Skip to content Skip to sidebar Skip to footer

SEMIDANG BUKIT KABU, KETIKA ALAM MEMBALAS

SELAMATKAN HARIMAU SUMATERA


sumber gambar: alamendah.org

Binatang Menyerang Negeri

Banyak kisah di Nusantara tentang suatu negeri diserang dan dialahkan oleh binatang. Negeri itu pun mengalami kehancuran, bahkan musnah. Binatang-bintang yang dikenal bisa menghancurkan sebuah negeri itu adalah garuda atau rajawali, singa dan harimau, bahkan juga dari golongan ikan. Dari Minangkau ada Syair Sri Banian atau Syair Selindung Delima, dikenal juga dengan judul Syair Indra Laksana, yang kemudian disalin menjadi teks babon di Bukit Tinggi dan dicetak batu di Singapura pada 1850, menceritakan sebuah negeri bernama Badan Pirus diserang dan dihancurkan oleh seekor garuda. Sementara kisah dari Singapura yang berjudul Syair Batu Rantai atau Syair Singapura Dilanggar Todak, menceritakan bagaimana negeri ini saat masih bernama Tumasik, diserang oleh segerombolan ikan todak. Tidak hanya menyerang masyarakat yang hidup di pantai, ikan-ikan ini ternyata mampu naik ke darat, karena ikan-ikan memiliki paruh panjang dan runcing itu diceritakan juga telah menyerang masyarakat yang hidup jauh di pedalaman.

Selain itu masih banyak ditemui di negeri-negeri berbahasa Melayu, hingga di Sulawesi, cerita-cerita tentang sebuah negeri diserang binatang. Bengkulu juga memiliki kisah sperti itu, yang dikenal sebagai kisah “Semidang Bukit Kabu”,

Apakah kisah-kisah ini termasuk dongeng, legenda atau mitos, dalam tulisan ini tidak akan dipersoalkan. Genre-genre ini adalah wilayah ahli sastra sastra yang bersifat ilmiah, sementara saya sendiri lebih suka melihatnya sebagai bagian kearifan lokal yang dihormati oleh pendukungnya, yang telah memandang kisah-kisah itu sebagai "sejarah".

Sekilas Tentang Semidang Bukit Kabu

Semidang Bukit Kabu dalam peta lama yang dibuat oleh Belanda bernama Semidang Kota Niur, sebuah marga dihuni oleh masyarakat mayoritas berbahasa Serawai. Marga ini merupakan kesatuan dari beberapa desa talang, dengan 4 dusun utama: Penanjung, Pagar Jati, Gajah Mati dan Pematang Kilangan. Penyebutan "Semidang" sendiri menunjukkan bahwa masyarakat di keempat talang itu berasal dari desa yang sama atau memiliki hubungan kekerabatan secara geneologis (keturunan keluarga yang sama).

Catatan Belanda (J.L.M. Swaab, 1916) menyebutkan Semidang Kota Niur pada awalnya dibuka oleh orang Pasemah dari Empat Lawang. Mereka membuka ladang-ladang di kaki Bukit Kabu. Disebut juga pada saat laporan itu dibuat (1916), wilayah itu merupakan satu-satunya wilayah yang dihuni oleh masyarakat berbahasa Pasemah dan Serawai di Onderafdeling Redjang.

Di masyarakat Rejang, yang merupakan mayoritas di Onderafdeling Rejang, kata Semidang tidak dikenal. Kata yang mendekati pengertian Semidang adalah Petulai. Di mana istilah Petulai yang dipergunakan oleh masyarakat Rejang juga memiliki makna sebagai kesatuan/federasi klan atau marga.

Setelah kedatangan orang-orang dari Serawai yang kemudian menjadi mayoritas di wilayah itu, Semidang Kota Niur berubah menjadi Semidang Bukit Kabu. Perlahan-lahan juga masyarakat berbahasa Pasemah di wilayah itu mulai terdesak lalu keluar dari wilayah itu, selanjutnya membuka ladang-ladang baru di sekitar wilayah Marga Pasar Taba Penanjung dan Marga Bermani Kelindang.

Belum ditemukan lini masa yang pasti peristiwa penyerangan harimau-harimau ke Semidang Bukit Kabu. Namun, diperkirakan peristiwa ini terjadi setelah 1939, dengan memperhatikan komposisi penduduk Onderafdeling Redjang 1939. Di tahun-tahun ini, di Distrik Kepahiang, sebagai ibukota Onderafdeling Rejang, orang-orang Serawai masih merupakan pendatang dalam jumlah kecil dan belum hidup bersama dalam satu kesatuan wilayah desa atau dusun, sebagaimana yang ada pada hari ini.

