Skip to content Skip to sidebar Skip to footer

DRAMA: SERINDANG BULAN

Ilustrasi. Sumber gambar wallpaperbetter.com

PUTRI SERINDANG BULAN (PRINCESS OF THE MOON)

Karya: Emong Soewandi

ADEGAN I

Musik gitar tunggal irama rejung
Permaisuri :
Para putra mahkota berencana untuk menumpahkan darah dalam istana!

Raja Mawang :
Darah? Siapa?

Permaisuri :
Serindang Bulan!

Diam.

Raja Mawang :
Serindang Bulan....
(Ragu-ragu) Tidak ada darah akan tumpah.

Diam. Permaisuri mencoba bersikap penuh wibawa.

Permaisuri :
Apakah harus darah Serindang Bulan ditumpahkan?


Raja Mawang :
Tidak ada darah akan tumpah.

Permaisuri :
Telah tertutupkah jalan yang lain?

Raja Mawang :
Tidak ada darah akan tumpah.

Permaisuri :
Apakah harus darah yang ditumpahkan untuk menebus kesalahan?

Raja Mawang :
Tidak ada darah yang akan tumpah!

Permaisuri :
Serindang Bulan adalah darah daging.

Raja Mawang :
Tidak ada darah yang akan tumpah!

Permaisuri :
Lalu kita tumpahkan darahnya dengan tangan kita sendiri.

Raja Mawang :
Tidak ada darah yang akan tumpah!

Diam

Permaisuri :
Apakah harus darah Serindang Bulan ditumpahkan?

Raja Mawang :
Tidak ada darah yang akan tumpah!

Permaisuri :
Apakah harus darah Serindang Bulan ditumpahkan?

Raja Mawang :
Tidak ada darah yang akan tumpah!

Permaisuri :
Apakah harus darah Serindang Bulan ditumpahkan?

Raja Mawang :
Tidak ada darah yang akan tumpah! Tidak ada darah yang akan tumpah!

Permaisuri :
Serindang Bulan adalah darah daging!
Serindang Bulan datang untuk pengharapan! Mengapa sekarang harus ditumpahkan darahnya.

Raja Mawang :
Diam! Diam, Permaisuri! Tidak ada darah yang akan tumpah!
Tidak ada darah.

Kelintang dipukul satu kali. Raja Mawang menjadi tercengang sendiri.

Raja Mawang :
Darah akan tumpah?

Permaisuri menentang Raja Mawang secara langsung untuk memperkuat pernyataan-pernyataannya.

Permaisuri :
(berbalik dan menunjuk ke luar panggung) Lima putra mahkota telah berunding untuk menyingkirkan Serindang Bulan dari istana.
Benarkah itu?

Diam. Raja Mawang gelisah dan tidak sabar saat mendengar pernyataan-pernyataan Permaisuri.

Permaisuri :
(Gesturikal) Telah tercoreng aib istana ini berpangkal pada diri Serindang Bulan, maka dia harus disingkirkan.
Benarkah itu?

Diam.

Permaisuri :
(Gesturikal) Demi tegaknya tiang-tiang tahta dan nama kerajaan, maka Serindang Bulan harus disingkirkan.
Benarkah itu?

Sunyi.

Permaisuri mendekati Raja Mawang.

Permaisuri :
(Gesturikal) Masihkah ada alasan lain sehingga harus ditumpahkan darah Serindang Bulan?

Kelintang dipukul satu kali. Raja Mawang bingung, namun mencoba memperkuat dirinya untuk memberikan pernyataan.

Raja Mawang :
Cinta dalam diri Serindang Bulan telah ciptakan api cemburu Renah Sekalawi hingga luka. Telah keruh Sungai Ketahun. Telah retak kelintang penari kejei. Maka Serindang Bulan adalah penawar bisa.

Permaisuri :
Jauh berbeda dengan apa yang diucapkan para pangeran.

Raja Mawang :
(Bimbang) Para pangeran adalah anak-anak muda.

Permaisuri :
Mereka menyebut-nyebut nama Raja Mawang.

Diam

Raja Mawang :
(Mencoba bersikap wibawa) Aku mencoba melihat Renah Sekalawi yang luka. Karena....

Raja Mawang kembali menjadi bingung dan kehilangan kewibawaannya.

Raja Mawang :
Aku tidak tahu.

Raja Mawang bergerak menjauhi Permaisuri. Permaisuri mendekat Raja Mawang beberapa langkah.

Raja Mawang :
Aku tidak tahu.

Permaisuri terus mendekati Raja Mawang. Raja Mawang terus mundur untuk menghindar.

Permaisuri :
(Angkuh) Apa kesalahan Serindang Bulan?

Permaisuri bergerak cepat ke hadapan Raja Mawang dan menentang wajahnya, kemudian berpindah posisi. Raja Mawang mengelak.

Permaisuri :
Katakan sebenarnya kesalahan Serindang Bulan.

Diam

Permaisuri :
Katakan.

Diam.

Permaisuri :
Katakan!

Permaisuri mengejar Raja Mawang memutari panggung.

Raja Mawang :
(Cengeng) Aku tidak tahu! Aku tidak tahu!

