Skip to content Skip to sidebar Skip to footer

DRAMA: GELAP PUN MENUJU TERANG

GELAP PUN MENUJU TERANG

Versi singkat “Suatu Senja Di Taman Bungamu” – Emong Soewandi
Dipersiapkan sebelumnya untuk pementasan Ibu-Ibu Dharma Wanita Kabupaten Kepahiang, dalam rangka Hari Kartini 2011

Karya: Emong Soewandi

Ilustrasi. Sumber gambar

ADEGAN I

Wanita 2:
Kadang, alangkah lucunya dunia wanita, bukan?
Dunia di mana kita harus diatur kapan kita boleh mengatakan ya, dan kapan kita boleh mengatakan tidak.

Wanita 3:
Sebenarnya, bukankahh kebodohan mempercayai kata-kata batu
Karena batu adalah mereka yang ternyata sekedar karang angkuh tanpa mampu membalas
Sedangkan kita adalah pasukan ombak yang tak pernah bosan berbaris untuk terus menyerang
Adalah ombak yang tak akan pernah menyerah untuk tak surut melantak terus, biar tak pasti kapan karang itu akan runtuh

Wanita 4:
Kuat seperti batu, tapi tetap saja tak akan pernah punya keberanian.
Karena mereka adalah kelelahan di dalam waktu
Mereka bukan matahari
Mereka bukan bulan
Mereka hanya debu yang dihamburkan dari puncak langit
Bertebar lalu lenyap diremas kepengecutannya sendiri

Wanita 6:
Ah, bahkan kepalan lemah tanganku pun dapat menghancurkannya.
Kekuatan mereka hanyalah, kelip lampu... padam

Wanita 7:
Tapi…. Lihatlah!
Lihat sebuah dunia yang mengharuskan kita mengerti mereka, namun tanpa mereka ingin mengerti kita.
Lihatlah!

ADEGAN II

Seorang laki-laki masuk dengan langkah angkuh.

Laki-Laki :
Kau mau bicara apa? Katakan saja. Kita semua punya hak bicara ‘kan?

Wanita :
Pak, aku ada usul….

Laki-Laki :
Ya. Aku sudah tahu. (dilanjutkan dengan berdialog dengan kata-kata yang tidak jelas diucapkan)
bla bla bla kwak kwak kwak ratata rarata rarata abcdefghij alif ba ta sa jim yes you knowlah bla bla bla kwak kwak kwak ratata rarata rarata abcdefghij alif ba ta sa jim bla bla bla kwak kwak kwak ratata rarata rarata abcdefghij alif ba ta sa jim 
Hahahahaha…..

Wanita :
Tapi,

Laki-Laki :
Ya, itu juga aku sudah tahu, kalau kau mau mengatakan (dilanjutkan dengan berdialog dengan kata-kata yang tidak jelas diucapkan)
bla bla bla kwak kwak kwak ratata rarata rarata abcdefghij alif ba ta sa jim yes you knowlah bla bla bla kwak kwak kwak ratata rarata rarata abcdefghij alif ba ta sa jim bla bla bla kwak kwak kwak ratata rarata rarata abcdefghij alif ba ta sa jim 
Hahahahaha…..

Wanita :
Pak…..

Laki-Laki :
Jangan membantah. (dilanjutkan dengan berdialog dengan kata-kata yang tidak jelas diucapkan)
bla bla bla kwak kwak kwak ratata rarata rarata abcdefghij alif ba ta sa jim yes you knowlah bla bla bla kwak kwak kwak ratata rarata rarata abcdefghij alif ba ta sa jim bla bla bla kwak kwak kwak ratata rarata rarata abcdefghij alif ba ta sa jim 
Dengar!
bla bla bla kwak kwak kwak ratata rarata rarata abcdefghij alif ba ta sa jim yes you knowlah bla bla bla kwak kwak kwak ratata rarata rarata abcdefghij alif ba ta sa jim bla bla bla kwak kwak kwak ratata rarata rarata abcdefghij alif ba ta sa jim 
(berbicara dengan berdialog dengan kata-kata yang tidak jelas diucapkan)

Wanita :
Ya, Pak

Laki-Laki :
Lalu….bla bla bla kwak kwak kwak ratata rarata rarata abcdefghij
(berbicara dengan berdialog dengan kata-kata yang tidak jelas diucapkan)

Wanita :
Ya, Pak

Laki-Laki :
Kamu itu harus… bla bla bla kwak kwak kwak ratata rarata rarata abcdefghij

Wanita :
Ya, Pak

Dialog diucapkan semakin cepat, hingga akhirnya wanita terjatuh.

Laki-Laki terus mengucapkan kata-kata lalu keluar. Dari luar panggung terdengar kata-katanya yang semakin menjauh lalu menghilang

Sunyi

Wanita  bergerak perlahan ke sudut lain.
Wanita tertawa pelan, hingga akhirnya tertawa terbahak-bahak. Lalu terdiam tiba-tiba dan berdiri terpaku.

