..., dua…, oh…….. “
PROFESOR: “ Bukankah anda bisa menghitung? Sampai berapa anda bisa menghitung ? “
MURID: “ Saya bisa menghitung ……… sampai tidak terhingga. “
PROFESOR: “ Tidak mungkin, nona. “
MURID: “ Kalau begitu, mari kita menghitung sampai 16. “
PROFESOR: “ Itu sudah cukup. Kita harus tahu membatasi diri.Kalau begitu, silahkan anda menghitung. “
MURID: “ 1, … 2, … dan sesudah 2. … 3 … 4 …. “
PROFESOR: “ Berhenti, nona. Angka mana yang lebih besar 3 atau 4 ? “
MURID: “ Eh………3 atau 4 ? ” mana yang lebih besar ? Yanglebih besar dari 3 atau 4 ? lebih besar dalam hal apa ? “
PROFESOR: “ Ada angka – angka yang lebih kecil dan angka – angka lain yanglebih besar. Yang lebih besar mengandung lebih banyak satuan dari yang lebih kecil. “
MURID: “ Dari angka – angka yang lebih kecil ? “
PROFESOR: “ Setidak – tidaknya kalau angka – angka kecil itu mengandung satuan-satuan yang lebih kecil. Kalau angka-angka itu sangat kecil, maka bisa terjadi,bahwa angka-angka kecil itu mengandung lebih banyak satuan dari angka-angka yang lebih besar … kalau soalnya menyangkut satuan-satuan lain … “
MURID: “ Apakah dalam soal itu bisa terjadi bahwa angka-angka yang lebih kecil itu lebih besar daripada angka-angka yang lebih besar?”
PROFESOR: “ Kita jangan mempersoalkannya dulu. Dengan itu kita akan bertindak terlalu jauh. Hanya anda harus tahu bahwa di sini Cuma ada angka-angka … juga di sini ada kebesaran – kebesaran, jumlah-jumlah, ada kelompok-kelompok, himpunan-himpunan, himpunan-himpunan benda, seprti misalnya buah ‘pranus’, gerbong-gerbong, biji-bijian dan sebagainya. Untuk memudahkan pekerjaan kita, marilah kita menggambarkannya secara sederhana, bahwa di sini cuma adaangka-angka genap. Lalu, angka-angka yang mempunyai satu-satuan genap yang terbanyak, adalah angka-angka yang terbesar. “
MURID: “ Jadi yang mempunyai yang terbanyak, adalah yang terbesar ? Ah, saya mengerti, tuan, anda telah menghubungkan kualitas dengan kuantitas. “
PROFESOR: “ Itu terlalu teoritis, nona. Terlalu teoritis. Anda tak perlu merisaukannya. Mari kita mengambil sebuah contoh dan dengan menggunakan akal, kita membatasi diri kita pada persoalan ini. Kita punya angka 3 dan angka 4, kedua-duanya mempunyai satuan-satuanangka yang genap. Angka manakah yang terbesar, angka yang paling kecil atau yang lebih besar? “
MURID: “ Maafkan saya, tuan … Apakah yang anda maksudkan dengan angka yang lebih besar? Apakah itu angka yang kurang kecil dari yang lainnya? “
PROFESOR: “ Betul sekali, nona, bagus sekali. Anda dapat mengerti saya dengan baik sekali. “
MURID: “ Kalau begitu 4. “
PROFESOR: “ 4 bagaimana? Lebih besar atau lebih kecil dari 3? “
MURID: “ Lebih kecil….bukan, lebih besar. “
PROFESOR: “ Jawaban yang bagus sekali. Ada berapakah satuan-satuan antara 3 dan 4? … Atau antara 4 dan 3, kalau anda lebih suka saya mengatakannya begitu? “
MURID: “ Antara 3 dan 4, tidak ada satuan-satuannya. 4 langsung menyusul sesudah 3, antara 3 dan 4 tidak ada apa-apanya. “
PROFESOR: “ Saya telah tidak mengatakannya dengan jelas. Itu kesalahan saya. Saya telah tidak mengatakannya dengan cukup jelas. “
MURID: “ Bukan, tuan. Sayalah yang salah. “
PROFESOR: “ Lihat, di sini ada 3 korek api. Dan di di sini masih ada satu lagi, jadi semuanya ada 4. Lihat baik-baik. Anda punya 4 korek api. Kemudian saya ambil satu. Berapa yang masih tinggal? “
( Di atas pentas tidak terlihat korek api. Malah benda-benda lain yang dibicarakan di sini juga tidakada, kemudian PROFESOR itu berdiri, lalu dia menulis di atas papan tulis fiktifdengan kapur tulis fiktif )
MURID: “ 5. Kalau 3 + 1 sama dengan 4, maka 4 + 1 sama dengan 5. “
PROFESOR: “ Itu tidak benar. Itu sama sekali tidak benar. Anda selalu cenderung untuk menjumlah tetapi kita juga harus mengurangi. Begitulah hidup. Itulah filsafat. Itulah ilmu pengetahuan. Itulah kemajuan, peradaban. “
MURID: “ Ya, tuan. ”
PROFESOR: “ Mari kita kembali ke korek api. Jadi saya punya 4 korek api. Lihatlah baik-baik. Di sini ada 4. Lalusaya ambil satu, jadi masih tinggal … “
MURID: “ Saya tidak tahu, tuan. “
PROFESOR: “ Coba, renungkanlah. Memang tidak mudah, saya akui itu. Tetapi anda cukup cerdas untuk berpikir dan mengerti. Bagaimana? “
MURID: “ Saya tidak bisa, tuan. Saya tidak tahu, tuan. “
PROFESOR: “ Mari kita mengambil contoh-contoh yang lebih sederhana. Kalau anda punya dua hidung, dan kemudian saya merenggutkannya satu, berapa hidung yang masih anda punyai?“
MURID: “ Tidak satupun. “
PROFESOR: “ Mengapa tidak satupun? “
MURID: “ Ya, justeru karena anda tidak merenggutkannya, maka saya masih punya satu. Kalau anda merenggutkannya, maka saya sudah tidak punya hidung lagi. “
PROFESOR: “ Anda keliru menafsirkan contoh. Anggap saja, bahwa anda Cuma punya satu telinga.”
