Skip to content Skip to sidebar Skip to footer

KEUNIKAN-KEUNIKAN DALAM BAHASA REJANG

Marsden

Bahasa Rejang Termasuk Bahasa Daerah Terbesar di Indonesia

Bahasa Rejang merupakan bahasa dengan jumlah penutur terbanyak di Provinsi Bengkulu. Dengan jumlah penutur lebih dari 1 juta orang, bahasa Rejang juga termasuk dalam bahasa daerah terbesar di Indonesia. Terdapat empat dialek besar bahasa Rejang, yaitu Dialek Lebong, Dialek Musi, Dialek Pesisir dan Dialek Kepahiang. 

Rejang dialek Lebong secara umum dipergunakan di wilayah Kabupaten Lebong, dialek Musi dipergunakan di Kabupaten Rejang Lebong dan sebagian wilayah Merigi di Kabupaten Kepahiang. Dialek Pesisir di pergunakan di sebagian Bengkulu Tengah dan sebagian Kabupaten Bengkulu Utara, antara hingga wilayah Sungai Hitam (Bengkulu Tengah) hingga wilayah Urai (Bengkulu Utara). Terakhir, Bahasa Rejang dialek Kepahiang dipergunakan di sebagian besar masyarakat berbahasa Rejang di Kabupaten Kepahiang. 

Berdampingan secara ketat dengan bahasa Melayu Bengkulu, bahasa Rejang pun telah banyak menyerah dan menyerap kosa kata dari bahasa Melayu Bengkulu itu. Keberadaan bahasa Rejang telah menjadi cukup terancam, dengan banyaknya orang Rejang sendiri yang tidak menuturkannya lagi. Istilah Jang Kaet muncul sebagai sebutan bagai orang Rejang yang tidak begitu fasih berbahasa Rejang.

Sedikit sikap chauvinis terhadap bahasanya pada orang Rejang juga menjadi faktor kurang berkembangnya bahasa Rejang. Pada pengamatan penulis, banyak orang Rejang yang kurang menerima ada orang yang tidak fasih berbahasa Rejang, atau orang yang baru belajar bahasa Rejang, melakukan komunikasi dengannya. Mereka juga cenderung kurang menerima kesalahan orang lain dalam bertutur bahasa Rejang, bahkan pada sisi kecil aksentuasi sekalipun. Dalam kondisi ini, ada kecenderungan orang Rejang, bukan bertindak mengoreksi, tetapi akan segera mengajak lawan bicaranya untuk berganti bahasa ke bahasa Melayu Bengkulu atau bahasa Indonesia. Hal ini berakibat, banyak orang yang bukan penutur bahasa Rejang yang bertahun-tahun berdomisili di Tanah Rejang (terutama sekali wilayah pasar) tidak bisa, bahkan kurang berani berkomunikasi dalam bahasa Rejang.

Diturunkan Ke Aksara Surat Ulu/Kaganga

Sebagai aksara asli dalam kebudayaan Tanah Rejang, aksara kaganga diyakini bisa membunyikan fonologi bahasa Rejang. Dari sumber-sumber Barat, bahwa masyarakat Rejang pada masa lampau menggunakan aksara khusus untuk untuk menuliskan naskah. Aksara ini disebut aksara Rencong, Ka-ga-nga atau Surat Ulu. Istilah rencong lazim dipergunakan oleh sarjana Belanda, istilah Ka-ga-nga diperkenalkan oleh M. Jaspan, seorang etnolog dan linguis dari Australian National University, sementara orang-orang Rejang sendiri, termasuk juga Pasemah dan Serawai, sebenarnya lebih mengenalnya sebagai Surat Ulu.

Surat Ulu ini memiliki kemiripan dengan aksara Kerinci dan Lampung. Namun, terdapat beberapa perbedaan prinsip antara ketiga aksara itu, yang menjadikannya sebagai aksara yang masing-masing berdiri sendiri. Dari jumlah grafem, aksara Kerinci berjumlah 28, aksara Lampung berjumlah 19, sementara aksara Ulu berjumlah 23-28.

Diketahui juga, bahwa aksara Kaganga-Ulu, bukanlah merupakan aksara populis, yang dipakai dan dipraktikkan secara umum oleh sebuah masyarakat. Sebaliknya, aksara ini merupakan aksara yang dipergunakan secara terbatas. Dari hasil-hasil penelitian memperlihatkan, bahwa aksara ini tidak ditulis oleh orang-orang kebanyakan, melainkan ditulis di suatu tempat sebagai pusat penulisan (scriptorium) oleh para penulis (scriber) dari kelompok elit yang relatif terbatas. Penulisan aksara Hanacara di Jawa dilakukan di scriptorium-scriptorium yang dikenal dengan istilah-istilah seperti sangga, padepokan atau pesantrian. Sementara ini, belum diketahui nama tempat pusat penulisan ini di Tanah Rejang.

