Skip to content Skip to sidebar Skip to footer

MELIHAT REJANG MELALUI STABIK (SEBUAH EPILOG)

Penerbit: Sublim Pustaka Aksara, Palembang: 2019
ISBN: 978-623-90452-0-3

------------------
Bismillah.
kita tuturkan doa
tiga hari di rumah panggung
tiga malam di Balai Agung

kita gaungkan ke dusun-dusun
hasrat rindu yang jauh
para bujang dan orangtua di sana
merangkai Penei;
pisang emas setandan, sirih serta pinang,
batang tebu panjang digantunglah beronang,
tombak menyilang.
bakul sirih, serta talam penyimpan beras dan gula merah.

kepada pemimpin kita serukan rindu
dari muara Topos hingga ulu Seblat

kita yang kerap menembangkan malam,
“merayu Lalan untuk pulang”
atau ratap orangtua sedang Berejung.
Dusun-dusun kini,
adalah tempat segala kenang kita pantunkan
kita lantunkan mantera sebaik-baiknya doa.

Bengkulu, November 2016
*hiasan wajib saat tarian Kejai suku Rejang

--------
Menulis banyak puisi untuk sebuah obyek yang sama, berarti penyair harus mampu melihat obyek itu dari banyak sisi, bahkan ribuan sisi. Pun sisi yang tak terlihat atau tak pernah tampak oleh orang lain. Gansu Karangnio telah memilih sebuah obyek yang bernama Rejang. Tetapi, bukan Rejang menurut dia. Bukan pula Rejang adalah sebuah kosa kata yang ingin dia paparkan definisinya. Melalui Stabik, bagi Gansu Karangnio: Tanah Rejang adalah dirinya!

---------

Gansu Karangnio memiliki nama lahir Ganda Sucipta, lahir di Talang Leak, Lebong 16 September 1992. Menamatkan pendidikan di program studi Pendidikan Bahasa dan Sastra Indonesia, FKIP, Universitas Bengkulu. Juara 1 seleksi tingkat provinsi baca puisi putra mampu mengantarkannya menjadi wakil provinsi Bengkulu dalam ajang dua tahunan Pekan Seni Mahasiswa Nasional (PEKSIMINAS XI) 2012 di Mataram NTB, untuk tangkai lomba baca puisi putra. Puisinya yang bertajuk “Laki-laki Yang Bersajak Lupa” menjadi puisi pilihan dalam antologi puisi “Di Ujung Benang” Ikatan Mahasiswa Bahasa dan Sastra Indonesia se-Indonesia (IMABSII), Belistra, Jakarta, 2013. Lima puisinya juga tergabung dalam antologi “Kado Puisi untuk Bengkulu”, Oksana, Sidoarjo, 2014. Menulis esai “Anak Muda dan Semangat Bersastra” yang dimuat Harian Rakyat Bengkulu, 2014. Karya tunggalnya “Akrostik Dari Balik Jendela” Komunitas Titik Awal, Palembang, 2014. Tiga tahun bergelut di dunia teater sebagai aktor. Teater Petak Rumbia Bengkulu menjadi rumahnya dalam beberapa pementasan, salah satunya di “Kala Sumatera-Festival Legenda se-Sumatera” Taman Budaya Lampung, Teater Satu Lampung, 2012. Tahun 2016 lalu menerbitkan buku antologi puisi empat penyair muda Bengkulu “Melihat Kabut”, Ganding Pustaka, Yogyakarta.

****

Ketika membaca puisi-puisi yang bertemakan lokalitas atau kedaerahan (seingat saya Mursal Esten dulu sering membicarakannya di Sastra Jalur Kedua), maka kita akan bertemu dengan diksi-diksi yang mengungkapkan perasaan penyair terhadap budaya dan tradisi daerahnya; dia memuji dan membicarakan kekecewaan bagaimana sebuah warisan leluhur telah berjalan menuju kepunahan. Penyair akan melakukan subyektifikasi terhadap obyek di hadapannya, di mana obyek akan berbicara menurut perspektif “aku” penyair. Pada akhirnya, penyair mau mengajak pembaca untuk mengakui kesaksian penyair itu. Penyair membuat sebuah ruang dialog yang luas bagi pembaca untuk memahami sebuah ontologi, apa yang terjadi.

Sebaliknya, ada penyair-penyair yang tidak membuka ruang dialog dengan karya-karya semacam itu. Penyair justru hanya mengajak pembaca melihat, merasakan sebuah perjalanan, tanpa diinterupsi oleh perasaan dan persepsi penyairnya. Jika kita menyimak perjalanan sastra Indonesia, jalur ini sangat diakrabi pada masa-masa hingga Angkatan Pujangga Baru. Sementara untuk kesusastraan hari ini, Achdiat Karta Mihardja, Linus Suryadi, juga Idrus Tintin adalah semisal penyair-penyair yang aku kira cukup setia mengambil jalan ini.

Membaca Stabik, aku menduga Gansu juga mau mengambil jalur kedua ini. Ini cukup istimewa mungkin, karena ketika banyak penyair muda yang berkutat dengan “kekinian”, di mana isu-isu modern dan kemanusiaan lebih menarik untuk digarap, justru seorang Gansu mengambil tema-tema “usang”, yang dipastikan juga akan merepotkan pembaca untuk memahami teks dan konteks kebudayaan dari mana dia berangkat.

