Skip to content Skip to sidebar Skip to footer

MENGAPA HARUS CHAIRIL ANWAR?

SK Bengkulu Ekspress, 24 April 2010

Refleksi untuk Memperingat Hari Wafatnya Chairil Anwar, 28 April 2010


Tak banyak yang tahu (apalagi di Bengkulu), April ini adalah bulannya Charil Anwar. Tepatnya 28 April, hari wafatnya Charil Anwar, walau belum sepenuhnya resmi sering dianggap sebagai Hari Sastra. Padahal, mungkin peringatan ini masih penting untuk masa sekarang, terutama di Bangkulu, yang sepertinya sudah jadi ranah yang tandus untuk kehidupan sastra dan bersastra. 

Mengapa hari wafatnya Chairil Anwar (CA) menjadi penting untuk diperingati? Bukankah kita sekarang hidup dalam referensi orang-orang sejenis Tukul, Olga atau Sule Prikitiw. Tentu kegiatan ini merupakan pandangan lintas zaman. 

Kesan remang-remang ini semakin menjadi kabur lagi, karena banyak di antara kita sendiri sudah tidak begitu nge-fans dengan CA. Secara pribadi, saya lebih menyukai puisi-puisinya Goenawan Mohamad dan Frank Kafka, bahkan untuk seangkatan dengan CA saya lebih suka dengan puisi-puisinya Amir Hamzah (yang juga sangat dipuji oleh CA). Sama mungkin kita semua semakin jauh dari sosok Soe Hok Gie, seorang mahasiswa pemberontak, kalau tidak diingatkan dengan diangkat cerita kehidupannya ke layar lebar pada film “Gie” yang diperankan Nicholas Saputra. Atau juga sosok Wahid Ahmad, yang buku “catatan harian”-nya sempat jadi buku-teks bagi mahasiswa aktivitis, tidak lagi banyak dikenal oleh mahasiswa bahkan mungkin di kalangan HMI. 

Perhatikanlah, antara CA yang sama sekali tidak bermakam di Taman Pahlawan dengan masanya si Sule cs, masih hadir orang-orang yang bernama Sutardji, Cak Nun, Abdul Hadi WM atau Ibrahim Sattah yang referensinya pun samar-samar. Nah, ini harus mundur hampir seabad, untuk bertemu kembali dengan sesosok “binatang jalan” yang bernama CA. Sedangkan binatang jalang, baik di kalangan seniman, agamawan, politikus atau orang awam, yang berlumur lumpur dan uang, pada hari ini saja kita semua repot mengingat dan memikirnya. 

Jadi, apakah memang betul-betul masih terkini (aktual) kalau kita berbicara tentang CA. Apa yang harus dibicarakan lagi tentang CA. H.B. Jassin telah membuat ratusan tulisan tentang CA, Arief Budiman juga setelah menulis skripsinya tentang CA, telah banyak mengupas tentang CA secara ekspresif, belum lagi Subagio Sastrowardoyo, juga Ajib Rosidi sudah banyak berbicara tentang CA. Sudah banyak. Bahkan, karena memang sudah banyak tulisan dan kupasan tentang CA, mahasiswa sastra pun sudah enggan menulis skripsi tentang CA. 

Dalam perjalanan zaman, terus terang, banyak sisi pada diri CA mungkin tidak begitu hebat lagi, jika kita ukur dengan kehidupan sastra dan seniman pada hari ini. 

CA disebut-sebut membuat gerakan revolusi terhadap bahasa Indonesia, tetapi benarkah bahasa Indonesia tumbuh dan mendewasa karena CA. Bukankah kita lebih sepakat bahwa Bapak Bahasa Indonesia Modern adalah Sutan Takdir Alisyahbana (STA) . 

Kehidupan CA eksentrik! Ah, dibandingkan anak-anak punk yang sering mangkal di simpang-simapang jalan dan simpang-simpang malam, CA sepertinya belum apa-apa. 

