Skip to content Skip to sidebar Skip to footer

LITERASI FOLKLOR: KISAH-KISAH RAKYAT UNTUK PENULISAN DRAMA (BAGIAN I)

Studi Kreatif Kisah-kisah Rakyat Untuk Proyeksi Penulisan Drama


Saya Memilih Folklor sebagai Bahan Naskah Drama

Setelah ikut bermain dalam pementasan Malin Kundang, naskah Alin De oleh Sanggar Swareka Bengkulu, dengan sutradara Amrizal di Aula Universitas Bengkulu, 1994 lalu, terbersit keinginan saya mau juga mulai menulis drama yang diangkat dari cerita rakyat atau legenda.

Banyak orang telah mengenal kisah si anak durhaka bernama Malin Kundang itu, alurnya sederhana dengan pesannya yang hitam putih. Namun, dalam bentuk drama, kesederhanaan itu berubah menjadi suatu peristiwa yang dramatik dengan alur yang begitu dinamik. Pesan hitam putihnya pun telah bermetamorfosis menjadi pesan universal dan filosofis.

Malin Kundang–nya Alin De “mengganggu” saya, yang kemudian membuat saya pun mulai benar-benar mau menulis legenda-legenda yang ada di Bengkulu menjadi drama.

Pilihan saya pertama kali adalah legenda-legenda yang ada di Rejang Lebong. Pilihan Rejang Lebong ini tidak dipungkiri karena didasari dengan alasan psikologis dan sedikit etnosentris. Lahir dan dibesarkan di Curup, Kabupaten Rejang Lebong, juga banyak berinteraksi dengan masyarakat dan budaya Rejang, menjadikan alasan pribadi bagi saya untuk memilih legenda-legenda Rejang menjadi drama itu. Lalan Belek, dengan tokohnya Bujang Mengkurung dan Lalan adalah drama pertama yang saya tulis, yang saya angkat dari legenda Lalan Belek dari Lebong. Naskah yang sudah 3 kali dipanggungkan ini, konsep ceritanya sama dengan dongeng Jaka Tarub di Jawa Timur.

Pada dasarnya cerita Lalan Belek merupakan legenda biasa, alur ceritanya tidak memperlihatkan keistimewaan. Namun, dongeng ini hampir merupakan sebuah mitos bagi masyarakat pendukungnya. Lalan Belek dianggap benar-benar pernah terjadi. Salah satu bukti yang ditunjukkan adalah dengan adanya tembang Lalan Belek yang dianggap keramat oleh masyarakat Rejang, yang jika dinyanyikan dapat mengakibatkan suatu peristiwa yang bersifat metafisika atau supranatural.

Pada waktu memancing, Bujang Mengkurung melihat tujuh orang putri dari kahyangan yang turun ke bumi melalui pelangi dan mandi-mandi di sebuah telaga. Bujang Mengkurung kemudian mengambil selendang putri termuda yang bernama Lalan, lalu disembunyikannya. Dari kejadian itu Kurung dan Lalan akhirnya hidup bersama, karena Lalan tak dapat pulang tanpa selendang itu. Sampai akhirnya, karena pelanggaran yang dilakukan oleh Kurung, maka Lalan dapat menemukan kembali selendangnya. Dengan selendang itu pun, kemudian Lalan kembali ke kahyangan, meninggalkan Kurung dengan anaknya yang masih kecil.

------------------------------
Kisah Lalan Belek yang saya pakai untuk kegiatan alih wahana ini sejatinya berjudul Bujang Mengkurung. Saya sementara menggunakan judul Lalan Belek, karena judul ini yang populer di masyarakat Rejang.

Terdapat kesalahan persepsi selama ini, karena kisah dengan judul Lalan Belek bukanlah kisah tentang Bujang Mengkurung yang bertemu dan menikah dengan bidadari.
Untuk lebih jelasnya tentang kisah Lalan Belek, silakan meliha tulisan Gansu Karangnio di Cerano.id yang berjudul Multiverse Cerita Rakyat Lalan Belek
---------------------------------