MURID: “ Ya? Teruskan “
PROFESOR: “ Lalu saya memberi anda satu telinga lagi. Berapa telinga anda semuanya? “
MURID: “ 2 “
PROFESOR: “ Bagus. Saya memberi anda satu telinga lagi, berapa semuanya? “
MURIS: “ 3 Telinga “
PROFESOR: “ Kemudian saya ambil satu … Berapa telinga anda yang masih tinggal? ”
MURID: “ 2 “
PROFESOR: “ Bagus. Lalu saya ambil satu lagi. Tinggal berapa telinga anda? “
MURID: “ 2 “
PROFESOR: “ Tidak. Anda masih punya 2. Lalu saya ambil satu, saya makan telinga anda satu, berapa lagi telinga anda yang masih tinggal? “
MURID: “ 2 “
PROFESOR: “ Saya makan telinga anda satu… satu. “
MURID: “ 2. “
PROFESOR: “ 1 .“
MURID: “ 2. “
PROFESOR: “ 1 ! “
MURID: “ 2 ! “
PROFESOR: “ 1 ! ! “
MURID: “ 2 ! ! “
PROFESOR: “ 1 ! ! ! “
MURID: “ 2 ! ! ! “
PROFESOR: “ 1 ! ! ! “
MURID: “ 2 ! ! ! “
PROFESOR: “ Tidak, tidak. Itu tidak benar. Contoh itu … tidak … tidak cukup meyakinkan. Anda mendengarkan? Anda punya … Anda punya … Anda punya … “
MURID: “ 10 jari. “
PROFESOR: “ Baiklah. Bagus sekali. Bagus. Jadi anda punya 10 jari. “
MURID: “ Ya, tuan. “
PROFESOR: “ Berapa semuanya kalau tadinya anda sudah punya 5 ? “
MURID: “ 10, tuan. “
PROFESOR: “ Itu tidak benar! “
MURID: “ Benar, tuan. “
PROFESOR: “ Kata saya tidak! “
MURID: “ Saya baru saja mengatakan bahwa saya punya 10 jari .. “
PROFESOR: “ Mari kita pindah ke soal lain … Kita membatasi diri kita dengan angka-angka 1 sampai 5, untuk mengurangi … Sebentar, nona. Anda akan segera mengerti. Saya akan menerangkannya kepada anda. ( PROFESOR itu menulis di atas papan tulis fiktif. Dia menghampiri murid perempuannya, yang telah memutar badannya untuk melihat ) Anda lihat, nona. ( PROFESOR itu berbuat seolah-olah dia sedang menggambar sebuah garis di atas papan tulis hitam. Dia berbuat seolah-olah dia menulis angka 1 di bawahnya. Lalu dia menggambar 2 garis, dan di bawahnya dia menulis angka 2, demikian seterusnya sampai dengan angka 4 ) Anda lihat? “
MURID: “ Ya, tuan. “
PROFESOR: “ Ini adalah garis-garis, nona, garis-garis. Ini sebuah garis; itu 2 garis, itu 3 garis, lalu 4 garis, kemudian 5 garis. 1 garis, 2 garis, 3 garis, 4 garis, dan 5 garis, ini adalah angka-angka. Kalau kita menghitung garis-garis itu, maka setiap garis ini adalah suatu satuan, nona … Apa kata saya? ”
MURID: “ Suatu satuan, nona! Apa kata saya? “
PROFESOR: “ Atau angka-angka! Atau jumlah-jumlah! 1, 2, 3, 4, 5, merupakan dasar dari hitungan, nona. “
MURID:( Ragu-ragu ) “ Ya, tuan, dasar, angka-angka, yang berupa garis-garis, satuan-satuan dan jumlah-jumlah. “
PROFESOR: “ Semuanya itu … akhirnya merupakan bagian dari ilmu hitung. “
MURID: “ Ya, tuan. Benar, tuan. Terima kasih, tuan. “
PROFESOR: “ Nah, sekarang, kalau anda tidak keberatan, dengan menggunakan satuan-satuan ini … anda harus menjumlah dan mengurangi … “
MURID:( Seolah-olah dia mau menghafalkannya) “ Garis-garis itu adalah angka-angka, jumlah-jumlah, satuan-satuan? “
PROFESOR: “ Hemm … Terserahlah kalau anda mau mengucapkannya begitu. Lalu? “
MURID: “ Kita bisa mengurangi 2 satuan dari 3 satuan, tetapi dapatkah kita mengurangi 2 duan dari 3 tigaan?
Dan 2 angka dari 4 jumlah? Dan 3 jumlah dari 1 satuan? “
PROFESOR: “ Tidak, nona. “
MURID: “ Mengapa tidak bisa, tuan? “
PROFESOR: “ Justeru karena itu, nona.”
MURID: “ Mengapa tidak, tuan? Karena dia sama dengan yang lainnya?“
PROFESOR: “ Begitulah, nona. Soalnya tidak akan menjadi tambah jelas. Dia bisa dipahami dengan pemikiran ilmu pasti. Kita bisa mempunyainya atau tidak mempunyainya.”
MURID: “ Sayang. “
PROFESOR: “ Dengarlah, nona.Kala anda ternyata tidak mampu memahami prinsip-prinsip ini, type-type dasar ilmu hitung ini, maka anda tidak akan bisa mengerjakan perhitungan-perhitungan seorang polyteknikus dengan saksama. Dan orang tidak akan menyuruh anda mengikuti pendidikan di sekolahpolyteknis atau di kelas persiapan tingkat tertinggi. Saya akui bahwa ini tidak mudah, soalnya sangat abstrak … tetapi sebelum anda memahami betul-betul pengertian dasarnya, bagaimana mungkin anda bisa menghitung di luar kepala, yang memang merupakan syarat paling enteng bagi seorang insinyur berkemampuan sedang, berapa misalnya 3.755.998.251 dikalikan dengan 5.162.303.508? “
MURID:( Sangat cepat ) “ 19 kwintrilyun, 390 kwadrilyun, 2 trilyun, 844 milyar, 219 juta, 164 ribu 508 … “
PROFESOR:( Terperanjat ) “ Tidak. Salah saya kira. Mestinya 19 kwintrilyun, 390 kwadrilyun, 2 trilyun, 844 milyar, 219 juta, 164 ribu, 509 … “
MURID: “ … Tidak … 508 … “
PROFESOR:( Semakin heran. Diamenghitung di luar kepala ) “ Ya .. anda benar … ( Dia bersungut-sungut tanpa dapat difahami ) Kwindrilyun, kwadrilyun, trilyun, milyar, juta … 164, 508 … “
MURID: “ Itu mudah. Karena saya tidakmempercayai akal saya, maka saya hafal saja hasil-hasil yang mungkin dari perkalian-perkalian yang mungkin. “
PROFESOR: “ Itu luar biasa … namun kalau saya boleh berterus terang, hal itusaya anggap tidak cukup, nona, dan saya tidak akan memuji anda. Dalam ilmu pasti, dan teristimewa dalam ilmu hitung ialah, sebab dalam ilmu hitung kita mesti menghitung, yang masuk hitungan ialah pengertiannya terutama … melalui pemikiran ilmu pasti, yang dilakukan secara induktif dan dedukatif sekaligus, anda harus menemukan hasil ini -sebagaimana halnya setiap hasil lainnya. Ilmu pasti ialah musuh yang gigih dari ingatan, yang sangat berpaedah di satu fihak, tetapi juga sangat mencelakakan kalau kita bicara secara ilmu hitung! Jadi saya tidak merasa puas … jadi kita belum mendapat kemajuan, belum dapat kemajuan sama sekali. “
MURID:( Merasa terpukul ) “ Ya, tuan. “
PROFESOR: “ Untuk sementara kita tinggalkan dulu soal ini. Sekarang kita pindah ke latihan-latihan lain … “
MURID: “ Ya, tuan. ”
PEMBANTU:( Seraya masuk ke dalam ) “ Ehem, ehem, tuan … “
PROFESOR:( Dia tidak mendengar kata-kata PEMBANTU RUMAH ini ) “ Sayang sekali, nona, anda masih sangat ketinggalan dalam ilmu pasti ‘luar biasa’. “
PEMBANTU:( Menarik-narik lengan baju PROFESOR ) “ Tuan! Tuan! “
PROFESOR: “ Saya takut anda tidak bisa mencatatkan diri untuk ujian doctoral persamaan dalam bidang umum … “
MURID: “ Ya, tuan, sayang sekali ! “
PROFESOR: “ Kecuali kalau anda .. ( Kepada PEMBANTU RUMAH ) Jangan ganggu saya, Marie. Mengapa kau turut campur? Pergilah ke dapur ke cucian kamu! Pergilah, Cepat
( Kepada MURID PEREMPUAN itu ) “ Kita akan mencoba persiapkan anda untuk ujian itu, setidak-tidaknya untuk sebagian … “
PEMBAMTU: ( Menarik-narik lengan baju PROFESOR ) “ Tuan! .. Tuan! …
PROFESOR:( Kepada PEMBANTU RUMAH ) “ Jangan ganggu aku! Jangan mengganggu! Apa maksudmu? ( Kepada MURID PEREMPUAN itu ) Jadi saya harus mendidik anda, kalau anda masih bermaksud mencatatkan diri untuk sebagian dari mata ujian itu … “
MURID: “Ya, tuan. “
PROFESOR: “ … Pengertian-pengertian dasar dari ilmu bahasa dan ilmu bahasa perbandingan … “
