Skip to content Skip to sidebar Skip to footer

ISLAM DI BENGKULU, 1900-1930

Masjid di Bengkulu, circa 1900 (KITLV)

Asal-Usul yang Kabur

Bengkulu sampai (1900) telah menjadi wilayah Muslim yang tertutup, di mana orang-orangnya mempraktikkan agama Islam menurut cara para leluhur, tidak mengenal faham-faham keislaman yang baru atau lebih moderat. Tidak ada perbedaan antara Aliran Lama dan Aliran Baru, sebagaimana yang terjadi misalnya di Minangkabau, yang bahkan kemudian memantik terjadinya Perang Padri. Namun, hal ini akan terbalik dalam beberapa waktu kemudian, di mana Bengkulu juga termasuk tempat terjadinya dalam gerakan spiritual yang telah mereformasi Islam di Hindia Belanda selama seperempat abad, terutama dari dua titik pancaran, Jawa Tengah dan Minangkabau.

Bengkulu secara umum merupakan wilayah pertanian, termasuk juga penduduk yang berada di wilayah pesisir. Di dataran pantai dan di lembah-lembah pegunungan, hiduplah penduduk pertanian sederhana, terdiri dari kelompok: di Utara ada orang Minangkabau, di Selatan, wilayah Krui dan Bintuhan, Lampung, di Timur adalah orang Palembang, di antaranya, di onderafdeling Kaur, Manna dan Seluma, Pasemah dan Serawai, dan di onderafdeling Lebong, Rejang dan Lais, ada orang-orang Rejang. Penduduk ibukota Bengkulu sangat beragam, sebagaimana banyak kota pelabuhan yang tercatat dalam sejarah.

Permukiman pedalaman Jawa pertanian telah menambahkan elemen lain di abad ini, dan akhirnya dalam beberapa tahun terakhir orang Minangkabau di pantai barat Sumatera telah membanjiri negeri itu sebagai pedagang, demikian juga, seperti yang akan kita lihat, sebagai pembawa berita sosial, politik dan terutama baru. ide-ide keagamaan.
Masjid di Bengkulu, circa 1900 (KITLV)

Tidak ada data yang jelas tentang perkembangan Islam di Bengkulu. Menurut tradisi asli, sejarah Bengkulu memang memperlihatkan adanya hubungan dengan Minangkabau dan juga dengan kerajaan-kerajaan Jawa, khususnya Majapahit dan Banten. Namun, dalam catatan Belanda tentang tradisi sejarah Bengkulu tidak banyak ada materi tentang penyebaran Islam.

Sebuah sumber otentik, Asal Usul Bangkahulu, yang dua manuskripnya disimpan di Batavia, sejarah Bengkulu dimulai dari pemerintahan Ratu Agung, yang menurut tradisi adalah seorang bangsawan dari Madjapahit. Sementara, menurut tradisi lisan lain adalah makhluk suci yang berasal dari Gunung Bungkuk. Keenam putranya telah pergi berperang dengan Aceh dan selanjutnya berakhir di Gunung Bungkuk

Mendengar kekosongan pemerintahan di Sungai Serut (Bengkulu), empat Pasirah dari Lebong mengambil alih kekuasaan. Namun, terjadi pertengkaran di antara mereka, memperebutkan siapa yang paling pantas untuk dirajakan.  Masalah ini dapat diselesaikan dengan kedatangan seorang utusan Pangeran Minangkabau bernama Maharaja Sakti. Pangeran ini bersama empat belas pengikutnya tiba di Sungai Serut dalam rangka melihat-lihat tanah pedalaman. 

Para Pasirah kemudian menawarinya jabatan raja. Setelah mendapat restu Seri Maharaja Diraja di Pagar Ruyung, maka Maharaja Sakti pun menjadi Raja Sungai Lemau (Bengkulu).

Sejauh berita sejarah Bengkulu tertua ini dapat diterima, mungkin jejak pertama Islam terjadi ketika Maharaja Sakti tiba, di mana ia menyebutkan sebagai ketetapan Allah Ta'ala bahwa seluruh pulau Perca bergantung pada Sri Maharaja Diraja di Pagar Ruyung.  Dalam perjanjian yang dibuat bersama antara Maharaja Sakti dengan Pasirah di hadapan Seri Maharaja Diraja di Pagar Ruyung, dikatakan, bahwa orang yang mengingkari perjanjian akan dikutuk dengan laknat Al-Qur'an (dikutuk Al-Qur'an tiga puluh juz).

