Skip to content Skip to sidebar Skip to footer

VIHARA BUDHYANA KAMPUNG CINA, BENGKULU

Altar

Kunjungan Jelang Sore

Vihara Budhayana Bengkulu, sebagai sarana peribadatan umat Budha di Bengkulu berada di Kampung Cina Bengkulu. Tepatnya di Jl. Mayjen DI Panjaitan, Kampung Cina, Teluk Segara, Malabero, Bengkulu, Kota Bengkulu, Bengkulu 38111. Dari jalan tunggal di tengah-tengah Kampung Cina itu lurus ke arah utara kita bisa melihat sudut Benteng Malborough.

Kampung Cina sendiri saat ini merupakan kawasan cagar budaya, sebagai upaya tetap terjaganya nilai-nilai sejarah tempat ini. Dengan deretan rumah-rumah berarsitektur khas Negeri Cina, Kampung Cina pernah menjadi kawasan ekslusif pada masa aneksasi Inggris di Bengkulu. Dipadu dengan kekokohan Benteng Malborouh dan sisa-sisa gedung kolonial lainnya, maka tempat ini telah memproyeksikan sebuah sejarah yang ikut menentukan bagaimana wajah Bengkulu hari ini.

Sebagai tempat bersejarah, bangunan-bangunan di sini telah menjadi sebuah situs yang tidak boleh diubah arsitekturnya. Selain Pantai Panjang, rumah Bung Karno, rumah Fatmawati, dan tentu saja Benteng Malborough, maka kawasan Kampung Cina pun patut diperhitungkan sebagai destinasi wisata sejarah bagi para wisatawan yang datang ke Bengkulu.

Sudut benteng Malborough terlihat dari tengah jalan Kampung Cina

Senin, 02 April 2018,

Hari kedua, dalam rangka penelusuran untuk pengumpulan data-data penelitian tentang tokoh masyarakat Pariaman di Bengkulu, kami mengunjungi Kampung Cina Bengkulu. Sebuah jalan memanjang yang menembus ke tengah Kampung Cina, sebuah kawasan bernama Pendakian, dihuni oleh mayoritas keturunan orang-orang yang dulunya berasal dari Pariaman, Sumatera Barat.

Jalan Pendakian , salah satu jalan yang akan menuju Kampung Cina
Altar

Dari Pendakian, kami berjalan kaki saja menuju Kampung Cina. Rencananya melewati Kampung Cina itu kami akan menuju ke Benteng Malborough, namun ketika tiba di depan vihara, kami tiba-tiba saja sepakat untuk berkunjung.

Begitu kami tiba di ambang pintu, seorang penjaga vihara dari sudut ruangan setengah berlari menghampiri kami.

Silakan, silakan masuk, sapanya dengan senyum penuh keramahan. Setelah melepas alas kaki, kami pun masuk. Ada suasana yang penuh magis dan sakral menyergap, ketika kami tiba di ruang altar doa. Di dalam vihara begitu hening. Jalanan yang sepi dalam petang dan ada sayup deru ombak, menambah keheningan itu.

Penjaga yang kemudian kami sapa dengan Koko Liem itu kemudian menanyakan apa tujuan kami. Kami jelaskan, bahwa kami hanya ingin berkunjung dan melihat-lihat saja.

Oh, boleh-boleh, sambut Koko Liem sambil tertawa renyah.

Perkenalan pun terjadi, selanjutnya kami berbincang-bincang ringan di depan altar. Tak lupa, Koko Liem juga menyajikan air kemasan mineral kepada kami. Kebetulan, kami juga sedang haus sekali.

Keberagaman

Satu hal penjelasan yang menarik dari penjaga itu, bahwa keberadaan komunitas Tionghoa di Kampung Cina di Bengkulu sangat membaur dengan masyarakat lainnya. Dia sendiri pandai berbahasa Minang dan Melayu Bengkulu. Bahkan, saat dia berbicara, telingaku sendiri bisa menangkap logat Melayu Bengkulu yang kental dari setiap kata yang diucapkannya.

Suasana makin "Bengkulu", ketika kami sepakat menggunakan saja bahasa Melayu Bengkulu. Dan, percayalah, saat itu aku pun telah merasakan berhadapan dengan keluargaku sendiri. Ya, keluarga, karena aku sendiri tidak asing bergaul dengan orang-orang Cina. Di kota asalku sendiri, di Curup, keberadaan mereka sudah sama saja dengan masyarakat lainnya. Anak-anaknya juga "kurang ajar" seperti anak-anak lainnya, nongkrong di pinggir jalan, atau sore-sore golongan tuanya beranting-anting jepitan jemuran dalam permainan domino dengan tetangganya. Bahkan, aku punya keluarga angkat orang Cina.