Harimau Sumatera

Sebelum kedatangan orang-orang Eropa, harimau telah selalu menjadi ancaman serius bagi masyarakat di Onderafdeling Rejang dan Empat Lawang. Warga yang bekerja di ladang atau talang banyak yang menjadi korban serangan harimau. Pengerjaan ladang selalu dilakukan secara berkelompok, untuk saling berjaga dari serangan harimau yang masih banyak hidup di hutan belantara di sekitar perladangan.

Namun, karena memandang kedudukan agung secara mitologis dan totemis terhadap harimau, walaupun kerap kali diserang harimau, orang-orang Rejang tidak pernah melakukan perburuan terhadap harimau. Pandangan ini setidak masih terus dipatuhi sampai kurun aneksasi Rejang oleh militer Belanda. Tentang kedudukan harimau dalam masyarakat Rejang, dapat dilihat di tulisan penulis di blog ini dengan judul Harimau Dalam Pandangan Totemis Masyarakat Rejang.

Catatan Belanda kurun 1908-1912, menyebutkan bahwa salah satu penyebab sering gagalnya kegiatan perintisan awal persawahan di Onderafdeling Rejang adalah ancaman harimau ini. Imigran-imigran Sunda sebagai perintis yang mengusahakan proyek itu sering mendapat ancaman serangan oleh harimau saat bekerja di sawah yang memang masih dikelilingi hutan belantara. Pada masa-masa sebelumnya, harimau-harimau diceritakan juga sering mengintai dan bahkan menyerang kuli-kuli dan serdadu Belanda saat melakukan pembukaan jalur jalan Bengkulu-Taba Penanjung-Kepahiang ke Empat Lawang, masa-masa sebelum 1900-an.

Berbeda dari laporan-laporan Belanda itu, di mana harimau yang menyerang itu adalah tunggal atau dalam jumlah seekor per seekor, maka dalam kisah Semidang Bukit Kabu, harimau telah melakukan penyerangan jumlah yang banyak. Dari narasumber-narasumber yang ditemui saat riset untuk penulisan drama “Semidang Bukit Kabu”, semuanya menyatakan bahwa serangan harimau itu memang bersifat global. Global dalam arti memang telah terjadi serangan besar ke dusun-dusun oleh segerombolan harimau.

Tidak seperti golongan kucing besar lainnya, seperti singa, maka harimau (Panthera tigris sumatraensis), terutama harimau dewasa pada dasarnya adalah binatang soliter, hidup tidak dalam kelompok. Seekor harimau yang telah diusir oleh induknya akan hidup sendiri, menjelajah suatu wilayah-jelajah yang telah ditandai dengan urin dan cakarannya di pohon-pohon.

Mereka tidak akan menerima wilayah mereka difragmentasikan oleh harimau lain, bahkan binatang lain, termasuk juga oleh manusia. Perambahan wilayah oleh eksistensi lain dipastikan akan menimbulkan kemarahan harimau yang bisa menyebabkan serangan yang mematikan oleh harimau penguasa wilayah itu.

Selain bersifat soliter, harimau juga bukan termasuk bintang buas yang greedy eating (rakus makan), karena setelah makan besar, dia bisa saja bertahan 1 sampai 2 minggu untuk tidak makan lagi. Harimau berburu untuk makan, sementara penyerangan harimau ke yang lain biasanya hanya bertujuan untuk mengusir harimau atau saingan lain dari wilayahnya. Pun diketahui penjelajahan seekor harimau tujuan utamanya adalah untuk memeriksa dan memperbarui batas-batas wilayahnya.

Dengan memperhatikan sifat hidup harimau yang soliter ini dan kegiatan makannya, maka kisah Semidang Bukit Kabu memunculkan teka-teki. Penyerangan bersifat global itu sedikit banyak “menyimpang” dari sifat asli harimau. Bagaimana harimau yang hidup sendiri-sendiri dapat secara instingtif “bersatu” menjadi “bersama” untuk melalukan serangan ke Semidang Bukit Kabu? Sementara dikisahkan juga, harimau itu selalu memakan orang-orang yang telah diserangnya.

Bagaimana harimau yang kenyang akan bisa terus-menerus berburu dan kemudian memakan hasil buruannya itu?

Apakah kita perlu menjawabnya secara ilmiah ataukah -seperti harimau- kita menjawabnya juga secara instingtif?

