Skip to content Skip to sidebar Skip to footer

CERITA RAKYAT SERAWAI: BENCAI KURUS

Ilustrasi. Tugu Bujang Gadis, Kabupaten Seluma

BENCAI KURUS

Cerita Rakyat Serawai

Di sebuah desa, hidup seorang janda bersama seorang anaknya, yang bernama Bencai Kurus. Itu sebenarnya bukan nama asli, tetapi karena memang sejak kecil dia bertubuh kurus dan juga agak bodoh, maka orang-orang dusun pun menyebut dia mirip seekor bencai yang kurus, yang akhirnya menjadi panggilannya sehari-hari. Tak ada lagi yang tahu nama aslinya, atau orang-orang telah melupakan nama aslinya, bahkan ibunya sendiri telah ikut pula memanggilnya dengan nama Bencai Kurus.

Bencai Kurus telah jadi pemuda yang cukup gagah dan dikenal jujur, walaupun masih tampak seperti orang bodoh. Ia rajin membantu ibunya di kebun, jarang bergaul, karena sering mendapat ejekan dari orang-orang di dusun.

Pada suatu malam, rumah Bencai Kurus dimasuki oleh pencuri. Barang-barangnya termasuk juga pakaian-pakaian milik ibunya habis, yang tinggal hanya pakaian di badan saja. Bencai Kurus ingin melaporkan kepada Raja. Lalu berangkatlah ia ke kerajaan yang agak jauh tempatnya dari dusunnya.

Sampai di rumah Raja ia melaporkan, "Tuanku, saya akan melapor kepada tuanku bahwa kampung kami yang agak jauh letaknya dari sini sering didatangi pencuri. Malam tadi rumah saya dimasuki maling-maling itu, sehingga habislah barang-barangku. Yang tinggal hanya pakaian yang kupakai inilah.''

"Baiklah Bencai Kurus. Aku terima laporanmu. Aku tidak setuju jika rakyatku dalam kesengsaraan dan ketakutan. Kita akan mencari pencurinya sampai dapat."

Raja mengumpulkan para prajurit dan hulubalangnya. Dukun dipangggil untuk menujum siapakah pencuri itu. Menurut nujum para dukun pencuri itu adalah orang dari hulu sungai. Lalu, berangkatlah para prajurit dan hulubalang raja mencari pencuri yang mengacau dusun Buncai Kurus itu.

Dua hari perjalanan, sampailah rombongan raja di negeri hulu sungai, Ditanyalah kesana-kemari siapa pencuri dusun Buncai Kurus. Seorang pun tidak ada yang mengaku. Semua orang menggelengkan kepala. Sedangkan dalam nujum para dukun orang di hulu sungailah pencurinya.

Berita kedatangan prajurit dan hulubalang dari negeri hilir sungai ini guna mencari pencuri, sangat mengejutkan. Raja Hulu Sungai merasa tersinggung. Lalu marah dan mengusir tentara itu. Sekembalinya para prajurit dan hulubalang itu, lalu melaporkan pengusiran raja di Hulu Sungai kepada raja di Hilir Sungai.

Raja di Hilir Sungai berkata, "Bagaimana kalau kita ajak berperang saja negeri Hulu Sungai itu?"

"Kami menurut saja tuanku raja," jawab rakyatnya.

Maka bersiap-siaplah rakyat dan hulubalang serta para prajurit negeri di Hilir Sungai akan berperang melawan negeri di Hulu Sungai. Makanan cukup untuk persiapan sebulan. Kapal dan perahu disiapkan untuk memudik sungai.

Berangkatlah prajurit dan hulubalang serta rakyat negeri Hilir Sungai akan menyerang negeri Hulu Sungai. Tiga hari tiga malam berlayar, sampailah di negeri Hutu Sungai. Raja mengirimkan tiga orang menghadap kepada raja Hulu Sungai yang dikepalai oleh Bencai Kurus.

Setelah sampai di hadapan raja, Bencai Kurus berkata, "Wahai Raja Hulu Sungai. Kami datang kemari diuius raja kami untuk menanyakan adakah di antara rakyat Raja yang mencuri di dusun kami?"

