Skip to content Skip to sidebar Skip to footer

CERITA RAKYAT LEMBAK: RADEN BURNIAT

Ilustrasi. Gunung Bungkuk, Bengkulu Tengah (koleksi Emong Soewandi

RADEN BURNIAT

Cerita rakyat Lembak Bengkulu

Di dusun Tanjung Terdana berdiam dua orang suami isteri. Mereka itu sudah lama berumah tangga, namun Tuhan belum memberinya keturunan. Meskipun demikian mereka tetap hidup rukun.Suami istri itu tidak pernah berputus asa untuk mendapatkan keturunan. Sudah banyak dukun yang didatanganinya untuk berobat dan diurut. Bukan hanya pergi ke dukun, akan tetapi semua cara yang lazim pada waktu itu telah dicobanya, namun belum juga ada tanda-tanda akan dikaruniai anak. Setelah kehabisan akal, maka ia pun pergi ke Gunung Bungkuk untuk bertarak atau bersemadi sambil memohon kepada Yang Maha Kuasa.

Setelah sekian lama sang suami bersemadi, pada suatu malam ia mendengar suara menggema, yang tidak diketahui dari mana asal suara itu. Namun dapatlah ia memastikan bahwa suara itu merupakan Ilham yang datang kepadanya kesungguhannya dalam berusaha dan memohon kepada yang Maha Kuasa. Suara yang didengarnya itu menyatakan bahwa tidak lama lagi ia akan dikaruniai anak, namun'diingatkannya pula bahwa kelahiran anaknya itu akan menimbulkan keributan-keributan dan kekacauan.

Walau apapun yang akan terjadi akibat kelahiran anaknya nanti, sang suami tetap akan menerimanya. Ia akan tetap tabah dan sabar dalam menghadapi segala sesuatunya akibat kelahiran anaknya nanti.

Keesokan harinya, setelah mendengar suara, ia pun bergegas pulang menemui istrinya yang tercinta. Dengan perasaan gembira sang suam1 mengatakan bahwa tidak lama lagi kita akan dikaruniai seorang anak. Mendengar kata-kata suaminya itu istrinya pun terkejut, dan bertanyalah ia kepada suaminya, "Dari manakah kakanda mengetahui bahwa kita akan dikaruniai seorang anak?"

Diceritakannya semua yang dialami sewaktu ia bersemadi. Istrinya pun mendengarkannya sungguh-sungguh dan percaya bahwa akan mendapatkan seorang anak. Sudah barang tentu ia merasa senang dan bergembira.

Raden Burniat Lahir

Tidak beberapa lama sesudah itu terbuktilah apa yang dikatakan suara di Gunung Bungkuk, waktu ia bersemadi, istrinya mengandung. Setelah sembilan bulan ia me'ngandung, lahirlah anak yang dinantikannya itu. Anak itu laki-laki, gagah, wajahnya tampan. Tak ada seorang anak pun di dusun itu yang menandingi kegagagahan dan ketampanan wajahnya. Siapa pun yang melihatnya pasti akan merasa senang, apalagi orang tuanya, yang sudah lama merindukan kehadirannya. -anak itu diberi nama Raden Burniat.

Apa yang dikatakan suara di Gunung Bungkuk, bahwa kelahiran anak itu menimbulkan keributan dan kekacauan, pun benar-benar terjadi. Tiga hari setelah Raden Burniat lahir ia menghilang, tak seorang pun mengetahui di mana ia berada. Penduduk di desa itupun ributlah, mereka menyebar ke seluruh pelosok di desa itu untuk mencarinya. Ditanyakan kepada dukun-dukun namun tidak juga ditemukan. Ibunya merasa sangat sedih bahkan meratap menangis tidak henti-hentinya.