-------------------------------------

sebuah peristiwa
yang telah membekaskan puing-puing keangkaraan
lalu jadi prasasti
yang mengabadikan runtuhnya kesombongan manusia

"Semidang Bukit Kabu" (Emong Soewandi), drama yang telah tujuh kali dipentaskan oleh Teater Petak Rumbia Bengkulu dan beberapa kelompok teater lain. Dengan drama ini, maka mungkin ini adalah satu-satunya pendokumentasian (walaupun dalam fiksi) kisah serangan harimau di Semidang Bukit Kabu, yang ditulis berdasarkan kompromi dari banyak tradisi lisan tentang cerita itu yang berkembang di masyarakat. Cerita Semidang Bukit Kabu sendiri telah mentradisi dari Kabupaten Bengkulu Tengah hingga ke Kabupaten Kepahiang. Drama ini sendiri tetap merupakan sebuah karya fiksi, tidak bisa dilihat sebagai sebuah naskah sejarah. Dari riset hingga final, penulisan naskah ini memakan waktu hampir 1 tahun. Terima kasih khusus ingin aku sampaikan kepada Mohammad Arfani, yang setia menemani saat-saat penulisan dan penggarapan drama ini ini.
----------------------------

Kisahnya:
Seekor harimau betina muda telah diburu dan dibunuh oleh orang-orang dari Semidang Bukit Kabu. Setelah dibunuh harimau itu dikuliti, yang kemudian kulitnya pun dijadikan kulit beduk. Sementara kepala harimau itu dipenggal untuk disula (ditusuk dengan sebatang tongkat runcing) dan dipancangkan di tengah dusun, kemudian dagingnya ada yang dimakan, dan ada juga yang ditumbuk dan ditebarkan di jalan.

Dengan alasan apa orang-orang itu membunuh harimau itu lalu memperlakukannya dengan cara yang begitu kejam?

Perlakuan ini, menjadikannya kulitnya sebagai kulit beduk dan kepalanya disula, konon dianggap sebagai penghinaan oleh harimau. Akibatnya, Semidang Bukit Kabu pun diserang oleh harimau, mulai dari ekor perekor hingga mencapai jumlah ratusan ekor. Mulai dari mengintai warga yang sedang berada sendiri di ladang, hingga puncaknnya harimau-harimau memasuki dusun-dusun untuk melakukan serangan secara terbuka. Serangan dari harimau-harimau yang marah ini terjadi terus menerus, berlangsung hingga beberapa pekan, hingga banyak jatuh korban di dusun-dusun.

Orang-orang pada malam hari tidak lagi tidur di rumahnya, namun memilih berada bersama di rumah kepala desa atau beberapa keluarga bergabung di satu rumah. Namun, ini tidak menjadi halangan bagi harimau untuk tetap menyerang. Diceritakan, bahwa harimau-harimau itu bahkan mampu merobek dinding rumah untuk menyergap orang-orang yang berada di dalam rumah itu.

Terdesak karena serangan itu, dan memang tidak mampu untuk mengalahkan gerombolan harimau itu, orang-orang yang masih selamat pun kemudian memilih melarikan diri keluar dari Semidang Bukit Kabu. Secara berombongan mereka meninggalkan dusun-dusun dengan perasaan haru biru. Demi keselamatan pribadi dan keluarga, juga demi tidak terjadi hilangnya generasi, mereka harus pergi, pergi meninggalkan dusun, ladang-ladang yang mungkin saja sebentar lagi panen, rumah yang telah dibangun dan dibina dengan susah payah dan banyak rencana masa depan yang telah ditanam di Semidang Bukit Kabu. Semua harus ditinggalkan.

Orang-orang yang ketakutan itu, dalam rombongan-rombangan pergi menuju ke beberapa desa yang jauh dari Semidang Bukit Kabu. Untuk benar-benar merasa aman, ada yang menempuh perjalanan hingga ke Kepahiang, sebuah tempat yang pada waktu itu masih harus ditempuh 1-2 hari jalan kaki.

Beberapa desa dengan penduduknya yang berbahasa Serawai di desa-desa Taba Mutung dan Lubuk Sini (Bengkulu Tengah), Taba Sating, Nanti Agung, Talang Karet dan Penanjung Panjang (Kabupaten Kepahiang) dipercayai sebagiannya adalah pelarian dari Semidang Bukit Kabu. Namun, masyarakat itu sendiri tidak berani banyak bercerita tentang kisah ini.