Namun, tetap juga kisah-kisah ini tidak dapat dijadikan sebagai bukti asal-usul Islam di Bengkulu. Ada perbedaan yang tegas antara pengaruh dan perkembangan, sebagaimana juga diketahui pengaruh keislaman cukup luas di nusantara, walaupun di tempat-tempat tersebut Islam tidak berkembang. Selain tujuan politik, tidak ada disebutkan jika Maharaja Sakti memiliki tujuan untuk menyebarkan Islam di Bengkulu.  

Dalam Tambo Bangkahulu dalam bahasa Melayu yang tersimpan di Batavia, menurut kata pengantarnya merupakan saduran bebas dari bahan tulisan kuno, Bengkulu terbentuk sebuah pemerintahan yang dipimpin seorang bangsawan Muslim bernama Ratu Agung. Ketika dia meninggal, maka bilal, khatib dan kadi di istana memandikan jenazah. Ini terlihat cukup Islami, tetapi ini juga tidak menghasilkan apa-apa tentang perkembangan Islam di Bengkulu. Ini juga mungkin masih merupakan tradisi lama yang mendapat pengaruh tata cara Islam. Tambo ini sendiri bukan ditulis pada masa hidup Ratu Agung, jadi tidak tertutup kemungkinan terjadi islamisasi dalam proses penulisan riwayatnya.

Sebuah kisah lain yang mungkin juga bisa diperhitungkan adalah tentang perjalanan Syekh Ibnu Mulana (atau mungkin utusannya), untuk menaklukkan wilayah-wilayah pantai di Lampung dan Silebar. Siapa yang dimaksud dengan “Syekh Ibnu Maulana” ini adalah Susuhunan Gunung Jati (Sunan Gunung Jati, salah seorang dari Wali Songo). Menurut babad lain, Shadjarah Tjirebon, disebutkan bahwa putra dari Sunan Gunung Jati yang bernama Hasanuddin, selain menjaga wilayah-wilayah taklukan, juga memperkenalkan Islam ke Lampung, Indrapura, dan Sulebar (Sungai Serut tidak disebut-sebut lagi).

Apakah kita sekarang menemukan jejak Banten sebagai awal perkembangan Islam di Bengkulu?

Terlalu terburu-buru untuk memutuskan hal ini, karena harus diingat, bahwa Bengkulu berada di bawah kekuasaan Inggris dari 1685 hingga 1825. Dalam kurun ini, walaupun Banten masih berdiri, namun dengan adanya perseteruan Inggris dengan Belanda, maka mengakibatkan terputusnya hubungan Bengkulu dengan Banten. Dengan putusnya hubungan ini ditambah otoritas politik Inggris yang terbatas di Nusantara, menyebabkan Islam di Bengkulu pun terputus dari negeri-negeri Muslim lainnya. 

Dalam kondisi keterpencilan, maka Bengkulu dan negeri-negeri di sekelilingnya, termasuk di pedalaman, membentuk sejarahnya tersendiri dan istimewa tentang perkembangan Islam. Salah satu bentuk keistimewaan ini sejarah Islam di Bengkulu adalah sejarah yang nyaris tanpa tokoh utama.

Dengan tanpa adanya tokoh ini ini, maka sungguh luar biasa, bahwa pemujaan makam orang-orang suci Muslim tidak banyak dalam Islam kontemporer di Bengkulu. Hanya ada sedikit makam suci umat Islam di ibu kota Bengkulu, seperti makam Sayyid Muhammad Zain al-Madani di Suraulama, selain itu ada makam suci Penghulu Bengkulu yang dikenal sebagai Keramat Anggut dan Keramat Pantai. Semua kuburan ini dikunjungi, dengan cara biasa dan tidak begitu diistimewakan.

Di luar Bengkulu juga terdapat banyak makam dusun, namun sungguh luar biasa pula, bahwa makam suci penduduk bukanlah makam orang suci Muslim, tetapi makam para leluhur atau nènek moyang. Bahkan di wilayah pedalaman, seperti di Tanah Rejang, tidak ditemukan makam-makam suci penghulu agama Islam.