Dua hari sesudah Raden Burniat menghilang, sore hari menjelang maghrib, pada saat sang suami masuk ke dalam kamarnya untuk menunaikan sholat maghrib, dilihatnya anaknya sedang tidur dengan pulasnya. la mencium anak itu, kemudian memanggil istrinya. lstrinya pun datang berlari mendapatkan anaknya. Diciumnya anak itu sepuas-puasnya untuk melepaskan kerinduannya.

Ketika Raden Bumiat berumur tujuh hari anak itu menghilang lagi, seperti waktu ia berumur tiga hari. Penduduk di desa itu pun ribut mencarinya, namun usaha mereka tidak berhasil. Raden Burniat ditemukan ayahnya pada waktu dan tempat yang sama seperti pada peristiwa yang pertama.

Sebulan kemudian Raden Burniat menghilang lagi, namun penduduk tidak lagi meributkannya. la ditemukan ayahnya pada waktu dan tempat seperti pada peristiwa-peristiwa terdahulu.

Kejadian seperti itu terus berulang sampai Raden Burniat berumur 15 tahun. Pada waktu itu ia dititipkan ayahnya pada seorang guru persilatan. Teman-teman seperguruannya sangat sayang dan senang bergaul dengannya. Karena ia seorang yang jujur, sayang kepada yang lebih muda dan hormat kepada yang tua, ia suka dan pandai mendamaikan teman-teman yang saling berselisih di antara teman-temannya, dialah yang selalu mendamaikan dan memisahkan.

Pada suatu waktu ketika saatnya sang guru mengadakan latihan bela diri, sang guru hendak mengetahui sampai di mana murid-muridnya. Dikumpulkannya ·murid-muridnya di ·suatu lapangan terbuka dan berkatalah sang guru "Pada hari ini kita mengadakan latihan bela diri menghadapi serangan musuh yang jumlahnya lebih dari satu orang. Kita memerlukan ·keahlian untuk melompat dalam usaha menghindari serangan itu. Oleh karena ·itu saya ingin mengetahui sampai di mana kemampuan kalian".

Latihan itu pun dimulai, satu persatu maju untuk memperlihatkan kemampuannya, dalam menghadapi serangan dari empat penjuru. Sang guru tersenyum ,bangga melihat murid-muridnya sebagian besar dapat memperlihatkan ketangkasannya.

Tibalah saatnya Raden Burniat mendapat giliran. "Hai Burniat! sekarang giliranmu bersiap-siaplah"! Kata gurunya.

Mendengar seruan dan perintah gurunya itu ia pun bangkit. Dengan langkah yang mantap dan ,tenang ia maju memasuki arena latihan. Serangan tiba-tiba dan serentak dari empat penjuru datang mengarah kepadanya. Namun dengan kecepatan dan ketangkasan yang laur biasa ia melompat untuk menghindari serangan itu. Lompatannya mencapai ketinggian lebih dari 100 meter di atas tanah.

K.ejadian ini disaksikan gurunya dengan murid-murid yang lain, dengan rasa kagum dan keheran-heranan. Bahkan teman-teman seperguruannya merasa cemas kalau-kalau ia tidak bisa turun kembali. Sebab ia tak tampak lagi oleh mereka

Beberapa saat kemudian Raden Burniat turun kembali di tengah-tengah arena latihan. Ia tersenyum dan tidak memperlihatkan kesombongan dan keangkuhannya, walaupun mempunyai kemampuan yang melebihi kawan-kawan seperguruannya, bahkan mungkin gurunya.

Setelah menyaksikan kejadian itu Sang guru mengakui keajaiban muridnya yang satu itu. Ia merasa tidak sanggup untuk terus membimbingnya. Karena itu ia bermaksud menyerahkan kembali kepada ayahnya. la pun menemui ayah Burniat, dan disambutnya dengan hormat. Dalam hatinya ayah Burniat bertanya-tanya gerangan apakah yang terjadi terhadap anaknya, sampai-sampai gurunya datang.la khawatir kalau-kalau anaknya melanggar atau tidak taat kepada perintah gurunya.

