Skip to content Skip to sidebar Skip to footer

BUMI (TANPA) MANUSIA

Bumi (Tanpa) Manusia

Oleh: Yansen
Pandemi Covid-19 yang sedang terjadi adalah hentakan untuk mengingatkan bahwa manusia adalah bagian integral sistem rumah tangga alam. Alam adalah ruang interaksi biotik dan abiotik. Hidup manusia akan selalu dipengaruhi ekosistem di sekitarnya, mulai dari anasir biologi seperti dari wabah penyakit yang cepat menyebar dan bersifat sudden impacts, maupun perubahan iklim yang sifatnya long-term impacts. Karena itu, saat ini adalah waktu yang tepat untuk merefleksikan pendekatan kita terhadap alam.

Kita saat ini berada di badai besar perjalanan hidup manusia di bumi yang semakin menua. Beberapa waktu terakhir kita menyaksikan parade peristiwa seperti kebakaran hutan dan lahan di Australia, Amerika dan juga Indonesia, serangan belalang di Afrika dan India, serta yang paling mencemaskan pandemi Covid-19. Kejadian-kejadian ini sebenarnya menggambarkan interdependensi manusia dengan jejaring kehidupan bumi. Kita mungkin sampai pada pertanyaan eksistensial: apa nilai manusia di bumi ini?

Kegalauan Eksistensi Ekologis

Sebagai makhuk bumi paling cerdas dan berada di level atas rantai makanan, manusia mengeksploitasi alam dan mengubah setiap jejak muka bumi. Industrialisasi dan globalisasi seakan tak menyediakan ruang jeda bagi manusia. Namun globalisasi juga menjadi sarana penyebaran dan perkembangan komponen-komponen biologi negatif (bagi manusia). Pandemi Covid-19 adalah contoh nyatanya. Andrew Nikiforuk (2006) dalam Pandemonium mengatakan invasi penyakit seperti ini mengglobal karena tiga hal pendukung: ekonomi global, kepadatan penduduk (terutama kota besar) dan tingginya tingkat mobilitas manusia.

Globalisasi juga cenderung membentuk keseragaman. Introduksi monokultur adalah contohnya. Padahal, dalam perspektif imunitas, keseragaman bisa berbahaya. Varietas tanaman yang seragam misalnya lebih rentan gagal massal jika terserang hama. Industrialisasi juga membuat manusia berlomba menguras sumber daya alam sampai tetes-tetes terakhir. Ujungnya, daya dukung lingkungan semakin menurun.

Dengan bertambahnya penduduk, kebutuhan sumber daya alam pun semakin meningkat. Kita akan melihat bertambahnya eskalasi konflik sumber daya alam dalam pemenuhan klaim-klaim atas lahan untuk kebutuhan pangan, energi, pemukiman dan juga pertambangan dan industrialisasi. Pembangunan berkelanjutan mungkin akan jauh panggang dari api. Tindakan manusia menggundulkan hutan, ekstensifikasi pertanian, membunuh keanekaragaman jenis, mengeruk tambang dan mengakselerasi perubahan iklim bisa jadi telah melewati batas tatanan alam.

Saatnya Untuk Alam

Paradigma pembangunan memang sangat antroposentris. Kebaikan untuk manusia adalah ukuran kebaikan. Kemanfaatan bagi Homo sapiens dianggap sebagai tujuan puncak peradaban di dunia. Namun, tidakkah kita melihat ada dilema usaha rasional manusia untuk menjustifikasi hal tersebut?

Inilah ketakutan Max Horkheimer, tokoh Frankfurt School dengan mahzab kritisnya. Kadangkala, kata Horkheimer, kita memandang akal budi sebagai sesuatu yang netral. Namun, ketika akal budi kehilangan otonomi, ia dapat diisi oleh etika yang sepertinya etis, namun menjadi alat kapitalisme. Kadang ia hanya menjadi selubung etis, menyelubungi nafsu yang sebenarnya tidak etis.

Manusia kemudian membenarkan semua dilakukan atas dasar etis. Sejarah kolonialisme dan perbudakan misalnya dikatakan mempunyai sandaran etis. Penindasan dengan mudah dibenarkan atas nama filosofi akal budi. Charles O’Connor, politisi Amerika Serikat yang mencalonkan diri menjadi Presiden pada tahun 1872, pernah berujar bahwa perbudakan kaum kulit hitam adalah keadilan, sesuai kodrat dan punya sandaran filosofi yang sehat. Jadi, bukan hanya tidak sadar bahwa mereka telah melakukan penindasan, O’Connor bahkan menyebut itu sebagai sebuah keadilan.

Eksploitasi alam pun mungkin menurut manusia memiliki dasar filosofi yang kuat dan berakal budi. Namun, ketika terjadi bencana, alam dikatakan tidak bersahabat. Padahal kitalah yang merusaknya. Perebutan sumber daya alam antar sesama manusia juga sebenarnya menunjukkan bahwa akal budi dan rasionalitas eksploitasi adalah selubung kapitalisme. Betul kita perlu kesejahteraan, namun alam perlu kelestarian. Itu pun ujungnya kembali pada kemanfaatan bagi manusia.

Lalu, apakah kehidupan bumi akan lebih baik tanpa manusia? Tanya Alan Weissman dalam bukunya The World Without Us (2007). Mungkin tidak juga. Namun, pertanyaan eksistensial seperti ini harus diajukan untuk memberi ruang penilaian secara bijak manfaat keberadaan manusia di muka bumi. Dengan itu manusia mempunyai sandaran moral memutuskan langkah terbaik mengenai apa yang akan ia lakukan. Akal budi terhadap alam harus dimunculkan. Kita harus pindah dari antroposentris ke biosentris. Manusia hanya bagian dari alam, bukan satu-satunya yang harus selalu dikedepankan. Jika kita tidak memiliki akal budi kepada alam, bumi kita ini akan menjadi bumi tanpa manusia.
------------------------------
Tentang Penulis

Yansen
Doktor Bidang Ekologi, mengajar di Fakultas Pertanian, Universitas Bengkulu
Emong Soewandi
Emong Soewandi Blogger sejak 2014, dengan minat pada sejarah, sastra dan teater

Post a Comment for "BUMI (TANPA) MANUSIA"