Skip to content Skip to sidebar Skip to footer

DRAMA: PINANGAN (ANTON CHEKOV)

Pinangan

Drama Komedi Satu Babak

Karya Anton Chekov
Saduran Suyatna Anirun
Sadur-Ulang Emong Soewandi



Disma masuk membawa 4 butir durian

Disma:
Assalamu'alaikum

Jarnilin :
(Dari dalam) Waalaikumsalam

Jarnilin masuk

Jarnilin:  
(Riang) Waah, siapa yang datang ini!
Disma rupanya... Disma Haryansyah.
Aduh, aduh, aduh ... Sungguh diluar dugaanku.
Apa kabar?

Jarnilin dan Disma mereka bersalaman

Disma :
Baik, Wak. Terima kasih.
Bagaimana dengan Uwak?

Jarnilin :
Baik, baik. Terima kasih atas doamu.

Disma mengasurkan durian kepada Jarnilin.

Jarnilin:
Apa ini?

Disma:
Buat Uwak

Jarnilin:
Wah, terima kasih. Makan duren kita

Jarnilin keluar membawa durian. Masuk kembali dan membentang tikar pandan

Jarnilin :
Duduklah.

Jarnilin dan Disma duduk

Jarnilin :
Eeeh... Orang tuamu baik? Masih sering beli-beli kopi di dusun-dusun ‘kan? Uwak sudah lama tidak bisnis kopi, agak sepi sekarang, Uwak bertanam sengon sekarang, coba-coba ikut program Bapak Bupati.
Ai, angin apa yang membuatmu ke sini?
Ya...ya... ya... memang tidak baik melupakan tetangga itu, Disma. Uwak senang kau datang.
Ngomong-ngomong, batu cincinmu bagus. Delima limau manis. Beli di mana? Atau cari sendiri?
Dengar-dengar kau mau mencalonkan diri jadi DPR, ya? 

Disma:
Masih harus menunggu ijazah Paket C dulu, Wak. 

Jarnilin:
Ooh, iya... Iya.... 
Tapiiiii... kenapa kau pakai pakaian macam ini? Jas, sapu tangan, sepatu mengkilat. Kau hendak pergi kemana?

Disma :
Oh, tidak aku hanya akan mengunjungi Uwak Jarnilin Fadlan yang baik.

Jarnilin :
Yaaak... mengapa pakai jas segala, seperti lebaran saja.

Disma :
Begini soalnya. Aku mengunjungi Uwak Jarnilin Fadlan yang baik, karena ada satu permintaan.

Jarnilin :
Apa itu? Apa kira-kira yang Wak bisa bantu?

Disma :
Sudah lebih satu kali aku merasa sangat beruntung telah mendapatkan pertolongan dari Uwak yang selalu boleh dikatakan ..., tapi... aku, aku begitu gugup.
Bolehkah aku minta segelas air, Uwak Jarnilin?

Jarnilin :
Kopi?

Disma :
Air putih biasa saja, Wak.

Jarnilin : Benar?

Disma :
Iya, Wak.

Jarnilin :
Tunggu ya.
(Mengambil minuman). Sudah tentu dia akan pinjam uang, tapi saya tidak akan memberinya.

Keluar panggung. Masuk kembali membawa teko plastik dengan tatakan berisi beberapa gelas.

Jarnilin:
(Kepada Disma sambil menuangkan air ke gelas) apa soalnya, Disma?

Disma :
(Minum) Aaak.
Terima kasih, Uwak Jarnilin ... Maaf ... Uwak Jarnilin Fadlan yang baik, aku begitu gugup. Pendeknya, tak seorang pun yang bisa menolong saya, kecuali uwak. Meskipun aku tidak patut untuk menerimanya, dan aku tidak berhak mendapatkan pertolongan dari uwak.

Jarnilin :
Aiih, Disma, jangan bertele-tele, yang tepat saja, ada apa?

Disma :
Iya, Wak. Segera ... Segera, Wak.
Soalnya.. soalnya.. aku datang.... aku datang.... untuk melamar ..... aku datang untuk melamar putri Uwak.

Jarnilin :
Aaah ituuuu... Minumlah dulu... Minumlah...
(Terdiam)
Apa? Apa, Disma? Melamar?
Disma! Disma Haryansyah, ucapkanlah itu sekali lagi, uwak hampir tidak percaya

Disma :
Saya merasa terhormat untuk meminang ... ...

