Skip to content Skip to sidebar Skip to footer

CERITA RAKYAT ULU MANNA: BINTANG RUANAU

Mencari Wilayah Baru

Seorang pemuda bernama Bintang Ruanau·pergi berjalan mencari daerah yang baru untuk dibuat sebuah kampung. Dia membawa seekor ayam bruga atau ayam hutan dan seekor burung puyuh yang merupakan wasiat orang sebelum ia berangkat. Kalau dalam perjalanannya ayam bruga berkokok dan burung puyuh itu berbunyi, di situlah ia membuat dusun.

Di suatu tempat bernama Lubuk Muara Panjuman, Bintang Ruanau istirahat melepaskan lelahnya. Tiba-tiba ayam itu berkokok terns menerus dan puyuh berbunyi tak henti-hentinya. Bintang Ruanau belum yakin. Lalu ia pergi ke Gunung Bungkuk untuk bertapa mencari wangsit. Dia mengharapkan musim kemarau. Dia akan menguji lubuk itu apakah dapat kering. Setelah selesai bertapa, kemarau datang tiga bulan berturut-turut. Ternyata lubuk itu tidak menyusut airnya. Ia bertapa lagi minta hujan yang lebat tiga hari tiga malam, lubuk itu tidak banjir. Yakinlah ia bahwa Lubuk Muara Panjuman itulah akan dijadikan sebuah dusun.

Bintang Ruanau berjala di ujung sebuah pulau. Ia bertemu dengan seorang pemuda. lalu tegur Bintang Ruanau, "siapa engkau kawan?"

"Aku Ratu Kesumo," jawab pemuda itu.

Lalu mereka berdua berkawan. Berjalanlah mereka menyusur pulau tersebut. Tidak berapa lama bertemu pula dengan seorang pemuda pula. Lalu ditegurnya pemuda itu, "Siapa kamu kawan?"

"Aku Lemang Batu," jawab pemuda itu.

Berkawanlah mereka bertiga. Mereka bersama-sama meneruskan kerja. Bintang Ruanau, membuat dusun di muara Panjuman itu. Kampung sudah jadi, rakyatnya banyak. Lama kelamaan kampung menjadi ramai, dan hampir menjadi sebuah kerajaan.

Tidak disangka kampung itu diserang oleh serombongan perampok. Pertempuran tak dapat dielakkan. Tetapi tentara Bintang Ruanau kuat dan tangguh berkat latihan Ratu Kesumo dan Lemang Batu. Pertempuran berhenti. Sekalian perampok mati dan setiap lorong penuh dengan bangkai perampok.

Akibat dari keadaan kampung yang baru jadi itu penuh dengan bangkai yang mulai membusuk, akan dikubur tak mungkin karena terlalu banyak, maka ketiga orang pemimpin dusun itu bersepakat dengan rakyat agar pergi meninggalkan kampung tersebut dan mencari tempat yang baru lagi aman dari bau yang tidak enak itu. Suara bulat dan mufakat mereka pindah dari Lubuk Muara Panjuman itu.

Pindah

Berjalanlah rombongan itu mencari tempat yang baru. Sayang sekali selama daiam perjalanan itu mereka pecah dua karena adanya perbedaan pendapat. Yang satu menuju ke Ulu Rawas, dan yang satu lagi menuju ke Ulu Nelengo atau Dusun Tinggi sekarang.

Mulailah mereka menebar dan merintis membuat dusun. Ketika Bintang Ruanau melihat orang-orangnya ternyata yang tinggal adalah bukan pendekar-pendekar lagi. Kiranya pendekar itu sudah mengikuti rombongan yang kedua yaitu yang menuju ke Ulu Rawas.

Kata Bintang Ruanau : "Kita ini tidak ada pendekar lagi. Sebab itu marilah kita belajar ke kampung lain, belajar silat dan bermain pedang."

Berangkatlah Bintang Ruanau berjalan mencari guru bersilat. Di tengah jalan ia bertemu dengan seorang pemuda dari Semidang, yang bernama Si Pahit Lidah. Berkenalanlah mereka dan bersama-sama menuju Ruban tempat berguru. Sampai di Ruban mereka bertanya kepada orang Ruban bagaimana menjadi pimpinan kampung dan tata cara hidup. Sebulan Bintang Ruanau di Ruban. la belajar segala macam ilmu.