Drama selanjutnya adalah Serindang Bulan, saya angkat dari kisah tentang Kerajaan Renah Sekalawi dari Lebong. Selanjutnya Serembak, drama yang sempat kontroversial ini saya angkat dari legenda Muning Raib, berkenaan dengan asal usul-usul suatu desa di Curup yang tidak boleh ke Gunung Kaba. Drama selanjutnya adalah Semidang Bukit Kabu, yang diangkat dari kisah serangan harimau-harimau ke orang-orang di Semidang Bukit Kabu (masuk wilayah Bengkulu Tengah sekarang). Naskah ini telah 4 kali dipentaskan, salah satunya pementasan untuk Kala Sumatera di Lampung 2012 lalu atas dana hibah dari Hivos Foundation, Belanda. Juga naskah Permayo, sebuah drama pendek, yang diangkat dari tradisi “santet” masyarakat Rejang, yang dulunya dipersiapkan untuk mengikuti Festival Tradisi Tutur Nusantara, di Lombok, Nusa Tenggara Barat 2009 lalu. Terakhir, adalah drama Suatu Senja Di Taman Bungamu, drama yang sedang kami garap ulang bersama kawan-kawan di Teater Petak Rumbia, berangkat dari tradisi konsep bilei dan cara pandang perempuan dalam masyarakat Rejang.

Tentang Drama (Remaja)

Sepanjang pengalaman saya dipercaya sebagai juri untuk pementasan-pementasan teater di Bengkulu, khususnya teater berbasis sekolah atau remaja, peserta secara umum miskin terhadap kenaskahan. Hampir semua peserta biasanya memilih untuk menulis drama sendiri.

Jadi, akan sangat gegabah kalau meletakkan posisi drama hanya sebagai sebuah outline untuk merencanakan sebuah pementasan. Apalagi ada beberapa drama yang sempat kita baca, teknik penulisannya hampir sama saja dengan menulis cerpen. Pada akhirnya pun, baik sutradara maupun pemain akan mengalami kesulitan sendiri menyesuaikan drama mereka dengan pementasan.

Ada drama yang setting peristiwanya adalah Tanah Rejang, tetapi di dalam pementasannya tidak ada tanda sedikit pun yang memberitahukan kepada penonton, bahwa peristiwa itu terjadi di Tanah Rejang. Ada tokoh dalam dramanya bernama Lalan dan Mengkurung, tetapi dalam pementasannya tidak disebutkan atau tersapakan dalam dialog nama-nama tersebut, jadi tokoh-tokoh dalam pementasannya tidak bernama. Ada pula pada sebuah yang menyebutkan nama kerajaan Batu Datar dan Penanjung, namun pementasannya tidak ada tanda yang memberitahu kita bahwa kerajaan itu bernama A atau B.

Contoh-contoh ini menunjukkan bahwa penulisan drama masih seperti menulis cerpen atau novel. Dan, hampir keseluruhan drama ditulis seperti itu, yang kemudian menjadi anakronis dan tidak memiliki kaitan yang proyektif dengan pementasannya. Sebuah pementasan hanya akan masak, jika berangkat dari sebuah drama yang teruji melalui perangkat-perangkat sastra, seperti kode budaya, kode bahasa dan kode-kode sastra itu sendiri (akan kita bicarakan di bagian selanjutnya)

Drama yang baik selalu menjadi jaminan bahwa separuh pementasan akan baik.
Untuk itu, akan lebih baik pada kelompok-kelompok pemula jangan memaksakan diri untuk menulis drama sendiri, tetapi cari dan pakailah naskah-naskah yang telah ada. Kita bisa saja kemudian menyadur dan mengadaptasinya sesuai dengan lingkungan, budaya atau kemampuan kita, yang dilakukan dalam sebuah kegiatan yang harus dilakukan pra-pementasan, yakni bedah naskah. Selanjutnya, mulailah belajar dan berlatih untuk menulis naskah drama dengan lebih baik lagi.

Pengembangan Kisah

Kata Legenda:
Seekor harimau dibunuh oleh orang-orang kampung yang dipimpin oleh seorang ginde (kepala kampung). Harimau yang mati itu kemudian dikuliti, kulitnya lalu dijadikan untuk kulit bedug. Sementara dagingnya ditumbuk dan ditebar di jalan. Sedangkan kepalanya dipasang ujung tombak dan dipasang di depan rumah ginde. Beberapa malam kemudian, mulai terjadi peristiwa hilangnya orang-orang. Ditemukan ceceran darah di beberapa sudut desa. Selanjutnya, terjadilah serangan besar dari harimau yang mengakibatkan banyaknya jatuh korban manusia. Serangan besar yang tak tertahankan itu membuat masyarakat di Semidang Bukit Kabu kemudian mengungsi meninggalkan desa-desa mereka.

Kata Drama:
Drama ini berangkat dari kisah "hancurnya" beberapa desa di wilayah/marga Semidang Bukit Kabu (Kabupaten Bengkulu Tengah sekarang), karena serangan balas dendam sekelompok besar harimau, setelah tubuh harimau betina itu dikoyak tombak dan pedang orang-orang dusun yang dipimpin oleh seorang ginde (kepala kampung).