Jarnilin :
Anakku sayang, aku sangat gembira.
(Memeluk Disma) Uwak sudah mengharapkannya begitu lama sekali. Memang itulah keinginanku.
Aku selalu mencintaimu, Disma. Seperti kau ini, anakku sendiri.
Semoga Tuhan memberkati cinta kalian; cinta, kasih yang baik.
Aku selalu mengharapkan ... (Terdiam)
Mengapa aku berdiri di sini seperti tiang? Aku membeku karena girang, begitu bahagia seratus persen seluruh hatiku.
Biar aku panggil saja dulu Siluna.
Tunggu ya, Disma.

Disma :
Uwak Jarnilin Fadlan yang baik, bagaimana Wak, apakah lamaran saya ini diterima?

Jarnilin :
Bagi seorang yang ganteng seperti kau, dia pasti akan menerima lamaranmu. Aku yakin sekali, ia sudah rindu seperti kucing yang ribut tengah malam minta kawin.
Sebentar ... (keluar)

Disma :
Aku kedinginan, aku gemetar seperti hendak menempuh ujian penghabisan, tapi sebaiknya memutuskan sesuatu sekarang juga.
Kalau orang berpikir terlalu lama, aku ragu untuk membicarakannya. Menunggu kekasih yang cinta sehidup-semati akhirnya dia tak kawin-kawin
Brrr ... Aku kedinginan.
Siluna binti Jarnilin bin Fadlan bin Kholil gadis yang baik. Pandai memimpin rumah tangga, tidak jelek, terpelajar, tamatan SMK jurusan tata boga ... Apalagi yang aku inginkan?

Tapi.... aku sudah begitu pening. Aku gugup. (Minum)

Oooh, aku harus kawin.

Pertama, aku sudah berumur tiga puluh tahun. Boleh dikatakan umur yang kritis juga. Aku butuh hidup yang teratur dan tidak tegang. Karena aku punya penyakit jantung. Selalu berdebar-debar, aku selalu terburu-buru. Bibirku gemetar dan mataku yang kanan selalu berkerinyut-kerinyut. Kalau aku baru saja naik ranjang dan mulai terbaring ... Oh ... Pinggang kiriku sakit, aku bangun, meloncat seperti orang kalap. Aku berjalan sendiri dan pergi tidur lagi. Tapi kalau aku hampir mengantuk, datang lagi penyakit itu. Dan ini berulang sampai dua puluh kali.

Siluna masuk

Siluna :
Oooh Kak Disma.
Mengapa Bak mengatakan ada pembeli mau mengambil barangnya?
Apa kabar Kak Disma Haryansyah?

Disma :
Apa kabar Siluna Jarnilin yang baik?

Siluna :
Maafkan bajuku buruk weeeh. Aku sedang membuat tempoyak di dapur.
Mengapa sudah lama tak datang?
Duduklah.
Sudah makan?
Mau rokok? Ini koreknya.
Hari ini terang sekali sehingga petani-petani tak bisa bekerja.
Sudah berapa jauh hasil panenmu?
Sayang, saya terlalu serakah memotong tanaman. Sekarang aku menyesal karena aku takut busuk nantinya. Dan aku seharusnya menunggu.
(Memandang sebentar) eee ... Apa ini? Begini nih baru ... Mau pergi ke mana, Kak Disma? Huu ... Kau kelihatan cakep sekarang. Ada apa?

Disma :
(Gugup) Begini Siluna Jarnilin yang baik. Sebabnya ialah aku sudah memastikan bahwa ayahmu ingin agar kau mendengarkan langsung dari aku. Tentunya kau tak mengharapkan hal ini. Dan mungkin kau akan marah. Tapi, oh ... Betapa dinginnya. (minum)

Siluna :
Ada apa?

Disma :
Baik. Akan kusingkat saja. Siluna Jarnilin yang manis, bahwa sejak kecil aku mengenal kau dan keluargamu, almarhum bibiku dari suaminya, dari mana aku, seperti kau ketahui, diwarisi tanah dan rumah, selalu menaruh hormat dan menjunjung tinggi ayah dan ibumu. Dan keluarga Johansyah, ayahku, dan keluarga Jarnilin, ayahmu, selalu rukun dan boleh dikatakan sangat intim. Terlebih-lebih lagi seperti kau ketahui, tanahku berdampingan dengan tanahmu, barangkali kau masih ingat Talang Pungguk Gading yang dibatasi oleh pohon-pohon ...

Siluna :
Maaf, Kak Disma.....
Kau katakan Talang Pungguk Gading itu milikmu?

Disma :
Ya, itu milikku.

