Skip to content Skip to sidebar Skip to footer

CERPEN: MAPLE MUSIM GUGUR

Karya: Firda Sabrina Lutfiyah
Ilustrasi
Hujan telah berhenti sejak sepuluh menit yang lalu. Sinar matahari mulai menyusup melalui celah-celah awan. Aku melihat ke luar jendela. London, kota yang disebut jantung dunia ini telah lima tahun kutempati. Dan selama itulah jarak membentang luas antara aku dan kotaku.

“Ri, aku akan mencarikan taksi untukmu, kau jangan pergi kemana-mana!”

Aku hanya menggangguk. Tadi itu Vina, temanku sejak kecil, yang entah kenapa kelihatannya lebih berambisi tentang kepulanganku ke Indonesia dibanding aku sendiri. Aku menatap keluar jendela. Pandanganku jatuh pada pohon maple di depan. Lihatlah, bahkan kenangan tentang dia masih hidup di sana. Dia yang menjadi alasanku pergi ke London. Dia yang selalu membuatku mengenang masa lalu. Dan ini adalah kisah tentang dia.

*

Hujan sepertinya masih enggan untuk berhenti walau sekejap. Akibatnya, bus pun enggan menampakkan dirinya. Sebenarnya jarak antara rumahku ke sekolah tidak begitu jauh, tetapi tidak mungkin aku berlari menembus hujan selebat ini. Sementara itu, suatu penyakit bernama lupa telah menyebabkanku tidak pernah membawa payung.

Jadi, di sinilah aku sekarang, duduk di halte dekat sekolahku sendirian. Tidak, sepertinya aku tidak lagi sendirian. Dia di sana. Sedang menyeberangi jalan, berjalan ke arahku.

“Hai, Risha.” Hanya dua kata, tapi mampu membuatku kehilangan seluruh keberanianku.

“Hai, Farel” Aku seperti tak percaya dia ada dihadapanku. Selama ini, aku hanya berani menatapnya dari jauh, tak pernah berani menyapanya.

“Sha, bagaimana jika kau pulang denganku? Aku yakin payungku cukup lebar untuk kita berdua. Jika kau ingin menunggu hingga reda, kemungkinan kau akan menunggu hingga malam.”

“Kau serius, Rel? Memangnya tidak apa-apa? Maksudku, kau yakin ingin mengantarku dulu?”

“Memangnya kenapa? Ayolah, rumah kita ‘kan searah.”

“Terima kasih, Rel.”

Dia hanya tersenyum. Sementara aku terdiam oleh senyumnya itu. Bahkan, senyumnya dapat mengalahkan dinginnya hujan. Saat itu, untuk pertama kalinya, aku dapat menatap mata coklat kayunya. Dan mulai saat itu juga, dia membuatku senang menimbun harap. Membuatku bermimpi begitu tinggi. Hingga aku lupa suatu hal, akankah dia membuatku jatuh setelah aku terbang begitu tinggi?

*

Semenjak kejadian di halte kemarin, aku dan Farel semakin dekat. Itu menurutku. Setidaknya, beberapa kali kami melakukan sesuatu bersama. Aku senang akan hal ini. Dulu, tak pernah kubayangkan aku bisa seperti ini dengannya.

“Sha, kau suka bintang?” Itu pertanyaan dia saat kami berdua di perpustakaan. Jika kulihat, sepertinya, dia amat tertarik dengan perbintangan dan semua yang berhubungan dengan benda langit.

“Ya, memangnya kenapa?”

“Setelah kelulusan nanti, rencananya, aku mau ambil jurusan astronomi, bagaimana menurutmu?”

“Ya, itu bagus, Rel. Menurutku, sangat menarik bisa mengamati benda-benda langit.”

“Aku senang ternyata kau suka itu, Sha.” Senyum itu lagi. Aku selalu suka senyumnya. Dan yang paling kusuka, ketika dia memanggilku “Sha” sambil tersenyum.

“Oh, ya, sebenarnya ada satu hal yang selalu ingin aku tanyakan, Rel?” Aku menatap matanya. “Kenapa kau selalu memanggilku “Sha,”padahal tak ada satu orang pun yang memanggilku begitu. Yang lain selalu memanggilku “Ri,” atau “Ris,” tetapi kau berbeda.”

Dia terdiam sejenak. Untuk sesaat kemudian, dia terkekeh pelan. “Kalau kau benar-benar ingin tahu, jawabannya, tidak ada. Aku merasa lebih senang memanggilmu begitu. Kalau kau masih bingung, anggap saja itu panggilan khusus dariku untukmu dan hanya aku yang boleh memanggilmu begitu.”

Kemudian, dia beranjak pergi. Sementara aku masih terdiam di tempatku. Memupuk kembali mimpi-mimpi yang begitu tinggi. Hingga aku lupa. Harapanku telah begitu tinggi, tapi tak pernah kubertanya, akankah semua itu terwujud? Aku lupa, bahwa aku telah menimbun mimpi terlalu banyak, hingga telah tercampur antara kenyataan dan khayalan belaka. Dan sekarang, aku bertanya, apakah kau nyata?

