Skip to content Skip to sidebar Skip to footer

TRADISI NYIALANG MADU

TRADISI NYIALANG: Mengambil Madu Lebah Di Suku Haji

Oleh: Agustam Rachman
Editor: Emong Soewandi

Pohon Sialang. Sumber Kemendikbud

Mulai 2020, Kementerian Lingkungan Hidup dan Kehutanan (LHK) telah menetapkan pohon Sialang sebagai jenis flora yang dilindungi. Dengan adanya penetapan ini, maka pohon sialang hanya dapat diambil manfaat non-kayunya saja, tidak boleh dirusak atau ditebang. Salah satu hasil non-kayu yang paling populer dari kayu sialang ini, tentu saja madu dari lebah-lebah yang bersarang di ketinggian pohon itu.

Pohon Sialang

Pohon sialang atau menggeris (Koompassia excelsa), merupakan jenis tumbuhan yang termasuk dalam suku Johar-joharan (Caesalpiniaceae). Termasuk salah satu pohon tertinggi, karena puncak ketinggian pohon ini dapat mencapai hingga 88 meter. Kayunya sangat keras dan dapat merusak mata gergaji, sehingga pohon ini jarang ditebang untuk dijadikan ramuan bangunan.  Biasanya untuk merobohkan pohon ini dengan cara dibakar di pangkal batang, yang lama-kelamaan api akan menggerus batang, sehingga tidak terlalu tebal lagi untuk ditebang. Secara umum, pohon ini tersebar di hutan-hutan Sumatra, Kalimantan dan Filipina.

Dengan ketinggiannya, maka pohon sialang telah menjadi pilihan lebah-lebah hutan untuk bersarang. Lebah-lebah yang bersarang ini merupakan lebah hutan yang dikenal dengan nama latin Apis dorsata, merupakan lebah dengan ukuran lebih besar dibanding lebah biasa, bersifat liar dan tidak mudah dibudidayakan. Dengan kondisi hutan yang telah banyak terframentasi, maka saat ini pun keberadaan lebah ini telah tergolong langka.

Memanen madu sialang telah menjadi kegiatan budaya oleh masyarakat yang tinggal di sekitar wilayah hutan tersebut. Tradisi sialang atau tualang telah lama dilakukan oleh banyak masyarakat adat di Sumatra. Walaupun terdapat perbedaan tata cara, namun semuanya berpangkal pada penghormatan terhadap pohon sialang dan lebah yang bersarang. 

Patut disayangkan, jika pada masa sekarang tata cara mengambil madu di pohon sialang banyak tidak lagi bersandar pada tradisi. Dampaknya tentu saja banyak pengambilan madu itu tidak lagi menjaga keberlangsungan hidup lebah-lebah di sana, hingga akhirnya banyak pohon sialang tidak lagi ditemui menjadi tempat bersarangnya lebah-lebah. Belum lagi dengan adanya fragmentasi hutan, membuat lebah-lebah pun telah terganggu ekosistemnya.

Salah satu tradisi nyialang yang masih ada adalah yang dilakukan oleh masyarakat di Suku Haji, Ogan Komering Ulu, Sumatera Selatan. Masyarakat di sini mempunyai perhitungan kapan madu bisa dipanen, yakni dihitung 21 hari sejak lebah hinggap di pohon sialang.

Pohon sialang. Sumber foto: rainforestjournal

Malam Nyialang

Hai ading,
Sangkan lambat menenun baju
Masih nenun sampul tangan
Sangkan lambat kita betemu
Lagi besirak lagi bedendan

Itulah syair pembuka ketika Bujang Piawang (sebutan untuk orang yang ahli/naik mengambil madu) akan memulai panen madu lebah hutan atau Nyialang. Sebutan Ading (adik) ditujukan untuk lebah madu sebagai kata penghormatan. Syair itu bermakna pujian dan pamit kepada lebah yang madunya akan diambil.

Penghormatan dan pamit ini diperlukan demi menjaga diri semua pelaku nyialang, karena prosesi panen madu berlangsung pada malam hari. Mulai pukul sekitar 21.00, selama 3 sampai 4 jam kegiatan akan dilakukan, dengan tanpa tali pengaman dan lampu penerang.