Siluna :
Jangan keliru. Talang Pungguk Gading adalah milik kami. Bukan milikmu.

Disma :
Tidak. Itu adalah milikku, Siluna Jarnilin yang manis.

Siluna :
Aneh.... Aku baru mendengar sekarang, betapa mungkin talang itu tiba-tiba menjadi milikmu

Disma :
Tiba-tiba jadi milikku? Ah, Siluna... Aku sedang berbicara tentang Talang Pungguk Gading yang terbentang antara Limbur Lama dan Keban Agung.

Siluna :
Aku tahu, tapi itu adalah milik kami.

Disma :
Tidak, Siluna Jarnilin yang terhormat. Kau keliru. Itu adalah milik kami

Siluna :
Pikirlah apa yang kau ucapkan, Disma Haryansyah ... Sejak berapa lama tanah itu menjadi milikmu?

Disma :
Apa yang kaumaksud dengan “beberapa lama“? Selamanya aku punya ingatan, tanah itu adalah milik kami.

Siluna :
Mana bisa?

Disma :
Aku mempunyai bukti-bukti tertulis, Siluna Jarnilin Fadlan. Talang Pungguk Gading dulu memang milik yang dipersoalkan. Tapi sekarang setiap orang tahu, bahwa tanah itu milikku dan hal itu sekarang sudah tidak menjadi persoalan lagi. Pikirkanlah baik-baik. Nenek-bibiku mengijinkan tanah itu dipakai oleh petani-petani kakek-ayahmu tanpa uang sewa selama lebih dari dua ribu tahun. Dan sudah menjadi kebiasaan mereka untuk menganggap tanah itu menjadi milik mereka. Tapi sesudah perjanjian itu habis, yaitu Kepahiang menjadi Kabupaten...

Siluna :
Semua ucapanmu sama sekali tidak benar. Ayah kakekku dan kakkekku, keduanya menganggap bahwa tanah mereka memanjang sampai Keban Agung. Jadi Talang Pungguk Gading adalah milik kami.
Ooo ... Aku tidak mengerti apa yang menjadi persoalan. Ini merusak suasana Kak Disma Haryansyah.

Disma :
Akan kutunjukkan dokumen-dokumennya Siluna Jarnilin

Siluna :
Kau akan melucu atau akan menggoda saya? Itu tidak lucu sama sekali. Kami memiliki tanah itu hampir tiga abad, dan tiba-tiba kudengar tanah itu bukan milikku. Maaf, Disma Haryansyah Johansyah. Saya terpaksa tidak mempercayai ucapan-ucapanmu itu. Saya tidak tergila-gila pada tanah lapangan itu. Besarnya tidak lebih dari empat puluh bidang dan harganya paling tinggi tiga puluh lima juta. Tetapi saya terpaksa memprotes karena ketidak adilan.
(Disma beraksi ingin bicara)
Kau boleh mengatakan apa yang kau sukai. Tapi saya tidak dapat membiarkan ketidakadilan.

Disma :
Saya mohon agar kau suka mendengarkan aku. Petani-petani kakek-ayahmu seperti kukatakan tadi membuat batu bata untuk nenek-bibiku. Dan karena nenek-bibiku ingin membalas kebaikan ini ...

Siluna :
Kakek-nenek-bibi, aku tak mengerti semua itu.
(Dalam bahasa Rejang) alangkah susah berbicara dengan orang yang tampak pintar tapi mau memang sendiri. Bodoh sekali kau.
Talang Pungguk Gading adalah milik kami ! Itulah !

Disma :
Milikku ... ! ..., milikku ... !

Siluna :
Milik kami ... !
Biarpun kau akan bertengkar selama dua hari dan memakai lima belas jas, Talang Pungguk Gading itu tetap milik kami.
Aku tidak menghendaki kepunyaanmu. Tetap aku tidak menghendaki kehilangan kepunyaanku.
Sekarang kau boleh katakan apa kau suka!

Disma :
Aku juga tidak tergila-gila pada talang itu, Siluna Jarnilin. Kalau kau mau akan kuberikan tanah itu padamu sebagai hadiah

Siluna :
Whaat? Memberikan talang itu kepadaku.
Aku yang bisa memberikan tanah itu kepadamu sebagai hadiah. Karena itu adalah milikku.
Semua ini merusak suasana, Disma Haryansyah.
Percayalah. Sampai sekarang aku masih memandangmu sebagai sahabat yang baik.
Tahun yang lalu kami memang meminjam mesin penggiling padi hingga bulan November dan sekarang kau berani menganggap kami sebagai kaum melarat. Menghadiahi aku dengan tanahku sendiri.
Heloooow....
Maafkan saya, Disma Haryansyah.
Ini bukan sikap tetangga yang baik. Terlebih-lebih lagi ini dengan pasti kuanggap sebagai suatu penghinaan.

