Skip to content Skip to sidebar Skip to footer

DRAMA MONOLOG: ANGGREK BUAT MAMA


ANGGREK BUAT MAMA

Adaptasi dari cerpen “Anggrek Buat Mama” – Emong Soewandi
Majalah Anita Cemerlang, Edisi 25 Mei – 3 Juni 1992.

Kau keterlaluan, Ode!
Kau menjanjikan melukis angrek lili dari bukuku, ternyata kau tidak bisa melukis.

Alangkah kesalnya hatiku ketika melihat buku itu tergeletak sembarangan di rumahnya dua hari lalu. Sementara tak ada sepotong pun peralatan lukis di rumahnya. Sialnya, kakaknya yang bernama Poem tertawa-tawa melihatku.

“Kau sudah dikerjai Ode, Yustine, dari zaman Firaun mendirikan piramid belum pernah aku melihat Ode melukis.”

Waktunya tinggal dua hari lagi, Ode! Katamu, kau bisa mengerjakannya hanya dalam satu malam saja, tapi mana, mana, tak satu pun alat lukis yang kulihat. Kamu bisa melukis atau tidak sebenarnya, sih?

Sampai malam terakhir belum tampak batang hidung Ode. Sore tadi dia tak kutemui. Kata kakaknya, Ode sudah dua hari pergi.

Pergi? Ode pergi? Kau keterlaluan, Ode! Keterlaluan! Tega kau membohongiku. Tega kau mempermainkanku dalam keadaan seperti ini.

(Menangis) Bukan, bukan karena lukisan itu saja yang membuat aku menangis, tetapi aku sendiri tak punya hal lain untuk dihadiahkan kepada mama besok. Sementara saudara-saudaraku yang lain, dari sore sibuk memamerkan hadiah yang akan mereka berikan.

Ah, mengapa aku mempercayai Ode waktu itu. Padahal bukan aku tak tahu kawan-kawan yang memang pandai melukis. Tapi mengapa aku berikan kepada Ode?

Kau serius, De? tanyaku padanya waktu dia menyanggupi untuk melukisi anggrek itu. Aku sebenarnya sudah tidak percaya, karena selama ini ‘kan aku enggak pernah tahu atau melihat dia melukis.

Pede banget waktu dia menjawab, melukis bukan hobi utamaku. Tapi bukan berarti aku tak pernah melukis. Kamu bisa datang ke rumahku, jika ingin melihat karya-karya lukisku.

Karya-karya lukis? Karya-karya lukis? Tetapi yang ada di kamarnya Cuma poster-poster manusia berotot, poster Bung Karno, Che Guvara dan peralatan mendaki gunung. Lalu, mana karya-karya lukis? Mana?

Kau pembohong Ode. Kau bohong padaku. Sampai gemetar badanku menahan amarah.

Kenapa kau tertarik dengan hadiah ini, tanya Ode sampai serius memperhatikan gambar bunga anggrek lili dalam buku yang kupinjam di perpustakaan sehari lalu.

Hm, murah, kok, ya jawabku dengan ringan. Lagi pula aku tidak punya uang lagi untuk membeli yang lain sebagai hadiah buat mama. Uangku sendiri habis mentraktir teman-teman waktu aku ulang tahun seminggu lalu. La, bukannya aku punya bisnis online kecil-kecilan. Ada juga kan untungnya? Ih, jangan dong, itu kan untuk tabungan beli gadget baru. Idih, aku pelit ya? Dan, lagi pula hadiah lukisan itu bagiku akan memberikan sebuah kesan tersendiri.

Ya, aku inginkan lukisan itu nantinya akan ditaruh mama di dinding kamarnya, biar dia selalu dapat menatapnya. Lalu, saudara-saudaraku akan iri, dan mengakui hadiah dari aku adalah hadiah yang paling berkesan bagi mama. Asyik ‘kan?

Empat hari! Empat hari adalah jawaban tegas yang diberikan Ode. Dan demi untuk menjaga kesan yang mendalam atas lukisan itu Ode menolak keras untuk diberi imbalan.

Malamnya di atas tempat tidur aku sudah berkhayal membayangkan bagaimana aku nanti memberikan lukisan itu kepada mama, lalu mama aku menciumku dengan air mata haru.

Tapi, mana yang empat hari itu, mana yang berkesan itu. Mana? Bahkan sekarang Ode tak ada di rumahnya, sudah dua hari pergi.

