Skip to content Skip to sidebar Skip to footer

CERITA RAKYAT SERAWAI: KERA SEPIAK

Ilustrasi. Air terjun Seluma.

KERA SEPIAK

Cerita rakyat Serawai

Pada zaman dahulu ada seorang raja memerintah di hulu sungai. la amat kaya tetapi belum mempunyai seorang putra. la sering bermenung seorang diri dan kadang-kadang menangis.

Pada suatu hari isterinya melihat ia menangis, lalu berkata, ''Mengapa kakak menangis?" Apa karena kita belum mempunyai anak ini?"

"Betul dik," jawab Raja. "Kita ini makin lama makin tua, siapa lagi yang akan menggantikan saya dan memiliki pusaka ini?"

Isterinya terdiam lama ia berpikir. Lalu berkatalah isterinya, "Aku ada akal kalau kakak setuju. Cobalah kakak beristeri lagi, tetapi saratnya nanti, kalau mempunyai anak, ia ikut bersama aku."

Lalu raja tertawa terbahak-bahak dan berkata kepada isterinya, "Kamu terlambat mengatakannya. Baiklah, aku sekarang akan mencarinya."

Berangkatlah raja di hulu sungai ini berjalan mencari isteri baru. Ia pergi ke hilir sungai. Bertemulah dengan sebuah kerajaan. Rajanya sudah tua dan mempunyai seorang anak gadis.

Ke sanalah kiranya raja di hulu sungai ini singgah dan mencoba melamar anak gadisnya. Kiranya lamaran berhasil, lalu kawinlah ia.

Setelah kembali ke kerajaannya di hulu sungai, bukan main gembira rakyatnya. lsteri tuanya juga ikut bergembira, walaupun ada sedikit perasaan yang kurang enak. Maklum mempunyai madu.

Lama-lama kedua istri raja di hulu sungai itu bergaul dengan rapatnya. Saling sayang menyayangi seperti dua orang bersaudara. Pergi ke ladang bersama-sama, ke pekan juga bersama-sama. Ke mana saja kedua istri raja itu berjalan bersama-sama.

Kera Sepiak Lahir

Setelah genap sembilan bulan sepuluh hari, istri raja yang muda ini melahirkan seorang anak laki-laki. Tetapi sangat aneh anaknya karena badannya berbulu seperti anak kera. Terkejut semua orang melihatpya. Dukun yang membidaninya terpekik dan terloncat dari tempatnya berdiri. Lari ketakutan menghadap raja, memberikan bahwa anaknya berbulu seperti kera.

Rumah raja menjadi sepi tidak ada yang berani bertandang melihat bayinya. Kata orang banyak, mungkin raja mempunyai kesalahan, ada juga ada juga yang mengatakan akan terjadi bala dalam negeri.

Raja minta pendapat kepada keluarganya, juga kepada orang tua-tua. Musyawarah diadakan, dan diputuskanlah bahwa bayi yang baru lahir itu dibunuh bersama ibunya, karena dia adalah pembuat sial.

Lalu ada seorang hulubalang yang gagah dan disegani berkata, "Tuanku, anak ini jangan dibunuh. Ia tidak berdosa. Seekor semut pun tidak boleh dibunuh, apalagi seorang anak manusia. Terlebih lagi adalah putra baginda sendiri. Itu melanggar kemanusiaan, Tuanku, aku tidak setuju."

Raja tercengang mendengar kata hulubalangnya. Perundingan menentukan nasib bayi itu dimulai kembali. Akhirnya dibuat keputusan, bayi dan ibunya itu harus dibuang saja ke dalam hutan yang jauh.

Putri Bungsu dan Kera Sepiak Dibuang

Dipersiapkanlah segala kebutuhan pemberangkatan. Pesta diadakan dengan meriah, sebagai tanda perpisahan. Ratusan prajurit menyertai rombongan itu pada waktu akan berangkat. Bayi dan ibunya diangkat ke dalam sebuah tandu yang dihiasi sedemikian indah. Walaupun demikian meriah pemberangkatan ini, namun hati raja tetap bersedih dan bermurung sepanjang jalan. Kadang-kadang meneteslah air matanya, sedih sekali orang melihat keadaan baginda itu.

Setelah tiga hari tiga malam dalam perjalanan, sampailah rombongan itu di suatu hutan lebat. Berhentilah di sana. Prajurit segera sibuk membuat pondok, menebang kayu dan menebas hutan itu. Setelah selesai semua, maka mulailah rombongan akan kembali. Sebelum bergerak kembali, raja meninggalkan pesan dan bekal yang cukup untuk tiga bulan. Kedua beranak itu ditinggalkan bibit kacang, bibit jagung dan bibit labu. Tidak ketinggalan pula beberapa ekor ayam dan itik sebagai peliharaannya.

Ketika rombongan akan bergerak kembali, raja memeluk istrinya. Bertangislah kedua suami istri itu. Demikian pula anaknya yang masih bayi itu. Sedih hatinya meninggalkannya, walaupun anakn:ya itu tidak seperti orang biasa, bagaimana pun adalah darah dagingnya. Terbayanglah bagaimana penderitaan istri dan bayinya itu berada di dalam hutan yang lebat.