Disma :
Kalau begitu menurut anggapanmu aku ini lintah darat?

Siluna :
Mungkin saja...

Disma :
Oh, aku belum pernah merampas tanah orang lain, Nona. Dan aku tidak bisa membiarkan siapapun juga menghina aku dengan cara yang demikian!
(Minum)
Talang Pungguk Gading adalah milik kami.

Siluna :
Bohong! Akan kubuktikan.!
Hari ini akan kusuruh bujang-bujang kami menebas rumput di talang itu.

Disma :
Akan kulempar mereka semua keluar!

Siluna :
Awas kalau kau berani!

Disma :
(Memegang jantungnya) Talang Pungguk Gading adalah milikku.

Siluna :
Jangan kau menjerit! Kau boleh berteriak-teriak sampai kehilangan nafas di rumahmu sendiri. Tapi disini kuminta jangan ... Kuminta supaya kau mengerti adat.

Disma :
Kalau aku tidak sakit napas, nona. Kalau kepalaku tidak berdenyut-denyut, aku tidak akan berteriak-teriak seperti ini.
(Berteriak) Talang Pungguk Gading milikku!

Siluna :
Punya kami!

Disma :
Punyaku!

Siluna :
Kami!

Disma :
Punyaku!

Jarnilin Fadlan masuk

Jarnilin :
Ada apa dengan kalian? Mengapa berteriak-teriak?

Siluna :
Bak, coba terangkan pada orang ini. Siapa yang memiliki Talang Pungguk Gading. Dia atau kita?

Jarnilin :
Disma, Talang Pungguk Gading adalah milik kami.

Disma :
Masya Allah, Waaaak ! Bagaimana bisa menjadi milikmu?
Cobalah sedikit adil.
Nenek-bibi meminjamkan Talang Pungguk Gading tersebut kepada petani-petani kakekmu. Petani-petani itu telah memakainya selama lebih dari 40 tahun. Dan mereka menganggap bahwa tanah itu telah menjadi milik mereka. Tapi ketika perjanjian selesai, maka tanah itu adalah milik kami.

Jarnilin :
Sudah?
Maaf, Disma. Kau lupa bahwa petani-petani itu tidak membayar uang sewa kepada nenekmu dan tidak ada juga perjanjian untuk mengembalikan. Karena karena pemakaian yang sudah lebih dari 20 tahun, maka tanah itu otomatis menjadi pemilik penggarap. Dan sekarang setiap anjing pun tahu jika kami yang memilikinya. Mungkin kau belum memiliki petanya, Disma.

Disma :
Akan aku buktikan bahwa akulah pemiliknya!

Jarnilin :
Akan tidak bisa, Disma

Disma :
Tentu saja bisa! (Tegas berteriak ngotot)

Jarnilin :
Wai... kurang ajar kau yoo....!
Mengapa kau berteriak-teriak, Disma? Kau tidak usah membuktikan apa-apa dengan menjerit-jerit.
Uwak tidak menginginkan kepunyakanmu. Dan uwak pun tidak akan menyerahkan kepunyakan uwak. Untuk apa?
Kalau kau, Disma ... Kalau kau sudah berani mencoba untuk bertengkar tentang lapangan itu lebih baik aku berikan lapangan itu kepada petani-petani, dari pada kepada orang seperti kamu.

Disma :
Itu kurang aku mengerti. Atas hak apa Uwak menghadiakan hak orang lain?

Jarnilin :
Aku bebas memutuskan apakah aku berhak atau tidak? Aku bisa mengucapkan namamu Tokeh Muda! Tetapi aku tidak bisa bicara dengan cara seperti ini.
Umurku sudah dua kali umurmu, Tokeh Muda. Dan kuminta supaya kau bicara tanpa berteriak-teriak

Disma :
Apa? Uwak menganggap aku ini tolol dan mentertawakan aku?
Kata uwak ... Tanahku adalah tanah uwak? Huh ... Itu bukan sikap tetangga yang baik. Dan Uwak masih mengharapkan aku diam saja? Aku harus bicara secara patut terhadap Uwak?
(Kesal) Itu bukan sikap tetangga yang baik, Jarnilin Fadlan.
Kau bukan tetangga yang baik.
Kau lintah darat!