PEMBANTU: “ Tidak, tuan, tidak! … Jangan! … “
PROFESOR: “ Marie, kau keterlaluan! “
PEMBANTU: “ Tuan, jangan ilmu pengetahuan bahasa, ilmu pengetahuan bahasa akan menjurus kepada binatang buas …”
MURID: ( Terperanjat ) “ Kepada binatang buas..? ( Tersenyum, tolol ) Aneh juga! “
PROFESOR: (Kepada PEMBANTU RUMAH) “ Kau keterlaluan! Enyah! “
PEMBANTU: “ Baik, tuan, baik. Tetapi jangan nanti anda mengatakan bahwa saya telah tidak memperingatkan anda! Ilmu pengetahuan bahasa akan menjurus kepada binatang buas … “
PROFESOR: “ Saya sudah dewasa, Marie! “
MURID: “ Ya, tuan. “
PEMBANTU: “ Terserah. “ ( PEMBANTU RUMAH keluar )
PROFESOR: “ Mari kita teruskan, nona. “
MURID: “Ya, tuan. “
PROFESOR: “ Jadi saya minta agar anda betul-betul memperhatikan kuliah saya. Anda harus siap menghadapi segala-galanya… “
MURID: “ Ya, tuan. “
PROFESOR: “ … Ini tergantung, apakah anda dalam waktu lima belas menit dapat menguasai pengertian-pengertian dasar dari ilmu-ilmu pengetahuan bahasa, dalam perbandingannya dengan bahasa-bahasa Spanyol baru. “
MURID: “ Ya, tuan, o! “ ( Bertepuk tangan )
PROFESOR: ( Dengan wibawa ) “ Diam! Apa artinya ini? “
MURID: “ Maafkan saya, tuan. “ ( Dengan perlahan-lahan kedua tangannya diletakkannya kembali diatas meja )
PROFESOR: “ Diam! ( Dia berjalan-jalan di tengah kamar, kedua tangannya di punggung, sekali-sekali dia berdiri diam, di tengah-tengah atau di dekat MURID PEREMPUAN itu, dia menegaskan kata-katanya dengan gerakan tangan; dia berbicara muluk, tanpa terlalu membangkitkan tertawa;MURID PEREMPUAN itumengikutinya dengan pandangan matanya, dan terkadang dia melakukannya dengan sukar, sebab dia harus sering memalingkan kepalanyam, dan sekali atau dua kali, tidak lebih, dia membalikkan badannya sama sekali )
“ Jadi, nona, Bahasa Spanyol adalah bahasa pokok, yang melahirkan semua Bahasa Spanyol baru, termasuk bahasa Spanyol, Bahasa Latin, Bahasa Italia, Bahasa Belanda kita sendiri, Bahasa Portugis, Bahasa Rumania, Bahasa Sardinia, atau Bahasa Sardonapolitan, Bahasa Spanyol dan Bahasa Spanyol baru – dan juga dalam beberapa segi. Bahasa Turki, ysng lebih bersifat serumpun denganBahasa Yunani yang seluruhnya masuk akal, kalau dilihat keadaannya bahwa Turki merupakan Negara tetangga dari Yunani dan bahwa Yunani lebih dekat dengan Turki daripada anda dengan saya; semua ini Cuma sekadar untuk illustrasi akan adanya hokum bahasa yang penting jumlahnya lebih dari satu, menurut mana geografi dan filologi masih termasuk satu keluarga seperti saudara kembar perempuan … Di sini anda boleh membuat catatan, nona.
MURID: (Dengan suara datar ) “Ya, tuan. “
PROFESOR: “ Apa yang membedakan sesame Bahasa Spanyol baru ini beserta idiomnya dengan kelompok-kelompok bahasa lainnya, seperti kelompok bahasa-bahasa Austria, dan Bahasa-bahasa Austri baru atau Habsburg, seperti kelompok-kelompok Esperanto, Helvetia, Monegaskia, Swis, Andora, Baskia, bola basket, dan juga kelompok-kelompok bahasa diplomatik dan teknik, apa yang membedakannya, kata saya, ialah persamaannya yang menyolok, yang membuat kita sukar juga membedakan yang satu dari yang lainnya. Saya bicara mengenai Bahasa-bahasa Spanyol baru diantaranya, dimana orang telah berhasilmembeda-bedakannya, juga berkat cirri-cirinya yang berbeda, yang merupakan bukti-bukti yang tak terbantah dari persamaannya yang luar biasa, yang membuat asal usulnya yand sama tidak bisa dibantah lagi dan yang telah sekaligus membedakan masing-masing bahasa itu secara hakiki – karena dipertahankannya cirri-ciri khas yang telah saya bicarakan tadi.
MURID: “ Oo! Yaaa, tuan! “
PROFESOR: “ Jangan biarkan diri kita tenggelam dalam soal-soal yang umum … “
MURID: “ Baik, tuan. Ya, tuan. “
PROFESOR: “ Bunyi-bunyi itu, nona, dalam terbangnya harus ditangkap pada sayap-sayapnya supaya jangan masuk dalam telinga orang-orang yang tuli. Sesudah itu, kalau anda memutuskan untuk melafazkannya, maka dianjurkan sekali, kalau mungkin, agar anda mengangkat tinggi-tinggi leher dan dagu anda dan lalu berdiri di atas jari-jari anda, begini, lihat … “
MURID: “ Ya, tuan. ‘
PROFESOR: “ Tutup mulut anda. Duduk saja, dan jangan potong pembicaraan saya … dab kemudian anda keluarkan bunyi-bunyi yang sangat tinggi itu dengan sekuat tenaga dari paru-paru anda yang dihubungkan dengan tenaga dari pita-pita suara anda, seperti ini, lihat: ‘kupu-kupu’, ‘Eureka’, ‘Trafalgar’, ‘papi-papa’. Dengan carasss ini bunyi-bunyi itu, yang karena oleh arus udara hangat, yang lebih ringan dari udara sekitar, akan terbang dan terbang, tanpa harus masuk dulu ke dalam telinga orang-orang tuli, yang merupakan jurang, kuburan dari kekayaan bunyi. Kalau anda mengeluarkan berbagai bunyi dalam irama yang dipercepat, maka bunyi yang satu secara otomatis akan erat-erat berpegang kepada bunyi lainnya, sehingga merupakan suku-suku kata dan kata-kata, bahkan juga kalimat-kalimat, artinya kelompok-kelompok yang sedikit banyak penting, kumpulan-kumpulan bunyi yang sama sekali tidak masuk akal, terpisah dari setiap kalimat, tetapi justeru karenanya mampu bertahan tinggi di udara. Dan kata-kata yang telah dimuati oleh arti, diberati oleh pengertian itu berjatuhan, dan akhirnya mati untuk selamanya, runtuh … “
MURID: “ E … dalam telinga orang-orang tuli. “
PROFESOR: “ Benar, tetapi jangan potong pembicaraan saya … dandan dengan kacau-balau … atau hancur berlompatan seperti balon-balon. Jadi, nona … ( MURID PEREMPUAN itu nampak sangat kesakitan ) Kenapa anda? “
MURID: “ Saya sakit gigi, tuan. “
PROFESOR: “ Itu tak ada hubungannya dengan soal kita. Kita tak boleh berhenti karena soal sekecil itu. Mari kita teruskan … “
MURID: ( Mukanya tampak makin kesakitan ) “ Ya, tuan.”
PROFESOR: “ Secara sambil lalu saya ingin minta perhatian anda atas huruf-huruf mati yang dalam hubungan tertentu berubah sifatnya. Dalamhal inifberubah menjadiV, dmenjadit,gmenjadik, dan sebaliknya, dalam hal mana saya ingin menunjukkan anda pada contoh-contoh berikut; sekarang jam enam, menyenangkan, ayam cuka, masa meningkat dewasa, lihatlah malam telah tiba.
MURID: “ Saya sakit gigi. “
PROFESOR: “ Mari kita teruskan. “
MURID: “ Ya. “
PROFESOR: “ Kesimpulannya: untuk belajar mengucapkan sesuatu memerlukan waktu bertahun-tahun. Berkat ilmu pengetahuan kini kita berhasil mempelajarinya dalam beberapa menit saja. Jadi untuk mengeluarkan kata-kata, bunyi-bunyi dan apa saja yang anda kehendaki dari mulut anda, anda harus tanpa kenal ampun memeras udara dari paru-paru anda agar udara itu selanjutnya menggelincir sepanjang pita-pita suara anda, yang seperti harpa atau daun-daunan dalam angina menggigil, bergoyang, bergetar, bergetar, bergetar atau bergarau atau mendesah atau mengeriput atau bersiul, bersiul, dan menggerakkan semuanya: anak lidah, lidah, langit-langit, gigi … “
MURID: “ Saya sakit gigi.”
