Skip to content Skip to sidebar Skip to footer

CERITA RAKYAT BENGKULU: NANTU KESUMO

Ilustrasi. Lukisan sketsa Bengkulu, awal 1800-an

NANTU KESUMO

Cerita Rakyat Bengkulu

Konon orang yang pertama-tama menghuni Bengkulu ialah Nanto Kesumo dan kawan-kawannya. Ia datang dari Demak di pulau Jawa. Ia memasuki daerah Bengkulu lewat pantai (Pasar Bengkulu sekarang). Di tanah yang baru ini, Nantu Kesumo dan kawan-kawannya menghadapi tantangan yang sangat berat.

Tanah Bengkulu masih merupakan hutan belantara. Binatang-binatang buas dan liar masih hidup dengan bebas namun Nantu Kesumo mempunyai kesaktian dan ilmu yang tinggi. la tidak takut pada binatangbinatang buas.

Konon pada waktu Nantu Kesumo dan kawan-kawannya sedang membuka hutan untuk membangun kampung, mereka bertemu dengan ular yang sangat besar. Ular itu dapat mereka bunuh. Badan ular yang panjang itu dipotong menjadi tiga bagian sama panjang. Ketiga bagian dari tubuh ular itu masing-masing menjelma menjadi meriam sapu rantau, tombak bejabai dan tabu berantai.

Untuk memperingati kisah ini, tiap-tiap mengadakan pesta perkawinan dengan memotong kerbau mesti ada tombak berambu payung kering.

Kampung yang dibangun pertama kali itu bernama Tanah Tinggi. Suatu hari penduduk kampung Tanah Tinggi melihat batang bangka hanyut dari hulu. Batang bangka itu sebangsa pohon pinang. Pohon bangka itu sangat aneh, bentuknya melingkar-lingkar, mulai dari pangkal sampai ke ujungnya. Keanehan pohon ini mengundang penduduk Tanah Tinggi untuk menyaksikannya. Dari kejadian inilah penduduk Tanah Tinggi menamakan tanah kediaman mereka dengan Bangka Hulu, yang berasal dari bangka dan hulu. Sejak saat itulah nama Bengkulu dipakai orang.

Alkisah diceritakan bahwa Nantu Kesumo datang ke Bengkulu dalam keadaan bujangan. Ia datang bersama saudaranya bernama Kayu Merinting. Kepada saudaranya inilah ia meminta nasehat atau pertimbangan. Sebagai manusia biasa yang normal Nantu kesumo tidak tahan hidup membujang terus. Akan tetapi ia tidak mau kawin dengan wanita biasa.

Wanita yang menjadi idamannya adalah Ratu Aceh. Kecantikan Ratu Aceh sudah terkenal di mana-mana, karena itulah Nantu Kesumo bermaksud menjadikannya sebagai isteri. Ia akan pergi ke Negeri Aceh untuk melamar.

Sebelum berangkat ke Negeri Aceh ia mengutarakan niatnya itu kepada Kayu Mentiring. "Saudaraku Kayu Mentiring, saya berniat pergi ke Negeri Aceh, dengan maksud untuk melamar Ratu Aceh. Doakanlah agar maksud saya berhasil," kata Nantu Kesumo.

"lngat Nantu Kesumo antara kita dengan Negeri Aceh selalu bermusuhan, lamaran mustahil diterima" kata Kayu Mentiring.

Niat Nantu Kesumo untuk meperisteri Ratu Aceh sudah nekat, oleh karena itu saudaranya terpaksa menyetujui seraya katanya, "Kalau demikian kemauanmu, saya akan membantumu. Apapun yang terjadi kita hadapi bersama".

Nantu Kesumo Pergi Ke Aceh

Alkisah, maka berangkatlah Nantu Kesumo seorang diri dengan perahu yang bernama Rejung Kelam. Setelah kurang lebih satu bulan berlayar sampailah ia ke tepi pantai tempat pemandian Raja Aceh. Tempat ini selalu dijaga oleh hulu balang Raja. dengan senjata meriam yang diarahkan ke laut untuk menembak musuh.

Perahu Nantu Kesumo dapat dilihat oleh hulubalang Raja, penjaga pemandian. Mereka menembakkan meriam ke arah perahu Nantu Kesumo. Tak satu pun peluru meriam mengenai Nantu Kesumo. Ia tidak tembus oleh peluru. Penjaga pemandian lari ketakutan. Nantu Kesumo pun mendarat dan masuk ke Negeri Kerajaan Aceh.

Alkisah pada waktu itu Kerajaan Aceh sedang merayakan pertunangan Putri Aceh. Salah satu acaranya adalah mengadakan gelanggang pertaruhan selama tiga bulan. Barang siapa yang akan mengikuti pertaruhan harus minta izin kepada kakak Putri Aceh yang bernama Raden Cili. Sesudah mendapat izin, calon peserta harus menyerahkan dua peti uang kepada Putri Aceh. Satu peti berbentuk panjang dan satunya lagi berbentuk pendek.

Nantu Kesumo menggunakan kesempatan ini untuk bertemu muka dengan idaman hatinya Ratu Aceh. Ia diizinkan mengikuti pertaruhan. Ia pun menyerahkan dua peti uang Putri Aceh. Pada saat itulah ia bertemu muka dengan Putri Aceh, untuk pertama kalinya yang dapat membuat keduanya saling jatuh cinta. Gelagat ini diketahui oleh Raden Cili dan tentu ia tak menyukai adiknya jatuh cinta kepada laki-laki yang tidak jelas asal-usulnya.