Jarnilin :
Apa katamu, Disma? Lintah darat?
Kurang ajar, kau ya!

Siluna :
Jaga mulutmu. Tidak tahu sopan santun.
(dalam bahasa Rejang) ngaku terpelajar, merasa orang kaya, tapi dengan orang tua kasar.
Bak, suruhlah bujang-bujang itu menebas rumput di talang itu segera.

Disma :
Apa katamu, Nona?

Siluna :
Menebas talang itu! Kenapa?

Disma : Persoalan ini akan berlarut-larut nantinya. Akan kubuktikan di depan pengadilan bahwa akulah pemiliknya.

Jarnilin :
Di depan pengadilan boleh saja, Toke Muda. Boleh saja. Kami memang telah lama menunggu-nunggu kemungkinan untuk membawa persoalan ini ke pengadilan adat, yang menggunakan undang-undang pengadilan secara licik!
Memang semua keluargamu suka bertindak licik!... Semuanya ... !

Disma :
Uwak jangan menghina keluargaku!
Semua keluarga Johansyah selalu orang yang dapat dipercaya, dan tidak seorangpun yang muncul di pengadilan karena melarikan uang, seperti pamanmu. (kepada Siluna)

Jarnilin :
Semua keturunan Johansyah keturunan gila !

Siluna :
Ya. Semuanya, semuanya!

Jarnilin :
Kakekmu seorang pengadu ayam, bibimu yang termuda melarikan diri dengan mandor PU.

Disma :
Dan bibimu seorang yang bongkok.
(Memegang jantungnya) aduh pinggangku ... Sakit, darahku naik ke kepala ... Demi Allah ... Air ...

Jarnilin :
Dan ayahmu seorang yang mata keranjang!

Siluna :
Dan tak ada lagi selain bibimu yang sumbing itu mulutnya latah dan judes.

Disma :
Oooohh ... Kakiku sudah lumpuh! Kalian orang-orang berkomplot! Tukang komplot!
Oh ... Mataku berkunang-kunang.
Manaaa ... Jaketku?
(Mengambil jaket)
Mana pintunya?

Jarnilin :
Itu (Menunjuk keluar)

Disma :
Aku mau pulang!

Siluna :
Jahat! Licik! Memualkan!

Jarnilin :
Dan kau sendiri adalah orang yang berpenyakitan. Berkepala dua, penyebar malapetaka, itulah kau!
Selangkahpun kamu jangan lagi memasuki rumah ini!

Siluna :
Bawa saja ke pengadilan, kita lihat nanti.

Disma keluar meraba pintu

Jarnilin :
Persetan dia ... (mondar-mandir dengan marah dan geram)

Disma muncul lagi.

Jarnilin:
Mau apa lagi?

Disma:
Duren. Duren aku tadi!

Jarnilin keluar, lalu masuk lagi membawa dua buah durian

Jarnilin:
Nih, bawa pulang sana. Tidak pula kami selera dengan durianmu ini. 
Bawa sana!

Disma mengambil durian dari tangan Jarnilin

Disma:
(Menggerutu keluar panggung) Hu! Padahal tadi yang aku kasih 'kan empat buah.
Dasar!

Disma keluar.

Siluna :
Orang sial, bagaimana kita bisa percaya lagi kebaikan-kebaikan tetangga sesudah ini? Penjahat! Orang tolol! Berani-beraninya mengaku tanah orang dan menghina pemiliknya. Sialan!

Jarnilin :
Dan si konyol itu ... Si jelek itu ... Berani melamarmu.
Pikirlah ... Melamar.

Siluna : Baaaak...?
Apa, Bak?

Jarnilin :
Dia datang ke sini untuk melamarmu.

Siluna :
Melamar, Bak?
Melamar saya?
Laaaaah, Mengapa Bak tidak memberitahu terlebih dahulu?

Jarnilin :
Karena itu dia berpakaian necis. Untuk menarik perhatianku! Cak kepadek nian! Si bulus!

Siluna :
Melamar aku? Melamar?
(Jatuh ke lantai)
Bawa dia kembali. Oooh, bawa dia kembali lagi.

Jarnilin :
Aduh, bawa dia kembali?

Siluna :
Lekas ... Lekas ... Aku mau pingsan, bawa dia kembali, Bak. bawa dia kembali
(Menangis)

Jarnilin :
Aduh. Segera, jangan menangis.
Apa yang akan kita lakukan?
Baiklah!
(Lari keluar)

Siluna :
Oh, Tuhan, bawa dia kembali, bawa dia kembali

Jarnilin :
(Masuk lagi) dia akan segera datang, katanya.