PROFESOR: “ … bibir … Akhirnya kata-kata itu keluar melalui hidung, mulut, telinga, lubang kulit dan menyeret semua anggota tubuh yang telah kita sebut tadi, direnggutkan dari akar-akarnya dalam penerbangannya yang gagah-perkasa, yang secara tidak tepat oleh kita disebut suara, yang kemudian berubah menjadi lagu atau beralih menjadi suatu badai simfoni yang mengerikan, dengan iring-iringan panjang .. bunga-bungaan yang sifatnya sangat berbeda-beda, suku-suku seni bunyi: huruf-huruf bibir, huruf-huruf gigi, huruf-huruf debam, huruf-huruf langit-langit dan yang lain-lainnya, yang kadang-kadang membelai dan kadang-kadang getir atau dengan kekerasan. “
MURID: “ Ya, tuan, saya sakit gigi. “
PROFESOR: “ Mari kita teruskan. Mari kita teruskan. Mengenai Bahasa-bahasa Spanyol baru, bahasa-bahasa ini sebagai orang tua punya ikatan keluarga yang dekat satu sama lain, sehingga kita bisa menganggapnya sebagai saudara-saudara sepupu perempuan. Mereka punya pokok yang sama: Bahasa Spanyol, denganstajam. Karenanya begitu sukar dipisahkan. Karenanya kita perlu pengucapan yang baik, kita harus menghindari salah ucapan. Ucapan yang jelek bisa mengacaukan. Dalam hubungan ini, perkenankanlah saya menceritakan kenang-kenangan pribadi saya. ( Istirahat sejenak. PROFESOR itu membiarkan dirinya sesaat terserat oleh kenang-kenangannya. Dia nampak terharu, tetapi dengan cepat dia kembali ke sikapnya semula) Waktu itu saya masih kecil sekali, masih seorang anak hampir. Saya harus masuk dinas militer ketika itu. Di dalam resimen saya, saya punya kawan, seorang ‘vicomte’ , yang sangat sukar dalam mengucapkan: fonten, saya tidak akan minum airmu, dia mengucapkan: fonten, saya tidak akan minum airmu. Dia mengucapkan khilaf, dia mengucapkan Fllstaf yang seharusnya Fallstaf, dia mengucapkan fulus yang seharusnya fuluf, dia mengucapkan ffil yang seharusnya fiil, dia mengucapkan filsuf yang seharusnya filsufm dia mengucapkan fi fi fon fa fa yang seharusnya fi fi fon fa fa. Dia mengucapkan Philippe yang seharusnya Philippe, dia mengucapkan filsafat yang seharusnya filsafat, dia mengucapkan februari yang seharusnya februari, dia mengucapkan maret-april yang seharusnya maret-april; dia mengucapkan syak dari Hat padahal seharusnya syak dari dan diamengucapkan Bulderdijk yang seharusnya Bulderdijk, dan dan sebagainya yang seharusnya dan sebagainya. Tetapi dia bisa menyembunyikan kekurangannya itu dengan baik, berkat dasi-dainya, sehingga tidak ada seorangpun yang tahu kekurangannya itu.
MURID: “ Ya, saya sakit gigi. “
PROFESOR: ( Tiba-tiba perangainya berubah, dengan suara keras ) “ Mari kita teruskan. Untuk dapat lebih memahaminya mari kita tentukan lebih dulu persamaannya agar selanjutnya kita dapat menentukan apa yang telah membuat bahasa-bahasa itu berbeda-beda. Perbedaan itu sama sekali tidak akan bisa difahami oleh orang-orangyang tidak diberikan penjelasan tentangnya. Karenanya semua kata dari semua bahasa adalah juga … “
MURID: “ O ya? … Saya sakit gigi. ”
PROFESOR: “ Mari kita teruskan … adalah selalu sama, seperti halnya semua jalan keluar, semua awalan, semua akhiran, semua akar …”
MURID: “ Apakah akar-akar dari pangkat keempat? ”
PROFESOR: “ Apakah akar-akar dari pangkat keempat atau pangkat ketiga, itu bergantung?
MURID: “ Saya sakit gigi. ”
PROFESOR: “ Mari kita teruskan. Untuk memberi contoh, sekadar sebagai iustrasi, ambillah kata pukul … ”
MURID: “ Dengan apa saya mengambilnya? ”
PROFESOR: “ Dengan apa saja, asal anda mengambilnya. Tetapi yang paling penting jangan potong pembicaraan saya. ”
MURID: “ Saya sakit gigi. ”
PROFESOR: “ Mari kita teruskan … Kata saya: Mari kita teruskan. Jadi ambillah kata pukul. Sudah. “
MURID: “ Ya, ya. Sudah. Gigi saya, gigi saya … ”
PROFESOR: “ Kata pukul adalah akar dari pukulan. Kata ini juga terdapat dalam terpukul. ‘An’ adalah akhiran, dan ‘ter’ adalah awalan. Kita menyebutnya begitu karena tidak bisa berubah. Ia tidak mau berubah. ”
MURID: “ Saya sakit gigi. ”
PROFESOR: “ Mari kita teruskan. Anda juga bisa melihat bahwa dalam bahasa Indonesia keadaannya juga tidak berubah. Ya, nona, anda tidak akan bisa mengubahnya, tidak dalam Bahasa latin, tidak juga dalam Bahasa Italia, tidak dalam bahasa Portugis, tidak juga BahasaSardonapolitan, atau dalam Bahasa Sardonapolit, tidak juga dalam Bahasa Rumania, juga tidak dalam Bahasa Spanyol Baru, tidak juga dalam Bahasa Spanyol, bahkan juga tidak dalam bahasa Timur: pukul, pukulan, terpukul, selalu kata yang sama, tidak berubah dengan akar yang sama, akhiran yang sama, dalam semua bahasa yang disebut tadi. Dan ini juga berlaku bagi semua bahasa. ”
MURID: “ Apakah kata-kata itu artinya sama saja dalam semua bahasa? Saya sakit gigi. ”
PROFESOR: “ Mutlak. Bagaimana bisa lain?Setidak-tidaknya artinya akan selalu sama, susunannya sama, struktur bunyinya sama, tidak hanya untuk kata ini, tetapi juga untuk semua perkataan yang mungkin dalam segala bahasa. Sebab arti yang sama di semua negeri menyatakan dirinya dalam satu-satunya kata yang sama itu beserta kata-kata persamaannya. Dan jangan anda merengek juga mengenai gigi anda itu. ”
MURID: “ Saya sakit gigi. YA, ya, YA.
PROFESOR: “ Baiklah. Mari kita teruskan. Kata saya: Mari kita teruskan … Misalnya, bagaimana anda mengatakannya dalam Bahasa Indonesia: bunga-buna mawar nenek saya sama kuningnya dengan kakek saya yang berbangsa Asia? ”
MURID: “ Gigi saya sakit, sakit, sakit sekali. ”
PROFESOR: “ Mari kita teruskan, mari kita teruskan, katakanlah sekarang!”
MURID: “ Dalam Bahasa Belanda? “
PROFESOR: “ Dalam Bahasa Belanda. ”
MURID: “ Eh … Bahwa saya harus mengatakan dalam Bahasa Belanda: bunga-bunga mawar nenek saya … ? ”
PROFESOR: “ Sama kuningnya dengan kakek saya yang berbangsa Asia … ”
MURID: “ Ya, dalam Bahasa Belanda saya kira kita harus mengatakan: bunga-bunga mawar … apa Bahasa Belanda-nya untuk kata nenek? ”
PROFESOR: “ Dalam Bahasa Belanda? Nenek. ”
MURID: “ Bunga-bunga mawar nenek saya sama kuningnya, apakah kuning Bahasa Belanda? ”
PROFESOR: “ Ya, benar. ”
MURID: “ Sama kuningnya dengan kakek saya kalau dia sedang marah.”