Permaisuri :
Katakan!

Raja Mawang :
(Semakin cengeng hampir menangis) Aku tidak tahu! Aku tidak tahu!

Permaisuri :
Katakan!

Raja Mawang :
Aku tidak tahuuu!

Permaisuri :
Aku tidak tahu, aku tidak tahu. Jadi apa yang kau tahu!

Diam

Permaisuri :
Tidak! Ajai, kita telah berikrar, mempertahankan Serindang Bulan dalam pewaris yang sah bagi kejayaan Renah Sekalawi.

Diam

Raja Mawang :
(Penuh rasa takut) Aku terpaksa mengingkarinya!

Permaisuri :
Lalu?

Raja Mawang :
Aku tidak tahu....

Raja Mawang keluar dengan sikap tegap dan wibawa yang dibuat-buat atau berlebihan.

ADEGAN II

Tiga pangeran masuk dengan langkah lebar. Kelompok koor mengikuti masuk, lalu menuju dan berbaris ke sayap depan panggung.
Pangeran I mengejar Raja Mawang.

Pangeran I :
Ajai!

Raja Mawang terus keluar. Pangeran I kembali ke panggung.

Sepi.

Pangeran II dan III berdiri dengan sikap gelisah. Pangeran I berwajah tegang. Permaisuri bergerak untuk keluar.

Pangeran I :
Ibunda!

Permaisuri menghentikan langkahnya.

Pangeran I :
Putuskan sekarang, siapa yang akan menjadi penentu bagi Serindang Bulan!

Permaisuri :
Pangeran! Apa yang telah kau ucapkan!

Pangeran I :
Atau kami yang putuskan!

Permaisuri :
Serindang Bulan saudara sepenanggungan kalian!

Pangeran II :
Pernah! Serindang Bulan hanya pernah jadi penanggungan kami! Tapi dia adalah orang lain dalam istana ini.

Diam

Pangeran II :
Karena dia memang orang lain dalam istana ini, bukan?

Permaisuri :
Mengapa pandangan kalian tiba-tiba berubah terhadap Serindang Bulan?

Pangeran I :
Siapa yang telah meletakkan Serindang Bulan dalam ranji silsilah pewaris kerajaan ini.

Diam

Pangeran I :
Itu tidak kami persoalkan. Tapi siapa yang membuat kami menjadi berubah?

Diam
Pangeran I :
Siapa sebenarnya Serindang Bulan?

Diam

Pangeran I :
Apa maksud Ibunda dan Ajai memungutnya sebagai anak di masa lalu kami sangat tahu sekali. Dan itu kami pahami. Bahkan bukankah selama ini juga kedudukan Serindang Bulan yang sebenarnya pun tidak ditutup-tutupi?

Permaisuri :
(Tergagap) Tapi itu demi terdengar suara seorang putri dalam istana ini, Pangeran!

Pangeran III :
Tapi mengapa istana juga kemudian membiarkan Serindang Bulan hanya bernyanyi untuk Karang Nio?

Diam

Pangeran III :
Ini berarti istana telah melanggar sumpahnya sendiri. Bukankah selama dalam istana ini Serindang Bulan dilarang untuk mencintai seseorang, demi kedamaian dan ketenangan istana ini.

Diam

Pangeran II :
Demi kelak sebagai pemegang utama sabda tiang tahta Renah Sekalawi.

Diam

Pangeran III :
Dan sekarang telah terjadi pelanggaran!

Pangeran II :
Kami tidak terima. Karena tentu itu tidak adil!

Diam

Pangeran I :
Ternyata hanya kebohongan! Kusta yang menimpa Serindang Bulan setiap ada yang melamarnya ternyata adalah dusta.
Sandiwara buruk!

Diam. Permaisuri menunjukkan gerak keterkejutan.

Pangeran I :
Ternyata, antara Serindang Bulan dan Karang Nio telah terjalin suatu hubungan rahasia. Hubungan yang didalangi oleh...

Diam

Pangeran I :
(Menunjuk Permaisuri) Ibunda! Permaisuri yang mulia Raja Mawang!

Permaisuri :
(Penuh rasa sakit hati) Pangeran! Kau sadar apa yang telah kau ucapkan?

Pangeran I :
Cukup! Cukup sudah semua sandiwara dan kebohongan, Ibunda. Kami semua sudah tahu! Dan kami semua menganggapnya tak adil.

Diam

Permaisuri :
Pangeran!

Pangeran II :
Kami tidak akan pernah menerimanya. Serindang Bulan yang telah bulat kita terima dalam silsilah pewaris kerajaan, ternyata kini jadi khianat.

Permaisuri :
Pangeran!

Diam. Kemudian bunyi kelintang dipukul satu-satu.

Pangeran I :
Serindang Bulan sekarang adalah benih peretak tiang-tiang istana Renah Sekalawi. Sementara Karang Nio adalah seorang saudara yang telah melupakan pucuknya dan akarnya.

Diam.

Pangeran I :
Ini adalah aib!