*

“Bagaimana kalau jam tangan?” Aku menggelengkan kepalaku. Untuk yang kesekian kalinya. Aku dan Vina sedang dalam perjalanan pulang dari sekolah. Dan masih dalam topik yang sama, aku butuh sarannya untuk kado ulang tahun Farel nanti.

“Jadi, kau maunya apa?”

“Aku mau sesuatu yang unik, yang dia tidak akan bisa mendapatkannya dari orang lain. Sesuatu yang bisa mengingatkan dia denganku.”

“Kalau begitu, aku tidak bisa memberimu saran, karena kau yang tahu tentangnya, bukan aku.”

Aku terdiam. Benar kata Vina. Tapi, aku benar-benar tidak punya ide. Tiba-tiba sebuah ide melintas di kepalaku. Aku tersenyum, aku sudah tahu apa yang ingin kuberikan.

*

Disinilah aku sekarang, bersama Farel, berdua, di taman kota. Tidak, bukan aku yang mengajaknya kemari, tetapi dia sendiri. Hening masih menyelimuti kami berdua. Aku masih dengan pikiranku sendiri, begitu juga dia. Walaupun sering bersama, aku masih terlalu malu untuk memberikan kado ini.

“Sha.” Dia melihat ke arahku.

“Kenapa?”

“Aku pindah, ke AS.”

Hening. Hanya terdengar siulan burung yang saling sahut-menyaut.

“Sha, aku ingin kau menyimpan ini, agar kau tak lupa denganku, agar setiap kau melihat ini, kau selalu ingat denganku.”

Dia memberikanku sebuah liontin berbentuk bintang. Aku masih terdiam, tak tahu harus berbuat apa.

“Sha, sebelum aku pergi, aku harus mengatakan sesuatu. Kau tahu, perasaanmu terhadapku itu, sama seperti perasaanku terhadapmu.”

“Bagaimana kau tahu itu?”

“Itu mudah, Sha. Matamu mengatakan segalanya. Matamu saat melihat lelaki lain berbeda dengan saat kau menatapku. Saat menatapku, matamu menyimpan rasa gugup, tetapi walaupun gugup, dia menatap penuh cahaya, Sha. Berbeda saat dia menatap yang lain.”

Aku terdiam. Jadi, selama ini dia tahu tentang perasaanku. Dan ternyata, dia memiliki perasaan yang sama denganku. Baiklah, kurasa ini waktu yang tepat. Aku menarik napas panjang.

“Rel, aku ingin kau juga menyimpan ini. Anggap ini kado ulang tahunmu dariku. Aku juga ingin kau mengingatku saat kau melihat ini.”

Aku mengulurkan lukisan itu padanya. Lukisan pohon maple di musim gugur. Aku membuat lukisan itu mati-matian untuknya. Hanya untuknya.

“Kau tahu, Rel, aku selalu suka pohon maple, sama seperti kau menyukai bintang. Aku berharap kau akan mengingatku setiap kau melihat pohon ini. Kau tahu, Rel, mengapa aku melukisnya di musim gugur? Karena ulang tahunmu itu di musim gugur, sehingga aku selalu suka musim gugur.”

Dia menatap lukisan itu. “Sha, aku janji, suatu hari nanti, aku akan kembali. Jadi, maukah kau menungguku hingga aku kembali?”

“Rel, kau tahu filosofi pohon maple? Keharmonisan dan kesetiaan. Kau tahu maksudku, kan? Aku akan setia menunggumu hingga kau pulang nanti. Dan aku harap kau juga begitu.”

*

Bertahun-tahun telah berlalu semenjak kejadian itu. Aku di sini, duduk di kafe depan taman itu, berusaha melawan dinginnya hujan. Satu tanganku memegang cangkir kopi, sementara yang satunya memegang beberapa lembar kertas. Mataku masih fokus pada kertas-kertas itu.
Aku bingung. Ini surat pemberitahuan beasiswa untuk melanjutkan progam magister fakultas matematika di University College London. Bayangkan, beasiswa ke London. Siapa yang akan menolaknya?

Tapi, masih ada keraguan untuk menerimanya. Banyak kenangan yang tersimpan di kota ini. Terlalu berat untuk meninggalkannya.

Aku menatap ke sekeliling kafe. Hingga akhirnya, mataku sontak membulat. Dia di sana, sedang melihatku juga. Dia tersenyum dan berjalan ke arahku.

“Hai, Sha, lama tidak berjumpa.”

“Hai, Rel.” Aku balas menyunggingkan senyum.

“Senang bisa bertemu denganmu lagi.”

“Aku juga.”

“Oh, ya, Sha. Ini Nadhira, tunanganku.”

