Skip to content Skip to sidebar Skip to footer

PERENJAK BERSARANG DI ATAS KOLAM HIAS RUMAH KAMI

Sarang Perenjak Di Atas Kolam

Saat memberi makan ikan-ikan gurami dan dan nila di kolam hias halaman rumah, aku tertarik dengan gumpalan rumputan kering yang cukup tersembunyi di balik daun-daun anggur, yang tergantung menjuntai di atas kolam itu. Segera aku menuju ke sisi lain kolam, bermaksud melihat dan berpikiran untuk membersihkannya, karena kuatir itu adalah sarang semut besar, yang tentunya akan membahayakan anak-anak yang sering bermain-main di sekitar kolam.

Namun, setelah dekat dan memperhatikan dengan seksama, sempat aku terkejut, tak percaya, jika gumpalan-gumpalan rumputan kering itu ternyata sarang burung. Tersusun begitu rapi dari daunan dan rumputan kering, sarang itu menyerupai sebuah corong yang cembung. Di dalam sarang itu ada 4 atau 5 butir telur kecil. Sebagai orang yang dilahirkan dan dibesarkan di suasana desa, segera saja aku bisa mengenali itu sebagai sarang burung perenjak.

Sarang burung di atas kolam kami. Wah! Termangu aku beberapa saat. Terdiam memandangi sarang itu.

Ada yang sedikit tercekat di tenggorokan, sebuah dorongan rasa haru yang tiba-tiba menyeruak. Ah, begitu percayanya alam kepada kami, sehingga telah membiarkan seekor perenjak membuat sarangnya begitu dekat dengan manusia. Jarak sarang itu sendiri hanya berkisar 3 meter dari pintu rumah, dekat halaman di mana anak-anak biasa bermain. Bahkan tidak begitu pula terlindungi dari mata manusia, karena daun-daun di sekeliling sarang itu tidak cukup untuk menutupinya.

Biasanya, berbeda dengan sarang burung pipit yang bisa saja kita temui di pohonan sekitar rumah, untuk menemukan sarang burung perenjak sendiri tidak mudah. Perenjak adalah burung yang sensitif, sangat menjauhi gangguan dan keributan, sehingga mereka pun akan membuat sarang di tempat yang jauh dari pemukiman dan sangat tersembunyi. Ringkihnya burung ini, besarnya juga mungkin hanya sekepalan bayi, membuat mereka pun harus benar-benar membangun sarang yang aman dari musuh-musuh alami mereka, seperti tikus, ular atau musang. Musuh-musuh alami ini biasanya mengintai untuk memangsa telur atau anak-anak burung yang baru menetas, bahkan induk burung itu sendiri.


Bagaimana kelanjutan sarang perenjak di daunan anggur itu tidak aku ketahui lagi, karena aku, juga melarang anak-anak untuk mendekatinya. Untuk memberi makan ikan, selanjutnya kami lakukan cukup dari teras rumah, dengan melemparkan saja pelet ke kolam. Sesekali akan terlihat seekor perenjak berkepala kuning akan hinggap di dekat sarang itu. Setelah diam sejenak, memutar kepalanya kiri kanang, dia akan menghilang masuk ke dalam sarang itu. Biarkan saja apa yang terjadi, alam sudah percaya kepada rumah kami, sehingga kami pun harus pula menjaga kepercayaan itu.
Emong Soewandi
Emong Soewandi Blogger sejak 2014, dengan minat pada sejarah, sastra dan teater

1 comment for "PERENJAK BERSARANG DI ATAS KOLAM HIAS RUMAH KAMI"