Permaisuri :
Aib?
Aib apa!
(Berlari ke Pangeran I) Aib apa, Pangeran!
(Berlari ke Pengeran II) Aib apa, Pangeran!
(Berlari ke Pangeran III) Aib apa, Pangeran!

Diam.

Permaisuri tersenyum sendiri seperti sedang berkhayal.
Koor senandung rejung dengan nada rendah.

Permaisuri :
Apakah telah menjadi aib, jika cinta yang sewajarnya tumbuh. Apakah itu aib?

Permaisuri kembali berwajah tegang.

Permaisuri :
Apakah itu aib?

Para Pangeran mundur keluar dengan tetap memandang Permaisuri dan bersikap berlepas tangan. Permaisuri mengejar sampai ke tepi panggung.

Permaisuri :
Pangeran! Pangeran! Apakah itu aib!

Sunyi.
Bunyi gitar tunggal dipetik perlahan.

Permaisuri :
Mengapa itu menjadi aib! Mengapa?

Permaisuri beku.
Penari masuk, kemudian menari dalam gerakan erotis. Pembaca puisi masuk. Di sudut lain berdiri Karang Nio.

Koor :
terpujilah keagungan cinta
yang ditebarkan Tuhan lewat firman-Nya

Pembaca Puisi I :
Namun siapakah yang akan menuai
jika ia hinggap begitu tinggi
dan tergantung di bintang
tak ada sayap
buat antarkan ke sana
tak ada angin
buat hempaskan ia ke sini
maka terlukislah dalam angan
cinta ternyata
kelip api dikejauhan di bentang jarak yang panjang
antara kedinginan
yang lamur menatap
namun sangat ingin menggapai

Karang Nio + Koor :
inilah lentera kunyalakan
hanya jadi tegaskan waktu
semakin mempercepat kelam
dalam bayang masa depan di kertas buram
maka
pipit dan kepodang bernyanyilah
tabahkan hausmu
karena nurani yang kemarau
sabarkan dirimu
karena pohon rebah di pertiwi yang luka
kita bersatu
dalam dunia yang bundar
bersegi banyak dan terlalu pintar
bagi satu kebodohan
yang dikhianati keagungan
yang jai sekedar angan dalam tiap puisi
jauh
begitu jauh
untuk kuraih menggapainya

Koor :
oh, cinta yang agung
berikan jalan yang lempang
pada semua kecemburuan mereka
pada semua keinginan mereka

Karang Nio :
berikan cerita
tentang kepodang terbang sepasang
memahat cakrawala jadi ukiran kasmaran
jangan biarkan aku sendiri
menuangnya dalam puisi
berikan dinding pelapiasan yang lain
sebagai benih-benih rindu
dalam kesemestaan yang agung

Koor :
sebagai benih-benih rindu
dalam kesemestaan yang agung

Pembaca-pembaca puisi dan para penari keluar.
Permaisuri bergerak kembali.

Permaisuri :
Mengapa menjadi aib! Mengapa!

Raja Mawang :
(Hanya suara) Aku tak tahu! Itu aib! Itu Aib! Ah, aku tidak tahu.

Lampu padam.

ADEGAN III

Lampu hidup.
Raja berdiri di salah satu sisi panggung dengan sikap gelisah dan bimbang. Remayun menyusul masuk dengan cepat sambil berlari-lari. Tangannya dipegang oleh Serindang Bulan.

Raja Mawang :
Tidak. Tidak. Aku tidak akan pernah menjadi saksi.

Sunyi.

Remayun :
Ajai! Telah yakinkah seisi istana ini dengan hukuman yang harus diberikan pada Serindang Bulan!

Raja Mawang :
Remayun, apa mau kalian.

Remayun :
Serindang Bulan dan aku memang harus ke sini!

Raja Mawang :
Untuk apa!

Serindang Bulan :
Ajai! Kau telah yakin!

Diam

Raja Mawang :
Aku tidak tahu. Aku tidak menyaksikan apa-apa. Aku tidak tahu.

Diam.

Remayun :
Kalau kalian telah yakin dengan apa yang akan diberikan pada Serindang Bulan, aku yakin dia menerimanya. Sebagai tanda kepatuhan anak kepada orang tuanya, sebagai kepatuhan adik kepada kakak-kakaknya.

Diam

Serindang Bulan :
Aku terima.

Diam.

Serindang Bulan :
Aku terima.

Diam
Serindang Bulan :
Alangkah indahnya, bukan, melepas nyawa di pelukan keluarga sendiri?

Diam.
Raja Mawang :
Aku tidak tahu.

Diam.
Serindang Bulan :
Alangkah indahnya, bukan, Remayun, mati di tangan keluarga sendiri karena membela keluarga sendiri. Indah bukan, Remayun?

Raja Mawang :
Cukup, Serindang Bulan! Kau salah melihat keadaan yang sebenarnya. Siapa yang akan mati? Dan siapa yang akan mematikannya itu?

Karang Nio :
Aku!

Raja Mawang :
Karang Nio.....!

Serindang Bulan :
Karang Nio .....!

Karang Nio turun dari ketinggian tempat dia membaca puisi.

Karang Nio :
Aku yang akan mematikannya itu!