Oh ... Alangkah sulitnya menjadi ayah seorang gadis yang sudah besar dan sudah kepingin kawin. Akan kupotong leherku, kami hina orang itu, mempermainkannya, mengusir dia, karena salahmu ... Karena kau.

Siluna :
Tidak. Bak yang salah!

Jarnilin :
Ha? Salahku? Begitukah?

Disma masuk

Jarnilin :
Nah, bicaralah sendiri dengan dia!
(Jarnilin keluar)

Disma :
(Masih terengah-engah) hatiku berdebar-debar, kakiku lumpuh, pinggangku sakit seperti ditusuk-tusuk jarum.

Siluna :
Kami minta maaf, Kak Disma.
(Dengan manisnya) Kami terlalu terburu-buru, Kak Disma Haryansyah Johansyah, sekarang aku ingat Talang Pungguk Gading adalah milikmu. Sungguh-sungguh ...

Disma :
Oh ... Hatiku berdebar-debar hebat.
Ya, Talang Pungguk Gading adalah milikku.
Aaaaah. Kedua mataku berdenyut-denyut.

Siluna : Ya ... Milikmu, betul milikmu. Duduklah.
(Mereka duduk)
Kami tadi salah.

Disma : 
Aku bertindak menurut prinsip. Aku tidak menghargai tanah lapangan itu. Yang aku hargai adalah prinsipnya.

Siluna : 
Betul, prinsipnya. Mari kita bicarakan soal lain saja.

Disma : 
Terutama aku mempunyai bukti-buktinya, Siluna Jarnilin. Nenek-bibiku memberikan ijin kepada petani-petani ayahmu. Nenek-bibi meminjamkan Talang Pungguk Gading tersebut kepada petani-petani kakekmu. Petani-petani itu telah memakainya selama lebih dari 40 tahun. Dan mereka menganggap....

Siluna : 
Cukup, cukup tentang hal itu.
(Ke samping) Saya tidak tahu bagaimana memulainya.

Sunyi

Siluna : 
Apakah kita berburu burung-burung puyuh, pada suatu hari?

Disma : 
(Mulai hidup) berburu puyuh? Eeee... Aku berharap berburu ayam liar setelah panen selesai, Siluna Jarnilin yang baik.
Tapi sudahkah kau mendengar betapa jeleknya nasib Si Belang, anjingku, kau kenal dia?
Kakinya lumpuh

Siluna : 
Kasihan, bagaimana terjadinya?

Disma : 
Entahlah, mungkin otot kakinya terkilir. Tapi, anjingku adalah yang terbaik. Lagi pula belum kusebutkan berapa harga yang harus kubayar untuk dia. Tahukah kau bahwa aku membayar kepada Haji Soleh sebanyak empat juta rupiah untuk Si Belang?

Siluna : 
Terlalu mahal, Kak Disma.

Disma : 
Kukira jumlah yang murah sekali, Siluna. Ia anjing yang lucu dan cerdas.

Siluna : 
Bak hanya membayar satu juta rupiah untuk Si Kliwon, dan Si Kliwon jauh lebih cerdik daripada Si Belang.

Disma : 
Si Kliwon lebih cerdik dari Si Belang?
(Tertawa) Mana bisa Si Kliwon lebih cerdik dari Si Belang?

Siluna : 
Ya, tentu saja. Si Kliwon masih muda sebetulnya ... Tetapi kalau dilihat sifat-sifatnya dan cerdiknya, Pak Johansyah tidak mempunyai satu ekor pun yang menyamai dan yang bisa mengalahkannya

Disma : 
Maaf, Siluna Jarnilin. Tapi kau lupa bahwa Si Kliwon berkumis pendek. Dan, oooh, anjing yang berkumis pendek itu kurang pandai menggigit.

Siluna : 
(Mulai marah) Kumis pendek! Huh, baru sekali ini aku mendengar tentang hal itu.

Disma : 
Aku tahu, kumisnya yang atas lebih pendek daripada kumis bawahnya.

Siluna : 
Sudah kau ukur?

Disma : 
Oh ya, anjingmu itu tentu cukup baik untuk mencium bau binatang kalau sedang berburu, tapi dia tidak pandai menggigit.

Siluna : 
Tetapi pada anjing peliharaanmu itu keturunannya tidak dapat dilihat dan lagi ia sudah tua dan jelek seperti kuda yang hampir mati.

