Skip to content Skip to sidebar Skip to footer

PERAYAAN PERNIKAHAN ASLI ORANG REJANG


Ilustrasi. Pengantin "modern" Rejang, circa 1940
Sumber: Tropenmuseum (dengan pewarnaan)

Perayaan pernikahan pada tulisan ini adalah perayaan pernikahan pada tata cara beleket. Perayaan dilaksanakan setelah hari ijab kabul, bertujuan sebagai peresmian dan pemberkatan kepada pengantin. Tata cara yang dipaparkan di sini tidak ditemui lagi pada hari ini. Kemungkinan sekali pengaruh tata cara yang diatur menurut hukum Simbur Cahaya menjadi faktor hilangnya tata cara asli itu.

Namun, setidaknya hingga kurun 1920-an masih ditemui tata cara perayaan ini, sebagaimana yang dilaporkan oleh pejabat-pejabat Belanda. Hanya saja kegiatan perayaan “asli” ini dilakukan oleh orang-orang di Tanah Rejang di pedalaman, yang jauh dari wilayah pasar. Pejabat-pejabat dan militer Belanda dilaporkan juga sering menghadiri perayaan ini, yang memang diundang oleh penguasa dusun atau tuan rumah.

Sementara di wilayah pasar sendiri, tata cara perayaan perkawinan telah banyak mengikuti tradisi Palembang dan Minangkabau, atau sebagaimana yang diatur dalam Undang-Undang Simbur Cahaya. Di wilayah-wilayah pasar sendiri memang tidak diberlakukan aturan-aturan tradisional, namun lebih mematuhi Undang-Undang Simbur Cahaya. Wilayah-wilayah pasar yang dimaksud di sini adalah Pasar Kepahiang, Pasar Curup dan Pasar Taba Penanjung yang tercakup dalam wilayah administrasi Onderafdeling Redjang.

Hari Perayaan

Sehari setelah akad nikah, tuan rumah telah menyiapkan beberapa ekor kambing, atau seekor kerbau, untuk disembelih untuk kepentingan perayaan. Wanita-wanita dari desa-desa terdekat telah hadir untuk membantu di dapur. Kaum wanita ini tidak sekedar membantu memasak, tetapi mereka juga membawa bahan-bahan makanan atau bumbu dari rumah untuk membantu mencukupi kebutuhan tuan rumah. Seorang perempuan tua yang akan memimpin dapur, termasuk juga yang bertanggung jawab terhadap racikan bumbu masakan.

Sementara, di depan rumah kaum laki-laki sibuk mendirikan tarub kecil. Tarub itu bertiang bambu, berlantai tanah dan beratap daun rumbia atau kelapa. Bambu yang dipergunakan diambil dari ujung dusun yang dilakukan secara gotong royong. Sementara atap rumbia telah dibeli dari pasar pekanan, dimana atap-atap rumbia itu dibawa oleh pedagang-pedagang dari luar terutama sekali dari Bengkulu. Pedagang-pedagang pekanan itu biasanya membawa barang-barang dagangan menggunakan pedati yang dihela lembu atau kerbau..

Pada hari perayaan pernikahan, para tokoh (yang disebut "orang tua-tua"), bujang dan gadis berkumpul bersama di rumah rumah pengantin perempuan, sebelum menuju ke rumah pihak keluarga laki-laki di mana upacara pernikahan akan berlangsung. Pada saat ini kedua pengantin belum berhias dan masih berpakaian biasa. Tentang tata cara perkawinan adat Rejang dapat dilihat di tulisan pada blog ini yang berjudul Perkawinan AdatRejang.

Setelah parak siang, kedua mempelai dipimpin oleh orang tua masing-masing menuju sungai di ujung dusun, untuk melakukan upacara "pergi ka air bekasai". Perjalanan ke sungai disertai oleh orang tua-tua, bujang-bujang-bujang dan gadis-gadis. Di sungai itu mereka akan dimandikan oleh beberapa perempuan tua dan ibu masing-masing pengantin. Setelah mandi kedua pengantin pun berdandan rapi. Dua pondok kecil tertutup rapat daun-daun kelapa telah didirikan di tepi sungai, untuk keperluan berganti pakaian dan berhias itu.

Setelah berdandan, pasangan pengantin dan rombongan bersiapa untuk kembali ke dusun, menuju rumah keluarga laki-laki. Barisan di atur dimana pasangan pengantin berjalan di depan, diikuti perempuan-perempuan tua, teman-teman perempuan pengantin perempauan, lalu paling belakang rombongan lainnya.

Sebelum pengantin berjalan, seorang wanita tua, yang disebut "induk inang", yang mengatur semua upacara, pada kesempatan masuk lebih dulu ke desa, lalu dengan suara keras memanggil penduduk desa. Setelah penduduk berkumpul, induk inang tadi mengumumkan, bahwa kedua pasangan menjadi suami istri.

