Skip to content Skip to sidebar Skip to footer

CERITA RAKYAT SERAWAI: PINGIT PUTRI

Pakaian adat Serawai

PINGIT PUTRI 

Cerita Rakyat Serawai

"Wak dukun, apa obat putriku ini?" tanya ayah Nila.

Jawab wak Dukun sambil menguyah sirihnya, "Berat sekali bagimu, anakku."

Ayah Nila terdiam beberapa saat, lalu sambungnya lagi dengan nada yang sangat menghiba, "Biar karam sekalipun wak, akan kuturuti, asalkan anakku Nila sembuh dari penyakitnya. Katakanlah wak!"

"Baiklah kalau begitu, tetapi tabahkan· hatimu, Nak. Obatnya tidak ada lain selain Nila putrimu itu harus dibuang."

Demikianlah awal ceritanya Nila adalah seorang gadis yang cantik. la adalah anak yang ketujuh, keenam saudaranya sudah meninggal dunia semua. Tinggal ia seorang diri dengan kedua orang tuanya. Nila sudah enam bulan tidak keluar rumah karena takut akan diejek dan dijauhi orang lain, terutama temannya bermain dahulu selagi ia dalam keadaan sehat. Tidak satu pun yang mau mendekatinya. Nila menghidap penyakit yang busuk baunya, yaitu sebangsa lepra.

Sungguh malang nasib Nila. Terlebih lagi kedua orang tuanya, hancur rasa hati mereka. Takdir telah menentukan. Bukan saja Nila yang dijauhi orang sekampung, bahkan orang tuanya juga. Kenduri tidak pernah diundang, rumahnya tidak pernah disinggahi lagi bahkan sering di lempari dengan batu.

Akhirnya kedua orang tua itu, pada suatu malam mengambil keputusan, akan menuruti kata-kata dukun untuk membuang Nila ke hutan. Pada pagi esoknya, ayahnya mengajak Nila pergi ke hutan. Nila menurut saja. Dengan sedih ibu Nila melepaskan anaknya, demi mengingat pesan dukun. Nila pun memahami akan kehendak kedua orang tuanya. la rela dibuang ke dalam hutan.

Sampai di hutan yang telah ditentukan, dan jauh letaknya dari dusun, ayah Nila membuat pondok di atas kayu. Pondok diberi beratap daun puar, lantainya dibuat dari potongan-potongan kayu serta diberi alas daun ilalang sebagai kasurnya. Dinding dibuat dari kulit kayu. Ukuran pondok itu cukup bagi Nila berbaring. Tingginya kira-kira empat meter dari tanah.

Setelah selesai pondok dibuat berkatalah ayahnya, "Nila, anakku, tinggallah engkau baik-baik. Mudah-mudahan Dewa yang agung memberkatimu, semoga disembuhkannya penyakitmu. Tabahkan hatimu, kuatkan jiwamu!"

Setelah berkata begitu, pulanglah bapaknya ke dusun kembali. Tinggallah Nila seorang diri, berlinanglah air matanya memandang bapaknya pergi.

Tiga bulan sudah Nila di hutan itu. Makanan yang disangu ayahnya sudah habis. Nila kehilangan akal. Akan keluar dari pondoknya ia tidak berani. Sedang dalam keadaan bingung itu, datanglah seekor monyet besar membawa buah-buahan. Makanlah Nila dengan lahapnya. Setelah mengantar buah-buahan itu, si monyet pergi. Demikianlah setiap hari Nila mendapat makanan dari si monyet.

Pada suatu malam Nila terbangun dari tidurnya. la melihat di sekitarnya terang benderang, seolah-olah ada ·keramaian layaknya. Nila menjenguk keluar pondok. Ketika itu juga terdengarlah tegur sapa perempuan, "Selamat malam dik Nila. Kami datang mengajak adik bermain. Kami berenam datang dari kayangan."

Nila tercengang. Bermuncullah enam orang bidadari cantik-cantik dan berpakaian indah sekali. Berkata lagi bidadari yang tertua. "Dik Nila, marilah ikut kami menari malam ini. Kita bergembira menyambut malam yang indah ini."

"Bagaimana aku dapat menari kakakku, pakaianku tidak ada, badanku busuk baunya. Tulang-tulangku terasa sakit dan ngilu, "Jawab Nila.

Lalu seorang di antaranya mengeluarkan satu bungkusan sambil berkata, "Pakailah dik Nila pakaian ini. lni pakaian kami tenun bersama, dan ini obat yang diberikan ayah kami di kayangan untuk engkau. Minumlah!"

Pakaian disarungkan Nila dan obat itu diminumnya.