Disma : 
Oh. Ia sudah tua, memang. Tapi aku tidak mau menukarnya dengan sepuluh ekor anjing seperti Si Kliwon. Dan Si Kliwon itu tidak perlu ditanya lagi, setiap pemburu mempunyai berpuluh-puluh anjing, seperti Si Kliwon itu. Dan satu juta rupiah harga yang cukup tinggi untuk dia.

Siluna : 
Tampaknya hari ini ada setan yang berbantahan dalam dirimu, Disma Haryansyah. Pertama, kau tadi mengakui bahwa Talang Pungguk Gading adalah milikmu. Lalu sekarang kau mengatakan Si Belang anjingmu lebih cerdik dari Si Kliwon. Aku tidak suka pada lelaki yang mengatakan sesuatu yang bertentangan dengan pemikiranku. Kau pasti tahu bahwa anjing kami seratus kali lebih bagus dan berharga daripada anjingmu yang bodoh, lalu mengapa kau mengatakan yang sebaliknya?

Disma : 
Sekarang sudah jelas, Siluna Jarnilin. Bahwa kau buta dan tolol. Insyaflah kau, bahwa anjingmu berkumis pendek.

Siluna : 
Bohong!

Disma : 
Betul!

Siluna : 
Bohoooooong!

Disma : 
Mengapa menjerit-jerit? Mengapa kau berteriak-teriak?

Siluna : 
Mengapa kau berbicara omong-kosong? Ingin membuat aku marah. Sudah masanya bahwa Si Belang harus ditembak mati. Tapi coba kau bandingkan dengan Si Kliwon.

Disma : 
(Sakit lagi) Maaf aku tidak bisa meneruskan soal ini. Hatiku berdebar-debar.

Siluna : 
Aku sudah berpengalaman bahwa laki-laki yang biasanya ngomong besar tentang perburuan biasanya tidak mengetahui tentang soal itu.

Disma : 
Nona, kuminta agar kau jangan bicara. Kepalaku akan pecah. Diamlah!

Siluna : 
Aku akan diam sebelum kau mengakui bahwa Si Kliwon seratus kali lebih baik dari Si Belang.

Disma : 
Seribu kali lebih jelek ! Persetan dengan Si Kliwon.
Oh, kepalaku. Oh, mataku. Pundakku...

Siluna : 
Belangmu yang bodoh tidak memerlukan ucapan persetan, ia boleh dianggap mati saja.

Disma : 
Diam! Hatiku mau pecah! Oh.

Jarnilin masuk.

Jarnilin : 
Ada apa lagi sekarang?

Siluna : 
Bak, katakan dengan sungguh-sungguh, dengan pikiran sehat bak, anjing mana yang lebih baik, Si Kliwon atau Si Belang?

Disma : 
Uwak Jarnilin, saya hanya meminta jawaban atas pertanyaanku, apakah Si Kliwon berkumis pendek atau tidak? Iya atau tidak?

Jarnilin : 
Mengapa kalau ya? Mengapa kalau tidak? Itu kan tidak berarti apa-apa? Tidak ada lagi anjing yang baik di seluruh daerah kita ini

Disma : 
Tetapi anjing Si Belang lebih baik dari Si Kliwon, bukan?

Jarnilin : 
Jangan terburu-buru, Disma.
Duduklah.
Si belang tentunya memiliki sifat-sifat yang baik. Dia anjing yang tahu adat. Kakinya kuat. Cukup gemuk dan seterusnya ... Tapi anjing itu, Disma, kau ingin tahu? Hidungnya berbentuk bola ...

Disma : Maaf, hatiku berdebar-debar.

Mari kita tinjau fakta-faktanya. Kalau uwak insyaf, di rumah Wak Mansyur, anjing Sumito yang katanya dibawanya dari Jawa itu dikalahkan Si Belang, sedangkan anjing Uwak, Si Kliwon, setengah kilo di belakang mereka.

Jarnilin : 
Bohong, Disma. Aku orang yang cepat marah. Dan kuminta kau menghentikan perdebatan ini. Ia dilecut orang, karena setiap hari orang iri melihat anjing orang lain. Misalkan saja kau menemukan bahwa anjing kami lebih pandai dari pada Si Belang. Kau mulai mengatakan ini dan itu dan seterusnya ... Ingat itu, Disma!

Disma : 
Kuingat juga...

Jarnilin : 
(Menirukan) Kuingat juga.... Apa yang kau ingat?

Disma : 
Hatiku berdebar-debar. Kakiku sudah hilang perasaannya. Aku tidak bisa ...

