Skip to content Skip to sidebar Skip to footer

PASAR PAGI KEPAHIANG: ASAL-USUL PASAR


Pada masa-masa sebelum Perang Dunia Pertama, di Pekan Minggu itu dulu kuli-kuli Jawa dan Cina yang bekerja di perkebunan Belanda juga ikut berdagang. Kuli-kuli Jawa itu juga membuka gelanggang judi dadu, sementara kuli-kuli Cina memperdagangkan garam, tembakau dan opium yang mereka dapatkan melalui bandar opium secara ilegal di Bengkulu. Pedagang-pedagang Minang yang juga dari Bengkulu datang untuk memperdagangkan kain dan perhiasan perak, sedangkan pedagang-pedagang dari Palembang yang datang dari Empat Lawang biasanya menawarkan peralatan pertanian dan senjata-senjata dari besi/logam.


Ketika Distrik Kepahiang telah menjadi Marga Pasar Kepahiang dan ibukota sebuah Onderafdeling, sejak 1935 aktivitas judi dan transaksi opium dilarang. Ancaman bagi pelaku, baik pembeli maupun penjual adalah kurungan dan cambuk.


_____________________________________
Bazar (bahasa Persia: بازار, bahasa Turki: pazar, bahasa Hindi: बाज़ार, bahasa Yunani: παζάρι (pazari), Yunani Cypriot: pantopoula adalah sebuah wilayah berdagang permanen, pasar, atau jalan di mana toko-toko barang dan jasa dipertukarkan atau dijual. Kata ini berasal dari bahasa Persia, bāzār, etimologi yang akan kembali ke kata Persia Tengah baha-char (بهاچار), yang berarti "tempat harga". Meskipun arti kata saat ini diyakini berasal di Persia, penggunaannya telah menyebar dan sekarang telah diterima ke dalam bahasa setempat di negara-negara di seluruh(Wikipedia)
________________________________________

Sebelum bersentuhan dengan bahasa asing, maka apa kata yang dipergunakan untuk “pasar”? Tentulah tidak mungkin kita mengatakan, bahwa sebelum mengenal kata pasar, maka belum ada pula kita mengenal sebuah tempat pertemuan untuk melaksanakan transaksi jual beli itu. Pasti ada, hanya saja nama dan tempat itu mungkin telah terkubur. Apakah istilah "bursa" sama pengertiannya dengan pasar?  Aku kira dengan tidak begitu dikenalnya istilah lain selain pasar, ini juga seperti menunjukkan bahwa orang-orang di nusantara dulu sejatinya bukanlah pedagang. Mereka mungkin hanya petani, pekebun, nelayan, guru atau sarjana.


Mungkin begini, ketika membutuhkan sesuatu, bahan makanan misalnya, maka dua atau beberapa orang sepakat untuk bertemu di sebuah tempat, yang waktu demi waktu kesepakatan tadi menjadi sebuah konsensus. Mungkin inilah cikal bakal lahirnya sebuah pasar. Ingat, mereka sejatinya bukan pedagang, mereka hanya saling bertukar barang yang dibutuhkan, mereka juga tidak akan menjajakan barang-barang, karena itu setelah apa yang dibutuhkan telah diperoleh mereka pun segera pulang.

Pertemuan-pertemuan itu biasanya terjadi hanya pagi hari, di mana setelah menjelang tengah hari mereka akan saling berpisah. Kembali ke kampung masing-masing, melanjutkan aktivitas seperti biasanya.


Pada perkembangannya, pertemuan-pertemuan itu bukan lagi orang per orang, tetapi sudah meluas menjadi antar kampung. Dengan kesepakatan tanpa tertulis juga, maka pada hari pertama kampung A akan menjadi tempat pertemuan itu, di mana orang-orang dari kampung-kampung lain datang membawa barang-barang yang sekiranya bisa saling dipertukarkan. Pada hari berikutnya giliran kampung B yang akan menjamu kampung-kampung lain.


Mungkin inilah awal lahirnya pasar-pasar pekan, yang kita dikenal sekarang sebagai pekan Minggu, pekan Selasa dan seterusnya. Semua pekan ini adalah pasar pagi. Dengan aktivitas yang sudah hampir menjadi rutinitas itu, beberapa orang pun mulai menjalankan secara tetap pekerjaan itu, yang kemudian dia pun menjadi pedagang, setidaknya untuk setengah hari atau waktu pagi saja. Orang-orang kampung juga tidak perlu lagi pergi sendiri ke kampung lain menawarkan barang-barangnya, melainkan cukup menitipkan barang-barang itu kepada pelaku-tetap tadi.

All Pics: Private Collection
Location: Pasar Pagi Kepahiang, Bengkulu - Indonesia
Emong Soewandi
Emong Soewandi Blogger sejak 2014, dengan minat pada sejarah, sastra dan teater

Post a Comment for "PASAR PAGI KEPAHIANG: ASAL-USUL PASAR"