PROFESOR: “ Bukan … yang berbangsa A … ”
MURID: “ sia … Saya sakit gigi. ”
PROFESOR: “ Betul. ”
MURID: “ Saya sakit … “
PROFESOR: “ Gigi … saya g sekali. Mari kita teruskan! Sekarang, terjemahkan kalimat yang sama dalam Bahasa Spanyol dan sesudah itu dalam Bahasa Spanyol baru. “
MURID: “ Dalam Bahasa Spanyol … jadi … : bunga-bunga mawar nenek saya sama kuningnya dengan kakek saya yang berbangsa Asia. “
PROFESOR: “ Salah. Salah. Salah. Terbalik. Anda telah menggunakan Bahasa Spanyol yang seharusnya Bahasa Spanyol baru, dan anda telah menggunakan Bahasa Spanyol baru yang seharusnya Bahasa Spanyol … ah, bukan … terbalik. ”
MURID: “ Saya sakit gigi. Anda kacau rupanya. ”
PROFESOR: “ Andalah yang telah membuat saya kacau. Perhatikan baik dan buatlah catatan. Saya akan menterjemahkan kalimat itu dalam Bahasa Spanyol, sesudah itu dalam Bahasa Spanyol baru dan akhirnya dalam Bahasa Latin. Kemudian anda menirukannya. Anda harus perhatikan baik-baik sebab persamaannya banyak sekali. Persamaannya sama benar. Dengarkan dan perhatikan baik-baik. ”
MURID: “ Saya sakit … ”
PROFESOR: “ Gigi. ”
MURID: “ Mari kita teruskan. Oh ! … ”
PROFESOR: “ … Dalam Bahasa Spanyol: bunga-bunga mawar nenek saya sama kuningnya dengan kakek saya yang berbangsa Asia. Dalam Bahasa Latin: bunga-bunga mawar nenek saya sama kuningnya dengan kakek saya yang berbangsa Asia. Anda lihat perbedaannya? Terjemahkanlahkalimat itu … Dalam Bahasa Rumania. ”
MURID: “ Apa Bahasa Rumanianya untuk bunga-bunga mawar? “
PROFESOR: “ Tentu saja: ‘Bunga-bunga mawar!.”
MURID: “ Bukan ‘Bunga-bunga mawar’? Oh, alangkah sakitnya gigi saya. ”
PROFESOR: “ Bukan, bukan, sebab ‘Bunga-bunga mawar’ ialah terjemahan Timur untuk kata Belanda ‘Bunga-bunga mawar’. Dalam Bahasa Spanyol terjemahannya ialah ‘bunga-bunga mawar’. Mengerti anda? Dalam Bahasa Sardonapolitan ‘Bunga-bunga mawar’. “
MURID: “ Maafkan saya, tetapi … oh, bukan main sakitnya gigi saya … saya tidak mengerti perbedaannya. ”
PROFESOR: “ Mudah sekali! Amat mudah. Paling tidak , kalau kita punya pengalaman tertentu, pengalaman teknis dan praktis mengenai bahasa-bahasa yang berbeda-beda itu, yang begitu berbeda-beda, kendati ada kenyataan bahwa bahasa-bahasa itu mempunyai persamaan watak. Saya akan berusaha memberikan kuncinya kepada anda … ”
MURID: “ Saya sakit … “
PROFESOR: “ Yang membedakan bahasa-bahasa itubukanlah kata-kata, yang memang seluruhnya sama, bukan pula susunan kalimatnya yang di mana-mana memang sama, tidak juga intonasinya, yang tidak mengetengahkan perbedaan, bukan pula irama bahasanya … yang membuat bahsa-bahasa itu berbeda … Anda mendengarkan? ”
MURID: “ Saya sakit gigi. ”
PROFESOR: “ Anda mendengarkan, nona? Kita jadi marah-marah. ”
MURID: “ Anda mengusik saya, tuan! Saya sakit gigi. ”
PROFESOR: “ Demi janggut anjing pudel kita. Dengarkan saya!
MURID: “ Eh … ya … ya … Silahkan anda terus … ”
PROFESOR: “ Yangmembedakan bahasa-bahasa itu dari masing-masing dan dari Bahasa Spanyol dengan S tajam, di satu pihak, ialah pokoknya, di pihak lain … ialah … ”
MURID: “ Ialah apa? “
PROFESOR: “ Hal itu tidak bisa diuraikan. Ia merupakan sesuatu yang tidak terucapkan, yang baru bisa diketahui setelah sekian lama, dan itupun hanya bisa dilakukan dengan sukar sekali setelah melewati pengalamannyayang sangat lama … ”
MURID: “ O, ya? “
PROFESOR: “ Ya, nona. Untuk itu tidak bisa diberikan peraturan-peraturannya. Kita harus berani untuk itu dan selain itu tidak ada lagi. Tetapi untuk memiliki keberanian itu kita harus belajar, belajar dan sekali lagi belajar. ”
MURID: “ Gigi saya sakit. ”
PROFESOR: “ Tetapi ada peraturan-peraturan tetap untuk beberapa perkataan yang berbeda untuk tiap-tiap bahasa … tetapi kita tidak bisa mendasarkan pengetahuan kita kepadanya, sebab itu boleh dikatakan keistimewaan. ”
MURID: “ O, ya? … Oh, tuan, saya sakit gigi. ”
PROFESOR: “ Jangan anda potong pembicaraan saya! Jangan membuat saya marah! Dan saya tidak bisa menguasai diri lagi kalau saya sudah marah. Jadi kata saya tadi … o ya, peraturan-peraturan istimewa itu, yang merupakan perbedaan yang memudahkan, atau perbedaan untuk kemudahan atauuntuk mempermudah … kalau anda lebih suka mengatakannya begitu … saya ulangi: kalau anda lebih suka mengatakannya begitu, sebab anda sudah tidak mendengarkan saya lagi … ”
MURID: “ Saya sakit gigi. ”
PROFESOR: “ Jadi kata saya tadi: dalam ucapan-ucapan tertentu, dalam pemakaian bahasa secara umum, kata-kata tertentu dari tiap –tiap bahasa yang dipakainya jelas lebih mudah diketahui. Saya beri contoh: salah satu ungkapan Bahasa Spanyol baru, yang termashur di Madrid: ‘Tanah air saya ialah …’ “
MURID: “ ‘ Spanyol baru’. ”
PROFESOR: “ Bukan! ‘Tanah air saya ialah Italia’. Sekarang katakanlah kepada saya melalui deduksi yand sederhana, bagaimana anda mengatakan Italia dalam Bahasa Belanda. ”
MURID: “ Saya sakit gigi! ”
PROFESOR: “ Mudah sekali: untuk kata Italia di Belanda kita mempunyai kata Belanda, yang merupakan terjemahan yang nyata dari padanya. Tanah air saya ialah Belanda. Dan Belanda dalam bahasa Timur! Tanah air saya ialah Timur. Dan Timur dalam Bahasa Portugis: Portugal: Ungkapan dalam Bahasa Timur: Tanah air saya ialah Timur, dalam Bahasa Portugis diterjemahkan sebagai berikut: Tanah air saya ialah Portugal! Dan seterusnya … ”
MURID: “ Cukup! Cukup! Saya sakit … “
PROFESOR: “ Gigi! Gigi! Gigi! … Gigi anda itu akan secepatnya saya cabut. Sekarangmasih ada satu contoh lagi. Kata ibukota: satu ibukota, bergantung kepada bahasa yang kita pakai, mengandung arti lain di dalamnya. Maksudnya begini. Kalau seorang Spanyol mengatakan: saya tinggal di ibukota, maka kata ibukota itu mempunyai arti sama sekali berbeda dengan apa yang dimaksudkan oleh orang Portugal, kalau dia sama-sama mengatakan: Saya tinggal di ibukota. Atas dasar-dasar yang lebih kuat demikian pula halnya dengan orang Perancis, orang Spanyol Baru, orang Rumania, Orang Latin, Orang Sardonapolitan … Segera setelah anda mendengar nona, nona, maka yang dimaksudkan ialah anda! Persetan !Segera setelah anda mendengar ungkapan: saya tinggal di ibukota, maka anda harus dengan segera dan dengan mudah mengetahui apa itu Bahasa Spanyol atau Bahasa Spanyol, atau bahasa Spanyol baru, Bahasa Belanda, Bahasa Timur, Bahasa Rumania, atau Bahasa Latin, sebab anda bisa sepenuhnya menerka ibukotanya, yang akan segera diingat oleh orang-orang yang mengucapkan kalimat itu … pada saat yang sama ketika dia mengucapkannya. Tetapi Cuma ini kira-kira contoh-contoh cermat yang bisa saya berikan kepada anda … “
MURID: “ Aduh, gigi saya … “
PROFESOR: “ Diam! Atau saya pukul kepala anda! “
MURID: “ Cobalah Pembuat kepala! ”
(PROFESOR itumenangkap pergelangan tangan muridnya, dan memutarnya)
“ Aduh ”
PROFESOR: “ Tenanglah. Jangan bicara. ”
MURID: (Terisak-isak) “ Gigi saya sakit … ”
PROFESOR: “ Apa yang paling … bagaimana saya harus menyebutnya? … yang paling paradoksal … Ya … inilah: katanya yang cepat … apa yang paling paradoksal ialah bahwa segerombolan manusia yang tidak punya tempat berpijak sama sekali, mengucapkan bahasa-bahasa yang berbeda ini … anda mendengar? Apa kata saya tadi?”