Sang guru mengutarakan maksud kedatangannya, seraya berkata "Wah, Pak, saya tidak sanggup lagi tnengajar anak Bapak. Ia sangat aneh dan ajaib, lain dari pada yang lain. Kami semua cemas dibuatnya".

"Apa yang terjadi?" tanya ayah Raden Burniat, "Apakah ia nakal atau berbuat yang tidak baik?"

"Oh tidak demikian," jawab sang guru. "Ia anak yang baik, jujur dan taat".

"Jadi apa yang telah terjadi?". Tanya ayah Raden Burniat heran.

Kemudian sang guru menceritakan kepadanya apa yang terjadi di arena latihan. Setelah itu ia pun berkata kepada ayah Burniat. "Karena kejadian itulah saya tidak lagi sanggup mengajarnya, saya khawatir akan terjadi yang tidak diinginkan. Saya tidak mau menanggung resikonya".

Mendengar cerita sang guru itu teringatlah ia pada masa 16 tahun yang lalu, sewaktu bertapa di Gunung Bungkuk. la termenung  sejenak, lalu katanya kepada sang guru. "Kalau demikian halnya terserahlah kepadamu, saya tidak dapat berbuat apa-apa, jika kehendakmu demikian. Saya mengucapkan terima kasih banyak atas bimbinganmu kepada anakku Raden Burniat yang telah banyak membuat kesalahan".

Demikianlah maka diserahkannya Raden Burniat kepada·ayahnya. Kini ia tidak lagi menjadi murid pada perguruan persilatan. Ia hidup bersama ayahnya. Pekerjaannya sehari-hari hanyalah membantu orang tuanya berladang dan mencari kayu di hutan. Ia taat kepada orang tuanya, apa yang diperintahkannya dilakukannya dengan penuh tanggung jawab. Karena itu kasih sayang orang tuanya semakin bertambah, apa lagi sebagai anak tunggal. Namun demikian ia tidak manja, seperti halnya anak-anak tunggal pada umumnya. 

Pada masa hidup Raden Burniat, penjajah Belanda masih bercakal di Indonesia termasuk di daerah Bengkulu. Seperti di daerah-daerah lain di seluruh Indonesia. Penjajah Belanda bertindak sewenang-wenang terhadap rakyat Indonesia. Demikian juga di· Bengkulu. Raden Burniat tidak senang melihat tindakan Belanda yang sewenang-wenang itu.

Salah satu tindakan sewenang-wenang pertjajah Belanda yang sangat ditentang oleh Raden Burniat ialah mewajibkan kepada semua penduduk yang sudah berumur 15 tahun ke atas untuk membayar pajak. Tanpa ·melihat apakah penduduk itu mampu atau tidak. Pajak itu yang dinamakan pajak kepala/Beles­ting.

Pada waktu itu semua orang takut untuk tidak membayar pajak kepala tersebut, pada hal kebanyakan penduduk tidak mampu. Namun tidak demikian dengan Raden Bumiat, ia menolak untuk membayar pajak kepala. Pada waktu itu umumya sudah lebih dari 15 tahun, sudah dikenakan wajib membayar pajak.

Pada waktu petugas pajak datang menagih kepada Raden Burniat, ia menolak untuk membayar. Bahkan ia berkata dengan suara keras dan tegas. "Saya tidak mau membayar. Apabila Belanda marah, suruh ia datang kemari menghadap!"

Ia berkata demikian bukan karena sombong, akan tetapi ia ingin membela rakyat yang lemah, agar pajak itu dihapuskan saja. Sebab sangat memberatkan penduduk. Mendengar kata-k.ata Raden Burniat itu, petugas pajak itu pμn bingung, ia takut atasannya akan marah, karena tidak dapat menagih pajak kepada Raden Burniat. Ia berpikir bagaimana caranya untuk mendapatkan pajak Raden Burniat.