****

Tanah Rejang adalah tanah yang purba penuh keramat. Dari Tanah Lebong yang agung, Suku bangsa Rejang telah memiliki kebudayaan, sejarah dan bahasa bahkan aksara yang berbeda dengan suku bangsa lainnya yang ada di Bengkulu yang masih berkerabat dengan kebudayaan dan bahasa Melayu. Rejang bukanlah Melayu!

Dijepit kiri-kanan oleh kebudayaan Melayu, walaupun Rejang masih merupakan suku bangsa terbesar di Provinsi Bengkulu, yang mencakup Kabupaten Lebong, Kabupaten Rejang Lebong, Kabupaten Kepahiang, Kabupaten Bengkulu Tengah dan separuh Kabupaten Bengkulu Utara, namun pada hari ini telah cukup susah untuk mempertahankan eksistensinya. Selain karena memang determinisme perjalanan waktu, serangan bertubi-tubi teknologi dan juga peradaban kota lainnya membuat orang-orang Rejang sendiri bisa tanpa sadar memunahkan kebudayaan mereka. Bahasa Rejang sendiri sudah terlalu banyak menyerap dan menyerah oleh serangan kosa kata Melayu.

Namun, masih banyak sisi yang tetap menciri-khaskan itu adalah Rejang. Logat dari seorang pengguna bahasa Rejang tetap tidak bisa disembunyikan. Juga masih ada orang-orang di Tanah Rejang yang setia untuk menjaga wajah Rejang mereka. Gansu Karangniokah salah satunya itu? Entahlah!

****

Dalam Stabik, Gansu Karangnio sepertinya tidak mau “bercerita”. Dia tidak mau mengambil jarak dengan sebuah pengalaman, karena dia merasa, dia memang masih hidup dan terus hidup dalam arus waktu. Tidak ada masa lalu, masa kini dan masa depan. Membaca Stabik, pembaca pun menjadi kehilangan jejak tentang “kapan”, karena pembaca diajak penyair ini untuk melihat pengalaman dalam kesewaktuan. Mengapa Gansu Karangnio tidak mau melakukan sebuah rekonstruksi sejarah? Tentu dia sendiri yang tahu jawabannya, tetapi saya kira penghayatan atas sebuah peristiwa membuat dia tidak mau merusak sebuah struktur yang terus mensejarah baginya. Apakah ini artinya Gansu Karangnio menyerahkan segala kepada keputusan waktu? Saya kira, jika memang seorang Lalan telah pergi hilang, maka seekor harimau yang dibunuh pun tak akan memberi jaminan Lalan akan pulang (Lalan). Jika memang waktu meminta pergi, maka biarlah pergi, jika memang masa membuat kepunahan, maka biarlah punah. Yang masih ada dan hidup pada hari ini, biarkan hidup di antara orang-orang yang masih setia menjaganya dengan yang melupakannya. Lalu di mana Gansu Karangnio berdiri? Biarkan dia menjawabnya sendiri:

.......
kelak jika kau kembali
bawa Lalan serta gitarnya dari rantauan ada ratapan
yang ingin ditembangkan

aku menunggu
mengurus gudang tua
......
(Rejung)

Gudang tua, sebuah gudang yang berisi mantera-mantera yang telah beku, kelintang (gamelan) pecah dan telah sumbang bunyinya, pepatah-petitih, daun-daun sirih yang layu, semua tradisi dan adat istiadat yang mulai goyah tiang penahan rumahnya. Itulah yang dijaga oleh Gansu Karangnio. Sebagai seorang seniman, seorang penyair, Gansu Karangnio telah memilih cara menjaga Rejang, yakni menghayati kehidupan sebagai orang Rejang itu sendiri, yang kemudian dituangkannya dalam Stabik.

Suatu saat gudang tua akan roboh, karena memang waktu yang meminta. Maka, Gansu Karangnio pun tidak akan menggugatnya. Stabik tidak memberikan interupsi terhadap arus perjalanan sejarah. Penyair sepertinya telah tegas berkata, bahwa Rejang masih diagungkan. Sejarah mengatakan, bahwa sebongkah emas di puncak Monas berasal dari Tanah Rejang. Orang-orang Tanah Rejang pun berbangga hati, dan cukup berbangga hati, tanpa merasa perlu menanyakan apakah hanya sekedar aroma kebanggaan saja yang bisa diperoleh (Aroma Renah Sekalawi). Stabik adalah salam penghormatan kepada tamu agung dan leluhur yang berbaring di makam-makam tua.

Stabik adalah sembah kepada waktu! Stabik adalah sebuah kepiluan yang terbangun karena kegelisahan seorang penyair melihat dunianya yang diremas waktu dan sejarah. Gansu Karangnio mau mengajak kita untuk ikut merasan kepiluan itu. 

Kepahiang, 15 Maret 2018 

= Tulisan ini dikutip dari buku antologi "Stabik" dengan perubahan seperlunya
Untuk membaca puisi-puisi di antologi tersebut, klik tautan berikut:
Emong Soewandi
Emong Soewandi Blogger sejak 2014, dengan minat pada sejarah, sastra dan teater

2 comments for "MELIHAT REJANG MELALUI STABIK (SEBUAH EPILOG)"