MURID: “ … Mengucapkan bahasa-bahasa yang berbeda ini! Apa kata saya tadi? ”
PROFESOR: “ Anda beruntung! … Rakyat jelata berbicara Bahasa Spanyol, yang tergelimang kata-kata Spanyol baru, yang tidak diperdengarkan oleh mereka karena mereka mengira sedang berbicara Bahasa Latin … atau juga mereka Berbicara Bahasa Latin, yang bergelimang dengan kata-kata Bahasa Timur, karena mereka mengira sedang berbicara Bahasa Rumania … atau Bahasa Spanyol baru, karena mereka mengira sedang berbicara Bahasa Sardonapolitan, atau Bahasa Spanyol … Mengerti anda? “
MURID: “ Ya. Ya! Ya! Apa lagi yang anda kehendaki? ”
PROFESOR: “ Jangan kurang ajar, manis, awas … ( Marah sekali) Titik puncaknya, nona, ialah bahwa orang-orang tertentu dalam percakapannya dengan seorang Belanda yang tidak mengerti Bahasa Spanyol barang sepatahpun, mengatakan-dalam Bahasa Latin yang dianggapnya sebagai Bahasa Spanyol: “ Kedua limpa saya sakit ”. Namunorang Belanda ini dapat memahaminya seolah-oleh bahasanya sendiri. Dan orang Belanda ini akan menjawab dalam Bahasa Belanda: Saya juga tuan. Limpa saya sakit dan kata-kata ini dapat ditangkap dengan sangat baik oleh orang Spanyol, yang akan punya keyakinan bahwa orang telah menjawabnya dalam Bahasa Spanyol tulen dan bahwa mereka bukannya berbicara Bahasa Spanyolatau Belanda, melainkan Bahasa Latin menurut saya Bahasa Spanyol baru … Tenanglah, nona. Paha anda harus diam dan janganlah kedua kaki anda menendang-nendangjuga … ”
MURID: “ Saya sakit gigi. ”
PROFESOR: “ Apakah sebabnya maka rakyat jelata, tanpa mengetahui bahasa yang dipakainyaatau bahkan tanpa mempercayai bahwa mereka telah memakai bahasa yang berlainan, bisa saling mengerti? ”
MURID: “ Entahlah, saya juga bertanya-tanya dalam hati. ”
PROFESOR: “ Itu Cuma salah satu kenyataan yang tidak bisa diterangkan dari tanggapan kasar rakyat – jangan dikacaukan dengan pengalaman – suatu paradoks, suatu omong kosong, salah satu keisengan dari kodrat manusia, ialah naluri, sederhana sekali, dalam satu kata – yang telah mempermainkan kita, di sini. ”
MURID: “ Ha! Ha! “
PROFESOR: “ Daripada menangkap lalat, sementara saya harus menanggungkan segala kesukaran ini … alangkah baiknya kalau anda sekarang menyimak dengan lebih baik … Saya tidak akan mencatatkan diri untuk menempuh sebagian dari mata ujian doctoral persamaan … saya telah lulus untuk itu, lama berselang … dan saya juga telah lulus ujian doctoral lengkap dan bul supra totalum saya … Tidakkah anda lihat bahwa apa yang saya lakukan ini semata-mata demi kebaikan anda? ”
MURID: “ Gigi saya sakit! ”
PROFESOR: “ Anda tidak terdidik dengan baik! … Tetapi ini tidak akan lewat begitu saja, tidak akan lewat begitu, tidak akan lewat begitu saja … ”
MURID: “ Saya … mendengarkan … anda . “
PROFESOR: “ Ah! Untuk membeda-bedakan bahasa-bahasa yang berlainan itu, telah saya katakana bahwa tidak ada yang lebih baik lagi selain dari pada praktek … Mari kita teruskan selangkah demi selangkah. Saya akan mencoba mengajarkan semua terjemahan perkataan pisau lipat. ”
MURID: “ Terserah … Akhirnya … ”
PROFESOR: ( Memanggil PEMBANTU RUMAH ) “ Marie! Marie! Dia tidak datang … Marie! Marie! … Ke sini, Marie. “ (Dia membuka pintu sebelah kanan) Marie! (PROFESOR keluar. MURID PEREMPUAN itu untuk beberapa saat duduk sendirian, pandangan matanya kosong. Dia namapak tolol)
PROFESOR: ( Dengan suara melengking, di belakang) “ Marie! Mengapa? Mengapa kau tidak kemari? Kalau aku nenyuruh kau datang, kau harus datang! (Dia masuk, diikuti oleh MARIE) Akulah yang memerintah di sini. Mengerti ? (Dia menunju kepada MURID PEREMPUAN itu ) Dia itu, tidak mengerti apa-apa. Dia tidak mengerti apa-apa! “
PEMBANTU: “ Jangan gusar, tuan. Tuan harus berhati-hati dengan bagian akhirnya! Anda akan harus menebusnya dengan mahal, dengan mahal sekali. ”
PROFESOR: “ Saya bisa menghentikannya pada waktu yang tepat. ”
PEMBANTU: “ Anda selalu berkata begitu. Saya ingin melihat buktinya barang sekali. ”
PROFESOR: “ Saya sakit gigi. ”
PEMBANTU: “ Anda lihat? Sekarang sudah mulai. Itulah tandanya. ”
PROFESOR: “ Tanda apa? Terangkan lebih jauh! Apa yang kau maksudkan?”