Dengan pengumuman itu dimaksudkan agar orang-orang di dusun tidak mengganggu kedua pasangannya itu. Pengantin perempuan tidak boleh lagi disapa oleh laki-laki selain suaminya. Kalau terlihat mereka berjalan berdua, maka orang-orang tahu bahwa mereka memang suami istri.

Pengantin pun berjalan memasuki dusun. Dari bibir dusun, sepanjang perjalanan mereka memberikan sembah penghormatan kepada seluruh warga desa yang telah berbaris di tepi jalan. Warga menyambut pengantin ini dengan bersorak-sorai.

Kepada segenap penduduk yang telah berkumpul, biasanya pasangan pengantin membagi-bagikan hadiah berupa uang kecil. Dikatakan biasanya, karena pemberian hadiah ini memang tidak merupakan kewajiban. Boleh saja pengantin itu berjalan tanpa memberikan hadiah apa pun. Hadiah ini diberikan teruama sekali kepada perempuan-perempuan tua atau kepada anak-anak perempuan.

Kedua mempelai terus berjalan ke kediaman keluarga laki-laki, tempat jamuan makan akan dilangsungkan. Sepanjang perjalanan, perempuan-perempuan tua yang berdiri di tepi jalan akan mendekati pengantin perempuan dan memegang kepalanya sebagai tanda memberikan berkah.

Sesampai di rumah keluarga laki-laki, rombongan pengantin harus berhenti di anak tangga paling bawah. Di sana, pengantin akan menjalani upacara yang disebut "ditepung setawar".

Dalam upacara ini, kdua pengantin ditaburi ramuan yang disebut “sedingin”. Ramuan ini biasanya berupa terdiri dari sejenis daunan muda, daun sirih yang batangnya masih menempel dan air, yang sebelumnya telah dipersiapkan dan disimpan dalam mangkuk gerabah putih.

Percikan dilakukan oleh seorang dukun laki-laki, yang menggumamkan mantera dan memohon bantuan dan perlindungan dari "Dewa Langit Yang Ketujuh, Dewa Semambang Kuning" (yang duduk di surga), "Dewa Pinang Sekampung" untuk kepentingan pasangan muda (yang bersemayam di pohon kelapa atau pinang, yang merupakan roh penjaga daun), "Dewa Senawar" (yang bersemayam di keramat Lebong, juga disebut Dewa Beringin di pohon beringin kuning yang membayangi kuburan), dan "Dewa Selebar Payung (ini adalah dewa yang sangat penting, dipanggil di setiap kesempatan, bersemayam di gunung legendaris, Gunung Bungkuk).

Setelah itu, pasangan pengantin disiram beras kuning (beras kunyit). Di tangga rumah yang ditutup sehelai kain yang dipegang dua orang wanita, sang dukun menabur bulir beras ke kepala kedua mempelai. Sementara di halaman, kerumunan penduduk desa yang hadir bersorak-sorak riang.

Seekor ayam betina dipeluk oleh sang dukun lalu dibawa mengelilingi pasangan pengantin tujuh kali, sambil terus menggumamkan mantera. Selanjutnya ayam betina itu diserahkan kepada pengantin perempuan, untuk dihambur di halaman.

Ayam itu diperebutkan oleh orang-orang banyak yang berkumpul di halaman. Orang-orang bersorak ramai saat memperebutkan dan mengejar ayam betina itu. Siapa yang berhasil menangkap, maka ayam itu akan menjadi haknya.

Setelah ini, kain penutup tangga dibuka, kedua mempelai pun diperbolehkan naik. Sesampainya di atas, mata mereka dioles daun kapuk yang dilumatkan yang dicampur dengan air. Selanjutnya, mereka masuk ke rumah untuk melangsungkan pada jamuan makan. Pengantin akan masuk lebih dulu di ruang jamuan, setelah mereka duduk, barulah rombongan lainnya masuk dan duduk.

Pengantin makan bersama tamu-tamu penting. Warga lainnya dan anak-anak makan di tarub. Setelah jamuan makan, para tamu pun pulang. Kontrolir Onderafdeling Rejang kepada J.L.M. Swaab (1920) melaporkan, bahwa acara jamuan makan ini sering juga dihadiri oleh pejabat-pejabat Belanda yang sengaja datang memenuhi undangan tuan rumah.

Pasangan pengantin kemudian mundur ke salah satu kamar yang telah disiapkan. Mereka akan tidak keluar kamar lagi, sampai besok pada hari pesta. Ditemani orang tua, seorang dukun dan gadis-gadis, semalam pengantin itu tidak boleh tidur. Semalaman juga sang dukun atau seorang tua akan menuturkan mendula, sebuah prosa lisan yang berisikan rangkaian legenda atau dongeng, yang harus disimak oleh pengantin itu.

Emong Soewandi
Emong Soewandi Blogger sejak 2014, dengan minat pada sejarah, sastra dan teater

Post a Comment for "PERAYAAN PERNIKAHAN ASLI ORANG REJANG"