Referensi:
Sarwono, Sarwit, Tradisi Tulis Ulu di Bengkulu dalam Bunga Rampai Melayu Bengkulu. Bengkulu: Dinas Pariwisata Provinsi Bengkulu. 2004

Unsur Serapan dari Bahasa Inggris dan Belanda

Persentuhan bahasa Rejang dengan bahasa Inggris, tak lepas dari sejarah kedudukan kolonial Inggris yang berada di Bengkulu dalam jangka waktu yang relatif panjang. Sementara dengan bahasa Belanda merupakan persentuhan langsung, dimulai saat Belanda menganeksasi Tanah Rejang, 1870. Terdapat kosa kata dalam bahasa Rejang menyerap kota kata dari kedua bahasa asing itu. Kosa kata-kosa kata serapan ini umum adalah untuk benda-benda yang memang sebelumnya tidak dikenal oleh orang di Tanah Rejang. 

Bahasa Rejang Dipengaruhi Bahasa Jawa?

Banyak kosa kata bahasa Rejang secara fonetik identik dengan kosa kata dalam bahasa Jawa. Dengan situasi ini, maka sering muncul anggapan, bahwa bahasa Rejang dipengaruhi oleh bahasa Jawa.

Anggapan ini tidak benar. Bahasa Rejang tidak pernah dipengaruhi oleh bahasa Jawa. Fakta yang sebenarnya bahasa Rejang dan bahasa Jawa adalah satu rumpun, bahkan pada masa lampau merupakan satu bahasa, yang kemudian pisah (split) menjadi dua bahasa tersendiri. Seperti juga anggapan, bahasa Rejang bukan satu rumpun dengan bahasa Melayu, sebenarnya juga tidak tepat, karena pada kurun bahasa proto, bahasa Rejang dan bahasa Melayu adalah satu rumpun bahasa, yakni rumpun bahasa Austronesia Barat.

Banyak kosa kata dalam bahasa Rejang mirip dengan kosa kata di bahasa lain. Ini bukanlah hasil saling pengaruh-mempengaruhi, namun memang kota kata tersebut menjadi jejak-jejak arkais (purba) yang menandai bahasa bahasa Rejang bersama bahasa-bahasa lainnya adalah satu rumpun bahasa yang sama.

Berdasarkan perhitungan leksikostatistik, bahasa Rejang dan Pasemah waktu pisahnya adalah 1400 tahun lalu. Bahasa  Pasemah dan Serawai, waktu pisahnya diperkirakan 400 tahun lalu. Sementara bahasa Rejang dengan Simalungan waktu pisahnya diperkirakan 2113+168 tahun yang lalu.

Kekerabatan bahasa Rejang dengan beberapa bahasa: 

teko (Jawa) - teko (Rejang) = tiba
toko (Jawa) - tokoa, tmokoa (Rejang) = beli
andha (Jawa) - hagdan (Tagalog), ndea (Rejang) = tangga
bedeng (Jawa) - bedeng (Batak) - biding (Rejang) = pinggir
telu (Jawa) - tolu (Batak) - tolu (Samoa) - tatlo (Tagalog) - teleu (Rejang) = tiga
banyu (Jawa) - wai (Lampung) -vai (Samoa) - biyoa (Rejang) = air
rambut (Jawa) - buhok (Tagalok) - obuk (Batak) - buk (Rambut) = rambut

Nasalisasi pada Alih Subyek dalam Pembicaraan

Nasalisasi dalam bahasa Indonesia hanya dikenali pada fonem, baik vokal atau konsonan. Namun, dalam bahasa Rejang, nasalisasi ini memiliki keunikan, karena lebih luas lagi terjadi dalam struktur frase atau kalimat.

(Untuk sementara, penulis belum menemukan keunikan ini di selain bahasa Rejang)

Dalam suasana pembicaraan, ketika menceritakan tentang ucapan seseorang, maka orang Rejang mengubah suaranya menjadi sengau. Ini dilakukan untuk memperlihatkan, bahwa apa yang diucapkannya itu merupakan pengulangan dari ucapan orang lain. Terjadi juga alih karakter, di mana penutur mencoba menirukan intonasi hingga bahasa tubuh subyek yang diceritakan.

Ilustrasi
A bercerita kepada B tentang C
A: ade ba uku temeu ngen si, si madeak ko ngike, madeak ne coa awei o, ngike si, o madeak ne, ko ngike.
A: ada aku bertemu dia, katanya engkau bohong, katanya tidak seperti itu, bohong dia itu, begitu katanya, engkau bohong.

Kata-kata yang ditebalkan adalah struktur yang disengaukan, yang memproyeksikan oknum lain yang berujar.