Nantu Kesumo pun masuk ke gelanggang pertaruhan. Ia mengikuti pertaruhan permainan Gelincing Jae, yaitu sebuah permainan yang mempergunakan uang sen sebanyak dua keping yang diempaskan di atas batu. Dalam permainan ini Nantu Kesumo kalah meraub, menang meraub. Terjadilah keributan di tengah gelanggang. Permainan Gelincing Jae dihentikan, diganti dengan pertaruhan penyambung Ayam. Ayam Nantu Kesumo selalu menang, tak pernah sekali pun mengalami kekalahan. Hal ini dilaporkan oleh panitia pertaruhan kepada Raden Cili. Kemenangan Nantu Kesumo tidak disenangi oleh Raden Cili. Ia memerintahkan para prajurit kerajaan untuk menangkap Nantu Kesumo.

Hal ini diketahui oleh Nantu Kesumo, ia pun membuat keributan dengan memukul canang dari tempururtg. Bunyi tempurung itu sebagai tanda naiknya harga beras. Tanda ini menimbulkan kemarahan kepada peserta pertaruhan yang kalah. Jumlah yang kalah sangat besar, terjadilah keributan yang hebat. Banyak korban berjatuhan.

Konon dari Bengkulu telah diutus seorang pemuda untuk menjemput Nantu Kesumo. Pemuda itu berbaju Kuning. Perjalanan memerlukan waktu yang panjang, sedang persediaan makanan terbatas. Ia kehabisan makanan di tengah perjalanan. Oleh karena itu ia singgah mendarat dan mendapatkan kebun pisang. Kebun itu milik seorang nenek tua. Oleh nenek itu ia dipersilahkan makan pisang sepuas-puasnya, sampai ia tidak bisa berjalan, karena kekenyangan, akibatnya tidak sampai ke tempat tujuan.

Sementara itu keributan di Aceh berlangsung terus. Nantu Kesumo terluka di lambung tunggai dan luka-luka di ujung kuku (mungkin maksudnya tidak seberapa). Raden Cili dan pasukan tentaranya tidak dapat menangkap Nantu Kesumo.

Raden Cili dan tentaranya berusaha menghentikan keributan dan kekacauan itu. Dalam keadaan kacau itu Nantu Kesumo memanfaatkan kesempatan yang baik ini dengan menemui Ratu Aceh untuk membara lari ke Bengkulu.

Nantu Kesumo Membawa Putri Aceh Ke Bengkulu

Dibawalah Ratu Aceh ke luar istana kerajaan. Pada malam harinya mereka menuju ke pantai untuk selanjutnya berlayar menuju Bangkahulu. Perahu yang digunakan adalah tetap perahu Rejung Kelam. Kedua insan itu pura-pura gembira dan bahagia. Nantu Kesumo gembira karena maksudnya tercapai, membawa pulang Ratu Aceh. Sedang Ratu Aceh gembira karena ia dapat bebas dari kungkungan adat kerajaan, bebas menikmati keindahan alam.

Setelah kurang lebih satu bulan berlayar sampailah mereka ke tanah harapan yaitu Bengkulu. Kedatangannya disambut kegembiraan oleh saudaranya Kayu Mentiring dan semua penduduk di desanya. Upacara perkawinan pun diadakan dengan sederhana.

Sementara itu di Negeri Aceh setelah keributan dan kekacauan dapat diatasi Raja marah kepada Raden Cili dan semua pasukannya. Raja memerintahkan kepada Raja Cili memimpin pasukan untuk menyerang Bangkahulu dan mengambil Putri Aceh. Pasukan disiapkan dengan perlengkapan dan persenjataan yang cukup dan lengkap, serta persediaan makanan yang banyak.

Nantu Kesumo sudah menduga bahwa Raja Aceh pasti akan menyusul putrinya. Karena itu sebelum mereka datang ke Bengkulu, ia dan saudaranya Kayu Mentiring memerintahkan kepada semua penduduk untuk siap siaga menghadapi segala kemungkinan, akibat serangan pasukan Raja Aceh. Benteng-benteng dibangun dan persenjataan dilengkapi, persediaan makanan pun diperbanyak.

Alkisah maka datanglah pasukan Raja Aceh yang dipimpin ole.h Raden Cili sendiri. Pertempuran pun terjadi antara kedua pasukan itu. Tempat terjadinya pertempuran di suatu tempat yang sekarang bemama Bukit Aceh, terletak di bagian utara Kota Bengkulu.

Pasukan Aceh banyak yang tewas dalam pertempuran. Mayat-mayatnya tidak sempat dikuburkan, hingga menimbulkan bau yang sangat busuk. Pasukan Nantu Kesumo tidak tahan jika terus menerus tercium bau yang sangat busuk itu, mereka pun minta kepada Nantu Kesumo untuk menjauhi tempat itu. Nantu Kesumo menyetujui dan tempat yang dipilihnya adalah Gunung Bungkuk.

Menurut cerita orang di Gunung Bungkuk masih terdapat perahu Rejung Kelam yang sudah membatu. Tidak berapa lama setelah pindah sementara ke Gunung Bungkuk, Kayu Mentiring meninggal dunia. la meninggalkan seorang anak bernama Bintang Roano. konon menurut cerita Bintang Roano meninggal di Bengkulu dan jenazahnya dimakamkan di daerah yang sekarang bernama Pasar Anggut. Sedangkan Nantu Kesumo sempat kembali lagi ke tempat semula, yaitu Bengkahulu, setelah bau mayat hilang. Nantu Kesumo dan Ratu Aceh hidup rukun dan bahagia, tapi sayang tidak mempunyai anak.

Emong Soewandi
Emong Soewandi Blogger sejak 2014, dengan minat pada sejarah, sastra dan teater

Post a Comment for "CERITA RAKYAT BENGKULU: NANTU KESUMO"