Begitulah setiap malam bidadari berenam itu mengajak Nila bermain, belajar menari. Tidak terasa waktu berjalan terus dan sudah mencapai setahun lamanya Nila terbuang dalam hutan itu. Lebih heran lagi sekarang badan Nila sudah sembuh sama sekali dari penyakit yang diidapnya. Badannya sudah gemuk, bersih dan montok. Wajahnya sudah menyerupai wajah keenam bidadari kawannya. Namun sayang sekali, kuku Nila sangat panjang karena Nila tidak dapat memotongnya. Ayahnya tidak meninggalkan sebilah pisau pun. Tetapi kalau Nila menari, kukunya yang panjang itu menambah cantik kelihatannya. Melentik-lentiklah jarinya dengan kuku yang panjang, sesuai dengan liukan badannya.

Pada suatu hari Nila berkata kepada saudara-saudaranya keenam bidadari itu, "Kakak-kakakku, akti sangat berterima kasih kepada kamu sekalian. Badanku telah sembuh dari penyakit. Aku sangat rindu kepada kedua orang tuaku. Aku berhasrat ingin kembali ke dusun, tetapi aku tidak tahu jalan."

Jawab salah seorang, "Dik Nila, kalau engkau mau pulang ke dusun biar kami mengantarmu bersama-sama. Naiklah ke atas salah satu punggung kami."

Maka naiklah Nila ke atas punggung bidadari yang tertua. Terbanglah mereka menuju dusun Nila.

Setengah hari perjalanan sampailah Nila dan rombongannya. Nila berpakaian indah-indah, bajunya bersulam benang-benang emas lengannya bergelang suasa, jari kukunya panjang melentik di kelima jari kiri dan kelima jari kanan.

Sebelum masuk kampung, Nila dan keenam putri itu mandi di tepian dusunnya lebih dahulu. Sedang mandi itu lewatlah seorang perempuan tua tetangga ibu Nila. Perempuan itu terkejut melihat gadis-gadis mandi. Lebih terkejut lagi melihat Nila, perempuan itu berlalu dari tepian dengan tergopoh-gopoh ia menuju dusun.

Sampai dalam dusun ia bercerita kepada orang banyak bahwa ia melihat Nila sedang mandi di tepian. Ketika orang kampung mengetahui bahwa Nila masih hidup, orang kampung menyangka Nila masih menderita sakit lepra. Lalu semua rumah ditutup pintunya, takut kalau-kalau Nila lewat di halaman rumah, apalagi nanti masuk ke dalam rumah, pasti Nila membawa penyakit yang berbau busuk itu. Sehari itu tidak ada yang berani mandi ke sungai, takut akan ketularan penyakit Nila.

Selesai Nila dan kawan-kawannya mandi lalu berpakaianlah mereka dan berangkat menuju kampung. Nila lebih dahulu berjalan untuk menuju kerumah kedua orang tuanya. Nila heran dan tercengang, mengapa kampungnya begitu sepi dan pintu tertutup semua. Sedangkan hari masih siang. Nila bertemu dengan beberapa orang, tetapi orang-orang itu tidak berani memandang Nila, bahkan segera menjauhkan diri. Nila mencoba mengetuk salah satu rumah, tetapi tidak ada sahutan dari dalam.

Sehingga dari rumah ke rumah diketuknya, namun tidak ada yang berani membuka pintu. Nila hampir menangis. Kata seorang bidadari itu, "Dik ·Nila, marilah kita kemari. Mereka mengira engkau masih berpenyakit yang jelek itu."

"Baiklah kak,'' Jawab ·Nila.

Lalu menarilah mereka bertujuh sambil bernyanyi yang artinya :

Hai, minjam pemukul, dan minjam landasannya,
minjam pula pemata taji,
minjam dusun dan minjam halamannya,
minjam tepian tempat mandi.
Pasanglah unak (penangkap ikan dari duri rotan) di muara Ngalam
beritanya sampai ke Bengkulu,
menumpang bermalam sehari semalam,
untuk melepas hati rindu.
Kalau ada tempat menumpang di sini,
kami tak ke air lagi,
Hai, jika ada harapan disini,
Kami tidak kan kembali lagi,
Baik sekali kalau bersatu,
Kami takkan kembali kerimba gurun.
Sarang semut di petai tinggi,
Petainya tidak berubah lagi,
alangkah ·sulit bila bercerai,
rasakan tidak bertemu kembali.

Demikianlah himbauan Nila sambil menari dengan kakak-kakak bidadarinya. Merdu sekali lagunya serta indah nian tari mereka. Nila memakai perhiasan yang bertatahkan emas serta jari-jemarinya berhias inai dengan kuku-kukunya melentik meliuk-liuk.

Di sekitar mereka menyebarlah bau harum semerbak, sehingga tercium oleh orang di sekitarnya yang masih berkunci diri dalam rumah mereka. Dengan mendengar lagu yang merdu itu, timbullah hasrat penduduk ingin mengintip.