Fenomena penyengauan ini juga akan terjadi, ketika seorang penutur bahasa Rejang berkomunikasi menggunakan bahasa Melayu-Bengkulu. Prosesnya pun sama, sebagai identifikasi oknum lain dalam konteks pembicaraan. Hal ini juga akan terjadi pada orang-orang yang bukan orang Rejang atau pendatang yang telah lama berdomisili di wilayah berbahasa Rejang.

Pola Inversi dalam Kalimat Tanya dan Perintah

Kalimat tanya dalam bahasa Indonesia memiliki pola Subyek-Predikat-Obyek (SPO) (engkau akan pergi kemana?). Pada pola ini untuk subyek yang menjadi tekanan atau fokus. 

Berbeda dengan pola itu, dalam dalam bahasa Rejang kalimatnya secara umum berpola inversi, di mana predikat akan mendahului subyek, Predikat-Subyek-Obyek (PSO) (akan kemana pergi engkau; akan kemana engkau pergi?; lak mai ipe ko?). Pada pola ini, unsur predikat atau bentuk kerja yang menjadi tekanan atau fokus.

Pola PSO ini, yang berfokus pada kata kerja mendahului subyek (kata benda persona) merupakan bentuk kesantunan. Namun, pada situasi tertentu pola ini dapat berubah dengan meletakkan posisi subyek di depan, menjadi berpola SPO. Perubahan pola ini akan mengubah pula makna semantik kalimat. Pada kalimat perintah, maka orang Rejang akan menggunakan pola ini. 

Pola SPO : aleu ba ko (pergilah kau)* (bersifat meminta)
Pola PSO : ko aleu ba! (kau pergilah!) (bersifat memerintah)

Demikian juga pada situasi marah, maka orang Rejang akan berkecenderungan menggunakan pola PSO

Pola SPO : lak mai ipe ko? (mau pergi kemana anda?)* (bersifat pertanyaan)
Pola PSO : ko lak mai ipe (anda mau pergi kemana!) (bersifat pertanyaan dan retoris)

* = bentuk umum yang dipergunakan 

Peluluhan Fonem Getar

Banyak yang tidak paham mengenai bahasa Rejang dengan mengatakan, bahwa orang Rejang tidak bisa membunyikan fonem /r/. Anggapan ini tidak begitu tepat. Penutur bahasa Rejang bukan tidak bisa melafazkan bunyi /r/ sebelum konsonan, karena dalam bertutur menggunakan bahasa bukan-Rejang, seperti bahasa Melayu-Bengkulu atau bahasa Indonesia, orang-orang Rejang akan sangat jelas dapat membunyikannya. Namun, jika bertutur dalam bahasa Rejang, maka kosa kata, terutama unsur serapan dari bukan bahasa-Rejang yang mengandung bunyi itu berkecenderungan diluluhkan. Bunyi /r/ akan bergeser menjadi zero atau vokal-rangkap (ea, oa).

Rumah = umea?       keris = ke:is           nyiur = ni:oA 
bibir = bebeA           garang = ga:Aŋ      sarung = sA:Uŋ
curup = Cu'Up          lebar = libeA
kurang = kuAŋ           
air = bi:yoA (mendekati bunyi way dalam bahasa Lampung, air atau sungai)

Di dalam bahasa Rejang sendiri, secara umum tidak terdapat bunyi-bunyi getar sesudah bunyi vokal  R=(vokal + /R/) pada suku kata tertutup. Sebaliknya, fonem getar biasanya akan terdapat pada pola konsonan + /R/.

grobok (grobo?) = lemari
grutut (grutut) = gerutut
droyot (droyot) = keluarga
gemricing (g:mriciŋ) = gemerincing
kresei (kresei:) , krosi (krosi:) = kursi; terjadi geser bunyi V + /R/ menjadi K + /R/ = krosi
 

Peluluhan Fonem-Fonem Nasal

Tidak terdapat bunyi konsonan nasal-konsonan di tengah sebuah kata. Struktur-struktur /-mp-/, /-mb-/, /-nt-/, /-ngg-/, /-ngk-/, secara umum tidak begitu tegas terbunyikan di kosa kata-kosa kata bahasa Rejang.

mbes = antar; akan terbunyikan m-me:s
mbin = ambil; akan terbunyikan m-mi:n
mbaco= membaca; akan terbunyikan m-maco 

Termasuk kata-kata dari kosa kata lain yang mengandung fonem-fonem tersebut, jika dituturkan dalam konteks bahasa Rejang akan mengalami situasi peluluhan ini, dengan kecenderung di bunyi nasal. 

kampung akan dibunyikan = kA:puŋ (luluh nasal -m-)
kantor akan dibunyikan = kA:toe:r (luluh nasal -ng-/)
panggung akan dibunyikan = pA:nguŋ (luluh nasal -ng-)
songkok akan dibunyikan = so:kO? (luluh nasal -ng-)
 
Namun, jika penutur bahasa Rejang menggunakan bahasa bukan-bahasa Rejang, maka peluluhan ini tidak terjadi. Orang Rejang akan bisa membunyikan kata-kata yang mengandung nasal itu secara sempurna. 