Mendengar pertanyaan Bencai Kurus yang ramah itu, segera raja mengumpulkan rakyatnya, lalu bertanya, "Hai rakyatku negeri Hulu Sungai, adakah di antara kamu yang suka mencuri di dusun Hilir Sungai atau di mana saja? Kalau ada mengakulah. Aku tidak mengapa-apakan kamu. Kita kembalikan saja barang itu biar berapa saja banyaknya dan apa saja barangnya."

Tidak ada seorang pun yang menjawab. Raja berkata lagi. "Kalau memang kamu tidak seorang pun yang mencuri, maka sekarang siap-siaplah kita akan berperang mempertahankan kehormatan dan nama negeri kita yang telah dituduh orang sebagai pencuri."

"Siap, Tuanku," seru rakyat negeri Hulu Sungai.

Perang Dua Kerajaan

Dalam sekejap saja rakyat dan hulubalang negeri Hulu Sungai sudah siap dengan senjata di tangan masing-masing. Ada yang membawa parang, ada yang menyandang tombak, ada yang menyiapkan panah, dan juga ada di antara mereka itu anak-anak dan perempuan.

Lalu bertolaklah rombongan itu menuju tempat medan laga, di mana pasukan Raja Hilir Sungai sudah menunggu. Ketika kedua pasukan itu bertemu, pertempuran tidak terelakkan lagi. Bencai Kurns sudah mendahului menyerang. Lalu diikuti oleh yang lain. Ramailah pertempuran itu. Debu mengepul ke udara, bunyi pekik dan tempik mengguntur, laksana halilintar di siang hari. Tetak-menetak, perang-memerang, silih berganti.

Manusia sudah bergelimpangan seperti ayam disembelih, sudah banyak yang mati. Akhirnya raja di Hilir Sungai berseru kepada Raja di Hulu Sungai supaya menghentikan perang. "Hai Raja Hulu Sungai, lebih baik kita berhenti berperang. Rakyat kita sudah banyak yang mati."

Perdamaian

Lalu berdamailah kedua raja itu. Dibuatlah suatu mufakat,agar tidak lagi sating menyerang dan harus saling tolong menolong. Segala sesuatu agar dapat diselesaikan dengan musyawarah dan dengan jalan damai. Segala perselisihan tidak akan selesai kalau dilakukan dengan kekerasan. Kedua raja itu menyadari bahwa mereka seharusnya bertetangga.

Setelah itu diadakanlah hubungan dagang. Lalu lintas di sungai dan di darat diperbaiki. Perahu dan jung, tongkang, berlalu-lalang di sungai membawa barang-barang dari Hulu Sungai ke Hilir Sungai. Demikian sebaliknya. Persahabatan dijatin antara rakyat dengan rakyat. Saling percaya mempercayai. Akhirnya kedua negeri itu aman dan makmur dan tidak terdapat lagi pencurian-pencurian. Telur sebiji di halaman tidak ada yang akan mengambilnya. Mereka tahu bahwa barang yang sekecil itu ada yang empunya.

Bencai Kurus dipanggil supaya menghadap Raja. Raja berkata, "Bencai Kurus, kamulah yang menyebabkan peperangan kemarin. Karena peperangan itu pula telah merusak persahabatan kita dengan Raja dan rakyat negeri di Hulu Sungai. Oleh sebab itu kamu harus diadili. Kalau lebih berat kesalahanmu dari kebaikanmu, kamu akan dihukum. Tetapi kalau lebih berat kebaikanmu, kamu akan mendapat kedudukan."

Bencai Kurus diam saja. Bencai Kurus pulang ke rnmah menceritakan halnya kepada ibunya. Lalu ibunya berkata, "Nah, itulah Nak, aku sudah mengatakan kepada kamu,
jangan mengadu kepada Raja. Biarlah kita miskin bertambah miskin ini. Bagaimana kalau kau dihukum pancung oleh Raja. Ke mana ibumu ini akan bergantung. Aku ini sudah tua Nak."