Akhimya ia dapat akal juga. Disuruhnya tiap-tiap penduduk di desa itu mengumpulkan uang secara iliran. Hasil iuran itu digunakan untuk membayarkan pajak Raden Burniat. Namun hal ini tidak diketahui oleh Raden Burniat. Setahun dua tahun penduduk di desa. itu sanggup dan mau membayar iuran buat membayar pajak Raden Burniat. Untuk seterusnya mereka tak 8anggup dan tak mau lagi.

Akhirnya Raden Burniat pun mengetahui siasat Petugas pajak itu. Ia marah kepada penduduk seraya berkata, "Saya tidak pemah menyuruh kalian membayarkan pajak saya, kalian orang-orang bodoh, mau menambah kekayaan orang Belanda".

Mendengar kata-katanya itu salah seorang penduduk berkata. "Kalau memang benar-benar berani dan tak sanggup membayar pajak, coba kau bunuh orang-orang Belanda itu".

Bukan main marahnya Raden Burniat mendengar kata-kata orang itu. la bertekad untuk bisa bisa menjawab tantangan orang tadi. la berjanji dan minta tempoh 7 hari. Ia berkata "kalian akan dapat menyaksikan bahwa saya dapat membunuh orang-orang Belanda yang ada di Benteng Marlborough".

Perang Melawan Penjajah 

Keesokan harinya Raden Burniat mengundang teman-temanya seperguruan waktu belajar persilatan. Baik dari daerah Timur, Barat, Selatan dan Utara. Sebanyak 6 orang temannya yang yang datang, memenuhi undangannya. Berkata Raden Burniat kepada teman-temannya itu, "Maksud saya mengundang kalian adalah mengajak kalian menggempur Benteng Marlborough Bengkulu dan membunuh orang Belanda yang ada di dalamnya, apakah kalian sanggup?" tanya Raden Burniat. Tujuan ini sangat membahayakan, karena taruhannya adalah nyawa. Namun demikian keenam temannya itu menyanggupinya.

Pada hari yang ketujuh malam harinya berangkatlah ketujuh orang itu, di bawah pimpinan Raden Burniat. Persenjataan mereka lengkap, ada yang membawa pedang, tombak, pisau dan keris. Setelah beberapa jami berjalan sampailah mereka ke tempat yang dituju, yaitu Benteng Bengkulu.

Mereka sampai di Bengkulu pada malam hari, di saat semua orang sedang tidur dengan nyenyak. Demikian juga orang-orang Belanda yang ada di dalam Benteng, kecuali penjaga pintu. Sebelum memasuki Benteng, mereka berkumpul untuk mengatur siasat dan menerima perintah dari Raden Bumiat. Diperintahkannya agar tiap orang harus membunuh Belanda. Raden Burniat masuk lebih dahulu, karena ia dapat menghilang, maka dengan mudah ia dapat membunuh penjaga pintu.

Setelah teman-temannya mengetahui penjaga pintu sudah dibunuh, mereka pun memasuki Benteng dengan aman. Mereka membunuh semua orang Belanda, yang ada di dalam Benteng. Raden Burniat telah memutuskan kepada anak buahnya agar, setelah dapat membunuh orang Belanda, sebelum pulang ke kampung, berkumpul kembali.

Karena itu sebelum mereka meninggalkan Benteng mereka berkumpul lebih dahulu. Satu di antara mereka belum juga hadir, maka Raden Burniat memerintahkan untuk mencarinya. Akhirnya mereka menemuinya sedang tidur dalam kamar Residen.

Mereka bertanya kepadanya. "Jadi apa yang kau kerjakan di sini"?

"Mulai dari saat keberangkatan, saya punya niat untuk mencoba tidur di kamar Resiqen. Nah sekarang saya telah merasakan bagaimana rasanya tidur di kamar Residen, jadi maksud saya sudah tercapai".