Bukankah CA juga membuat terobosan baru bagi dunia perpuisian Indonesia. Terobosan apa? Apa karena CA banyak terpengaruh sastra Barat. Kita tidak boleh lupa, Muhammad Yamin, J.E. Tatengkeng dan dan Amir Hamzah juga terpengaruh soneta yang juga berasal dari Barat. Dan upaya melepaskan diri dari tradisi Pujangga Baru, Amir Hamzah telah lebih mendahului CA untuk melakukan eksperimen-eksperimen melepaskan diri dari hukum rima dan kata-katanya sangat ekspresif. 

Apa lagi? CA yang memberontak terhadap sistem moral zamannya, tercermin dalam puisi-puisinya yang bahkan mengajak Tuhan berkelahi. Padahal, dibandingkan dengan puisi-puisinya F. Rahardi yang nggak ketulungan kotor dan joroknya, puisi-puisi CA masih tergolong sopan dan dalam beberapa sisi masih ada pancaran religius dan Islami. 

Bukankah puisi-puisi CA itu abadi? 

Berapa banyak sih puisi CA yang kita tahu. Selain”Aku”, “Kerawang-Bekasi”, “Hampa”, “Doa”, “Beta Pati Rajawane”, apalagi puisi CA yang kita kenal. 

Oya, CA itu revolusioner dan nasionalis. Tapi, ingat, CA belum pernah dipenjara karena karyanya, seperti Hamka atau Rendra yang harus mendekam di penjara karena kegiatan berkeseniannya. 

Nah, popularitas apa lagi yang membuat kita masih harus menggedang-gedangkan nama CA? 

CA adalah produk zamannya, yang gaungnya telah melemah mengikuti perkembangan zaman itu sendiri. Orang-orang di belakang CA pun mengikuti hukum gerak waktu yang memang harus berkembang. Bahasa, sistem norma dan moralitas, ranah makna dan ranah ekspresi dalam dunia dan dunia sastra secara alami, harus kita akui, akan terus berkembang tanpa harus hadir seorang CA. 

Jadi apa yang membuat kita harus bertahan menjadikan CA sebagai fokus referensi? 

Pertama militansi. Militansi terhadap kesenian atau sastra. Pada zamannya dan hingga hari ini, CA merupakan sosok yang sangat militan terhadap kesenian dibandingkan sastrawan lainnya. Tak ada orang yang sepenuhnya menyerahkan hidupnya bagi kesenian pada waktu untuk kesenian. Bahkan untuk masa yang mengikutinya hingga hari ini, CA masih merupakan sosok utama yang memberikan darah, air mata dan nyawanya untuk kesenian. Secara sosiologi dan geneologi, CA berasal dari keluarga yang mapan dan memiliki keluarga yang terpandang di Jakarta, namun hal ini tidak membuatnya untuk mencoba hidup dengan semestinya. 

Kegelisahan pada diri CA sebagai seorang seniman, bukan lagi hanya sekedar gejolak jiwa, tetapi lebih dari itu kegelisahan pada diri CA telah merupakan eksistensinya. Apa yang dilakukan CA dan hidupnya bagi dan dalam karya-karyanya bukan lagi merupakan eksperimen, tetapi merupakan puisi itu sendiri yang merupakan totalitas dirinya. 

CA adalah puisi (an sich). Tak terjadi pada dirinya menggeluti sastra hanya sekedarnya, setengah-setengah, atau sekedar mampir. Untuk basis pendidikan, CA adalah seorang tamatan MULO, yang merupakan jenjang pendidikan cukup tinggi waktu itu, kutu buku, ditambah dengan penguasaan bahasa Inggris dan Belandanya yang baik, membuat dia mampu menjadikan dirinya sebagai seorang “sarjana sastra” melalui buku-buku asing yang dibacanya. 

Kedua, ini juga yang membuat kita harus terus memajang potret CA dalam dunia sastra Indonesia, CA mati muda. CA mati dalam usia yang secara umum mungkin orang belum bisa berbuat apa-apa. Banyak sarjana, master dan doktor sastra yang sudah melewati usia matinya CA belum bahkan tidak mampu berkarya. CA mati dalam usia 27 tahun, usia di mana manusia-manusia masih mencari, usia di mana kita masih gelisah untuk merencanakan apa yang harus kita cari, sementara CA mati dengan bahagia dan tidak dalam penyesalan, karena ia telah berbuat banyak. 