Si Pahit Lidah tidak belajar seperti Bintang Ruanau menjadi pimpinan kampung, tetapi lain kehendaknya. Lalu kata gurunya, "Melihatlah ke atas."

Si Pahit Lidah melihat ke atas, ketika itu juga diludahilah mulut si Pahit Lidah. Setelah belajar itu pulanglah mereka ke dusun masing-masing.

Bintang Ruanau kembali ke dusun Tinggi membawa segala macam kepandaian. Orang Dusun Tinggi menjadi pintar dan mereka telah mempunyai adat istiadat yang tinggi. Kemajuan dusun Tinggi sampai terdengar oleh orang di dusun lain seperti Alas, Maras, Pasemah, Kedurang, Padang Guci dan Empat Lawang. Adat perkawinan bernama bimbang gedang dilaksanakan. Tamu dari jauh datang ke Dusun Tinggi.

Si Pahit Lidah pulang ke Semidang. Tidak ada yang dibawanya, baik berupa benda maupun berupa kepandaian.

Si Pahit Lidah

Pada suatu hari ia menyuruh adik perempuannya memasak nasi dan lauk-pauk yang enak-enak. Adiknya pergi ke sungai mencuci beras. Sungai agak jauh dari rumahnya. Lama sudah adiknya pergi ini Si Pahit Lidah sudah gelisah; Perutnya sudah sangat lapar ia menggerutu. "Huh, alangkah lamanya si gadis ke sungai. Apa sudah jadi batu dia ini."

Dengan kehendak Yang Maha Kuasa pada detik itu, jadi batulah adiknya yang sedang mencuci beras di sungai itu. Si Pahit Lidah menyusul ke air. Setelah dilihatnya adiknya sudah menjadi batu, barulah ia sadar akan lidahnya. Lidahnya sekarang telah pahit. Katanya sedikit saja telah jadi. Sejak saat itu si Pahit Lidah berhati-hati sekali.

Si Pahit Lidah meninggalkan dusun Semidang. Ia pergi tanpa tujuan karena pikirannya pusing mengingat nasib adiknya yang telah jadi batu. la bertemu dengan kumpulan orang sedang mengadu ayam. Orang tidak mengacuhkannya karena sedang asyik menyaksikan ayam sedang berlaga. Ia mengajak orang berbicara, tetapi orang itu tidak mengacuhkannya.

Kata si Pahit Lidah, "Hei, kamu ini apa sudah jadi batu." Seketika itu juga orang itu jadi batu.

Yang lain melihat kejadian itu. Lalu mencabut keris akan mengeroyok Si Pahit Lidah. Dalam keadaan panik Si Pahit Lidah berseru, "jadi batulah kamu semua." Seketika itu juga semua orang yang berkerumun itu jadi batu.

Si Pahit Lidah berjalan lagi. la menuju Dusun Tinggi untuk menemui kawannya Bintang Ruanau. Setelah sampai di Dusun Tinggi ia melihat orang sedang mengadakan pesta perkawinan. Bukan main ramainya. Tiap lorong penuh dengan manusia. Dalam keramaian itu segala pertunjukan diadakan. Hiruk pikuk bunyi manusia dan alat tabuhan, sehingga tidak dapat terdengar apabila orang ingin mengajak bercakap-cakap. Demikian pula halnya Si Pahit Lidah ingin bertanya kepada orang yang berjumpa dengannya, tetapi orang tersebut tidak mengacuhkan, karena terlalu asik menyaksikan pertunjukan-pertunjukan dan mendengar suara musik yang mengiringi tari terlalu indah. Lupalah akan segala yang ada di sekitarnya.

Karena tidak dilayani itu. Si Pahit Lidah timbul panas hatinya. naik darahnya. lalu disumpahnya, "hilanglah kamu semua dan dusun ini juga". Seketika itu juga orang ramai dan dusun itu menghilang dalam sekejap. Rumah bagus-bagus berganti dengan- padang belantara saja. Seorang pun tidak ada manusia. Dusun Tinggi hilang lenyap. Tinggallah si Pahit Lidah berdiri di tengah padang itu seorang diri.