Sunyi

Raja Mawang :
Kalian selalu mengikutiku!

Karang Nio :
Karena Ajai tidak pernah mau berterus terang dan menunjukkan sikap!

Raja Mawang :
Terus terang apa? Sikap?

Karang Nio :
Tentang apa yang terjadi.

Raja Mawang :
Terjadi? Apa yang terjadi? Aku tidak tahu apa-apa, karena memang tidak ada yang terjadi, ‘kan!

Diam.

Remayun :
Maaf. Karang Nio.

Remayun mendekati Karang Nio.

Remayun :
Aku telah melihat dua atau tiga kali Ajai berunding dengan para pangeran.

Karang Nio :
Apa yang mereka rundingkan?

Remayun :
Aku tidak begitu yakin, tetapi mereka sepertinya merundingkan untuk menyingkirkan Serindang Bulan dari istana.

Raja Mawang :
Jangan sembarangan bicara kau, Pembantu!

Remayun :
Maaf, aku bukan pembantu, aku inang dan guru Serindang Bulan.

Karang Nio mendekati Raja Mawang.

Karang Nio :
Apakah itu benar, Ajai!

Raja Mawang :
Tidak, aku tidak tahu apa-apa. Aku tidak tahu.
Kalian selalu menggangguku!

Raja Mawang berlari keluar.
Diam.

Karang Nio :
Remayun, jagalah Serindang Bulan! Jangan biarkan salah seorang pangeran pun mendekatinya.

Diam

Karang Nio :
Aku merasakan, bahwa dalam istana Renah Sekalawi ini akan saling mengalirkan darah sesama saudara sendiri.

Remayun :
Mengapa kau tidak membawa Serindang Bulan menyingkir saja dari istana ini?

Karang Nio :
Aku sudah memikirkannya.

Remayun :
Kemana rencanamu?

Karang Nio :
Aku merencanakan untuk pergi menyusuri Air Ketahun. Tapi....

Remayun :
Tapi apa?

Karang Nio :
Bagaimana dengan Permaisuri? Aku selalu mengkuatirkan keberadaan Permaisuri jika dia masih di istana ini.

Remayun :
Permaisuri adalah seorang ratu dan raja yang sebenarnya dari kerajaan Renah Sekalawi ini.

Karang Nio :
Ya, dan dia tidak akan mungkin meninggalkan kerajaan.

Diam

Karang Nio :
Sementara keberadaan dan keselamatannya dalam ancaman.

Sunyi

Karang Nio :
Remayun, bawa dan jagalah Serindang Bulan! Tunggulah sampai saat aku menjemputnya.

Karang Nio keluar, kemudian berhenti sejenak di pinggir panggung. Serindang Bulan bergerak mengejar Karang Nio.

Karang Nio :
Siapkanlah sebuah rakit yang kuat di tepi Air Ketahun.

Karang Nio keluar. Serindang Bulan tertunduk, lalu perlahan menegakkan kepala dengan sikap tegar.

Diam.

Remayun :
Mari, Serindang Bulan.

Remayun berjalan, namun Serindang Bulan masih mematung.

Remayun :
Serindang Bulan?

Diam

Serindang Bulan :
Mengapa aku harus datang ke istana ini, jika ternyata jadi pangkal semua kericuhan ini?

Remayun :
Kau bertanya?

Diam

Remayun :
Apakah kau belum juga mengerti?

Serindang Bulan :
Aku hanya ingin keyakinan saja.

Remayun :
Dan kau telah yakin.

Serindang Bulan :
Tapi mengapa?

Diam

Remayun :
Karena kau Serindang Bulan.

Serindang Bulan :
Karena aku Serindang Bulan.

Remayun :
Ya, karena kau Serindang Bulan.

Diam

Remayun :
Serindang Bulan, itu tak diingini mereka. Dunia besok adalah dunia laki-laki. Mereka besok adalah pemilik tahta. Dan mereka adalah pemiliki harta, bukan?

Serindang Bulan :
Aku tak pernah ingin untuk menjadi saingan mereka.

Remayun :
Itu katamu.

Serindang Bulan :
Jadi?

Diam

Remayun :
Jadi... kita harus pulang sekarang. Hari sudah petang. Kau harus mandi dan bersisir, bukan?

Serindang Bulan :
(Berguman) Mandi dan bersisir.

Remayun :
Mari.

Lampu padam

ADEGAN IV

Performing Art:
Latar belakang wanita-wanita berjalan berbaris membawa beronang, berisikan hasil panen.
Di depannya, 4 orang wanita dalam posisi menampung air dengan gerigik bambu.
Satu orang laki-laki yang sedang memancing di sisi kiri. Di sebelahnya seorang wanita menebarkan jala yang dihela kiri kanan oleh 2-3 orang wanita/laki-laki.
Beberapa laki-laki moving dan gesturikal gerak perahu di atas sungai.
Di sepanjang panggung sehelai kain berwarna biru yang diayun-ayunkan oleh dua orang wanita hingga menyerupai gerak sungai.