Hubungan keagamaan di Bengkulu sederhana. Tidak ada kelas ulama yang kuat, seperti di Banten ada Kiyai yang dihormati orang-orang. Kedudukan ulama di Bengkulu sering diambil oleh penguasa-penguasa marga, yakni Pasirah, yang memperoleh otoritas dari keturunan dan tradisi. Namun, para pasirah ini adalah pengemban otoritas sekuler, karena lebih mendahulukan urusan negeri dibandingkan agama dan mereka tidak terlibat dalam tanggung jawab untuk membangun masjid. Sering terjadi pasirah dengan berani mencampur-adukkan pandangan tradisional dengan agama, hingga berani pula mengambil keputusan tentang agama yang sebenarnya justru menyimpang dari agama. Mereka ini, yang dikenal sebagai kaum adat di Minangkabau, akan menjadi lawan dalam usaha pengembangan Islam oleh Aliran Baru nantinya.

Perwakilan resmi tertinggi agama adalah kepala penghulu di ibukota Bengkulu, di marga ada imam marga. Imam marga dipilih dari antara para imam dusun. Dia adalah wali hakim marga, mengurus buku nikah dan mengawasi masjid di dusun. Keberadaan imam ini pun menentukan, salat Jumat didirikan atau tidak. 

Pembangunan masjid adalah tanggung jawab imam yang ditunjuk untuk membangunnya. Pada kurun 1930-an, hampir semua dusun di Bengkulu telah memiliki masjid untuk salat Jumat.  Sejumlah kecil dusun belum memiliki masjid, sehingga konsekuensinya mereka yang akan salat Jumat harus ke dusun lain, atau tidak salat Jumat sama-sekali.

Aliran Lama - Aliran Baru

Selama orang-oang Islam di Bengkulu masih damai, selama tidak ada perbedaan pendapat agama, maka tidak ada yang keberatan dengan administrasi adat yang juga melakukan kontrol atas kegiatan keagamaan agama. Bengkulu merupakan salah satu daerah yang cukup terlambat memiliki peraturan yang mengatur tentang pengawasan administratif terhadap pendidikan agama Islam. Tidak adanya aturan hukum tentang pengawasan pendidikan agama menimbulkan kesulitan di Bengkulu ketika guru-guru dari Aliran Baru, dan terutama guru-guru Muhammadiyah, memulai aktivitasnya. Aktivitas mereka telah ditentang, baik oleh para tokoh Aliran Lama maupun oleh para kepala adat. Sebagai gambaran, bagaimana Bung Karno telah mendapat penentangan dari golongan ini ketika merencanakan merenovasi Masjid Jamik Bengkulu, pada 1938.

Orang Bengkulu jarang meninggalkan tanahnya, dia adalah seorang petani dan mengabdikan diri pada tanahnya. Ini menjelaskan, setidaknya sebagian, keterbelakangan kehidupan keagamaannya, karena dia jarang meninggalkan tanah kelahirannya bahkan untuk tujuan keagamaan. Oleh karena itu, orang asing harus datang dan menyebarluaskan ide-ide keagamaan baru di Bengkulu, dan pada saat yang sama memberikan dorongan untuk perbaikan pendidikan agama yang kuno. 

Orang asing itu entah orang Minangkabau atau orang Jawa. Mereka membawa dasar-dasar Reformisme, atau disebut Aliran Baru dalam Islam ke Bengkulu. Dikabarkan yang mengalami awal mula gerakan keagamaan, yang pertama menyebarkan gagasan reformis di Bengkulu adalah seorang Minangkabau, Haji Ahmad, yang datang ke Bengkulu sebagai saudagar sekitar 1915. Ia mulai memberikan pelajaran agama dalam semangat reformis di Bengkulu, sama seperti pola yang ada di Minangkabau yang menggunakan masjid. Namun, sampai 1923 pengikutnya tetap kecil, karena metode dakwah secara langsung di masjid yang dipergunakannya ini sama sekali tidak menarik minat orang-orang Islam lama di Bengkulu. Metode ini tidak efektif berjalan, terutama sekali karena masih sedikit orang-orang tertarik mau ke masjid di luar saat salat Jumat, sehingga tradisi mengunjungi dan berdiam di masjid sebagaimana yang ada di Minangkabau tidak bisa berjalan di Bengkulu.