Pada hari-hari besar agama, orang-orang Muslim di sekitar Kampung Cina juga selalu bergotong-royong membantu persiapan vihara, terang Koko Liem. Pada saat gotong royong itu, ceritanya, maka akan terasa sekali "Bengkulu", bagaimana mereka saling olok-olok, ketika mereka yang "orang Cina" itu enak saja melontarkan "carutan" (kata makian) khas Bengkulu, yang disambut juga dengan kata makian dari yang lainnya. Lalu semuanya tertawa gembira.

Ai, "kleraa"! Begitu akrab!

------------------------------------------------------

Sekilas Kampung Cina Bengkulu

Dalam buku Sejarah Bengkulu yang ditulis Abdullah Siddik menyebutkan, warga orang-orang Tionghoa mulai bermukim di Bengkulu sejak 1689. Sebagian didatangkan sendiri oleh Kongsi Dagang Inggris, East India Company (EIC), untuk dipekerjakan di perkebunan-perkebunan lada milik Inggris, juga menjadi juru tulis di kantor-kantor pemerintahan. Sebagian lainnya datang dengan alasan berdagang.

Pada 1714, telah semakin banyaknya orang-orang Cina di Bengkulu, Penguasa Inggris menyatukan mereka di satu wilayah, di mana dengan izin Dewan Pangeran Pribumi, war-warga Cina ini mendirikan pemukiman di Ujung Karang (Kota Bengkulu sekarang), yang di sebu sebagai Kampung Cina hingga hari ini. Mereka umumnya bekerja sebagai buruh perkebunan dan sebagian kecil ada juga yang berdagang. Mereka diberi kedudukan istimewa oleh Wakil Gubernur Joseph Collet saat itu. Warga keturunan Cina tersebut dipimpin oleh seorang kapitan.

Pada masa Bengkulu dikuasai oleh Belanda, setelah Traktak London 1824, Orang-orang Cina ini banyak dimobilisasikan sebagai tenaga pembuat jalan, jalur dari Bengkulu, Taba Penanjung, Kepahiang hingga ke Empat Lawang. Mereka juga dijadikan oleh Belanda sebagai tenaga-tenaga awal tambang-tambang emas di pedalaman.

Persebaran orang-orang Cina di Kepahiang, Curup dan Lebong terjadi dengan adanya mobilisasi orang-orang Cina setelah pembukaan tambang-tambang emas di Lebong dan perkebunan-perkebunan kopi di Kepahiang dan Curup. Ini terjadi pada masa aneksasi Belanda di Bengkulu. Namun, pada masa pendudukan Inggris pun, tercatat orang-orang Cina sendiri telah kerap masuk ke pedalaman untuk urusan berdagang ke pribumi-pribumi di pedalaman Tanah Rejang

------------------------------------------------------

Altar

Ini kami buktikan sendiri, ketika kami melihat sendiri asisten kebersihan di vihara itu adalah seorang wanita berhijab. Koko Liem menjelaskan, bahwa ibu itu Muslimah, dan rajin sholat. Sebuah ruangan khusus untuknya berada di lantai atas.

Altar

Ah, indahnya keberagaman!

Sayang, karena hari telah begitu petang, kami tak punya banyak waktu lagi untuk melihat-lihat lebih banyak vihara itu. Namun, kami cukup senang, telah mengunjungi sebuah tempat yang sangat bersejarah bagi Bengkulu. Lebih dari itu, sebuah tempat yang mempertegas, bahwa keberagaman telah menjadi wajah Bengkulu itu sendiri.

Jelang senja di atas Kampung Cina Bengkulu
terlihat beberapa remaja mengambil spot foto di wilayah yang penuh sejarah ini

Kunjungan singkat itu juga memberikan sebuah ketegasan bagiku, bahwa Bengkulu adalah negeri yang nyaman, ada kedamaian. Sebuah proses perjalanan panjang bersejarah telah dilalui dengan penuh ujian untuk membangun semua itu. Sejarah telah menempatkan keberagaman di negeri "menyendiri" di Pulau Sumatera ini, namun sekaligus menjadikan Bengkulu pun tidak pernah sendiri. Aceh, Bugis, Melayu, Rejang, Minang, Inggris, Belanda, India dan Tionghoa telah menyesakkan tanah Bengkulu untuk menjadi sebuah kekhasan!

Bengkulu memang CAMKOHA! 👍
All pics: Private Collection
Taken by: Vivo Y15 Smartphone

Pranala:
https://www.republika.co.id/berita/ok68w51/kampung-cina-di-bengkulu-yang-sepi
https://profil.bengkulukota.go.id/sejarah-kota-bengkulu/

Emong Soewandi
Emong Soewandi Blogger sejak 2014, dengan minat pada sejarah, sastra dan teater

Post a Comment for "VIHARA BUDHYANA KAMPUNG CINA, BENGKULU"