PEMBANTU: “ Tandanya yang terakhir! Tandanya yang utama. “
PROFESOR: “ Gila! Gila! Gila! ( PEMBANTU RUMAH mau keluar ) mau tidak boleh pergi! Aku memanggilmu agar Kau mengambilkan pisau-pisau itu untukku! Pisau Spanyol, pisau Spanyol baru, pisau Portugis, pisau Belanda, pisau Rumania, pisau Sardonapolitan, pisau Latin dan pisau Spanyol. ”
PEMBANTU: ( Dengan bengis ) “ Jangan harap saya akan membantu anda. ”( Keluar )
PROFESOR: ( Dengan gerakan tangan, dia mau menghalang-halangi, tetapi tidak jadi, dia putus asa ) “ Oh! ( Dia cepat lari kea rah lemari, mengambil pisau lipat besar yang tidak kelihatan atau yang benar-benar nyata, tergantung kepada pandangan Sutradara. Dia memegang pisau lipat itu erat-erat, mengayun-ayunkannya, dengan gembira) Ini ada satu, nona, sebuah pisau lipat. Sayang bahwa ini Cuma satu-satunya; tetapi akan kita coba pisau ini untuk melayani semua bahasa! Kiranya sudah cukup kalau anda mengucapkan kata pisau lipat dalam semua bahasa, sementara anda melihat ke benda itu, dari jarak sangat dekat, dengan kaku, dan anda harus membayangkannya berasal dari Negara yang bahasanya anda ucapkan. ”
MURID: “ Saya sakit gigi. ”
PROFESOR: ( Hampir-hampir denga suara seperti sedang bernyanyi, berirama ) “ Nah, katakanlah pisau seperti pisau, lipat seperti lipat … Lihatlah, lihatlah … lihatlah dengan kaku … ”
MURID: “ Pisau apa itu? Pisau Belanda, Italia, Spanyol? ”
PROFESOR: “ Itu tidak penting … Itu tidak ada perlunya untuk anda. Katakanlah: pisau … “
MURID: “ Pisau. “
PROFESOR: “ … lipat … lihatlah. “ ( Dia mengayun-ayunkan pisau itu )
MURID: “ Lipat. ”
PROFESOR: “ Sekali lagi … Lihatlah ”
MURID: “ Oh, tidak! Keparat! Cukup sudah! Lagi pula saya sakit gigi, sakit kaki, sakit kepala … “
PROFESOR: ( Terbata-bata ) “ Pisau lipat … Lihatlah … Pisau lipat … Lihatlah … Pisau Lipat … Lihatlah … “
MURID: “ Saya juga jadi sakit telinga karena anda. Bukan main suara anda! Oh, sangat melengking! “
PROFESOR: “ Katakanlah pisau lipat … pisau … lipat … “
MURID: “ Tidak! Saya sakit telinga, seluruh tubuh saya sakit. ”
PROFESOR: “ Saya akan segera memotongnya, telinga-telinga anda itu, sehingga dia tidak akan terasa sakit lagi, manis. “
MURID: “ Aduh … anda menyakiti saya …”
PROFESOR: “ Lihatlah, ayo, cepat, cepat, tirukan saya, pisau .. “
MURID: “ Aduh, baiklah kalau anda menghendakinya … pisau … pisau lipat … ( Untuk sesaat suaranya terdengar jernih, menyindir) Apakah itu pisau Spanyol baru … ? “
PROFESOR: “ Terserah, ya Spanyol baru, tetapi cepatlah … kita tidak punya waktu … Lagipula pertanyaan itu tidak ada gunanya. Apa yang anda inginkan sebenarnya? “
MURID: ( Dia tampak semakin letih, terisak-isak menangis, putus asa, sekaligus seperti keranjingan dan keapayahan ) “ Oh! ”
PROFESOR: “ Tirukan saya, lihatlah. ( Dia menirukan suara burung kukuk ) Pisau-lipat … pisau-lipat … pisau – lipat … pisau – lipat … “
MURID: “ Aduh, kepala saya sakit … ( Dengan tangan dia membelai-belai bagian-bagian tubuh yang disebut )…mata saya ”
PROFESOR:( Seperti burung kukuk ) “ Pisau – lipat … pisau – lipat. ”
( Kedua orang itu berdiri. PROFESOR itu berdiri sambil mengayun-ayunkan pisaunya hampir-hampir seperti orang kehilangan akal, mengelilingi MURID PEREMPUAN-nya sambil menarikan semacam tarian suku liar pada waktu mereka mau mengupas kulit kepala orang, tetapi PROFESOR itu tidak boleh bertindak – berlebih – lebihan dan langkah – langkah tariannya harus ditentukan dengan saksama. Sedang MURID PEREMPUAN itu mukanya menghadap kea rah penonton, dia berjalan mundur ke arah jendela, dengan tubuh lemah, kesakitan dan membungkuk … )
PROFESOR: “ Tirukan saya, tirukan saya: pisau lipat … pisau lipat … pisau lipat … “
MURID: “ Saya sakit … tenggorokan, leher … oh, bahu saya … dada … pisau lipat … ”
PROFESOR: “ Pisau lipat … pisau lipat … pisau lipat … ”
MURID: “ Pinggul saya … pisau lipat… paha saya … pisau … ”
PROFESOR: “ Ucapkanlah dengan baik-baik … pisau lipat … pisau lipat … ”
MURID: “ Pisau lipat … tenggorokan saya … ”
PROFESOR: “ Pisau lipat … pisau lipat … ”
MURID: “ Pisau lipat … bahu saya … lengan saya, dada saya, pinggul saya … pisau lipat … pisau lipat … ”
PROFESOR: “ Betul . ..ucapan anda baik, kini … ”
MURID: “ Pisau lipat … dada saya … perut saya … ”
PROFESOR:( Nada suaranya lain ) “ Jangan pecahkan kaca jendela saya … pisau lipat untuk membunuh … ”
MURID:( Dengan suara lemah ) “ Ya, ya … apakah pisau lipat untuk membunuh? “
PROFESOR: ( Dia membunuh MURID PEREMPUAN itu dengan mengayunkan pisaunya dengan cara yang sangat menyolok ) “ Aaah! Lihat saja! “
( MURID PEREMPUAN itu juga berteriak:“ Aaah! ”. lalu dia jatuh terkulai dalam sikap yang cabul, di atas sebuah kursi, yang seolah-olah secara kebetulan berada di dekat jendela; mereka berdua bersama-sama berteriak: “ Aaaah! ”, pembunuh dan korbannya itu;setelah tusukan pertama, MURID PEREMPUAN itu roboh terkulai di atas kursi; kedua pahanya terbuka lebar, tergantung pada pinggiran kursi itu. PROFESOR itu tetap berdiri di muka muridnya, dia membelakangi kea rah penonton. Setelah tusukan pertama, dia menghabisi nyawa muridnya dengan tusukan kedua, dari bawah ke atas, sesudah mana terliha dengan jelas seluruh tubuh PROFESOR itu meregang-regang seperti orang sawan )
PROFESOR: ( Kehabisan nafas, dengan suara terputus-putus ) “ Sundal … aku telah melakukannya dengan baik … Aku puas … He, he, aku letih bukan main … aku susah bernafas … ah! “
( Dia kelihatan sudah bernafas; dia jatuh, untung di situ ada kursi. Dia menghapus dahinya, dia dengan terputus-putus mengucapkan sesuatu yang tidak bisa di tangkap artinya; nafasnya kemudian menjadi wajar kembali … Dia bangkit berdiri, dia mengamati pisau di dalam tangannya, lalu melihat kea rah gadis itu, sesudah itu sikapnya seolah-olah seperti orang yang baru bangun tidur )
PROFESOR: ( Kebingungan ) “ apa yang telah kulakukan? Apa yang akan terjadi dengan diriku? Apa yang akan terjadi? Ah! Lihat! Lihat! Malapetaka besar! Nona, nona berdirilah! ( Dia menggerak-gerakan badannya. Pisau yang tidak kelihatan itu masih berada dalam tangannya, dia tidak tahu apa yang mesti diperbuatnya dengan pisau itu ) Mari, nona, pelajaran sudah selesai … Anda boleh pergi … lain kali saja anda membayar … Oh! Dia mati … ma-ti … Oleh pisar lipatku … diama – ti … Mengerikan. ( Dia memanggil PEMBANTU RUMAH ) “ Marie! Marie! Marieku yang manis, ke sini! Oh! Oh! ( Pintu sebelah kanan terbuka, MARIE muncul ) Jangan … Jangan ke sini . aku keliru. Aku tidak perlu kau, Marie .. kau tidak perlu kau lagi … kau dengar?