Setelah pembunuh itu, dilanjutkan dengan hal-hal yang dianggap tabu dan penghinaan bagi harimau, yakni dengan kepala harimau itu dipasang di gerbang dusun, dagingnya ditumbuk dan kulitnya dijadikan gendang. Harimau betina yang masih muda itu masuk ke dusun adalah untuk bertemu dengan pengasuh yang bernama Bentua. Semidang Bukit Kabu pun kemudian hilang di balik kabut. Sisa orang-orang yang mengalami prahara itu telah hijrah untuk menyelamatkan diri lalu bertebaran dan memulai kehidupan baru di desa Nanti Agung, Karang Indah, Talang Karet dan Padang Lekat (kesemuanya di Kabupaten Kepahiang).

Namun, hingga hari ini kisah terbunuhnya Sembiyan (yang dipercaya sebagai nama harimau betina yang dibunuh itu), sepertinya belum akan berhenti. Fragmentasi dan rusaknya ekosistem akibat perluasan perambahan hutan secara liar, juga pembukaan perkebunan (sawit dan karet) dalam skala besar yang mengakibatkan menyempitnya habitat harimau, telah melanggengkan konflik harimau vs manusia ini.

Untuk apa harimau (Panthera tigris sumatraensis) dilestarikan? Apakah demi cerita buat anak cucu, atau demi keseimbangan rantai makanan, atau demi apa? Bisa jadi aktivitas pelestarian harimau pun akan jadi semacam penegasan atas obyektivikasi manusia terhadap alam, bahwa memang harimau tidak lagi sebuah mitologi, namun telah menjadi salah satu bagian proyeksi penguasaan manusia atas alam. Untuk itukah? Jawabannya -bagiku- sederhana saja, alam tidak akan menciptakan dirinya untuk kedua kalinya. Kita tidak bisa menciptakan harimau, jika harimau punah tak ada jaminan Allah akan menciptakannya lagi.

Walau bukan sebuah drama yang bermuatan kampanye lingkungan hidup, karena drama/pementasan Semidang Bukit Kabu adalah murni sebuah karya seni, namun inilah cara kami berbicara, cara kami berprihatin dengan mengangkat sebuah peristiwa yang telah membekaskan puing-puing keangkaraan, lalu jadi prasasti yang mengabadikan runtuhnya kesombongan manusia ketika rasa bijak terhadap alam telah hilang.

Menyusun Ulang Detail Folklor

Legenda-legenda secara umum tidak mendetail pengisahannya, bahkan bisa dikatakan “miskin” alur, peristiwa dan wawasan, jika kita ukur dengan konsep kesastraan hari ini. Legenda lebih banyak berpusat pada “tokoh”, sehingga dengan sentralistik ini menjadikan tokoh-tokoh lain dan peristiwa-peristiwa di luar tokoh itu sering tidak dikisahkan. Konflik-konflik pada umumnya berlatarbelakangkan violasi atau pelanggaran.

Namun, bukan berarti detail-detail tersebut tidak ada. Legenda menyimpan detail kisah dalam bentuk detail euherisme, alegoris dan personifikasi. Euherisme adalah detail catatan peristiwa “bersejarah” yang dilebih-lebihkan, detail alegoris berhubungan dengan fenomena alam, sedangkan detail personifikasi berhubungan cara memandang "sesuatu" sebagai "seseorang" atau bukan benda belaka.

Namun, dalam kertas ini, yang lebih difokuskan adalah detail-detail yang tersembunyi atau imanensi di dalam teks, karena akan menyangkut untuk pengembangan kisah menjadi sebuah drama. Detail-detail tersembunyi pada legenda menyimpan koneksi enigma yang timbul dalam sebuah wacana.

Secara hermeneutis, enigma itu memberikan pertanyaan-pertanyaan: siapakah mereka? apa yang terjadi? halangan apakah yang muncul? bagaimanakah tujuannya? apa yang terjadi pada orang-orang lain? dan pertanyaan-pertanyaan yang mungkin bersifat ontologis lainnya.