Istrinya memaklumi perasaan raja, lalu berkata, "Kakak mau pulang, pulanglah. Jangan kuatir meninggalkan kami. Kami rela dibuang ini. Kakak harus dapat menahan diri. Kuatkan hatimu. Sampaikan salamku kepada kakak Permaisuri." Tidak tertahan betapa sedih hati kedua suami istri itu. Berurailah air mata mereka.

Rombongan mulai berjalan kembali, makin lama makin jauh. Akhirnya hilang dari pandangan istri raja kedua itu, yang bernama Putri Bungsu. Tinggallah Putri Bungsu berdua dengan bayinya di dalam hutan yang lebat itu. Putri Bungsu mulai menanami bibit yang ditinggalkan raja. Bibit itu makin lama makin besar. Selain bibit labu, tidak ada yang tumbuh. Putri Bungsu heran sekali.

Bayinya diberi nama Kera Sepiak, sesuai dengan keadaan badannya. Kera Sepiak makin lama makin besar. Umur dua bulan sudah pandai berkata-kata. Putri Bungsu merasa heran, ia yakin bahwa anaknya ini adalah seorang yang sakti.

Tiga bulan kemudian, Kera Sepiak sudah pandai berjalan. Setelah tiga tahun umurnya ia sudah pandai membantu ibunya bekerja di ladang dan sudah berani berjalan dalam hutan seorang diri. lbunya selalu khawatir kalau-kalau Kera Sepiak hilang dalam hutan yang lebat itu.

Labu yang tumbuh dahulu sudah dipetik. Buahnya sangat besar. Oleh sebab itu Putri Bungsu merasa sayang membelahnya. Biar untuk bibit saja pikirnya. Tetapi lama kelamaan Kera Sepiak mengetahui akan labu yang sudah masak itu. Lalu ia minta kepada
ibunya agar labu itu dibelah saja untuk ditanam bijinya. lbunya mengabulkan permintaan Kera Sepiak.

Setelah labuh dibelah, terkejutlah Putri Bungsu dan anaknya Kera Sepiak. Labu itu penuh berisi dengan emas, pakaian, dan sebagainya. Menjadi kayalah kedua beranak itu. Ibu Kera Sepiak pergi ke kampung yang terdekat untuk menjual hasil kebun dan beberapa perhiasannya. Ia akan beli keperluan sehari-hari. Kiranya jauh dari hutan tempat pembuangan Putri Bungsu dan anaknya itu, terdapat sebuah kampung.

Kera Sepiak sudah berumur enam belas tahun. Badannya sudah mulai kekar. Otot-ototnya mulai berkembang.

Suatu hari, ketika ibunya pergi ke pasar, Kera Sepiak sedang tidur nyenyak di dalam pondoknya. Dengan takdir Tuhan Yang Maha Kuasa, ketika sedang tidur itu. badannya kepanasan. Mencucur peluh ke luar dari dalam tubuhnya. Lama kelamaan kulit badannya retak-retak dan akhirnya mengelupas seperti kulit bawang. Kulit badannya yang berbulu itti lepas dan tinggal kulit aslinya, putih mulus. Demikian pula wajahnya bersih seperti wajah manusia, dan lebih gagah dari orang biasa. Pendeknya Kera Sepiak tidak seperti kera lagi. Ketika ia terbangun dari tidumya heran melihat kulit yang berbulu selama ini sudah lepas
berserakan di tempat tidumya. Ia merasa agak nyeri sedikit.

Ibunya pulang dari kampung. Sampai di pondok, ia melihat seorang pemuda yang gagah berdiri di hadapannya, lalu ia bertanya. "Hei, kamu ini siapa? Mengapa tinggal di pondokku. Mana anakku Kera Sepiak?"

Pemuda itu tak lain dari Kera Sepiak, diam saja. Kera Sepiak tersenyum-senyum.

"Ayo jawab, siapa kamu! Kamu telah membunuh anakku Kera Sepiak. Kamu suruhan raja, ya!"

Kera Sepiak tertawa terbahak-bahak. Ibunya heran melihat Kera Sepiak. Lalu Kera Sepiak menjawab, "lbu tidak ingat akan suara anakmu Kera Sepiak?"

"He, suaramu itu suara Kera Sepiak. Apakah kamu adalah Kera Sepiak anakku ?"

"Benar, Bu."

"Aduh, anakku! Tuhan Maha Adil lagi bijaksana, telah mengubah badanmu."

"Benar Bu. Lihatlah kulitku yang lama berserakan di tempat tidur!" Setelah ibunya melihat ke tempat tidur Kera Sepiak, memang terdapat kulit keranya. Bukan main gembiranya kedua beranak itu.

Kulit keranya lalu dikumpulkan dan dibakar dengan kemenyan, sambil membaca mentera: 

Testetes ke laut jadi perahu, testetes ke air menjadi ikan,
testetes ke darat menjadi hewan dan manusia."