Muhibbul-Ihsan, Persatuan Muslim Indonesia dan Muhammadiyah

Pada 1927, beberapa orang Minangkabau bersama dengan beberapa orang pribumi Bengkulu mendirikan sebuah asosiasi keagamaan yang disebut Muhibbul-Ihsan, di ibu kota Keresidenan Bengkulu. Persatuan atas dasar reformis ini akhirnya mengambil langkah yang memiliki arti penting yang menentukan bagi perkembangan hubungan keagamaan di Bengkulu setelah menjalin hubungan dengan persatuan Muhammadiyah. Sejak itu Aliran Baru terutama bergerak di bawah panji Muhammadiyah, juga bersama Minangkabausche Vereeniging Persatuan Muslim Indonesia, disingkat Permi. Organisasi terakhir ini juga telah berhasil mendapatkan pijakan di Bengkulu, tetapi pengaruhnya kemudian menurun, karena masih begitu kuat berorientasi politik, sesuatu yang belum begitu menarik bagi masyarakat Bengkulu bukan-pelajar di kurun-kurun itu.

Berkembangnya Muhammadiyah di Bengkulu dimulai pada 1928, ketika perkumpulan Muhibbul-Ihsan ingin lebih mengenal prinsip-prinsip Muhammadiyah, yang dipandang memiliki sebagai prinsip dakwah yang sama. Mereka kemudian mengirim seorang guru agama berbangsa Minangkabau sebagai peninjau di pertemuan Muhammadiyah di Yogyakarta. 

Setelah para anggota Muhibbul-Ihsan mempelajari prinsip-prinsip Muhammadiyah dengan seksama, mereka mengundang orang Muhammadiyah untuk datang ke Bengkulu. Seorang mubaligh Muhammadiyah dari Jawa pun datang ke Bengkulu, yang kemudian membantu terbentuknya cabang pertama Muhammadiyah di Bengkulu. Pemberitahuan pembentukan itu diberitakan kepada Pusat Muhammadiyah di Yogyakarta. Dari Yogyakarta dikirim dua anggota ke Bengkulu untuk meninjau keadaan cabang baru tersebut.

Sebuah pertemuan publik diadakan selama masa tinggal kedua orang Jawa itu, di mana prinsip-prinsip Muhammadiyah dikenalkan secara luas. Cabang baru itu kemudian menetapkan tugas utamanya sesuai dengan prinsip-prinsip Muhammadiyah, yakni melalui pendidian, dengan cara pendirian sekolah agama atas dasar model baru, yang disebut madrasah. Dengan pendirian madrasah-madrasah ini, terbukti, sebagai metode dakwah tidak langsung, pendidikan menjadi cara yang paling ampuh untuk penyebaran Islam dan menyebarluaskan ide-ide Islam Aliran Baru di Bengkulu.

Tulisan ini diterjemahkan secara bebas dan diberi interpretasi dari tulisan asli:
Dr. G. F. Pijper,
Adjunct-Adviseur Voor Inlandsche Zaken In Nederlandsch-Indië.
(Wakil Penasehat Urusan Pribumi Hindia Belanda)

Referensi:
  • Pijper, G.F. Nieuwe Godsdienstige Denkbeelden In Benkoelen dalam Fragmenta Islamica, Studiën Over Het Islamisme In Nederlandsch-Indië. Leiden: E.J. Brill. 1934.
  • Pili, Salim Bella & Hardiansyah. Napak Tilas Sejarah Muhammadiyah Bengkulu (Membangun Islam Berkemajuan di Bumi Raflesia). Yogyakarta: Valia Pustaka. 2019.
Emong Soewandi
Emong Soewandi Blogger sejak 2012, dengan minat pada sejarah, sastra dan teater

5 comments for "ISLAM DI BENGKULU, 1900-1930"

  1. Salim Bella Pili (via FB)
    Kerajaan kerajaan di Bengkulu, lebih merupakan lembaga perniagaan yang berfungsi sebagai ( semacam ) pengepul mata dagangan tertentu , terutama rerempahan, bagi kekuatan besar lainnya ( Banten, Inggris dan Belanda ). Dengan demikian kebutuhan akan layanan keagamaan Kerajaan dan masyarakat terbatas pada urusan pernikahan dan zakat. Karenanya tidak ( perlu ) dibangun struktur lembaga keagamaan yang lebih dari penghulu.
    Adapun masalah kebutuhan pelaksanaa shalat Jumat, orangnya diserahkan saja kepada marga pengaturannya. Ditunjuklah siapa saja yang bisa. Kalau ada. Kalau gak ada yaa tak ada Jumatan. Tak nampak kehadiran lembaga pendidikan agama yang secara tradisional ( seperti pesantren, surau, meunadah, Dayah , rangkang ) melaksanakannya. Ada penelitian tentang kehadiran beberapa ulama di Bengkulu, tapi tak ditemukan jejak kelembagaan yg mereka tinggalkan. ( Sampai periode yg dibicarakan ini. ) Wallahu a'lam.