Pembaca Puisi :
(berdiri di tengah panggung dan membaca secara naratoris).
Renah Sekalawi, di lingkung gunung dan bukit angkuh.
Di pusat belanga sebuah lembah.
Khianat tak berpangkal, karena terlarang untuk berujung.

Raja Mawang :
Tapi mungkin aku ‘lah kalah untuk menapaknya, tanpa hati, tanpa nurani dan tanpa jiwa. Aku tak miliki semua itu lagi.
Aku tak miliki semua itu lagi.
Ketika sabda-sabda tiang tahta telah jadi kedustaan sebuah wibawa tanpa wajah.

Pembaca Puisi :
Sabda-sabda tiang tahta telah jadi kedustaan sebuah wibawa tanpa wajah.

Penyanyi :
(dalam irama rejung)
Usai, usailah, usai
Tubuh dan jiwa
‘Lah besarak sampai
Lepaskan sudah terurai
Usai, usailah, usai
Habis lah sampai
Usai
Usai
Usailah usai

Segmen:
Perlahan Raja Mawang meloloskan keris dari warangkanya. Dengan mengacungkan keris di atas kepala Raja Mawang turun dan menuju ke tengah panggung.
Kemudian berdiri sepinggang dengan menghunus keris di depan mukanya, lalu diarahkannya mata keris ke bidang dadanya.
Dengan cepat dihujamkan keris itu ke dadanya.
Dalam waktu yang bersamaan Permaisuri masuk.

Permaisuri :
Ajai! Ajai! Apa yang kau lakukan!

Permaisuri memegang tubuh Raja Mawang yang terhuyung-huyung jatuh. Permaisuri ikut juga terjatuh.

Permaisuri :
Ajai! Ajai, mengapa kau lakukan ini! Mengapa, Ajai!

Tangan Raja Mawang dengan lemah menggenggam tangan Permaisuri. Raja Mawang berbicara dengan suara yang mengandung kepuasan dan kebebasan.

Raja Mawang :
Aku... aku tak akan pernah menjadi saksi!
Aku tak akan pernah menjadi saksi, bukan?
Aku tak akan pernah menjadi saksi.

Raja Mawang terkulai.

Permaisuri :
Ajai! Ajai, bangun! Bangun! Kau harus menjadi saksi! Ajai, bangun! Ajai! Kau harus jadi saksi!

Permaisuri menangis tersedu mengiba-iba. Suara kelintang satu-satu kemudian diikuti petikan gitar tunggal. Permaisuri kemudian tertawa, lalu menangis lagi sambil mendekap tubuh Raja Mawang.

Permaisuri :
(dalam irama ratapan)
Usai, usailah, usai
Tubuh dan jiwa lampai
Lah masa besarak sampai
Lepaskan sudah terurai
Ai,
Usai, usailah, usai
Kini habis lah sampai
Usai
Usai
Usailah usai

Koor :
Ai,
Usai
Usai
Usailah usai

ADEGAN V

Saat Permaisuri meratap, Pangeran II masuk. Melihat sambil mengelilingi Raja Mawang dan Permaisuri

Pangeran II :
Apa yang terjadi?

Diam
Pangeran II :
Raja terbujur, bersimbah darah, ada keris bersarang di tubuhnya.

Diam
Pangeran II :
Permaisuri memeluk mayat, keris di tubuh ajai digenggamnya.

Kelintang dipukul satu kali dengan keras. Pangeran II tiba-tiba seperti ketakutan.

Pangeran II :
(Teriak) Permaisuri... Permaisuri membunuh raja!

Pangeran II berlari keluar. Kemudian masuk kembali dengan para pangeran yang lain.

Pangeran I :
Tangkap Permaisuri!

Pangeran I dan II menyeret Permaisuri. Permaisuri meronta. Namun kemudian terseret dengan tertawa-tawa.

Pangeran I :
Pasung di belakang istana!

Para Pangeran mengelilingi mayat Raja Mawang.

Pangeran I :
Raja Mawang, Ajai Renah Sekalawi telah dibunuh oleh permaisurinya sendiri.

Pangeran II :
Jadi bagaimana sekarang?

Pangeran I mendekati mayat Raja Mawang, menatapnya beberapa saat. Pangeran I lalu mencabut keris di dada Raja Mawang dan mengelap darah di keris itu ke bajunya.

Pangeran I :
Singkirkan mayat ini.

Para pangeran mengangkat mayat Raja Mawang keluar.
Kemudian para pangeran masuk kembali dan bergerak dengan sikap gelisah.

Sunyi.

Pangeran II :
Jadi, bagaimana sekarang?

Pangeran III :
(Ragu-ragu) Bukankah Permaisuri juga... juga harus dijatuhi hukuman!

Pangeran I :
Jangan ragu!
Tumbangkan semua masa lalu, agar hari ini dan besok jadi milik kita.
Permaisuri harus dihukum!

Kelintang dipukul satu kali.

Pangeran I :
Dan mati!

Pangeran II :
Dia menjadi gila.

Pangeran I :
Ya.

Diam

Pangeran III :
Bagaimana dengan Serindang Bulan?

Diam

Pangeran I :
Serindang Bulan adalah bagian dari masa lalu yang telah meruntuhkan rencana masa depan.