Wanita 1:
ibu,
tolong,
aku terjebak di lorong waktu
yang tak biarkan aku menebak
hari inikah usai masa lalu
sementara masa depan adalah seribu ketakutan

oh, kota ini telah habis persimpangan
mengakhirkan semua pilihan
padahal aku tak lagi punya sayap

tolong ibu,

Laki-Laki :
Pertolongan apa yang kau harapkan pada ibumu itu?
Ibumu itu hanya cita-cita. Itu artinya, bagiku dia tidak ada.
Barangkali ibumu itu hanya gambaran kekalahan kalian melawan takdir?

Wanita :
Takdir?
Begitu jauh kau mengatakan takdir?

Laki-Laki :
Ya, takdir!
Takdir!
Oh, perempuanku, sadarilah, jika darahku lebih pekat dari seribu dirimu!

Wanita :
Oya, kata siapa?

Laki-Laki :
Kata dunia!

Wanita :
Kata dunia. Kata dunia katamu?
Tapi mengapa yang kami dengar kabar, bahwa suratan perjalanan diri kami adalah penuh dengan keindahan dan kekuatan.
Bukannya justru kalian yang membohongi takdir kami!

Senandung Rejang

Wanita :
Aku mungkin membohongi orang lain, jika aku mengatakan jika diriku tidak lelah. Karena aku tahu kebohonganku itulah membuat duniaku dan mereka akan bias terus bergerak.
Tapi, aku tak membohongi diriku sendiri, jika aku lelah, dan harus kuakui itu.
Aku lelah.
Namun, aku tak mungkin punya kesempatan untuk berhenti. Aku harus terus bergerak melangkah, tertatih sekalipun.

Laki-Laki :
Bergerak? Akan kemana?

Wanita :
Apakah itu harus dipersoalkan? Apa harus dipertanyakan tujuanku?
Ah! Telah beribu air mata kusapu dengan senyumku yang membandang. Seperti juga tawaku yang selalu kubangkitkan dari kubur dalam bencah nestapa.

Wanita :
Waktumu, waktumu.
Setialah selalu pada waktumu.

Wanita :
Tapi, aku, bahkan semua kaumku, tak pernah menyesali matahari yang telah membakar sebagian hidupku. Aku juga tak hiraukan bulan yang tak pastikan cita-citaku.

Laki-Laki :
Dan.... Akulah matahari itu. Aku pulalah bulan itu.

Wanita :
Apakah engkau juga sudah ingin jadi Tuhan diriku?

Laki-Laki :
Hampir.
Setidaknya aku telah dibagi setangkup kekuasaan. Kekuasaan atas dunia yang dilobangi dengan jendela-jendela dan pintu-pintu. Kekuasaan yang direcoki dengan kehendak yang sebenarnya mempias-piaskan darahku hingga jadi orang yang sialan.

Wanita :
Siapa? Akukah itu?
Oh, itukah makna mengalahku bagimu?
Itukah makna senyum pengertianku bagimu?
Jawab, jawablah, wahai yang membuat gerhana dunia indahku.
Siapa!
Oh, taman bunga macam apa ini!

Freeze dan Coda musik.

Laki-Laki :
Taman bunga tempat menitipkan gelap pada daun!

Wanita :
Apa yang kau maksudkan dengan gelap itu?
Apa yang kau maksudkan dengan daun itu?

Laki-Laki :
Gelap yang kumusuhi dalam daun yang perlahan digerogoti sang ulat untuk kemudian jadi kepompong,
Lalu pecah buat melemparkan kupu-kupu celaka yang terbang selama satu musim.
Hanya satu musim, untuk selanjutnya.... mati!

Diam.

Wanita :
Ya, pergilah.
Pergi dan temuilah kematian!

Laki-Laki :
Siapa yang mati?

Wanita :
Kau.

Diam.

Wanita :
Atau aku

Laki-Laki :
Baik, baik. Sampaikan salamku pada mati, di mana saja kau bertemu.

ADEGAN III

Kartini:
Telah berlalu ribuan waktu dongeng-dongeng itu diceritakan
Tentang suatu senja di taman bungamu.
Telah kupersiapkan pula diriku sebaik-baiknya selama berabad-abad untuk dapat mengakhiri semua dongeng itu diceritakan padamu
Karena aku ingin tertulis sebuah kisah tentang ombak.
Ya, tentang ombak yang selalu mencari lautnya.
Ombak yang mengalun tenang untuk mengayun keangkuhan karang.
Wanita, ya wanita!
Wanita adalah ombak, dan dia sendiri juga adalah lautannya.
Ia dapat menjadi badai yang akan menguncang kencang dunia.
Padahal, ia sendiri adalah ombak yang sepi namun takut pada kesendirian.
Usiaku mungkin telah beratus untuk menunggu, untuk menemukan cara bagaimana aku menulis kisah tentang ombak-ombakku ini.
Karena, darah kaum kita, kaum wanita, akan selalu bias menjadi lebih pekat dari darah seribu orang laki-laki.
Oh, terpujilah keagungan cinta seorang wanita
yang ditebarkan Tuhan lewat firman-Nya

Kepahiang, April 2011

Emong Soewandi
Emong Soewandi Blogger sejak 2014, dengan minat pada sejarah, sastra dan teater

Post a Comment for "DRAMA: GELAP PUN MENUJU TERANG"