Skip to content Skip to sidebar Skip to footer

CATATAN PERJALANAN: DARI GYUGUN KE MEGALITIKUM KEBUDAYAAN DEMPO (BAGIAN I)

Patung Ikan Semah

KEPAHIANG

Tujuan utama ke Pagar Alam adalah untuk menelusuri lokasi pusat pelatihan militer Gyugun yang dibangun oleh Tentara Kekaisaran Jepang, 1943 lalu di Pagar Alam. Menemani Bang Ramdan Malik, seorang jurnalis senior dan juga merupakan keponakan dari seorang Pahlawan Kepahiang, Mayor Salim Batubara, kami berangkat dari Kepahiang sekitar pukul 8, dengan mobil yang dikemudikan oleh Rendi.

Sebelum melanjutkan perjalanan untuk menuju batas Kabupaten Kepahiang-Kabupaten Empat Lawang, sekaligus batas Provinsi Bengkulu-Provinsi Sumatera Selatan, kami tiba di Keban Agung, kami menyempatkan diri singgah sebentar di sebuah Situs Cagar Budaya. Di situs ini terdapat obyek purbakala berupa menhir dengan bahan batu andesit. Situs ini telah diregistrasi di Sistem Registrasi Nasional (Sisregnas) Cagar Budaya Indonesia. Berada di tengah-tengah persawahan penduduk, telah diberi pagar dan beratap seng.

Cagar Budaya Menhir Keban Agung, Kepahiang
Dalam perjalanan menuju Pagar Alam sempat mengalami hambatan serius. Di ujung Desa Karang Dapo, Kecamatan Ulu Musi, Kabupaten Empat Lawang, perjalanan kami terhambat oleh longsor. Batuan-batuan besar memenuhi jalan, yang menurut keterangan masyarakat runtuh malam tadinya. Pembersihan secara manual oleh masyarakat setempat pun telah dimulai sejak subuh, sementara untuk membersihkan batuan-batuan besar itu masih harus menunggu alat berat yang harus didatangkan dari Tebing.

Kami sempat sangat kecewa karena hambatan ini, apalagi Bang Ramdan Malik, yang sedang melakukan riset untuk penulisan buku sejarah kehidupan dan pejuangan hingga gugur Mayor Salim Batubara. Bagi dia, perjalanan ini bukan lagi hanya sekedar sebuah upaya kegiatan rekonstruksi sejarah, namun ini adalah perjalanan spiritual dengan sebuah amanah keluarga besar yang diembannya sebagai ziarah 70 tahun sejak gugurnya Mayor Salim Batubara sebagai syuhada melawan pasukan Belanda yang menguasai kota Kepahiang, 1949 lalu.

Dari pembicaraan dengan beberapa warga di lokasi kejadian, satu-satunya alternatif jalan yang ada, kami harus balik arah, lalu melanjutkan perjalanan ke Pagar Alam via Desa Padang Tepung. Tentu akan jadi perjalanan yang panjang itu nantinya, karena dari Padang Tepung kita harus ke Lahat dulu, baru selanjutnya memutar balik menuju Pagar Alam. Kalkulasi waktu kurang lebih 5 jam, belum termasuk waktu pulang. Tentu kami juga tidak akan mengambil alternatif jalan yang lain lagi, yakni dari dari arah Bengkulu Selatan via Kota Manna, yang pasti justru lebih jauh lagi.

Masyarakat Desa Karang Dapo membersihkan runtuhan longsong, dibantu pihak TNI,
Kepolisian dan BNPB Empat Lawang
Untung tak dapat diraih, malang tak dapat ditolak, kata pepatah.

Namun, "kesabaran" kami dalam situasi "menunggu" sebagai akibat menimbang-nimbang antara pulang ke Kepahiang, melanjutkankan perjalanan melalui jalur lain dan berharap jalan bisa dilalui, membuahkan hasil memang nasib baik sedang berpihak kepada kita. Maka, malang pun dapat ditolak, untung pun bisa diraih. Setelah 1 jam menunggu, jalan yang telah dibersihkan manual secara gotong royong oleh masyarakat sekitar, bersama pihak TNI, pihak kepolisian dan BNPB Kabupaten Empat Lawang, berhasil membebaskan celah kecil yang hanya bisa dilalui satu mobil kecil dan berukuran sedang saja. Ini artinya arus lalu lintas pun harus diberlakukan sistem buka-tutup.