Ketujuh orang pejuang itu sudah berkumpul kembali. Mereka harus meninggalkan Bengkulu sebelum terbit fajar. Sebelumnya mereka minggalkan secarik kertas. yang bertulisan, "Siapa yang mau membalas, silahkan datang ke tempat kami dusun Tanjung Terdana. Kami siap menunggu untuk menghadapi segala kemungkinan".

Setiba di kampungnya Raden Burniat memberitahukan kepada Penduduk di desanya bahwa ia sudah kembali dengan selamat, dan dapat membunuh banyak orang Belanda. Diberitahunya pula bahwa Belanda akan datang mengadakan serangan balas dendam. Karena itu diperintahkannya kepada semua penduduk untuk bersiap-siap menghadapi segala kemungkinan untuk mempertahankan Kampung.

Raden Burniat dengan anak buahnya menunggu kedatangan pasukan Belanda di pinggir sungai. Burniat berpesan kepada buahnya agar dalam keadaan bagaimana pun jangan sekali mundur. Kalau mundur, walau satu orang, pasti akan mengalami kekalahan. Semua anak buahnya siap untuk melaksanakan perang itu. 

Pasukan Belanda pun tiba, namun tidak melihat Raden Burniat dan anak buahnya, yang sudah siap di pinggir sungai. Raden Burniat dan anak buahnya dapat menghilang, karena tentara Belanda banyak yang tewas dibunuh oleh anak buah Raden Burniat.

Makin banyak tentara Belanda yang terbunuh, semakin hebat serangan-serangan yang dilakukan pasukan Belanda. Pasukan datang terus, tidak ada hentinya, siang mau pun malam, sehingga banyak rumah penduduk yang terbakar dan penduduk menderita karenanya.

Dalam pertempuran itti salah satu anak buah Raden Burniat yang tidak sanggup lagi menghadapi serangan-serangan pasukan Belanda. Ia 1ari mundur. Rupanya ia tidak ingat pesan Raden Burniat. Begitu ia mundur Belanda menggempur terus, orang itu tertembak kakinya sebelah kanan. Keadaan ini melemahkan semangat anak buah Raden Burniat.

Mereka menjadi bingung, tak tahu apa yang harus dikerjakan untuk menyelamatkan kawannya yang terluka itu. Akhirnya mereka dapat dikalahkan oleh pasukan Belanda. Semua anak buah Raden Burniat ditangkap dan dipenggal kepalanya, lalu dimasukkan ke dalam peti untuk dibawa ke Bengkulu. Hanya Raden Burniat yang lolos, ia lari masuk hutan. 

Meskipun Raden Burniat dan anak buahnya sudah dikalahkan, namun serangan Belanda tetap diteruskan. Sasaran penduduk desa mereka dianiaya, rumahnya dibakar dan kebun-kebunnya dirusak. Akibatnya rakyat di desa itu yang  menderita karena tindakan balas dendam orang-orang Belanda. Pasukan Belanda bertekad, bahwa sebelum Raden Burniat menyerah Belanda tetap mengadakan tekanan dan ancaman terhadap penduduk desa itu.

Penduduk akhirnya tidak lagi. tahan menghadapi penderitaan karena tekanan terus-menerus dari Belanda. Mereka berpikir, mungkin semuanya akan berakhir, jika Rade Burniat menyerah kepada Belanda. Seorang pemuda, sahabat Raden Burniat diperintahkan untuk mencari Raden Burniat, kemudian diajak untuk menyerah kepada penjajah Belanda.

Setelah beberapa hari mencari, usaha pemuda itu berhasil, ia dapat menjumpai Raden Burniat di tengah hutan sedang duduk termenung. Pemuda itu mendekatinya seraya katanya, "oh Raden Burniat, kembalilah ke desa, menyerahlah! Penduduk di desa kita tak dapat lagi menahan penderitaan akibat tindakan dan perbuatan penjajah Belanda. Sebagian penduduk sudah mengungsi ke dusun lain".