“Oh, hai, aku Risha.” Aku mengulurkan tangan kepadanya sebagai tanda perkenalan. Jujur saja, hatiku seperti diiris-iris mendengarnya. Dia mengucapkan itu dengan sangat mudah. Sementara aku, hanya bisa memasang senyum bahagia, lebih tepatnya pura-pura bahagia.
Kami mengobrol untuk beberapa saat di kafe itu. Nadhira terus menceritakan hubungannya dengan Farel. Saat itu aku sadar. Hanya aku yang menunggu. Dia tidak.

*

Kini, aku sedang di bandara, tanpa ada yang menemani. Vina sedang mengurus beberapa dokumen, kemungkinan dia akan berangkat minggu depan. Aku sudah memutuskan, aku terima beasiswa itu.

Beasisiwa itu seperti pelarian bagiku. Semenjak kepulangannya, aku tak sanggup lagi tinggal di kota ini.

Aku tidak memberitahu Farel sedikitpun tentang kepergianku ini. Buat apa? Semuanya tidak penting lagi, bukan?

Aku menatap sekeliling. Aku tak bisa berbohong, aku sangat berharap dia ada di sini. Masih berat meninggalkan kota ini, tetapi lebih menyakitkan jika mengingat semua kenangan di sini. Karena aku tak pernah berharap dia menjadi kenanganku. Aku selalu berharap dia untukku.

Aku menghela napas. Aku beranjak pergi. Tetapi, langkahku tiba-tiba terhenti. Aku mengambil ponselku. Mungkin tak ada salahnya mengetikkan beberapa kalimat untuk Farel.
“Hai, Rel. Hanya ingin memberitahumu, aku telah pergi, jadi kau tak perlu takut aku akan merusak bahagiamu dengannya. Kau tahu Rel, aku telah menunggumu sangat lama. Bahkan saat orang-orang belum mengetahuinya. Bahkan kau pun belum tahu.ya, itu tak penting lagi sekarang, bukan? Rel, semoga kau bahagia bersamanya. Dan semoga aku lebih bahagia, karena berhasil melepasmu, dan menemukan orang baru di kehidupanku nanti yang dapat membuatku bahagia.”

*

Dan, di sinilah aku sekarang. Ternyata aku salah. Bukannya dia yang akan teringat aku tiap kali melihat pohon maple. Tetapi, tiap kali aku melihat pohon itu, malah aku yang selalu teringat dia.

Ternyata sulit melupakannya. Aku sudah sejak lama melepasnya. Membiarkan takdir yang menentukan semuanya. Tetapi, melupakannya begitu sulit. Kadang aku masih memikirkannya di antara guguran daun maple.

Aku menatap liontin di leherku. Itu liontin bintang yang dia beri waktu itu. Lihatlah, bagaimana aku ingin melupakannya jika aku masih memakai ini. Terkadang, aku ingin mengatakan padanya, bahwa liontin itu masih kusimpan. Dan dia benar, dia selalu kuingat tiap kali menatap liontin itu. dan saat itu aku sadar, semua yang kulakukan selalu mengingatkanku padanya. Harusnya aku tak pernah jadi pohon maple.

“Ri.”

Aku menoleh ke arah Vina.

“Taksinya sudah menunggu di bawah.”

Aku masih diam. Vina juga, dia pasti tahu apa yang sedang kupikirkan

“Ri, untuk dapat menerima kenyataan, kau harus mengahadapinya. Bukannya lari seperti ini. Aku tahu berat menerima bahwa Farel telah bersama seseorang yang membuatnya bahagia. Tapi kau tak bisa lari seperti ini. Kau bilang kau juga ingin bahagia, bukan?”

“Pergilah, Ris. Mungkin dengan kau bertemu dengannya lagi, itu akan membuatmu lebih menerima kenyataan. Sehingga, kau dapat melanjutkan hidup dengan damai. Tanpa bayang-bayang masa lalumu. ”

Aku menatap ke luar jendela. Angin berhembus perlahan. Hening.

“Mungkin kau benar, Ris. Aku akan pulang, Ris. Tapi tidak untuk selamanya. Hanya untuk berdamai dengan masa lalu. Setelah itu, aku akan kembali lagi ke sini.”

Vina tersenyum. Aku beranjak ke luar, menaiki taksi sambil melambaikan tanganku kepada Vina. aku menatap ke luar jendela. Menyaksikan pemandangan musim gugur di kota London. Aku tersenyum. Semoga setelah berjumpa kembali dengannya, aku bisa membisikkan pada diriku sendiri, bahwa dia adalah kisah yang telah lama usai.

Emong Soewandi
Emong Soewandi Blogger sejak 2014, dengan minat pada sejarah, sastra dan teater

2 comments for "CERPEN: MAPLE MUSIM GUGUR"

  1. Bagus cepernyaa Naya ^^
    Terus berkarya, ditunggu karya-karya selanjutnya

    ReplyDelete