Dari beberapa motif untuk menyangkal keberadaan CA di atas tadi, dilakukan oleh beberapa orang, tetapi hal-hal yang disangkal itu dilakukan oleh CA sendiri. CA sendiri melakukan terobosan terhadap bahasa puisi, juga sendiri melakukan terobosan terhadap ranah makna, juga sendiri membuat terobosan terhadap sistem norma dalam karya sastra. Dia sendiri juga memiliki referensi Barat, sementara dia sendiri juga seorang revolusioner dan nasionalis. 

Inilah mungkin makna filosofis mengapa yang kita kenang hari wafatnya CA, bukan hari lahirnya. Kehidupan CA mungkin tidak begitu menarik lagi dalam hingar-bingar hari ini, di mana dunia dan dunia sastra sudah penuh dengan carut-marut pemikiran, aliran dan orientasi. Matinya CA pun tidak membuat dunia sastra Indonesia merasa kehilangan, karena banyak sastrawan Indonesia yang masih hidup dan mungkin lebih hebat dari CA, tetapi matinya CA membuat kita harus terus teringat pada seorang anak muda yang telah memberikan semua hidupnya bagi sastra, kita teringat dengan seorang anak muda yang pemberang, jika melihat kesenian dipojokkan, jika melihat puisi diperlakukan sebagai permainan, dunia olok-olok. 

------------------------------------ 

Mengenang wafatnya CA, bagi saya pribadi adalah untuk mengenang semakin miskinnya perhargaan kita terhadap dunia sastra. Seperti CA yang mati muda, demikian juga sastra di Bengkulu yang tak pernah dewasa, kadang-kadang sekarat, karena kehilangan penghargaan terhadap dirinya. Pemerintah sendiri pun sepertinya tidak begitu tertarik dengan kehidupan “tukang-tukang” melamun ini. 

Masih belum lupa oleh saya, malam resepsi ulang tahun ke-40 Provinsi Bengkulu tahun 2008 lalu. Ketika pada guru muda, pada bidan muda atau Satpol PP muda atas keteladanan mereka mendapat penghargaan dari gubernur berupa satu unit sepeda motor, sementara 20 orang seniman Bengkulu, yang didominasi oleh seniman dan budayawan tua (seperti Abdullah Sani dari Rejang Lebong), bahkan ada yang sudah duluan wafat (alm. Burhan Wahid, alm. Johan Syafrie), yang sepanjang usianya memberikan waktu, pikiran dan kelelahan mereka mengabdi untuk seni, bahkan banyak karya-karya mereka menjadi semacam ikon Bengkulu, hanya mendapat selembar kertas penghargaan – yang salah-salah nama pula, beserta uang pembinaan Rp 2 juta saja! 

Acara itu sendiri dimeriahkan oleh seorang putri Bengkulu yang menang di kontes KDI. Entah berapa banyak dana daerah dan masyarakat dihabiskan oleh sang putri, karena bukankah sang putri sendiri malah sekarang dianggap masyarakat nyata tidak ada gunanya bagi kemajuan Bengkulu. Padahal, jika disisikan sedikit saja dari dana itu, berapa banyak pementasan teater berkualitas bisa dihasilkan, berapa banyak antologi puisi penyair Bengkulu yang bisa dikenalkan kepada masyarakat, dan berapa luasnya kehidupan estetika (baca: bukan musik dangdut, atau calon-calon selebritas yang mimpi main sinetron) masyarakat bisa dibina. 

Sementara untuk hari ini, pejabat tinggi yang mengurusi kebudayaan Bengkulu bahkan lebih asyik dengan dirinya sendiri, mengumpulkan pejabat-pejabat, anggota DPR sampai kepala daerah main sandiwara, yang mungkin sebenarnya tidak mereka butuhkan benar selain untuk sekedar refresing dan sensasional, daripada mengayomi seniman-seniman yang memang telah penuh pengabdian untuk menegakkan sastra dan teater Bengkulu tetapi “koerang wang”. 

Di sisi lain, banyak kawan-kawan pekerja teater dengan menangis terpaksa membatalkan pementasan mereka, karena tidak mampu bayar Gedung Teater Tertutup (sebagai satu-satunya gedung teater yang representatif di Bengkulu), dengan rasa sakit hati dan berkabung tidak mampu memenuhi undangan dari luar provinsi, karena ketiadaan bantuan dari pihak Pemprov. 