Siluna : (Menirukan) Hatiku berdebar-debar.
Huh ... Itukah seorang pemburu?
Kau seharusnya tinggal di rumah saja daripada berlari-lari di belakang anjing. Kalau kau benar pemburu tak apalah. Tapi kau cuma ikut-ikutan untuk bertengkar dan ikut-ikutan campur tangan anjing orang lain. Kau seharusnya berbaring di ranjangmu. Dan minumlah obat kuat daripada berburu babi.
Huh ... Hatiku berdebar-debar. Huh ...

Jarnilin : 
Ya! Itukah seorang pemburu?
Dengan penyakit jantungmu itu kau seharusnya tinggal di rumah daripada mengas-mengas keluar masuk hutan. Kalau kau betul-betul pemburu, tak apalah, tapi kau cuma ikut-ikutan campur tangan orang lain, bukan?
Aku orangnya cepat marah, Disma. Lebih baik kau hentikan saja perbantahan ini. Kau bukan seorang pemburu!

Disma : 
Dan kau? Apakah kau juga seorang pemburu? Kau ikut hanya untuk korupsi dan menjilati hati pembesar-pembesar.
Ooo ... Hatiku.
Kau ikut orang yang berkomplot!

Jarnilin : 
Apa? Aku orang yang berkomplot?
(Berteriak) tutup mulutmu!

Disma : 
Tukang komplot!

Jarnilin : 
Pengecut! Anak liar!

Disma : 
Tikus tua! Rentenir! Lintah darat!

Jarnilin : 
Tutup mulutmu, atau akan kubunuh kau dengan tombak babi. Goblok!

Disma : 
Setiap orang mengetahui... Oooh hatiku.., bahwa istrimu dulu suka memukuli kau. Oooh. Hatiku.. Bahuku ... Mataku... Aku pasti mati. Oooooh....

Jarnilin : 
Dan kau suka menggoda babu-babu tetanggamu.

Disma : 
Oooh... Hatiku... Pasti hancur, pundakku sudah linu. Mengapa pundakku? Oh... Aku pasti mati...
(Jatuh ke kursi)

Jarnilin : 
Aku pasti lemas susah bernapas, kurang hawa.

Siluna : 
Ia mati ... ! Ia mati ... !

Jarnilin : 
Siapa mati?

Siluna : 
(Meletakkan air di bibir Disma) Minum... Minum, Kak Disma.
Ia tidak mau minum.
Dia matiiiii....!

Jarnilin :
Dia mati? Dia matiii?
Dia benar-benar mati! Ya Tuhaaaan!
Dokter!
Mengapa aku tidak menembak diriku? Beri aku pistol! ... Pisau!

Disma bergerak-gerak

Jarnilin :
Dia hidup.... Dia hidup...
Kasih minum.... Kasih minum

Disma : 
(Berkunang-kunang) Dimana aku?

Sunyi

Jarnilin : 
Sebaiknya kau segera kawin. Aaah, persetan dengan kalian.
Dia menerima lamaranmu dan akan kuberikan anakku kepadamu.

Disma : 
Ah, siapa? (Bangun) Siapa?

Jarnilin : 
Ia menerima kamu dan persetan dengan kalian.

Siluna : Ya, kuterima lamaranmu

Jarnilin : 
Jabatlah tangannya, Nak.

Disma : 
Hah? Apa? Aku gembira. Maaf ada apa sebenarnya? Oh ya, aku mengerti. Hatiku berdebar-debar, kepalaku pusing...
Aku senang Siluna yang manis.

Siluna : Saya ... Saya juga senang Kak Disma Haryansyah

Jarnilin :
Nah, selesailah sudah satu persoalan di dalam kepalaku.

Siluna : 
Tapi harus kau terima sekarang. Si Belang lebih bodoh dari Si Kliwon .

Jarnilin : 
Ya ampun, mulai lagiiiii.....

Disma : 
Dia lebih cerdik, Siluna.

Siluna : 
Ia kurang cerdik!

Disma : 
Ia lebih cerdik.

Siluna : 
Kurang!

Disma :
Lebih!

Siluna : 
Kurang!

Disma : 
Lebih!

Jarnilin : 
Begini.. ya beginiii.... Permulaan hidup bahagia sepasang suami-istri yang akan berbahagia ! Mari kita siapkan pista yang meriah!

SELESAI



Emong Soewandi
Emong Soewandi Blogger sejak 2014, dengan minat pada sejarah, sastra dan teater

Post a Comment for "DRAMA: PINANGAN (ANTON CHEKOV)"