"Ibu tenang saja. Bencai Kurus tidak akan dihukum. Cobalah ibu lihat nanti."

Bencai Kurus dipanggil Raja supaya menghadap lagi untuk disidangkan perkaranya. Rakyat sudah mengetahui akan perihalnya dan rakyat membela Bencai Kurus. Kalau tidak Bencai Kurus mengadu kepada raja hal pencurian itu tidaklah diketahui Raja. Kalau Raja tidak tahu, tidakkan terjadi peperangan itu. Kalau tidak terjadi peperangan itu, tidak kan jadi perdamaian. Dan kalau tidak ada perdamaian, rakyat tak jadi makmur seperti sekarang ini. Takkan ada persahabatan dengan orang negeri di Hulu Sungai.

Setelah persidangan dibuka, hakim mempertimbangkan, ternyata Bencai Kurus tidak bersalah, bahkan Bencai Kurus yang agak bodoh dan miskin itu ternyata seorang yang pemberani dan telah berjasa. Akhirnya, Bencai Kurus tidak dihukum, bahkan akan dijadikan pembantu raja.

Bencai Kurus berkata, "Tuan Raja, aku tidak mau jadi pembantu tuan, karena aku tidak mau meninggalkan ibu seorang diri. Aku telah menyiapkan bibit padi. Aku akan berladang."

Kata raja, "Baiklah Bencai Kurus, aku memberi waktu kepada kamu. Kalau kamu sudah panen nanti kamu akan kupanggil lagi kesini dengan ibumu."

Bencai Kurus diam tidak berkata lagi. Lalu ia pulang, bercerita kepada ibunya. Kata ibunya.
"Ai, Bencai Kurus, kau tolol betul. Terima saja tawaran raja itu."

"Sudahlah Bu. Kepalang sudah kukatakan tidak mau."

Berladanglah Bencai Kurus dengan ibunya. Setelah tiga bulan kamudian, Bencai Kurus panen. Padinya banyak sekali. Orang kampung heran melihat Bencai Kurus dan ibunya mempunyai banyak padi. Sedangkan orang kampungnya tidak ada seperti Bencai Kurus. Bertepatan sesudah itu musim kemarau. Tidak ada tanaman yang menjadi. Tanah retak.

Raja mendengar Bencai Kurus berolah padi banyak. Bencai Kurus dipanggil Raja lagi. Ternyata kali ini Bencai Kurus mendapat pujian Raja. Raja mengangkat Bencai Kurus menjadi Raja Muda. Ibunya ikut ke istana, sesuai dengan janji Raja dahulu.

Setahun kemudian Bencai Kurus berada di istana, badannya tidak kurus lagi. Pikirannya tidak seperti dahulu. Bencai Kurus sudah berubah keadaannya, ia sudah menjadi pemuda yang gagah lagi pintar. Rakyat senang kepadanya. Raja Hilir Sungai telah tua dan tidak mempunyai anak. Bencai Kuruslah yang menjadi anaknya.

Pada suatu hari Bencai Kurus menghadap kepada ayah angkatnya lalu berkata, "Bapak Raja, aku ada maksud. Aku bermaksud menikah."

"Oooo, kalau itu yang kau maksudkan, tidak ada salahnya Bencai Kurus. Aku setuju sekali. Sekarang siapa yang kau inginkan?"

"Anu Pak, aku kepingin sekali kawin dengan anak Raja di Hulu Sungai."

"Apa tidak takut engkau dengan Raja di Hulu Sungai itu, yang pemah berperang dengan kita dahulu?"

"Tidak pak. Aku dahulu waktu datang ke istana aku melihat putri Raja Hulu Sungai cantik sekali Pak. Tapi waktu itu aku malu menegurnya Pak."

"Nah kalau begitu, kirimkanlah utusan melamar putri Raja itu."

