Skip to content Skip to sidebar Skip to footer

MENGAPA AYAH SUKA BERTANAM KEMBANG


Salah satu koleksi anggrekku, hadiah dari ayah

Ayahku sangat suka bertanam bunga. Sampai-sampai aku pernah mengatakan dia maniak bunga.

Kontras memang. Di satu sisi ayah adalah seorang polisi (1994 lalu telah purnawirawan). Sebagai sebuah produk lama, ayah adalah seorang polisi yang keras, sedikit kaku dan keras kepala. Katanya ini juga karena didukung juga latar belakangnya sebagai orang Menggala (Provinsi Lampung) asli, yang memang wataknya keras kepala. Sampai pernah aku mengatakan ayah itu bisa jadi tentara nazi, walau dia pun bisa seperti nabi. Aku dibesarkan dalam suasana kekerasan dan disiplin tinggi dari dia.

Jika aku dan saudara-saudara punya salah, maka nasehat dari ayah adalah tendang atau dirotan. Sudah sangat beruntung sekali jika hanya telinga dijewer. Betul-betul ayah berpegang pada “sedikit bicara, banyak bekerja”.

Tapi, nah ini, di sisi lain ayah adalah orang yang halus, sangat perhatian kepada anak-anaknya, dia juga senang musik, senang bercerita dan senang bertanam bunga. Bersama dia aku mengenal banyak  lagu anak-anak yang bagus-bagus. Sarinande, ya itu salah satu lagu yang paling sering dinyanyikannya pada kami, saat aku dan adik-adik berbaring di tepat tidur, bersiap untuk menuju alam mimpi.


Aku sering diajaknya berkemah, baik dalam kegiatan kepramukaan, atau hanya berdua saja. Sejak masih duduk di bangku Taman Kanak-Kanak, ayah sudah mengajakku untuk merasakan tidur di tengah hutan bertudung sebuah tenda kain yang kecil. Hingga tak anehlah, kalau berkemah pun sampai hari ini masih sangat aku sukai. Kecintaanku bergaul dengan alam, tak lepas dari kesukaan yang telah ditanam ayah pada diriku sejak kecil.

Ayahku juga.... Wah, aku sudah melantur ini. Baiklah, kita kembali ke judul, yakni tentang bunga.


Ayah sudah lama purnawirawan, sejak 1994 lalu. Jika orang-orang pensiunan memilih misalnya beternak ayam, memelihara ikan di kolam atau berkebun, tapi ayah memilih... bertanam bunga!

Ayah sudah suka dengan bunga sejak dia bujang, dan kesukaan ini makin menjadi-jadi di hari tuanya. Berburu bunga kemana-mana, membeli bunga sampai ke luar kota. Ditambah juga ayah adalah seorang Pembina Pramuka Bhayangkara, yang banyak memiliki kesempatan mengikuti kegiatan-kegiatan kepramukaan hingga tingkat nasional. Nah, kesempatan itu sangat dimanfaatkan oleh ayah untuk memburu bunga demi memperbanyak koleksinya.


Aku pun tak lepas dimanfaatkan ayah untuk menambah koleksi bunganya. Misalnya saja, saat SMA aku bergabung dengan sebuah organisasi pencinta alam, yang tentu saja akan ada kegiatan kemping dan hiking. Ya, organisasi pencinta alam apa pula namanya jika tidak pakai-pakai kemping. Ayah tak keberatan dengan kegiatan-kegiatan aku itu, dengan syarat setiap pulang, maka aku harus membawa anggrek atau bunga lainnya.

Dijual? Sama sekali tidak. Bahkan bisa dikatakan cuma 'menyemak-nyemak' rumah saja. Dari bunga yang aku kenal namanya, sampai bunga yang sama sekali tidak aku namanya penuh dari depan ke belakang dan di tiap sudut rumah. Suplir berbagai jenis, yang bahkan telah banyak mengalami persilangan secara alami sampai-sampai tumbuh di dinding rumah.


Tak perlulah aku ceritakan, betapa rumah kami yang sederhana pun lalu menjadi mewah karena bunga-bunga itu. Orang-orang, terutama kaum wanita, biasanya jika lewat depan rumah akan selalu menyempatkan diri memutar wajahnya ke samping, ke arah rumah kami, demi menatap bunga-bunga di halaman rumah.

Apa alasan ayah suka bunga? Sama seperti hobi-hobi lainnya, maka pehobinya akan memiliki alasan yang “absurd”, yang bahkan tidak punya dasar argumentatif. Saya memang suka bunga, saya memang suka memelihara ikan hias, saya memang suka mengumpulkan prangko, semua ini sudah cukup menjawab semua pertanyaan bagi banyak pehobi.



Jadi mengapa ayahku suka bertanam bunga? Ah, itu cerita lain lagi. Suatu saat nanti aku akan menceritakannya kepadamu.

Semua foto adalah koleksi pribadi.
Emong Soewandi
Emong Soewandi Blogger sejak 2014, dengan minat pada sejarah, sastra dan teater

Post a Comment for "MENGAPA AYAH SUKA BERTANAM KEMBANG"