Setelah membaca mantera itu, bertaburanlah abunya ada yang terbang ke air, ada yang melayang menuju laut dan ada pula jatuh di lapangan. Yang jatuh di lapangan segera menjadi makhluk. Ada yang menjadi kerbau, sapi dan lain-lain ternak. Dan anehnya pula ada yang menjadi manusia laki-laki dan perempuan. Demikianlah kesaktian kulit Kera Sepiak.

Sekarang mulailah Kera Sepiak mendirikan kampung, memelihara ternak, membuat sawah dan ladang. Makin lama negeri Kera Sepiak makin ramai. Orang luar banyak berdatangan menumpang hidup kepada Kera Sepiak. Alhaasil, negeri Kera Sepiak bertambah ramai. Rakyat hidup aman dan makmur. Kera Sepiak menjadi raja.

Pada suatu hari, Raja di Hulu Sungai pergi berburu ke dalam hutan. Sudah dua hari mereka berburu belum seekor pun bertemu dengan rusa. Bahan makanan sudah hampir habis. Kerajaan sudah jauh sekali di belakang. Tiba-tiba raja melihat asap api dan mendengar kokok ayam. Itu pertanda ada satu negeri. Ia merasa heran, mengapa dalam rimba belantara ada satu negeri.

Setelah dimasuki negeri itu, kiranya kerajaan yang sangat ramai. Penduduknya kelihatan segar-segar dan elok-elok parasnya. Lebih lagi wanitanya. Maka rombongan itu bertemu dengan seorang sedang menggembala kambingnya, lalu bertanya, "Pak, apa nama negeri ini? Siapa rajanya?"

Bapak pengembala itu menjawab, "lni negeri Kera Sepiak."

"Siapa nama orang tuanya?" .

"Itu kami tidak tahu. Kabarnya ia dahulu anak raja juga."

Bukan main terkejutnya Raja di Hulu Sungai itu mendengar nama Kera Sepiak. Teringatlah ia akan peristiwa dua puluh tahun yang lalu. la pastikan bahwa Kera Sepiak anaknya yang dibuang dahulu sudah besar, dan ..... mengerikan.

Lalu ia bertanya lagi: "Bagaimana rajanya, apa seperti kera bentuknya."

"Ah, tidak tuan. Rajanya biasa seperti kita ini, malah lebih ganteng dan gagah."

Pertemuan

Yakinlah ia bahwa itu adalah anaknya. Maka ia dan rombongannya meneruskan perjalarian menuju istana Kera Sepiak. Setelah sampai di istana, minta izin penjaga ingin bertemu dengan raja Kera Sepiak. Setelah berada di hadapan Kera Sepiak, ia melihat seorang pemuda yang gagah lagi tampan sekali wajahnya. Hampir tidak percaya akan apa yang dilihatnya.

Bertanyalah ia, "Hai anak muda siapa namamu?"

"Aku adalah Kera Sepiak. Siapakah tuan? Apa maksud datang kemari?"

"Kami tersesat sedang berburu. Sudah tiga hari dalam perjalanan. Siapakan nama ibumu?"

"Apakah hubungannya dengan pertanyaan tuan itu? Nama ibuku, Putri Bungsu. Ia dibuang dua puluh tahun yang lalu oleh raja di Hulu Sungai karena beranakkan seorang kera. Sekarang kera itu sudah beralih rupa menjadi manusia. Dialah aku ini."

Raja sangat malu. Ketika itu juga keluarlah Putri Bungsu, ibu Kera Sepiak. Kedua suami istri itu berpandangan satu dengan yang lainnya. Dengan segera Putri Bungsu menubruk raja suaminya. Bertangisanlah mereka karena terharu dan bercampur gembira. Kera Sepiak tertegun berdiri menyaksikan kejadian itu.

Putri Bungsu berkata kepada anaknya, "Anakku, inilah ayahmu." Berpelukanlah ketiga beranak itu. Sudah duapuluh tahun mereka berpisah. lstri tuanya sudah meninggal.

Maka pada malam itu diadakanlah pesta ramai di kerajaan Kera Sepiak, menyambut ayah Kera Sepiak raja di Hulu Sungai.

Akhirnya kerajaan di Hulu Sungai disatukan dengan kerajaan Kera Sepiak. Raja Sepiak menggantikan ayahnya, memerintah kedua kerajaan itu dengan adil dan merata. Hubungan antara kedua kerajaan dibuat jalan raya. Lalu lintas gerobak dirintis. 

Kerajaan ayah Putri Bungsu juga diundang dalam penobatan Kera Sepiak. Lalu lintas sungai yang menghubungkan kerajaan Kera Sepiak dengan kerajaan pamannya di hilir sungai menjadi ramai.

Demikianlah cerita Kera Sepiak. Orang-orang tua pernah menunjukkan bukti adanya kerajaan Kera Sepiak, yang katanya bekas-bekasnya masih ada sekarang, terletak kira-kira 25 km dari Simpang Tiga Dermayu, Marga Air Priukan.

Emong Soewandi
Emong Soewandi Blogger sejak 2014, dengan minat pada sejarah, sastra dan teater

Post a Comment for "CERITA RAKYAT SERAWAI: KERA SEPIAK"