Inilah tugas ahli sejarah, interpretator termasuk penulis drama untuk melacak, lalu melakukan reproduksi dengan memunculkan dan mentransendensikan detail-detail atau ekspresi-ekspresi yang tersembunyi itu. Seorang penulis drama harus percaya bahwa legenda yang dihadapinya memiliki enigma dan peristiwa-peristiwa tersembunyi, di mana kisahnya akan ikut ber-evolusi bersama gerak zaman, gerak manusia dan kemanusiaan (wirkungsgeschichte). Menulis drama tanpa dapat menemukan realitas dengan detail-detail pengalaman yang tersimpan dan tersembunyi dalam data-datanya yang berupa teks itu, maka sebuah legenda hanya akan menjadi sebuah artefak, dan –maaf, hanya akan menjadi konsumsi bagi anak-anak yang tak lebih dari beberapa lembar kertas untuk menulisnya.

Karena itu juga, menulis drama yang berangkat dari legenda harus bisa lebih dari sekedar pendokumentasian legenda itu. Menyusun legenda ke bentuk drama adalah kegiatan mengkonstruksikan sebuah budaya yang berlangsung pada satu kurun waktu tertentu, yang berusaha untuk diekspresikan secara visual, menghidupkan kembali sebuah peristiwa dan mementas ulang manusia-manusia dengan segala problematikanya.

Lalu, apakah ini tidak berarti kita akan mengubah legenda tersebut?
Ekspresi-Ekspresi tersembunyi dalam Lalan Belek misalnya, tidak ada dalam cerita apa yang dilakukan oleh pihak kahyangan ketika Lalan tidak pulang, tidakkah raja marah kepada saudara-saudaranya, bagaimana pula cerita kehidupan Bujang Mengkurung bersama Lalan di dunia? Bagaimana pula tanggapan orang-orang desa terhadap Bujang Mengkurung yang berhasil memperistri seorang bidadari?

Sementara ekspresi-ekspresi tersembunyi dalam Semidang Bukit Kabu, misalnya bagaimana kemarahan harimau-harimau ketika mendengar salah seorang anggota mereka dibunuh dengan cara hina. Kita bisa membayangkan sebuah rapat akbar para harimau itu yang penuh emosional, hingga kemudian membuat keputusan untuk memberikan balasan yang kejam pula kepada manusia-manusia di Semidang Bukit Kabu. Tidak terceritakan dalam legenda bagaimana bentuk ketegangan masyarakat menerima balas dendam harimau, sementara kita juga bisa mengira-ngira bagaimana haru birunya orang-orang itu kemudian harus memutuskan meninggalkan desa mereka, menuju tempat baru untuk menyusun sejarah baru pula.

Suasana legenda yang kurang dialogis ini juga merupakan ekspresi tersembunyi. Ketika Raja Mawang memutuskan untuk menyingkirkan Serindang Bulan dari istana, apakah tidak terjadi perdebatan dalam keluarga. Bagaimana suasana debat itu, apa yang saja yang dikatakan oleh raja, para pangeran dan permaisuri. Ini tidak adalah dalam legendanya!

Ekspresi-ekspresi tersembunyi inilah yang harus dimunculkan oleh seorang penulis drama. Penulis mencoba menjawab enigma arus waktu. Konflik dalam teks asli harus benar-benar hadir. Kemarahan dalam teks asli bukan lagi peristiwa verbal, tetapi benar-benar menjadi peristiwa visual, yang kita saksikan dalam arus waktu kita hari ini.

Ini artinya kita tidak mengubah legenda, bahkan justru memperkaya legenda itu sendiri. Dengan memunculkan teks-teks atau ekspresi-ekspresi tersembunyi itu, maka verstehen atau interpretasi seorang penulis drama bukan lagi menghadapi sebuah teks, namun ia benar-benar berada dalam arus peristiwa dalam teks tersebut. Setidaknya kita mencoba menjawab secuil enigma dari masa lampau dengan cara kita berdialog melalui ruang waktu hari ini.
-------------------------

Sebelumnya adalah makalah untuk Seminar Pekan Sastra Se-Sumatera, Bengkulu, September 2016, diturunkan kembali dengan beberapa perubahan*

Untuk penulisan makalah ini, secara khusus saya ingin mengucapkan terima kasih kepada Bapak Drs. Agus Joko Purwadi, M.Hum, yang memberikan banyak kesempatan diskusi kepada saya baik secara langsung maupun via telepon. Terima kasih juga kepada Bapak Dr. Sarwit Sarwono, M. Hum, di mana bersama beliau, saya telah pernah berdiskusi tentang nama-nama tokoh dalam folklor dan legenda*

(BERSAMBUNG)
Emong Soewandi
Emong Soewandi Blogger sejak 2014, dengan minat pada sejarah, sastra dan teater

Post a Comment for "LITERASI FOLKLOR: KISAH-KISAH RAKYAT UNTUK PENULISAN DRAMA (BAGIAN I)"