Prosesi Nyialang akan didahului dengan ritual Nyebut, yaitu membakar kemenyan dengan menaruh sesajian telur rebus dan nasi kuning di bawah pohon. Ritual itu dipercaya akan memperlancar proses Nyialang, dipercaya pohon itu ada makhluk halus penunggunya. 

Nyialang dilakukan oleh satu kelompok yang terdiri sedikitnya 5 orang. Sebagian nanti akan sebagai Bujang Piawang akan naik pohon untuk mengambil madu, sebagian lainnya bertugas di bawah, akan menyambut kaleng hasil panen madu yang diturunkan dengan tali dari atas.

Peralatan penting dalam nyialang:

  1. Tangga bambu yang disebut panting
  2. Alat pengapian yang disebut sela
  3. Kaleng untuk menampung madu

Panting dibuat dari dua batang bambu. Pijakan-pijakannya berupa bilah-bilah dari pangkal bambu petung yang dipotong seukuran panjang 30 cm dan sebesar sejempol tangan orang dewasa. Tangga-tangga ini ditancapkan dengan palu kayu (catuk) saat malam pengambilan madu, dimulai dari bawah pohon sampai ke dahan yang paling tinggi yang ada sarang lebahnya. Alat ini akan dipergunakan oleh Bujang Piawang untuk memanjat pohon dan mencapai sarang lebah.

Peralatan lain yang dipergunakan adalah alat pengapian yang disebut sela. Alat ini terbuat dari seludang bunga kelapa kering yang dibelah-belah kecil lalu diikat satukan menjadi seperti sapu lidi. 

Setelah berada dekat sarang lebah, Bujang Piawang akan membakar sela itu lalu diusap-usapkan ke sarang lebah. Panas api dan asap yang ditimbulkan oleh sela akan membuat lebahnya beterbangan menjauhi sarangnya. Ujung sela selanjutnya akan dipukul-pukulkan ke dahan hingga menimbulkan percikan-percikan bunga api.  Lebah-lebah yang beterbangan akan segera mengejar bunga-bunga api yang berjatuhan. Dan, saat itulah sarang lebah dalam kondisi aman untuk diambil madu dan anak lebahnya, karena sebagian besar lebah telah meninggalkan sarangnya. 

Selain alasan tradisi, juga untuk keamanan, maka hanya Bujang Piawang yang boleh menyalakan api. Anggota kelompok lain, atau pun orang yang menyaksikan tidak boleh menyalakan api, bahkan merokok sekalipun, karena akan beresiko dikejar dan diserbu oleh lebah-lebah yang telah marah akibat sarang mereka diganggu.

Dalam kondisi aman, Bujang Piawang pun memanen madu dan anak lebah di puncak pohon. Dengan kaleng (atau ember), madu-madu itu ditampung, setelah penuh lalu dengan menggunakan tali diulur turun untuk diterima oleh anggota kelompok yang menunggu di bawah.

Setelah usai memanen dan siap turun, Bujang Piawang mengucapkan syair perpisahan untuk para lebah dalam irama sedih, namun diucapkan dengan suara keras :

Nginjam kapak
Nginjam beliung
Nginjam perapas kiliran taji
Tinggallah kakak
Tinggallah ading
Tinggallah segala kerindu hati

Bujang Piawang pun turun. Sambil beringsut turun, dia terus bersyair:

Kayu sialang damamu kayu
Tumbuh di peremping tebing
Kami banyak ngaturkon tangguh
Tahun datang kami kesini lagi

Dengan syair ini, maka prosesi nyialang pun selesai.

Bujang Piawang dan rombongannya segera meninggalkan pohon sialang. Malam itu mereka tidur di pondok kebun, baru esok pagi akan pulang ke dusun. Mereka beristirahat sambil menikmati kelezatan ulat anak lebah yang dicampur madu. Bagi yang telah beristri, di pondok, sang istri akan mencabuti sengat-sengat lebah di tubuh suaminya, yang kebetulan menjadi Bujang Piawang.

Pembagian Hasil Panen

Madu sialang selalu dibagi secara adil. Pembagian hasil panen madu sialang biasanya diatur 1/3 untuk pemilik pohon, 1/3 untuk Bujang Piawang dan 1/3 untuk yang menunggu di bawah pohon. 


Emong Soewandi
Emong Soewandi Blogger sejak 2014, dengan minat pada sejarah, sastra dan teater

Post a Comment for "TRADISI NYIALANG MADU"