( MARIE, dengan pandangan yang keras, tanpa berkata-kata. Mayat itu kelihatan olehnya )
MURID: ( Suaranya semakin lama semakin kurang yakin ) “ Aku tidak perlu kau lagi, Marie … “
PEMBANTU: ( Mengejek ) “ Dan anda merasa puas dengan murid anda? Apakah dia mendapat banyak kemajuan dengan pelajaran anda?“
PROFESOR: ( Menyembunyikan pisaunya di belakang punggung ) “ Ya, pelajarannya sudah selesai … tetapi dia … dia masih ada … dia tidak mau pergi … ”
PEMBANTU: ( Dengan bengis ) “ Memang! … “
PROFESOR: ( Menggigil ) “ Bukan aku yang melakukannya … Bukan aku yang melakukannya … Marie … Bukan aku … Kau haruspercaya … Bukan aku yangmelakukannya Marie … ”
PEMBANTU: “ Kalau begitu siapa? Siapa? Saya? “
PROFESOR: “ Saya tidak tahu .. mungkin … ”
PEMBANTU: “ Atau kucing? ”
PROFESOR: “ Boleh jadi … Aku tidak tahu … “
PEMBANTU: “ Dan hari ini, adalah yang keempat puluh kalinya! .. Dan setiap hari lagunya sama! Setiap hari! Anda harus malu, dalam usia anda … tetapi anda telah membuat diri anda sakit. Nanti anda tidak akan punya murid lagi. Nanti baru akan terima akibatnya. ”
PROFESOR: ( Tersinggung perasaannya ) “ Itu bukan kesalahanku! Dia tidak mau belajar! Dia tidak patuh! Dia murid yang jelek. Dia tidak mau belajar! “
PEMBANTU: “ Pembohong! “
PROFESOR: ( Dengan diam-diam dia menghampiri PEMBANTU RUMAH, pisaunya di belakang punggung ) “ Itu bukan urusanmu! ( Dia mencoba menusuj PEMBANTU RUMAH itu menangkap pergelangan tangannya dan memilinnya. PROFESOR itu menjatuhkan pisaunya ke lantai ) Maaf! “
PEMBANTU: ( Menjewer telinga PROFESOR itu dua kali dengan kuatnya sehingga berbunyi. PROFESOR itu jatuh ke lantai, di atas pantatnya dan dia mengerang ) “ Pembunuh kecil! bajingan licik! Bedebah kecil! kau juga mau membunuh aku? Aku bukan muridmu! “
( Dia menarik PROFESOR itu pada kerah bajunya supaya berdiri, mengambil picinya dan meletakkannya di atas kepala PROFESOR itu. PROFESOR itu takut kalau-kalau telinganya di jewer lagi dan dia melindungi dirinya dengan siku seperti anak kecil ) Simpan pisau itu di tempatnya lekas!
( PROFESOR itu pergi menyimpan pisau itu ke dalam laci buffet dan kemudian kembali lagi )
Dan saya sudah memperingatkan anda tadi bahwa Ilmu Hitung akan menjurus kepada ilmu pengetahuan bahasa dan bahwa ilmu pengetahuan bahasa akan menjurus kepada kejahatan … ”
PROFESOR: “ Kau tadi berkata: kepada binatang buas. ”
PEMBANTU: “ Kepada tindakan-tindakan yang buas. ”
PROFESOR: “ Aku telah keliru menafsirkannya. Aku kira binatang buas itu kota dan tadi kau mau mengatakan bahwa ilmu pengetahuan bahasa akan menuju ke kota Binatang Buas. “
PEMBANTU: “ Pembohong! Serigala tua! Seorang terpelajar seperti anda tidak akan keliru menafsirkan kata-kata. Anda jangan coba mengecoh saya. ”
PROFESOR: ( Terisak ) “ Aku tidak melakukannya dengan sengaja! Aku tidak mau membunuhnya! “
PEMBANTU: “ Tetapianda mereasa menyesal, bukan? “
PROFESOR: “ Oh, tentu Marie. Aku bersumpah. ”
PEMBANTU: “ Oh, anak nakal! Oh, anda betul-betul anak manis! Nah, sekarang mari kita lihat bagaimana kita akan membereskan semuanya ini untuk anda. Tetapi awas kalau anda melakukannya lagi. Jantung anda bisa terganggu .. ”
PROFESOR: “ Ya, Marie! Apa yang harus kita lakukan? “
PEMBANTU: “ Kita harus mengubur dia … sama dengan yang tiga puluh sembilan yang lainnya … jadi semuanya empatpuluh buah peti mati … kita harus memberitahu perusahaan penguburan dan pacar saya, Pastor Agustus. Kita harus memesan karangan bunga. ”
PROFESOR: “ Ya, Marie, terima kasih. “
PEMBANTU: “ Sebetulnya kita tak perlu memanggilpastor Agustus, sebab anda kadang-kadang bisa juga bertindak sebagai pastor kecil, kalau desas-desus itu memang boleh dipercaya. ”
PROFESOR: “ Tetapi karangan bunga hendaknya jangan terlalu mahal. Dia belum lagi membayar uang sekolahnya. ”
PEMBANTU: “ Anda tidak perlu cemas … Tutupi saja dia itu dengan baju schortnya sekarang, dia kotor. Sesudah itu kita singkirkan dia. ”
PROFESOR: “ Ya, Marie, ya. ( Dia menutupi MURID PEREMPUAN itu) Kita mempertaruhkan keselamatan kita … dengan empat puluh buah peti mati itu … bayangkan saja … orang-orang pasti akan kaget … Dan bagaimana kalau mereka bertanya apa yang berada di dalamnya? “
PEMBANTU: “ Anda ridak perlu terlalu gelisah. Akan kita katakana bahwa peti-peti itu kosong. Lagipula mereka tidak akan bertanya, sebab mereka sudah terbiasa. ”
PROFESOR: “ Namun betapapun juga … ”
PEMBANTU: ( Mengeluarkan ban lengan dengan sebuah lencana, mungkin ban lengan nazi) “ Ini, kalau anda takut, pakailah ini. Dengan ini anda tak perlu takut-takut. ( Dia mengenakan ban itu pada lengan PROFESOR )“ Ini politik. ”
PROFESOR: “ Terima kasih , Marie kecil … dengan ini aku merasa tenteram lagi. Engkau gadis yang mungil, Marie dan begitu setia. ”
PEMBANTU: “ Nah. Sudah. Lekas, tuan. Sudah siap? ”
PROFESOR: “ Sudah. Mariekecil. ”
( PEMBANTU RUMAH dan PROFESOR itu mengankat tubuh gadis itu, yang seorang pada bahunya dan yang seorang lagi pada kakinya dan kemudian mereka berjalan menuju ke pintu sebelah kanan )
“ Hati-hati, jangan sakiti dia. ”
( Mereka keluar. Untuk beberapa saat pentas kosong. Di pintu sebelah kiri terdengar bel dibunyikan orang )
PEMBANTU: “ Ya, sebentar! “
( Dia muncul seperti pada waktu awal pertunjukan, lalu berjalan kea rah pintu. Bel berdering untuk kedua kalinya )
PROFESOR: ( Menyamping ) “ Alangkah terburu-burunya yang seorang ini!( Dengan suara keras )Sabar! ( Dia menghampiri pintu dan membukanya) Selamat siang, nona? Apakah anda murid baru? Apakah anda datang untuk belajar? Professor sudah menunggu anda. Akan saya beritahu dia bahwa anda datang. Dia akan segera turun. Silakan masuk, silakan masuk, nona. *)
LAYAR TURUN
*) Pada waktu pementasan drama ‘Pelajaran’ ini, sebelum layarnya diangkat, penonton sudah mendengar beberapa pukulan palu, yang disusul oleh tiga kali bunyi berdetik, yang menandakan bahwa pertunjukan dimulai. Sesudah itu, ketika pentas masih dalam keadaan kosong, masih terdengar pula beberapa pukulan palu selama beberapa detik. Pada adegan pertama, ketika PEMBANTU RUMAH itu tengah bergegas untuk membuka pintu, selagi berjalan dia mengambil sebuah buku tulis dan sebuah tas buku yang terletak di atas meja dan kemudian
PEMBANTU: “...."
PROFESOR: “...."
PEMBANTU: “...."
PROFESOR: “...."


PEMBANTU:
Emong Soewandi
Emong Soewandi Blogger sejak 2014, dengan minat pada sejarah, sastra dan teater

Post a Comment for "DRAMA: PELAJARAN (EUGENE IONESCO)"