ENIGMA DONGENG: DRACIN, DUNIA MARVEL DAN CERITA RAKYAT REJANG
![]() |
| Ketika dongeng modern dan dongeng masa lalu bertemu |
Menonton Dracin
Belakangan ini saya menikmati tontonan yang mungkin dianggap "tidak sekelas" dengan bacaan yang selama ini saya geluti. Setelah seharian mengajar, menulis, dan membaca karya-karya sastra yang menuntut konsentrasi, malam hari saya justru menikmati drama China (Dracin) dengan alur yang sederhana, kadang "halu", bahkan sering kali melampaui batas logika. Anehnya, saya tidak merasa terganggu. Saya justru menikmati setiap episodenya sambil ditemani secangkir kopi dan camilan.
Dalam banyak Dracin, seorang tokoh dapat kembali ke masa lalu, memperoleh kesempatan hidup kedua, mengirim telepon pintar ke zaman dinasti, menemukan guci yang membuka gerbang teleportasi, atau menyimpan benda-benda modern dalam ruang ajaib yang hanya dapat diakses olehnya. Semua itu terdengar mustahil. Namun sebagai penonton, saya menerimanya begitu saja. Saya tidak sibuk bertanya bagaimana guci itu bekerja, bagaimana ruang penyimpanan itu tercipta, atau bagaimana hukum fisikanya dapat dijelaskan. Saya hanya ingin mengetahui satu hal: apa yang akan terjadi setelah keajaiban itu hadir?
Ketika merenungkan pengalaman menonton itu, saya tiba-tiba menyadari bahwa sikap saya tidak berbeda ketika menikmati film-film Marvel.
Saya tidak pernah mempertanyakan bagaimana baju Iron Man dapat muncul dari teknologi nano hanya dalam hitungan detik. Saya juga tidak pernah menuntut penjelasan ilmiah mengenai multisemesta, portal Doctor Strange, atau kemampuan Thor memanggil petir. Semua itu saya terima sebagai aturan dunia yang berlaku di dalam semesta Marvel.
Lalu muncul sebuah pertanyaan yang mengusik pikiran saya.
Standar Ganda
Jika saya dapat menerima "dongeng modern" seperti Marvel atau Dracin tanpa banyak protes, mengapa kita sering kali menolak "dongeng lama" yang diwariskan dalam cerita rakyat?Mengapa ketika membaca cerita rakyat kita bertanya, "Mana mungkin bidadari turun dari langit?" atau "Mana mungkin batu berubah menjadi manusia?", sementara ketika menonton film superhero kita tidak pernah bertanya, "Mana mungkin manusia hijau berkekuatan luar biasa?" atau "Mana mungkin seseorang membuka portal antardimensi?"
Barangkali masalahnya bukan terletak pada cerita rakyat, melainkan pada cara kita membacanya.
Horison Pengharapan
Di sinilah saya teringat pada teori Horison Pengharapan (Horizon of Expectations) yang dikemukakan Hans Robert Jauss. Menurut Jauss, pembaca tidak pernah datang kepada sebuah karya sastra dalam keadaan kosong. Ia membawa seperangkat harapan yang dibentuk oleh pengalaman membaca, pengetahuan, budaya, pendidikan, bahkan zaman tempat ia hidup.
Pembaca modern hidup dalam dunia yang dibentuk oleh sains dan teknologi. Karena itu, ketika membaca cerita rakyat, ia cenderung menggunakan ukuran-ukuran rasional untuk menilai kebenaran cerita. Akibatnya, cerita rakyat dianggap tidak masuk akal.
Namun anehnya, pembaca yang sama dapat menikmati Marvel, Harry Potter, anime, atau Dracin tanpa sedikit pun merasa terganggu oleh kemustahilannya.
Mengapa?
Karena sebelum memasuki dunia Marvel, kita telah membangun horison pengharapan yang berbeda. Kita berkata dalam hati, "Baiklah, selama dua jam ke depan aku akan menerima hukum dunia ini." Begitu pula ketika menonton Dracin. Sejak awal kita menerima bahwa perjalanan waktu, reinkarnasi, atau ruang penyimpanan ajaib adalah bagian dari aturan permainan.