Pangeran III :
Jadi?

Pangeran I :
Sama seperti Raja Mawang dan Permaisuri, Serindang Bulan juga harus disingkirkan.

Pangeran II :
Bagaimana?

Pangeran III :
Ya, bagaimana? Dan lagi pula Serindang Bulan tak ada lagi di istana sekarang?

Pangeran I :
Dia bersama inangnya sekarang. Mereka ada di suatu tempat di tepi Air Ketahun.

Pangeran II : Bagaimana kau bisa tahu?

Diam.

Kelintang dipukul satu-satu.

Pangeran I :
Panggil Karang Nio, biar aku yang bicara padanya!

Pangeran I dan II keluar.

Pangeran I :
Jika memang Serindang Bulan adalah peneguh tiang tahta mungkin aku akan dapat menerimanya. Tapi jika ternyata Serindang Bulan pada akhirnya takluk di bawah kata-kata Karang Nio, karena Karang Nio yang jadi ajai aku tak akan menerimanya sampai kapan pun.

Karang Nio masuk.

Karang Nio :
Kau memanggilku?

Diam

Pangeran I :
Ajai telah mati.

Karang Nio :
Kau membunuhnya.

Diam

Pangeran I :
Permaisuri telah gila!

Karang Nio :
Mungkin lebih baik seperti itu.

Diam
Pangeran I :
Tanpa harus ada duka cita. Tanpa harus menerima belasungkawa. Semuanya harus berjalan terus, seperti Air Ketahun yang harus terus mengalir.

Diam
Karang Nio :
Lebih baik kau berterus terang, apa sebenarnya yang kau inginkan?

Diam
Pangeran I :
Tumpahkan darah Serindang Bulan untuk kita. Tumpahkan darahnya untuk Renah Sekalawi!

Kelintang dipukul dengan keras satu kali.

Karang Nio :
Lalu?

Pangeran I :
Jangan bertanya? Tapi menjawablah ya!

Karang Nio :
Mengapa kau begitu inginnya darah Serindang Bulan?

Pangeran I :
Demi kelangsungan tahta dan kejayaan kerajaan Renah Sekalawi. Dan....

Diam

Karang Nio :
Lalu?

Pangeran I :
Harus ada alur yang benar dalam pemegang tahta kerajaan ini.

Karang Nio :
Tapi Serindang Bulan bukan orang lain dalam istana ini!

Pangeran I :
Tapi akibat perbuatanmu dan didukung oleh Permaisuri, maka Serindang Bulan telah jadi orang lain, dan bakal menumpahkan darah antara kita!

Karang Nio :
Lagi Serindang Bulan tidak menghendaki kekuasaan.

Pangeran I :
Serindang Bulan-kah? Sabda balai adat dan mufakatkah? Sudah, cukup, Karang Nio. Serindang Bulan sebagai pewaris tahta kerajaan Renah Sekalawi tidak bisa dipungkiri lagi, dan itu kami tidaki bisa terima.

Karang Nio :
Mengapa!

Pangeran I :
Dengan cara Permaisuri memasangkan engkau dengan Serindang Bulan, itu sama saja kau yang akan memegang tahta! Itu aku tidak terima!

Karang Nio : Tapi....

Pangeran I mengibaskan tangannya

Pangeran I :
Jangan lupa, Karang Nio, dan ini juga yang terpenting! Serindang Bulan bersalah atas kematian Ajai dan kematian Permaisuri.

Karang Nio :
Mengapa Serindang Bulan yang dipersalahkan? Bukankah pangkal kejadian ini adalah kau. Demi tahta kerajaan, kau singkirkan Ajai dan permaisuri yang sebenarnya tidak akan setuju kau menjadi ajai.

Pangeran I :
Ya! Tapi ajai mati dan Permaisuri gila karena tidak dapat menjelaskan mengapa ini terjadi!

Karang Nio :
Lalu apa hubungannya dengan Serindang Bulan?

Pangeran I :
Ingat, ajai dan permaisuri berharap kami tidak tahu siapa Serindang Bulan yang sebenarnya. Tapi kami tahu! Kami terima itu, kami terima Serindang Bulan dalam istana ini. Tapi...

Diam

Pangeran I :
Aku, kami, tidak terima jika Serindang Bulan dalam istana ini ternyata hanyalah untuk sebuah kebohongan.

Diam

Pangeran I :
Sebenarnya tahta bukan untukku. Tapi sikap dan cara Permaisuri membuat aku berpikir, bahwa aku berhak atas tahta ini.

Diam

Pangeran I :
Karang Nio, tunjukkan di mana berdirimu.

Diam

Pangeran I mengangsurkan keris kepada Karang Nio.

Diam.

Pangeran I :
Bunuh Serindang Bulan.

Diam

Pangeran I :
Atau kau akan menyelamatkan dia

Diam

Karang Nio mengambil keris dari tangan Pangeran I.
Karang Nio melangkah keluar.

Pangeran I :
Tapi nantinya, jika kau menyelamatkannya, maka... kau yang... kubunuh.

Lampu padam.