Raden Burniat diam tidak berkata apa-apa. Pemuda itu menungguinya sampai Raden Burniat mau kembali ke desanya. Berkat kesabaran .pemuda itu, akhirnya Raden Burniat mau mengikuti ajakannya. Ia pun kembali ke desanya. Setibanya di desa ia tidak terasa aman dan tenteram, sebab Belanda selalu mengancam akan membunuhnya.

Usaha orang-orang Belanda untuk membunuhnya selalu gagal, sebab Raden Burniat dapat menghilang. Karena itu Belanda menjalankan siasat. Belanda menjanjikan hadiah kepada siapa saja yang dapat menangkap Raden Burniat hidup atau mati.

Di antara penduduk desa itu seorang bernama Kapung. Ia  lebih menghargai harta dari pada nyawa bangsanya sendiri. Ia tertarik kepada hadiah yang dijanjikan oleh Belanda. Ia pun menyanggupi untuk membunuh Raden Burniat.

Sebelum Burniat tertangkap ia sering mengadakan serangan kepada orang Belanda. Suatu ketika seorang pembesar Belanda sedang lengah, ditamparnya dengan tangan kiri. Pembesar Belanda itu pingsan, dan kemudian mati. Sebagai bukti masih ada makam pembesar Belanda tersebut, yang berbentuk tugu. Tetapi sekarang sudah pecah-pecah akibat ditumbuhi pohon. Tugu itu terletak dusun lama Tanjung Terdana. Di dusun itu ada juga peninggalan Bumiat berupa sebatang ambacang, pohon itu sampai saat ini rnasih hidup.

Raden Burniat Dibunuh Pengkhianat

Orang yang bernarna Kapung itu rnulai berusaha untuk membunuh Raden Burniat. Usaha Kapung ini tidak mengalami kesulitan. Burniat tidak rnengetahui bahwa Kapung akan membunuhnya. Karena itu ia tidak rnencurigai Kapung. Pada waktu ia lengah, Kapung mencabut pedangnya yang tajarn. Pedang itu telah dipersiapkan untuk rnernbunuh Raden Bumiat. Kepala Raden Burniat dipancung, terpisah dari badannya. Kepala itu dimasukkan Kapung ke dalarn peti, untuk kemudian diserahkan kepada komandan tentara Belanda. Waktu tentara Belanda mernbuka peti dilihatnya kepala Burniat masih tetap tersenyurn.

Peti berisi kepala Burniat dibawa tentara Belanda ke Bengkulu, ke Benteng Malborough. Akan tetapi di tengah perjalanan menuju Bengkulu, ketika peti itu dibuka temyata kepala Raden Burniat tidak ada lagi. Tentara Belanda yang membawanya itu pun menjadi ribut. Mereka saling menyalahkan satu sama lain.

Karena kesaktian Raden Burniat itu, kepalanya yang terpisah dengan badan dapat bersatu kernbali. Dia menemui Kapung. Katanya kepada Kapung, 'hai Kapung, engkau tidak akan mendapat hadiah, karena saya tidak mati. Sebaliknya terimalah hadiah dari orang Belanda berupa pedang yang akan memotong lehermu."

Kapung merasa cemas mendengar suara itu. Ia masih belum percaya jika Raden Burniat hidup kernbali. Tapi rnemang benar, tak beberapa lama setelah itu datanglah tentara Belanda ke desa untuk membunuh Kapung. Kapung dapat ditangkap dan kemudian dibawah. Tamatlah riwayat Kapung. la tidak menerirna hadiah yang diharapkan, bahkan ia sendiri dibunuh oleh Belanda.

Setelah kejadian itu, Raden Burniat kembali menghilang. Ia tidak pernah terlihat lagi di mana-mana. Sebagian kata orang, dia pulang dan hidup di Gunung Bungkuk.

Emong Soewandi
Emong Soewandi Blogger sejak 2014, dengan minat pada sejarah, sastra dan teater

Post a Comment for "CERITA RAKYAT LEMBAK: RADEN BURNIAT"