Undak Usuk Dalam Penyapaan

Bentuk krama dalam pembicaraan orang-orang Rejang adalah menerapkan undak usuk, dengan menggunakan kata "ko, udi dan kumu"; ketiga kata ini semuanya berarti 'engkau, kau, anda'. Ko dipergunakan antar orang-orang yang usia yang setara, juga dari orang berusia yang lebih tua kepada orang yang berusia lebih muda. Udi dipergunakan dari orang yang lebih muda kepada orang yang berusia lebih tua, jika dalam tataran keluarga, dari adik kepada kakak. Kumu dipakai kepada orang tua, atau orang yang dihormati.

Di Rejang dialek Kepahiang, undak usuk ini tidak ada. Untuk seluruh tataran usia semuanya menggunakan ko. Anak ke kakak, juga anak ke orang tua. 

Ini akan memberikan kejutan sementara bagi orang-orang Rejang dari lain dialek, yang pertama kali berkomunikasi dengan orang Rejang Kepahiang. Sebagaimana penulis alami sendiri, saat awal berdomisili di Kepahiang, seorang siswa bertanya "nak ipe umeak ko, Pak?" (di mana rumah kau, Bapak?). Penulis yang telah terbiasa dengan Rejang dialek Musi, sebagaimana umum dipergunakan di Curup, terkejut dan sempat membuat penulis mengira anak tersebut telah memperlihatkan ketidaksopanan, karena selayaknya dia menggunakan kata kumu kepada penulis.

Penutup

Apa yang tertuang dalam tulisan ini berangkat dari pengamatan penulis yang berada di antara masyarakat penutur bahasa Rejang, di Kepahiang dan Curup. Banyak aspek yang ditulis masih memerlukan kajian-kajian ilmiah melalui disiplin linguistik, etnografi, antropolinguistik atau sosiolinguistik.

Walaupun disebut sebagai bahasa terbesar di Provinsi Bengkulu, namun bahasa Rejang belum begitu mendapat tempat yang besar dalam wilayah pengkajian atau penelitian. Padahal, masih begitu banyak sisi di bahasa Rejang yang menarik untuk dipelajari, sebagaimana beberapa keunikan yang di atas, sering tidak disadari oleh penutur bahasa Rejang. Diperlukan orang-orang yang jeli untuk melihat fenomena-fenomena keunikan itu, yang selanjutnya akan menjadi sebuah bahan untuk kajian-kajian yang lebih serius.

Saatnya pun, orang-orang Rejang lebih bangga memiliki bahasa Rejang, bangga berbahasa Rejang. Sebuah bahasa yang agung, mandiri dan khas. Saatnya orang Rejang juga, untuk tidak malu karena aksen khasnya. Perjalanan panjang bahasa Rejang, telah memperlihatkan bagaimana bahasa ini mampu tetap bertahan dikelilingi bahasa-bahasa daerah lainnya, baik bahasa daerah lain di Provinsi Bengkulu, maupun bahasa daerah dari luar. Namun, perjalanan panjang ini juga belum menjadikan bahasa Rejang sebagai identitas tegas bagi orang Rejang dan Tanah Rejang. 

Penulis sendiri berasal dari keluarga campuran suku. Ayah bersuku Lampung, ibu bersuku Rejang Pesisir (Kota Agung-Lais). Di rumah, sejak kecil kami menggunakan bahasa Melayu. Lingkungan penulis sendiri adalah masyarakat majemuk (Dwi Tunggal-Curup). Penerimaan dasar penulis tentang bahasa Rejang berasal dari Ibu yang sering penulis simak saat beliau berkomunikasi dengan keluarganya.


Emong Soewandi
Emong Soewandi Blogger sejak 2014, dengan minat pada sejarah, sastra dan teater

6 comments for "KEUNIKAN-KEUNIKAN DALAM BAHASA REJANG"

  1. yups, some words are familiar in English👍🏻

    ReplyDelete
  2. Terima kasih tulisannya, Pak. sebagai org rejang kami sendiri tidak tau, atau tidak menyadri betapa uniknya bahasa kami...

    ReplyDelete
    Replies
    1. Semoga bermanfaat. Terima kasih sudah berkunjung

      Delete
  3. Replies
    1. Sama-sama. Terima kasih juga sudah berkunjung :)

      Delete