Setelah terlihat oleh mereka, mereka tercengang semua menyaksikan apa yang dilihat mereka, dan ditambah lagi bau harum semerbak dengan wajah-wajah gadis cantik. Termasuklah diantarannya Nila yang mengindap penyakit.

Sekarang Nila kelihatan cantik dan bersih kulitnya. Lalu akhirnya keluarlah orang dusun itu menyaksikan Nila dan kawan-kawannya. Tak habis-habisnya mereka memuji kecantikan ketujuh gadis itu dan tak puas-puasnya mereka memandang wajah Nila yang telah beralih rupa dari setahun yang lalu. Anak-anak gadis dengan tak disadari ikut menari beramai-ramai.

Gemparlah dusun itu, lalu orang memanggil kedua orang tua Nila. yang sudah menderita selama ditinggalkan Nila dalam buangan. Ketika kedua orang tua Nila bertemu dengan anaknya, dipeluknyalah Nila sambil bertetesan air mata. Demikian pula Nila merangkul dan memeluk ibunya seolah-olah takkan lepas lagi.

Bubarlah tari menari itu. Orang banyak tak habis-habisnya memperkatakan Nila dan kawan-kawannya. Kegembiraan kedua orang tua Nila tak dapat dibayangkan.  Ramailah orang menuju rumah Nila. Tujuh hari tujuh malam rumah Nila selalu ramai dikunjungi orang. Yang datang ada yang membawa hadiah, dan tidak urung pula para jejaka ingin menindai Nila dan kawan-kawannya. Berbahagialah Nila dan kedua orang tuanya.

Tetapi setelah seminggu kemudian, datanglah kesedihan keluarga Nila, karena keenam bidadari teman Nila ingin kembali ke kayangan. Mereka telah lama meninggalkan Kayangan.

"Nila adikku," kata bidadarihu dari yang tertua. "Izinkanlah kami ini kembali ke Kayangan. Kami khawatir akan ayah dan ibu kami berdua di Kayangan. Ayah dan ibu kami juga dalam kesedihan karena hilangnya adik kami si bungsu lima belas tahun yang lalu. Itulah sebabnya kami berkelana di atas bumi ini setiap malam empat belas, kami mencari adik kami yang hilang itu. Telah kami cari di setiap sudut kampung dan desa, hasilnya tidak ada sama sekali."

Ayah Nila menyela, "Apa tanda adikmu itu, Anakku?"

Jawab si sulung, "Ada tahi lalat di pangkal pahanya sebelah kanan."

"Apa ..... . ?" seru orang tua Nila serempak. Lalu Nila dibimbing ke dalam kamar oleh kedua orang tuanya serta mengajak keenam bidadari itu. Sampai dalam kamar dibukanyalah sarung Nila sampai kepangkal pahanya, dan ...... terpampanglah sebuah tahi lalat sebesar ujung kelingking. Serentaklah keenam bidadari itu memeluk Nila lalu bertangisan pula. Benarlah kini bahwa Nila adalah si bungsu yang dicari-cari itu. Kiranya si bungsu telah menjelma ke dalam dunia menjadi Nila anak manusia.

Sayang sekali Nila telah menjadi manusia, sehingga ia tak dapat ikut terbang ke Kayangan. Namun demikian kegembiraan keenam bidadari itu tidak hilang. Keenam bidadari itu akan segera memberitahukan kedua orang tua mereka bahwa si bungsu telah ditemukan, meskipun telah menjadi manusia.

Keenam bidadari itu berjanji kepada Nila adiknya dan kedua orang tua Nila bahwa mereka akan turun ke bumi setiap malam empat belas dan juga akan membawa serta kedua orang tua mereka yang juga orang tua Nila di Kahyangan. Tak kurang gembiranya kedua orang tua Nila di dunia telah menemukan kembali ganti keenam kakak Nila yang telah meninggal ketika masih kecil dahulu.

Sejak itu dusun Nila pada setiap malam empat belas selalu ramai dengan anak gadis belajar menari. Bahkan hingga sekarang di dusun ini pada setiap malam empat belas sering terdengar bunyi gong kelintang, walaupun orangnya sudah tidak ada lagi karena telah berpindah ke tempat lain membentuk dusun baru.

Menurut cerita orang bahwa dusun itu terletak kira-kira di Kuala Ngalam sekarang. Sampai sekarang tari disebut Tari Tanggai, karena Nila berkuku panjang dan tari ini disertai dengan beringit atau bernyanyi yang bersifat menghiba dan mohon kasihan orang banyak.

Emong Soewandi
Emong Soewandi Blogger sejak 2014, dengan minat pada sejarah, sastra dan teater

Post a Comment for "CERITA RAKYAT SERAWAI: PINGIT PUTRI"