ADEGAN VI

Karang Nio dan Serindang Bulan masuk lalu berdiri di tengah di atas sebuah level.

Serindang Bulan :
Sungai apa itu?

Karang Nio :
Itu sungai Ketahun. Berpangkal mulai airnya di Tanah Rejang, mengalir tamatnya di lautan barat.

Serindang Bulan :
Jauh?

Karang Nio :
Jauh, jauh sekali. Hanya perahu yang kuat dengan dayung yang setia bisa antarkan kita tiba di muaranya.

Serindang Bulan :
Ganas?

Karang Nio :
Ya, airnya dalam dan sangat deras. Buaya dan ular juga banyak hidup di sungai ini.

Serindang Bulan :
Karang Nio....

Karang Nio :
Belum lagi jeram menjadi jebakan, yang penuh bebatuan dan siap untuk menghancurkan apa saja yang melaluinya.

Serindang Bulan :
Tapi banyak bukan orang berhasil yang tiba ke muaranya?

Karang Nio :
Tidak, tidak banyak. Hanyalah mereka, laki-laki perkasa yang dilepas dengan doa dan restu oleh istri, anak-anak dan penduduk kampungnya. Mereka adalah laki-laki setia yang berjanji akan segera pulang kembali ke Renah Sekalawi.

Sepi

Karang Nio :
Selebihnya mati di pangkal dan di tengah perjalanan. Tak satu pun mayat mereka dapat ditemukan.

Diam

Serindang Bulan :
Kau tak menghiburku?

Diam

Karang Nio :
Bagaimana aku harus menghiburmu?

Karang Nio memegang lengan Serindang Bulan dan bergerak.

Karang Nio :
Apakah aku harus mengatakan kalau kau akan alami perjalanan yang menyenangkan? Bahwa kau akan mengalami perjalanan yang diiringi nyanyian para inang dan biduanda?

Serindang Bulan memegang Karang Nio juga.

Serindang Bulan :
Karang Nio....

Karang Nio :
Tidak, tidak, Serindang Bulan.

Diam. Karang Nio bergerak, namun jemari tangannya dipegang oleh Serindang Bulan. Serindang Bulan bergerak mengikuti Karang Nio.

Karang Nio :
Tidak, kekasihku. Aku tak mungkin menghiburmu, karena aku memang tak mungkin menghiburmu.

Serindang Bulan :
Karang Nio!

Karang Nio :
Perjalanan panjangmu adalah perjalanan tanpa janji bahwa kau akan pulang lagi.

Diam

Karang Nio :
Perjalananmu adalah tanpa doa dan restu. Tanpa ada kejei untuk melepaskannya.

Serindang Bulan :
Kau sendiri sebenarnya juga bukan untuk mengantarku, ‘kan?

Serindang Bulan menatap Karang Nio.

Karang Nio :
Memang. Aku ditugaskan untuk membunuhmu.

Serindang Bulan :
Dan mereka pun tentu akan membunuhmu juga, jika mereka tahu kau tak membunuhku.

Diam.

Karang Nio melepaskan tangannya dari pegangan Serindang Bulan, kemudian berjalan ke bagian yang lebih tinggi.

Karang Nio :
Lihat itu!

Serindang Bulan berjalan mendekati Karang Nio. Berdiri di samping Karang Nio sambil memegang tangannya.

Karang Nio :
Itu Renah Sekalawi!

Serindang Bulan :
(Berteriak) Renah Sekalawi!

Serindang Bulan maju.

Serindang Bulan :
Renah Sekalawi!
Renah Sekalawi!
Adakah kerinduanmu untukku!
Aku Serindang Bulan!
Adakah kerinduanmu untukku!
Renah Sekalawi!
Aku Serindang Bulan!
Telah usaikah cerita tentang menenun kain di bawah pokok-pokok kepayang berdaun lebar
Aku Serindang Bulan!
Terusir oleh saudara-saudaraku sendiri
Terusir oleh tiang-tiang tahta
Terusir oleh ayahandaku sendiri
Terusir oleh bundaku sendiri

Serindang Bulan menangis.
Bunyi kelintang pelan dipukul satu-satu.
Karang Nio memegang Serindang Bulan. Mereka berdiri berhadapan dengan saling bersisian tubuh masing-masing. Perlahan-lahan Karang Nio dan Serindang Bulan bersimpuh. Serindang Bulan menjatuhkan kepala di bahu Karang Nio.

Karang Nio :
Barangkali.... (Diam) Barangkali (Diam). Barangkali sungai itu akan antar kau ke tepian, Serindang Bulan. Tempat anak raja dikelilingi inang. Menyambutmu dan akan melindungimu.
Barangkali….

Napas Karang Nio perlahan memburu. Karang Nio dan Serindang Bulan saling bertatapan. Napas Karang Nio semakin cepat.

Karang Nio :
(Teriak) Aah...!

Karang Nio melepaskan tangannya dari Serindang Bulan kemudian berlari ke bagian rendah.