Setelah jalur sebelah lain ditutup, dan giliran kita dibuka, perlahan-lahan dengan keterampilan menyetir yang baik, Rendi berhasil membawa mobil lolos dari celah sempit itu. Harus berhati-hati sekali, karena di sebelah kanan jalan merupakan sebuah jurang yang berhadapan langsung dengan Sungai Musi yang saat itu pun tengah meluap airnya.

Langkah kanan kita, Bang, ujar aku kepada Bang Ramdan mengomentari keberuntungan kami.

KOTA PAGAR ALAM

Gerbang Kota Pagar Alam
Sekitar pukul 10, kami tiba di Kota Besemah, Bersih - Sejuk - Aman - Ramah, Kota Pagar Alam. Kota penghasil kopi yang benar-benar sejuk, sebuah kota tua yang dikawal oleh keangkuhan Gunung Dempo (3173 mdpl).

Kami istirahat sejenak di Rumah Makan "Sederhana" yang berada di tengah kota. Sembari menikmati kelezatan nasi padang, kami bertanya-tanya kepada Uda Zul, pemilik rumah makan itu. Dari dia kami bisa tahu arah jalan menuju Desa Karang Dalo, desa yang katanya dulu pernah menjadi lokasi pendidikan militer Giyugun. Uda Zul, yang ceritanya pernah berkuliah di Universitas Atma Jaya itu, begitu mau membantu kita, hingga di selembar kertas digambarkannya sket jalan sederhana menuju Desa Karang Dalo, termasuk jalan untuk menuju situs-situs megalitikum yang juga menjadi niat kami untuk mengunjunginya kelak.

DESA KARANG DALO, DEMPO TENGAH, PAGAR ALAM

Menara Mesjid yang unik dan tua di Desa Karang Dalo, Pagar Alam
Setelah mengisi energi kami segera meluncur ke Desa Karang Dalo, Kecamatan Dempo Tengah. Memasuki desa ini, dari dalam mobil, kami sudah melihat ada jejeran bangunan-bangunan bercat hijau yang sangat tipikal militer. Beberapa bangunan tanpa telah kusam warnanya, sebagian lainnya tampak tidak terawat, sepertinya ini dulu adalah asrama bagi TNI atau bisa jadi semacam garnisun namun kemudian ditinggalkan.

Kami memasuki komplek itu yang terlihat sepi itu. Di bangunan paling ujung terlihat seseorang berseragam militer yang sedang makan nasi bungkus di teras. Setelah meminta maaf, karena telah mengganggu acara makannya, Pak Ikhsan – nama Bapak tentara itu, yang ternyata juga adalah anggota Babinsa di Desa Karang Dalo, kami sampaikan maksud kunjungan kami yang telah jauh-jauh datang dari Kepahiang.

Pak Ikhsan, anggota dari Raider Yonif 145 Lahat, ternyata tidak tahu apa-apa tentang sejarah tempat itu, dia pun mengaku juga sebagai orang baru di wilayah itu. Bahkan, dia juga berterus terang, mengatakan baru tahu dari kita jika di desanya ini dulu pernah ada pusat latihan militer milik tentara Jepang.

Kita kemudian diarahkannya untuk bertemu seorang purnawirawan yang memang bertugas lama di Pagar Alam, yang diperkirakan tentu lebih tahu tentang masa lalu tempat tersebut. Orang tersebut bernama Pak Djiman, purnawirawan TNI dengan pangkat terakhir Pembantu Letnan Satu (Peltu).

Rumah Pak Djiman berada berseberangan jalan dengan komplek militer itu. Berasal dari Klaten, Jawa Tengah, mengaku berusia 91 tahun, Pak Djiman memiliki 9 orang anak yang kini telah bertebaran di banyak tempat di Sumatera dan Jawa. Kini di masa-masa pensiun, dia melalui hari-hari bersama cucu-cucu sambil menjalankan bisnis bengkel furtinur khas Jepara di sebelah rumahnya.