Sementara Semidang Bukit Kabu telah berpuluh tahun tidak dihuni lagi, wilayah itu merupakan “dusun-dusun tinggal”. Di wilayah itu sekarang, masih terdapat banyak sisa-sisa fondasi rumah, serta adanya sebuah komplek pekuburan yang tak terawat.
----------------------------------------------------

Mantera Serawai untuk berburu harimau:

Ndah diade ndah keape
Bekujung angin derudung bunging
.............

Drama ini berangkat dari kisah "hancurnya" beberapa desa di wilayah/marga Semidang Bukit Kabu (Kabupaten Bengkulu Tengah sekarang), karena serangan balas dendam sekelompok besar harimau, setelah tubuh harimau betina itu dikoyak tombak dan pedang orang-orang dusun yang dipimpin oleh seorang ginde (kepala kampung). Setelah pembunuh itu, dilanjutkan dengan hal-hal yang dianggap tabu dan penghinaan bagi harimau, yakni dengan kepala harimau itu dipasang di gerbang dusun, dagingnya ditumbuk dan kulitnya dijadikan gendang. Konon, harimau betina yang masih muda itu masuk ke dusun adalah untuk bertemu dengan pengasuh yang bernama Bentua.

Semidang Bukit Kabu pun kemudian hilang di balik kabut. Sisa orang-orang yang mengalami prahara itu telah hijrah untuk menyelamatkan diri lalu bertebaran dan memulai kehidupan baru di desa Nanti Agung, Karang Indah, Talang Karet dan Padang Lekat (kesemuanya di Kabupaten Kepahiang).

Namun, hingga hari ini kisah terbunuhnya Sembiyan (yang dipercaya sebagai nama harimau betina yang dibunuh itu), sepertinya belum akan berhenti. Fragmentasi dan rusaknya ekosistem akibat perluasan perambahan hutan secara liar, juga pembukaan perkebunan (sawit dan karet) dalam skala besar yang mengakibatkan menyempitnya habitat harimau, telah melanggengkan konflik harimau vs manusia ini.

Untuk apa harimau dilestarikan? Apakah demi cerita buat anak cucu, atau demi keseimbangan rantai makanan, atau demi apa? Bisa jadi aktivitas pelestarian harimau pun akan jadi semacam penegasan atas obyektivikasi manusia terhadap alam, bahwa memang harimau tidak lagi sebuah mitologi, namun telah menjadi salah satu bagian proyeksi penguasaan manusia atas alam.

Untuk itukah?


Jawabannya -bagiku- sederhana saja, alam tidak akan menciptakan dirinya untuk kedua kalinya. Kita tidak bisa menciptakan harimau, jika harimau punah pun tak ada jaminan Allah akan menciptakannya lagi.

Selain itu, harimau adalah salah satu ujian bagi manusia terhadap konsep keadilan. Sanggupkah manusia berbagi, di saat yang sama perkembangan kemanusiaan terus menuntut eksplorasi dan eksploitasi alam. Keberadaan harimau di muka bumi ini lebih tua usianya dibandingkan manusia yang ada kemudian, lalu dijadikan sebagai pemimpin di bumi dan sebagai rahmat bagi alam semesta

Maka, berikanlah juga keadilan dan rahmat itu untuk Sembiyan.

Walau bukan sebuah drama yang bermuatan kampanye lingkungan hidup, karena drama/pementasan Semidang Bukit Kabu adalah murni sebuah karya seni, namun inilah cara kami berbicara, cara kami berprihatin dengan mengangkat sebuah peristiwa yang telah membekaskan puing-puing keangkaraan, lalu jadi prasasti yang mengabadikan runtuhnya kesombongan manusia ketika rasa bijak terhadap alam telah hilang.

Emong Soewandi
Emong Soewandi Blogger sejak 2014, dengan minat pada sejarah, sastra dan teater

6 comments for "SEMIDANG BUKIT KABU, KETIKA ALAM MEMBALAS"

  1. saya sudah dengar cerita ini dari orang2 tua kami dulu. ini versi yang lebih baik, tmasuk ada sdikit sejarah ttg tempat itu.
    terima kasih tulisan ini, yng akan selalu menggugah kami

    ReplyDelete
    Replies
    1. Terima kasih kunjungannya. Mohon kalau ada masukan dan kisah lainnya untuk bisa berbagi.

      Delete
  2. sejarah puyang-puyang kami. terima kasih sudah menulisnya...

    ReplyDelete
    Replies
    1. Semoga bermanfaat. Terima kasih sudah berkunjung.

      Delete