Karang Nio :
Karang Nio yang perkasa! Akulah itu! Keturunan agung Raja Mawang yang perkasa. Penerus kepastian silsilah Tanah Rejang dan Lebong. Keturunan raja yang tak ingin beraib pada wibawa wajahnya.
Karang Nio yang perkasa!
Yang kini membunuh dirinya sendiri.
Serindang Bulan!
Bulan dan mataharinya sendiri!
(Nada menurun)
Aku sudah membunuhnya
(Nada menurun lagi)
Aku tak mampu membelanya
Aku telah membunuhnya
Aku telah membunuhnya

Karang Nio terduduk.
Gitar tunggal terdengar. Kelintang dipukul satu-satu.
Sunyi.

Serindang Bulan :
Karang Nio, matahari telah menjelang petang.

Performing:
Orang-orang keluar. Berurutan dari pengail, penjala, wanita yang menampung air. Gerak sungai semakin tenang lalu diam.

Sunyi.

Serindang Bulan mengusap rambut Karang Nio

Serindang Bulan :
Kau harus pulang.

Sunyi

Serindang Bulan :
Selesaikanlah tugasmu.

Diam

Karang Nio :
Serindang Bulan, rakit yang baik telah kusiapkan untukmu. Berangkatlah engkau. Pastikanlah kau selalu berada di jalur sungai Ketahun itu.

Karang Nio dan Serindang Bulan berjalan menuju tepi sungai.

Serindang Bulan :
Kau yakin?

Karang Nio mengangguk.

Serindang Bulan :
Kau tak takut mereka akan murka padamu?

Karang Nio menggeleng sambil tersenyum pahit.

Serindang Bulan :
Karang Nio....

Diam

Serindang Bulan :
Aku berangkat.

Karang Nio :
Ya, berangkatlah engkau.

Diam

Serindang Bulan :
Jaga dirimu.

Karang Nio :
Kau juga.

Serindang Bulan :
Aku merindukanmu.

Karang Nio :
Aku juga.

Sunyi

Karang Nio membimbing Serindang Bulan menaiki rakit.
Karang Nio berdiri pada tepi sungai.
Diam.

Karang Nio :
Walau aku tak yakin, tapi aku berharap kita akan bertemu lagi..

Diam.
Karang Nio mengeluarkan kerisnya.

Karang Nio :
Tentu kau akan berubah. Maka, biar kuberikan tanda, agar aku dapat mengenalmu nanti.

Serindang Bulan bersimpuh.
Karang Nio mengacungkan keris ke atas dan menatap keris itu.

Diam.

Koor : Senandung irama rejung

Karang Nio mengiris telinga Serindang Bulan. Serindang Bulan memegang tangan Karang Nio menahan sakit. Kemudian menatap titik darah di ujung keris.

Serindang Bulan :
Pastilah sudah aku mati. Telah kau titikkan darahku?

Karang Nio menyarungkan kembali kerisnya.

Diam.

Serindang Bulan perlahan berdiri.

Serindang Bulan :
Dan rakit ini tentulah kerandaku untuk menuju ke alam gelap.

Sunyi. Karang Nio dan Serindang Bulan bertatapan.

Serindang Bulan :
Aku pergi.

Karang Nio mencoba maju, namun masih terus saling berpegangan.
Rakit mulai bergerak. Perlahan pegangan tangan lepas. Karang Nio mencoba menjangkau tangan Serindang Bulan, hingga terduduk di tepi sungai dengan satu terulur ke arah Serindang Bulan.
Karang Nio mengikuti gerak rakit dari pinggir sungai, hingga rakit keluar.

Diam.

Karang Nio berlari ke tempat tertinggi dan mencoba melihat Serindang Bulan di kejauhan.
Karang Nio terduduk dan terpekur. Napasnya memburu dan tiba-tiba dengan teriakan keras, Karang Nio dengan cepat mencabut kerisnya, lalu berdiri dan dengan cepat juga menggoreskan keris ke dada.

Karang Nio :
Serindang Bulan!

Hening.

Karang Nio :
Serindang Bulan!
Dendammu ‘kan kubalaskan!
Akan tuntas deritamu!
Akan kukelupas tangismu!

Karang Nio terdiam dan menatap ke langit sambil mengacungkan keris.
Musik gitar tunggal.

Karang Nio :
Wahai pemilik semua keangkuhan!
Pengorbanan Serindang Bulan telah lenyapkan segala rasa.
Lihat!
Racun pada keris ini tak lagi mampu membunuh diriku. Karena
(serentak dengan koor).
Belum tawar deritanya.
Belum usai air matanya.
Belum padam dendamnya.

Koor :
Belum tawar deritanya.
Belum usai air matanya.
Belum padam dendamnya.

Hening.
Karang Nio :
Serindang Bulan!

Karang Nio keluar.
Gaung = Serindang Bulan, (menjauh) Serindang Bulan, (semakin jauh) Serindang Bulan, (sayup) Serindang Bulan.

TAMAT

Bengkulu, Minggu, 09 Oktober 2005 –
Kepahiang, Senin, 13 Februari 2006


Emong Soewandi
Emong Soewandi Blogger sejak 2014, dengan minat pada sejarah, sastra dan teater

Post a Comment for "DRAMA: SERINDANG BULAN"