Bersama Bapak Djiman, Desa Karang Dalo, Pagar Alam
Dari Pak Djiman, kami mendapatkan keterangan, tempat di depan rumahnya itu bukanlah tempat yang kami cari, karena komplek asrama itu juga baru dibangun 1960-an lalu. Ia menerangkan, bahwa dulu memang pernah ada sebuah kompleks militer milik tentara Jepang. Bukan di sini, tapi sana, ia menunjukkan ke sebuah arah, yang tentu saja tidak kami pahami ke arah mana itu. Namun, terangnya lagi, di lokasi itu sekarang telah menjadi pemukiman warga dan sebuah komplek SD, yakni SD Negeri 50 Pagar Alam. Di sana masih ada bekas-bekas bangunan yang dulunya dibangun oleh Jepang, katanya.

Ada secercah kegembiraan di hati kami mendapat informasi dari Pak Jiman ini. Tak sia-sia perjalanan ke Kota Pagar Alam ini. Khusus Bang Ramdan Malik sendiri, terlihat ada keyakinan pada pancaran wajahnya, jika ia akan bisa semakin detail menyusun kisah perjalanan hidup Mayor Salim Batubara. Jika sebelumnya, telah terlacak di mana gugur dan makamnya, maka sekarang telah terlidik tempat di mana Salim Batubara mendapatkan pendidikan militer.

Kembali ditemani Pak Ikhsan, yang masih mengenakan seragam militer lengkap, ditambah dengan Satria, pemuda setempat dan mahasiswa tingkat akhir Sekolah Tinggi Teknologi Pagar Alam, yang berkenan mengantar, kami segera menuju ke tempat yang dimaksud oleh Pak Djiman.

Bukan! Lagi-lagi bukan. Kesimpulan aku dan Bang Ramdan Malik tempat itu bukanlah tempat yang kami cari. Sisa-sisa puing bangunan yang ada, ditambah dengan ketidaktahuan warga setempat tentang bagaimana lokasi ini dulunya, sama sekali tidak memberikan keyakinan kepada kami, bahwa di sana dulu adalah sebuah candradimuka bagi pemuda-pemuda untuk digodok menjadi anggota Giyugun, kesatuan paramiliter tentara Jepang.

Warga memang menunjukkan adanya bekas-berkas kolam, bahkan sebuah lumpang batu yang tampak terkubur, juga sebilah balau (mata tombak) kuno, namun semua itu tidak bisa dijadikan petunjuk penting dengan apa yang kita susuri. Beberapa warga kemudian menyarankan kami untuk bertemu Bapak A, yang memang telah lama berada di desa itu, yang mereka yakini banyak tahu tentang sejarah Desa Karang Dalo.

Sejujurnya, aku sendiri sampai bertanya-tanya dalam hati, sebenarnya yang tengah kami susuri ini apa, sejarah Desa Karang Dalo atau pusat pendidikan militer Giyugun yang ada di desa ini dulunya. Bagaimana pula warga akan bisa tahu tentang sekolah militer itu, jika sejarah tentang desa sendiri saja mereka tidak paham.

Kami menuju rumah Bapak A, sebuah rumah yang berada di pinggir jalan lintas Pagar Alam-Lahat. Rumahnya sendiri lumayan mewah untuk ukuran sebuah desa.

Hanya istrinya yang menyambut kami di pintu garasi. Tetapi, dia mengatakan tidak tahu apa-apa dengan perihal yang kami cari, dan memastikan pula sang suami juga seperti dia, tidak tahu apa-apa. Kami sama sekali tidak diperkenankan masuk, dan dia sendiri juga tidak berinisiatif memanggil sang suami diyakini berada di rumah saat itu. Aku merasa seperti ada yang disembunyikan ibu tua itu, entah apa, mungkin juga kedatangan kami sepertinya mengganggunya, terlalu kentara dari sikapnya yang tidak begitu berkenan menerima kami.

Blank! Dengan hati pedih, Bang Ramdan Malik memutuskan untuk mencukup pencarian sebatas itu saja, dan melanjutkan saja perjalanan menuju situs-situs purbakala. Dengan nada kurang yakin akan kami terima, Satria mengatakan ada satu orang lagi yang bisa menjadi tempat kita bertanya, tetapi tempatnya cukup jauh, yakni di Desa Perdipe, kurang lebih berjarak 25 km dari Desa Karang Dalo.