Dengan kata lain, kita sebenarnya mampu menerima dunia yang mustahil. Yang menjadi persoalan adalah kita sering menolak memberikan kesempatan yang sama kepada cerita rakyat.
Padahal cerita rakyat sejak awal memang lahir sebagai dongeng. Ia tidak pernah mengklaim dirinya sebagai laporan sejarah ataupun karya ilmiah. Ia tidak meminta pembacanya membuktikan apakah naga benar-benar ada atau apakah bidadari benar-benar turun ke bumi. Cerita rakyat hanya meminta satu hal: terimalah dunia ini sebagaimana adanya, lalu ikutilah kisah yang ingin disampaikannya.
Dalam perspektif ini, keajaiban bukanlah masalah yang harus dijelaskan, melainkan premis yang memungkinkan cerita bergerak.
Apa Perlunya Kita Bertanya
Ketika seorang bidadari kehilangan selendangnya, pertanyaan yang menarik bukanlah bagaimana selendang itu dapat membuatnya terbang. Pertanyaan yang lebih penting adalah apa akibat dari hilangnya selendang itu terhadap kehidupan para tokohnya.
Demikian pula ketika seorang tokoh Dracin memperoleh telepon pintar dari masa depan. Yang menarik bukanlah bagaimana telepon itu dapat melintasi waktu, melainkan bagaimana kehadiran benda itu mengubah jalannya kehidupan.
Cerita dimulai bukan sebelum keajaiban terjadi, melainkan setelah keajaiban diterima sebagai kenyataan dalam dunia cerita.
Pemahaman ini juga membuka kemungkinan baru dalam membaca kembali cerita rakyat. Selama ini banyak upaya reinterpretasi dilakukan dengan cara merasionalisasi unsur-unsur gaib agar sesuai dengan logika modern. Padahal mungkin yang perlu diubah bukanlah keajaibannya, melainkan cara kita mengembangkan konsekuensi naratif dari keajaiban tersebut.
Artinya, reinterpretasi cerita rakyat bukan bertugas menjelaskan mengapa bidadari ada, melainkan mengeksplorasi bagaimana dunia berubah karena kehadiran bidadari itu. Bukan menjelaskan bagaimana naga dapat berbicara, tetapi mengungkap apa yang terjadi ketika manusia mempercayai ucapan seekor naga.
Di sinilah saya melihat bahwa Dracin, Marvel, dan cerita rakyat ternyata memiliki struktur yang serupa. Ketiganya membangun sebuah dunia dengan hukum-hukumnya sendiri. Ketiganya meminta pembaca atau penonton untuk menangguhkan sejenak tuntutan logika empiris. Selama dunia itu konsisten terhadap aturan yang dibangunnya sendiri, kita tidak lagi mempersoalkan bagaimana keajaiban itu "menjadi ada". Yang kita ikuti adalah konsekuensi-konsekuensi yang lahir darinya.
Kesimpulan
Akhirnya saya sampai pada satu kesimpulan sederhana. Marvel adalah dongeng modern. Dracin adalah dongeng modern. Cerita rakyat Rejang juga adalah dongeng. Ketiganya tidak sedang bersaing untuk membuktikan mana yang paling benar secara ilmiah. Ketiganya hanya menawarkan dunia-dunia imajiner yang mengajak kita memahami kehidupan melalui jalan yang berbeda.
Mungkin karena itulah, setelah menikmati secangkir kopi sambil menonton Dracin, saya justru menemukan cara baru untuk membaca cerita rakyat. Bukan dengan bertanya, "Apakah ini mungkin terjadi?", melainkan dengan bertanya, "Jika dunia ini memang demikian adanya, makna apa yang hendak disampaikan oleh cerita?"
Barangkali, di situlah letak enigma yang sesungguhnya.

Post a Comment for "ENIGMA DONGENG: DRACIN, DUNIA MARVEL DAN CERITA RAKYAT REJANG"
Berkomentarlah dengan bijak. Semua komentar mengandung kata-kata tidak pantas, pornografi, undangan perjudian, ujaran kebencian dan berpotensi rasial, akan kami hapus