Peristiwa hilangnya Dusun Tinggi ini terdengar ke sekitar kampung itu. Ini tidak lain adalah ulah ·Si Pihit Lidah. Bintang Ruanau sedang tidak berada di Dusun Tinggi. Ia sedang pergi ke luar dusunnya sedang mengajar silat. Hilangnya Dusun Tinggi ini tidak begitu menjadi persoalan, tetapi hilangnya manusia yang mengikuti pesta itulah yang menjadi persoalan besar. Karena sebagian orang yang ikut itu adalah tamu dari luar dusun Tinggi, yaitu dari Alas, Maras, Kedurang, Padang Guci, Basemah dan Empat Lawang. Semua orang tua, kakak, adik, paman mereka tetangga mereka ikut bersedih akan kehilangan keluarga mereka yang sedang mengikuti pesta di Dusun Tinggi itu. Mereka datang ke bekas Dusun Tinggi. Sedikit pun tidak ditemui tanda adanya satu dusun atau seorang manusia. Padang belantaralah yang mereka temui. 

Akhirnya pada malam hari semua sanak keluarga korban bermimpi. Dalam mimpinya, kalau ingin bertemu dengan mereka bertapalah di bekas dusun ini. Mereka akan bertemu seolah-olah dalam mimpi.

Itulah sampai sekarang orang sering bernazar atau bertarak atau bertapa di bekas Dusun Tinggi ini, di hulu sungai Nelengo, sampai berhari-hari bahkan berbulan-bulan, untuk dapat terwujud keinginan-keinginan .

Halnya Si Pahit Lidah, menurut cerita ia berjalan ke utara mengikuti kakinya tanpa arah tujuan. Di tengah jalan ia bertemu dengan dua orang sedang berlatih main silat dalam posisi saling mendukung atau bertemu belakang. Si Pahit Lidah menanyakan kepada mereka, "adakah kamu berdua melihat Bintang Ruanau?"

Tidak ada jawaban dari mereka karena mereka sedang asyik. Kata Si Pahit Lidah, "Bersambunglah kamu supaya kamu terus main silat".

Pertarungan

Seketika itu juga bersatulah badan dua orang pemuda itu. Kaki menjadi dua, tangan juga menjadi dua. Kecuali wajah, mata pun menjadi empat, dua di muka dan dua di belakang. Si Pahit Lidah menamakan si Mata Empat. Si Mata Empat marah, ketika sadar akan keadaan badan mereka yang sekarang menjadi satu. Si Pahit Lidah diajaknya berperang.

Si Pahit Lidah setuju. Masing-masing membawa batu besar. Kata Mata Empat, 'hei bung, kamu sakti sekali. Tetapi marilah kita adu kekuatan dahulu. Kita saling hantam dengan batu dari atas kelapa. Siapa kena atau mati, kalahlah ia." Si Pahit Lidah setuju.

Si Pahit Lidah lebih dahulu naik ke atas pohon kelapa untuk melemparkan batu kepada si Mata Empat. Si Mata Empat menelungkup. Batu dijatuhkan si Pahit Lidah. Batu melayang dari atas menuju sasarannya kepala si Mata Empat menggeser sedikit sebelum batu tepat mengenai sasarannya. Mata Empat tidak apa-apa.

Sekarang giliran Pahit Lidah menelungkup di bawah batang kelapa. Mata Empat naik ke atas pohon tersebut. Sesampai di atas batu dilepaskan tepat menuju sasarannya. Pahit Lidah tidak tahu akan batu yang meluncur dengan derasnya itu. Batu jatuh dan tepat mengenai ubun-ubun di Pahit Lidah. Si Pahit Lidah tidak berdaya lalu matilah ia.

Si Mata Empat ingin mencoba menjadi si Pahit Lidah. Lalu dijilatnya lidah si Pahit Lidah. Kiranya dengan tidak disangka-sangka, berubahlah si Mata Empat menjadi batu.

Emong Soewandi
Emong Soewandi Blogger sejak 2014, dengan minat pada sejarah, sastra dan teater

Post a Comment for "CERITA RAKYAT ULU MANNA: BINTANG RUANAU"