Sebagaimana juga terjadi di April – Mei 2009 lalu, Teater Petak Rumbia dan Teater Andung, setelah setengah mati kelelahan masuk-keluar kantor lalu menerima keputusan proposal ditolak di Pemprov, akhirnya tetap juga berangkat dengan penuh keprihatinan dan swadana menghadiri even akbar pertemuan teater se-Sumatera, (untunglah cuma) di Tanjung Karang, Lampung. 

Peristiwa terakhir, sebagai bukti bagaimana termajinalisasinya dan tidak dihormatinya orang-orang yang digadang-gadangkan sebagai tokoh seniman Bengkulu, ditunjukkan dengan perseteruan antara Kijoen, pekerja teater dari Teater Andung dengan individu Kepala Dinas Budpar Provinsi Bengkulu. Tak banyak masyarakat yang tahu. 

Lepas siapa benar siapa salah dalam perseteruan itu, namun peristiwa itu seperti semakin memperlihatkan ada sesuatu yang “macet” antara seniman dengan birokrat. Interaksi yang disharmoniskah? Atau memang kerja mereka, para seniman itu, tidak dianggap, tidak memiliki koherensi yang signifikan dengan pembangunan di Provinsi Bengkulu. Apakah “kebudayaan” dan pariwisata harus identik dengan keindahan materi. Menyedihkan, dalam perjalanan 42 tahun provinsi ini, hanya ada 0 (baca NOL!) antologi puisi penyair lokal yang pernah difasilitasi oleh pemerintah daerah. Terbersitkan di pikiran para birokrat nama seorang Yetti A. Ka novelis wanita asal Bengkulu, yang kini merupakan salah seorang novelis utama Indonesia? Dalam keriuhan pembangunan fisik ini di manakan terjepit nama sastrawan asal Bengkulu, Asmara Hadi, yang dijuluki sebagai “Penyair Api Nasionalisme”? 

Jika memang para seniman sastra dan teater itu dianggap tidak ada, dan jika memang sastra dan teater tidak dianggap perlu, maka pemerintah tidak perlu mengubah cara dan sikap mereka terhadap hal itu. Tetapi, jika memang memandang seniman merupakan individu yang memberikan sumbangsih penting dalam pembangunan non-material; dan memandang sastra dan teater merupakan penopang tetap tegaknya rasa, karsa dan cipta manusia, maka mainframe pemerintah terhadap kesenian harus berubah. Dari orientasi duit (sastra dan teater benar tidak menghasil uang, misalnya PAD, malah menghabiskan uang) menjadi orientasi estetis, dari cuma orientasi turisme menjadi minimal berorientasi edukatif. 

Untuk instansi kebudayaan pemerintah, kita mungkin tidak begitu membutuhkan harus seniman yang mengurusnya atau jadi kepalanya malah, yang kita inginkan adalah seorang pejabat yang peduli dengan kesenian, sastra dan teater Bengkulu, tanpa pula ia harus seorang seniman. Tidak usah pulalah para pejabat, anggota DPR atau bupati naik panggung dan merebut dunia seniman, kalau menyadari akan masih hadirnya potensi lain yang lebih serius dan apresiatif menggelutinya. Penghargaan dunia kesenian terhadap anda tetap tinggi walau anda di bawah panggung, dengan anda lebih peduli dan bersikap serta bertindak meluaskan jalan bagi para seniman dalam berproses. 

Percuma anda naik panggung, jika tangan anda tetap enggan terulur untuk membantu pegiat-pegiat seni untuk menuju panggung dan menuju sebuah antologi karya sastra, sebagai muara sejati mereka! Jika cipta, karsa dan karya masyarakat menuju ke titik nol! 

bagian pertama tulisan ini sebelumnya merupakan makalah untuk Seminar Sastra Nasional di Universitas Bengkulu, Mei 2009 lalu. juga dapat dilihat di www.esastra.com
Emong Soewandi
Emong Soewandi Blogger sejak 2014, dengan minat pada sejarah, sastra dan teater

Post a Comment for "MENGAPA HARUS CHAIRIL ANWAR?"