Skip to content Skip to sidebar Skip to footer

PERKEBUNAN TEH KABAWETAN: HARI LALU DAN SEKARANG

PERKEBUNAN TEH KABAWETAN: HARI LALU DAN SEKARANG

Sebuah prasasti cinta yang diukir sepasang insan kasmaran
pada sebatang pohon di Perkebunan Teh Kabawetan.

Kabawetan adalah gabungan dari dua kata dari dua bahasa yang berbeda. Kaba adalah nama sebuah gunung berapi (aktif) yang sekarang berada di dalam wilayah Kabupaten Rejang Lebong. Kaba berasal dari kata Tebo Kabeak, bahasa Rejang yang artinya Gunung Kapak. Sementara wetan dari bahasa Jawa yang berarti Timur. Jadi, Kabawetan artinya sebuah wilayah yang berada di sebelah Timur Gunung Kaba.

Kaba berasal dari kata Tebo Kabeak, bahasa Rejang yang artinya Gunung Kapak. Kata "tebo" dalam bahasa Rejang memiliki arti gunung, namun bisa juga berarti bukit. Dengan tidak ada perbedaan antara pengertian tebo ini, maka banyak gunung di wilayah Rejang akan didefinisikan sebagai bukit, sebagaimana Gunung Kaba disebut sebagai Bukit Kaba, Gunung Daun disebut sebagau Bukit Daun dan Gunung Hitam disebut sebagai Bukit Hitam. Untuk bukit yang lebih kecil, orang Rejang akan menyebutnya "cugung".

Perkebunan Teh Kabawetan dengan latar belakang Gunung Hitam

Perkebunan Teh Kabawetan, Kepahiang (Provinsi Bengkulu), pada awalnya dibangun oleh Pemerintah Kolonial Hindia Belanda, 1928. Sebuah rencana yang sangat tepat, karena dengan suhu pegunungan yang sejuk, Kabawetan sangat cocok untuk dijadikan perkebunan teh. Perluasan perkebunan dilakukan lagi pada 1930, di mana pengusaha-pengusaha Belanda berharap hasil panen perkebunan ini akan mampu memberikan keuntungan yang besar, setelah beberapa perkebunan kopi dan tembakau mereka bangkrut dilindas krisis ekonomi 1929. Menyusul kemudian pada 1935 didirikan sebuah pabrik pengolahan teh.

Sisi lain Kabawetan, dengan latar depan persawahan milik masyarakat

Kabawetan mulai dieksploitasi awal pada masa Arend Van Hassel (1905), menjadi Kontrolir Onderafdeling Redjang. Sebuah wilayah hutan di kaki Gunung Hitam dibeli dari penguasa Marga Merigi yang berada di Kelobak. Hutan-hutan itu kemudian dibongkar, yang kemudian ditanami dengan teh, kopi, tembakau dan sayur mayur. Di kebun-kebun itu Belanda mempergunakan tenaga kuli-kuli orang Cina dan Jawa, bekas kuli pembuat jalan raya Bengkulu-Kepahiang-Empat Lawang.

Perluasan lebih lanjut perkebunan di Kabawetan tak lepas dari peran seorang Gerrit Willem Caudry. Hakim di Pengadilan Pribumi Keresidenan Bengkulu, yang kemudian juga menjadi Kontrolir Onderafdeling Redjang itu (1933-1935), setelah usai krisis ekonomi dunia 1929, berhasil mendekati penguasa-penguasa Marga Merigi untuk menjual lebih luas lagi kawasan hutan belantara di kaki Gunung Hitam itu kepada Belanda.


Wajah-wajah awal Kabawetan saat perluasan 1930-an
sumber foto: KITLV

Saat masa pendudukan Jepang (1942-1945), perkebunan dan pabrik tidak berproduksi. Oleh Jepang, banyak tanaman teh dibongkar, kemudian digantikan dengan tanaman palawija, sementara pabrik dijadikan semacam sekolah pertanian. Karena tidak beraktivitas seperti biasa, buruh-buruh perkebunan pun, selain bertanam palawija, juga mengusahakan padi ladang di lahan-lahan perkebunan. Sementara di lahan-lahan lainnya, bekas-bekas buruh mendudukinya dan mendirikan rumah-rumah pribadi, yang kemudian menjadi cikal bakal desa-desa di wilayah Kabawetan hari ini, seperti Lambau, Sengkuang, Barat Wetan dan Tangsi.

Kabawetan sekarang menjadi salah satu destinasi andalan bagi industri pariwisata Kabupaten Kepahiang, terutama juga untuk wisata sejarah. Cukup mudah dijangkau. Dari pusat kota Kepahiang berjarak 7 km, kurang lebih 70 km dari ibukota Provinsi Bengkulu (jarak tambahan: 15 km dari Bandar Udara Fatmawati Soekarno, Bengkulu). Pada 2017 lalu, Kabawetan menjadi salah satu sasaran peserta Program Lawatan Sejarah Nasional (Lasenas)

Walau belum didukung dengan fasilitas yang memadai atau juga sarana wisata lainnya, namun Kabawetan selalu ramai dikunjungi, baik dari dalam Kepahiang sendiri, maupun dari daerah-daerah tetangga. Keramaian ini akan semakin memuncak padat pada hari-hari besar, terutama sekali pada liburan Lebaran dan Tahun Baru.


Dua bocahku, Ezhie dan Rhey "memetik" teh

Di lokasi perkebunan, selain pabrik, juga terdapat bangunan-bangunan tua, seperti rumah-rumah pegawai tinggi perkebunan, sebuah villa yang dulunya milik administratur dan rumah administratur. Bangunan-bangunan itu semuanya dalam kondisi terawat baik, karena pihak perusahaan masih memanfaatkannya. Selain itu juga, semua bangunan itu telah diregistrasi sebagai Cagar Budaya Kabupaten Kepahiang.

Tampak Gunung Bungkuk yang jauh berada di Kabupaten Bengkulu Tengah

Perkebunan teh Kabawetan telah merupakan bagian sejarah Kepahiang. Wajah pribumi, wajah kolonis, wajah Eropa, wajah Jepang dan wajah hari ini telah menjadi sebuah wajah bernama Kepahiang. Masih belum usai dibaca catatan-catatan panjang beku, tertanam di bawah akar-akar teh menusuk perbukitan yang luas itu. Akan semakin beku, bahkan berserpih, karena semakin dilupakan, ketika orang-orang hanya menatap permukaannya. Akar-akar pun akan semakin menghujam, menekan semakin jauh terkubur kisah-kisahnya.

All photos: privave collection
Taken by : Sony HDR CX405

Emong Soewandi
Emong Soewandi Blogger sejak 2014, dengan minat pada sejarah, sastra dan teater

2 comments for "PERKEBUNAN TEH KABAWETAN: HARI LALU DAN SEKARANG"