Bang Ramdan Malik meminta pandapatku. Ah, tentu saja, perjalanan ini adalah untuk kepentingan dia, maka aku harus juga mendahulukan urusan dia. Situs megalitikum bisa menunggu, jadi aku berpendapat kita kunjungi saja orang terakhir ini.

Terakhir! Apa pun hasilnya penelurusan tempat pendidikan Giyugun akan kita cukupkan.

DESA PERDIPE, DEMPO SELATAN, PAGAR ALAM

Perjalanan menuju Desa Perdipe, Kecamatan Dempo Selatan, kami melalui tempat-tempat yang indah, salah satunya ada tebingan dengan patung ikan semah di puncaknya. Kami juga melalui desa bernama Plang Knidai, sebuah desa tua, saat ini telah menjadi desa wisata budaya, di mana sedari dulu telah aku ketahui dipercaya sebagai tempat beradanya makam Serunting Sakti, atau yang lebih populer dengan nama Si Pahit Lidah. Namun, mungkin karena rasa lelah sebagai pernik putus asa mencari lokasi pendidikan Giyugun yang belum pasti, membuat kami pun tak sempat lagi membersit hati untuk berhenti sebentar dan mengambil foto-foto di tempat-tempat indah itu.

Desa Perdipe, atau secara administratif resmi saat ini bernama Desa Prahu Dipo, dipercaya sebagai desa cikal bakal penyebaran agama Islam di Tanah Pasemah. Masjid Agungnya pun ternyata dekat dengan rumah yang akan kami kunjungi itu. Bapak Bujang Karnawi, sesepuh masyarakat akan akan kami jumpai pun, ternyata adalah cicit dari Syekh Nurqodim Al Baharudin gelar Puyang Awak, sosok penting dalam kegiatan penyebaran Islam itu.

Penuh keramahan khas Pasemah, Bapak Bujang Karnawi menyambut kami di teras rumahnya yang tampak sangat nyaman. Tampil bersahaja khas orang dusun, namun tetap terlihat sebagai orang yang berkharisma dan berpendidikan. Yang terakhir ini tidak salah, karena ternyata beliau adalah seorang Sarjana Hukum, jebolan Universitas Gadjah Mada, 1969 lalu.

Di beranda rumah Bapak Bujang Karnawi, Desa Perdipe, Pagar Alam
Sambil menikmati aroma kopi Pagar Alam yang begitu khas, kami asyik menyimak cerita-cerita Bapak Bujang Karnawi. Dari mulai asal-usul Pasemah hingga pada masa Proklamasi Kemerdekaan dan perjuangan melawan tentara Jepang. Bahkan, beliau sendiri telah membuat sebuah manuskrip, berupa memoar pribadi tentang sejarah Pagar Alam. Dengan kebaikan hati beliau, kami mendapat 3 eksemplar manuskrip itu. 2 eksemplar masing-masing untuk aku dan Bang Ramdan dan 1 eksemplar dia berikan kepada Pak Ikhsan.

Bapak Bujang Karnawi Yakop Umar
Memang, kami tetap tidak mendapatkan titik terang mengenai lokasi yang tepat sekolah milter Jepang, Bapak Bujang Karnawi juga secara terus terang mengatakan tidak tahu di mana lokasi itu. Namun, dia memastikan itu bukan di Karang Dalo, karena - kata beliau - kalau memang benar di Karang Dalo dia pasti tahu, karena dia dan keluarganya adalah orang lama di wilayah itu.

Kembali ke Desa Karang Dalo, kami pun berpisah dengan Pak Ikhsan dan Satria. Terima kasih untuk mereka yang telah mengorbankan waktu demi menemani kami, yang tentu saja karena kegiatan itu pasti telah menyita banyak waktu mereka beraktivitas.

Dokumen kenangan dari Bapak Ujang Karnawi
(Bersambung)
lihat kelanjutan kisah di:
Emong Soewandi
Emong Soewandi Blogger sejak 2014, dengan minat pada sejarah, sastra dan teater

Post a Comment for "CATATAN PERJALANAN: DARI GYUGUN KE MEGALITIKUM KEBUDAYAAN DEMPO (BAGIAN I)"