Bencai Kurus Meminang Putri

Empat orang dan lima dengan Bencai Kurus, berangkat ke Hulu Sungai. Sampai di negeri Hulu Sungai, langsung empat orang itu menghadap Raja Hulu Sungai. Bencai Kurus menunggu di tepian.
Sebelum utusan itu berkata, Raja sudah mendahului, "Mau apa kamu. Apa mau mengajak berperang pula."

Jawab utusan itu : "Tidak tuan. Kami ini diutus Bencai Kurus ..... "

"Apa. Bencai Kurus. Bencai berarti kera. Masa kera seekor binatang lagi kurus pula mengutus kamu."

Sementara itu di tepian Raja, Bencai Kurus sedang menunggu. Saat itu Putri raja sedang turun ke air. Ia melihat ada perahu yang sedang tertambat, dan melihat seorang pemuda yang gagah sedang mancing.

Putri raja sudah tertarik melihat pemuda yang gagah itu, lalu berkata, "Anak muda, siapa kamu. Dari mana dan apa tujuanmu kemari?"

Bencai Kurus menjawab, ""Ah tidak. Aku ke sini mancing ikan betina. Selalu dapat yang lanang. Anu, ada pesan dari Bencai Kurus, katanya ingin meminang putri raja. Aku pesuruhnya."

"Ah, tidak mungkin putri raja mau dengn Bencai Kurus. Tetapi cobalah saya menyampaikannya, kalau putri raja mau. Siapa tahu jodoh bukan?" Putri raja pura-pura. la tidak memperkenalkan diri. Tetapi Bencai Kurus sudah tahu bahwa ia adalah putri raja.

Kata Bencai Kurus,"Kalau putri raja tidak mau, bagaimana adik saja."

"Aku juga tidak mau."

"Sudahlah kalau begitu, bagaimana kita saja." kata Bencai Kurus.

Putri jadi tersenyum kemalu-maluan. Akhirnya dibukalah rahasia Bencai Kurus. Putri raja juga demikian. Lalu mereka berdua bersepakat menghadap raja. 

Sebelum itu utusan Bencai Kurus melapor kepadanya, "Tuan Bencai Kurus, raja ingin bertemu dengan tuanku. Baginda di sini tidak percaya. Disangkanya Bencai itu kera. Baik sekarang juga tuan menghadap.

Para utusan melihat sang putri, lalu bertanya, "itu siapa, Tuan?"

"Ah, ini calon ayuk kamu, inang pengasuh."

"Lha, kata tuan ingin melamar putri raja. Mengapa inangnya yang jadi sasaran."

Pergilah Bencai Kurns menghadap raja. Juga putri raja ikut naik ke darat. Sampai di istana Bencai Kurus menyembah. "Sayalah Bencai Kurus, Bapak Raja."

Raja tercengang melihat Bencai Kurus. Dia tidak mengira kalau Bencai Kurus itu seorang pemuda gagah. Lalu diterangkanlah keadaan dan maksudnya. Putri raja hanya tersenyum-senyum saja.

"Kalau begitu, "kata Raja," aku setuju sekali. Siapkanlah kerja di Hilir. Kami akan segera ke sana membawa bahan-bahan yang diperlukan.

Akhir cerita Bencai Kurus kawin dengan Putri Raja di Hulu Sungai. Karena Bapak angkat Bencai Kurus yaitu raja di Hilir Sungai sudah tua, juga mertuanya Raja Hulu Sungai demikian pula tidak mempunyai anak lagi, maka Bencai Kurns diangkat menjadi raja kedua negeri itu. Negeri Hulu Sungai dan negeri Hilir Sungai disatukan. Jalan raya dibuat untuk menghubungkan kedua negeri itu. Rakyat bersatu di bawah pemerintahan Bencai Kurus anak miskin lagi bodoh itu.

Bencai Kurus bertukar nama menjadi "Raja Alam" berkedudukan di Hilir Sungai, tepatnya di muara sungai, yang kini menjadi Muara Ngalam, tempat orang memancing ikan.

Emong Soewandi
Emong Soewandi Blogger sejak 2014, dengan minat pada sejarah, sastra dan teater

Post a Comment for "CERITA RAKYAT SERAWAI: BENCAI KURUS"