Oh, Mama, aku tak memiliki apa-apa yang akan kupersembahkan di hari ulang tahunmu besok. Aku tak punya hadiah untukmu, Mama. Maafkan Yustine, Mama.

Ode, Ode, aku tak mungkin memaafkanmu. Aku tak akan memaafkanmu sampai kapan pun. Kau keterlaluan. Kau jahat.

Ode, ya, Ode. Ode yang lincah, nakal dan supel. Ode yang sering menggoda teman-teman cewek hingga marah, namun sekaligus dia memang dikangeni.

Ode, ya, Ode, yang jika sudah membaca sebuah puisi yang ditulisnya sendiri, akan membuat teman-teman cewek akan tersenyum penuh khayal romantis.

Ode, ya, Ode, selalu ada desir aneh setiap aku melihatnya.

Ode, ah, Ode. Mengapa harus kau tumbuhkan kebencianku terhadapmu. Kau hapus sendiri kekagumanmu padamu.

Ode. Ya. Ode.

“Biasanya kan orang-orang memilih anggrek-anggrek yang barus. Anggrek bulan misalnya, atau anggrek vanda. Mengapa kau memilih anggrek ini? Bunga kecil-kecil, tidak begitu menarik.”

Memang kecil-kecil bunganya. Tapi dalam bentuk tandan, percampuran antara putih dan ungu membuat bunga itu menjadi begitu menarik bagiku, walaupun nanti hanya dalam sekedar lukisan saja.

“Dan kata buku, anggrek ini belum dibudidayakan.”

Nah, itu. Hal utama yang membuat aku memilihnya untuk dilukis, anggrek itu belum dibudidayakan. Aku ingin sekali memilikinya. Aku memang bukan penyuka anggrek, di rumah juga tak ada kami memelihara anggrek. Tapi, entah, melihat anggrek liar ini, kok aku jadi suka sekali.

Ode!

Alangkah kagetnya aku, di bibir teras berdiri Ode dengan masih memakai carrier dengan pakaian gunungnya yang kumal. Wajah penuh sedikit kotor dengan keringat yang mengering. Tiba-tiba saja aku kehilangan sikap dengan lelaki yang telah menimbulkan kebencian bagiku itu.

Aku baru pulang mendaki gunung, Yus, katanya. Dan aku membawakanmu sesuatu.

Lukisan?

Tapi Ode menggeleng. Tidak ada lukisan. Jadi apa? Kutatap Ode dengan pandangan yang menusukkan kebencian.

Ode menurunkan carriernya, lalu dikeluarkannya sesuatu itu.

Anggrek lilin! Aku terbelalak menatap anggrek yang selama ini hanya aku lihat dalam buku, kini terbungkus kulit pisang di timangan Ode.

Ode tersenyum sambil mengatakan, kudapatkan ini ketika aku di kaki sebuah gunung. Dia lalu tertunduk. Maafkan aku, Yus, aku memang tidak bisa melukis.

Aku tidak menjawab. Hanya terpaku menatapnya.

“Lukisan itu memang tak pernah kukerjakan, karena aku memang tak bisa melukis. Tapi, aku tak ingin kau memberikannya pada orang lain. Akhirnya kutinggal pergi mendaki gunung, dengan tekad aku harus menemukan anggrek ini”.

Secara tak sadar tanganku menggapai anggrek yang masih dipegang Ode itu. Kuelus bunganya yang kecil-kecil dalam bentuk tanda itu.

Ya, aku menginginkan lukisan anggrek buat mama. Ini bukan lukisan. Memang bukan lukisan, tapi, aku ‘kan lebih suka anggrek.

“Untukmu dan mamamu,” kata Ode.

Anggrek ini belum dibudidayakan, lebih indah daripada dilukis. Seperti juga kasih sayang mama tak akan seorang pun mampu melukisnya atau menuliskannya dalam kata-kata. Kasih sayang mama juga tak perlu budidaya, dia akan terus tumbuh dengan sukanya, dengan kehendaknya dalam hati kita.

Lalu, aku cuma tersenyum, ketika Ode memintaku untuk tidak memberikannya pada yang lain.

Kepahiang, Oktober 2017
Emong Soewandi
Emong Soewandi Blogger sejak 2014, dengan minat pada sejarah, sastra dan teater

Post a Comment for "DRAMA MONOLOG: ANGGREK BUAT MAMA "