    ReplyDelete
    Replies
    1. Sepakat saya, Pak. Juga beberapa kisah tentang perkembangan Islam di pesisir dan pedalaman Bengkulu banyak bersumber kisah lisan yang memang masih perlu kajian lagi.
      Terima kasih sudah berbagi, Pak.

      Delete
    2. Dedi Mardiansyah (via FB)
      Tabik kami, Buya Salim Bella Pili ...
      Izinkan ananda menyampaikan sedikit pendapat dan mohon maaf jika dalam penyampaian ini ada salah dan khilaf ananda... 🙏
      Berdasarkan lini masa ulasan Pak Emong Soewandi , maka secara wilayah Bengkulu kala itu tidak dapat dipisahkan dari Minangkabau dan Palembang. Artinya, tentu memiliki identifikasi yang mendekati Minangkabau dan Palembang baik secara sosial ekonomi, politik dan juga budaya. Basis sosial berupa jaringan keluarga menjadi modal sosial bagi perkembangan ekonomi, politik, budaya juga agama.
      Surau sepertinya juga menjadi salah satu situs peradaban masyarakat Bengkulu dimana perannya strategis tidak hanya bagi pendidikan dan penyiaran Islam tetapi juga bagi mobilisasi perjuangan melawan penjajah dimana dalam proses di dalamnya disinyalir kuat terjadi juga pembinaan umat melalui tarekat.
      Hanya, memang, tulisan-tulisan terkait apa dan bagaimana proses internalisasi atau, pinjam istilah Gus Dur, pribumisasi Islam terjadi secara teknis di era itu dan sebelumnya, belum terungkap.
      Seperti salah satu pertanyaan kunci ananda yang muncul sewaktu melakukan penulisan tentang tokoh PERTI/Tarbiyah di Rejang Lebong yang gerak awalnya berpusat dari Masjid Jamik Curup. Dengan tokohnya Ki Zaidin Burhany, kakeknya Pak Yusran Fauzi , Sekda Rejang Lebong kini.
      Jika memang Beliau, Uk Abi, demikian dipanggil oleh para cucunya, ini memang menjadi anak siak atau nyantri di Madrasah Tarbiyah Islamiyah (MTI) Canduang pada tahun 1928, siapa yang mengarahkan Beliau untuk ke Canduang dan menjadi murid langung Beliau Maulana Syaikh Sulaiman Arrasuly, Sang Inyiak Canduang
      Sementara yang ananda bayangkan, tentulah jaringan surau itu sendiri yang dalam hal ini jaringan kerja syiar Islam dari para tokoh Masjid Jamik Curup kala itu. Sebab, kecil kemungkinan jika Buya Zaidin bisa langsung dapat ilham dengan sendirinya untuk mondok di Canduang. Apalagi waktu itu belum ada Youtube, Whatsapp atau Facebook dan media lainnya sejenis seperti sekarang ini.
      Tentu ada jaringan kerja sebelum tahun 1928 itu yang telah bergerak cukup lama. Sebab, dalam konteks masa itu, tentu masa bergerak lebih lama dari sekarang.
      Jaringan ini besar dugaan penulis adalah jaringan kerja jamaah tarekat yang besar kemungkinan juga sudah lama terbangun. Mungkin saja tarekat Naqsyabandiyah, tarekat Kholidiyah, tarekat Syatthariyah atau nang lainnya.
      Kiranya demikian nang ananda sampaikan, Ayahanda. Sekali lagi ananda mohon maaf jika penyampaian ananda terdapat kesalahan.
      Barkah senantiasa...

      Delete
    3. Bang Hardi Bengkulu (via FB)
      Dari buku "The Letter Of Joseph Collet" Collet pernah menulis surat dengan istrinya di abad ke 18 bahwa ia pernah mengundang seorang ahli agama di Bencoolen pada minggu pagi sebelum misa. Collet menyebutnya dengan sebutan "Padre Buzzar" dan dengan sedikit angkuh dan kecewa, Collet mengaku lebih memahami agama Mohammedan dibandingkan sang padre.
      Kemunculan gerakan Islam nasional seperti Muhammadiyah dan PERTI membuat geliat penduduk lokal untuk mendirikan sekolah agama seperti Djami'atoel Chair, tasniyatul Chair dan lain sebagainya...

      Delete