Skip to content Skip to sidebar Skip to footer

GAGASAN JIWA DAN TATA CARA SUMPAH ORANG REJANG

Sebagaimana di nusantara pada umumnya, pengaruh animisme di kalangan orang Rejang juga sangat kuat. Pada kejadian-kejadian seperti penyakit, sumpah, awal dan akhir panen, kelahiran, pernikahan, kematian dan lain-lainnya takhayul memainkan peran penting. Kekuasaan yang diberikan dan pengaruh berasal dari leluhur, diwo (dewa), dewi dan roh (semat, hantu), yang berdiam di air, bumi, hutan roh, di gunung. Selain para dewa, umumnya setiap orang memiliki roh penjaga pribadi (akuan). Untuk itu harus ditawarkan, yang biasanya dari dilakukan dengan cara pembakaran kemenyan, menyembelih ayam, kambing atau kerbau. Beberapa peneliti dan traveler di wilayah Rejang, menyatakan juga, bahwa kepercayaan terhadap takhayul, seperti pemakaian jimat, benda-benda fetisis (mistis atau memiliki kekuatan) atau hari baik-buruk, juga masih terdapat pada orang-orang Rejang yang menganut agama Islam secara fanatik sekalipun.

Animisme yang berasal dari kata anima, dari bahasa latin animus dan bahasa yunani anepos, yang secara umum artinya napas atau jiwa. Animisme merupakan pandangan tentang realitas jiwa. Paham animisme mempercayai bahwa setiap benda di bumi ini mempunyai jiwa yang mesti dihormati, agar jiwa tersebut tidak mengganggu manusia, atau bahkan bila perlu membantu mereka dalam kehidupan ini. Animisme dapat diartikan sebagai kepercayaan manusia pada roh leluhur.

Dalam keyakinan masyarakat yang menganut paham animisme, mereka meyakini bahwa orang yang telah meninggal dianggap sebagai yang mahatinggi, menentukan nasib dan mengontrol perbuatan manusia. Pemujaan semacam ini lalu berkembang menjadi penyembahan roh-roh. Roh orang yang meninggal dianggap dan dipercayai mereka sebagai makluk kuat yang menentukan, segala kehendak serta kemauan yang harus dilayani. Mereka juga beranggapan roh tersebut juga dapat merasuk kedalam benda-benda tertentu. Roh yang masuk kesebuah benda akan menyebabkan kesaktian atau kesakralan benda tersebut. Maka dari itu masyarakat tadi menyembah pada roh-roh tersebut supaya selamat dari bahaya.

Masyarakat percaya bahwa roh itu bukan hanya menempati makluk hidup, tetapi juga benda-benda mati, sehingga roh itu terdapat dalam batu-batuan, pohon-pohon besar, tombak atau kepala manusia yang dimumi. Karena adanya kepercayaan pada roh dan hantu, timbullah pemujaan pada tempat/benda yang dianggap dihuni roh. Dan yang dipuja agar membalas kebaikan, ada pula yang dipuja agar roh itu tidak mengganggu. Mereka beranggapan bahwa jika ada bencana alam berarti roh-roh alam sedang marah.

JIWA

Ada gagasan tentang jiwa manusia dalam pandangan mitis orang Rejang yang mempengaruhi hidup manusia. Jiwa ini merupakan bagian tak terpisahkan dari manusia, yang menentukan hidup dan mati manusia, serta prilaku manusia. J.L.M. Swaab dalam Beschrijving der Onderafdeling Redjang mencatat empat gagasan jiwa yang dipercaya orang Rejang, yakni jiwa yang memberi hidup, jiwa marah, jiwa semangat dan jiwa hidup merupakan empat jiwa pada seorang manusia.

Jiwa yang Memberi Hidup

Jiwa yang memberi hidup, yang disebut rekan, yang duduk pada sebuah kursi dalam tubuh seseorang dan dapat hilang untuk waktu yang singkat selama kehidupan seseorang. Mimpi misalnya juga merupakan salah satu bentuk kehilangan jiwa ini. Setelah kematian, kursi itu akan dikembalikan ke “Dewa Menating Nyawa”. Jika jiwa ini menempati tubuh yang baik pada masa hidupnya, maka kursinya akan segera diletakkan oleh dewa pada tubuh seorang bayi yang baru lahir. Tetapi, jika jiwa itu berasal dari tubuh yang tidak baik semasa hidupnya, maka jiwa itu akan berkeliaran sendiri mencari tempat barunya, dia berpindah ke tubuh manusia yang jahat lainnya, atau binatang. Metempsikosis (perpindahan jiwa manusia ke tubuh lain, reinkarnasi) ini berjalan hingga mencapai 7 kali berpindah tempat, di mana pada tempat ketujuh jiwa akan menemukan tubuh yang baik, tempat kursinya diletakkan dewa.

Jiwa Marah

Jiwa marah; jiwa yang menyebabkan manusia memiliki perasan-perasan tertentu, seperti marah atau sedih. Jiwa ini akan meninggalkan tubuh setelah kematian, kemudian dia mengembara menjadi hantu.

Jiwa Semangat

Jiwa milik manusia namun berada di luar tubuh manusia, menempati tubuh hewan, tanaman atau benda mati. Semangat ini jika keluar dari tempatnya, maka bisa menyebabkan terjadinya penyakit, malapetaka, bahkan mungkin juga kematian pada pemiliknya. Jiwa ini dapat bersifat kolektif, di mana jiwa-jiwa manusia menempati satu semangat pada pada hewan atau tumbuhan. Di Tanah Rejang, tumbuhan yang paling dikenal memiliki semangat yang akan mempengaruhi manusia adalah padi.

Jiwa Hidup

Jiwa hidup, disebut Jiwa Cacing Gelong Rajo bertempat di dalam tubuh manusia. Cacing ini diam dalam tubuh manusia dan ketika dia merayap di kepala, akan menimbulkan sakit di kepala; kemana pun di berpindah tempat, maka pada tempat itu akan timbul rasa sakit. Jika cacing itu mati, maka tubuh manusia juga akan mati.

SUMPAH

Bentuk-bentuk kepercayaan orang Rejang yang khas lainnya adalah dalam tata cara bersumpah. Ada 5 bentuk tata cara mengambil sumpah yang sering dipakai oleh kalangan masyarakat Rejang di Onderafdeling Rejang. Pada masa telah berkembangnya Islam di Onderafdeling Redjang, doa-doa yang berasal dari Al Quran dan berbahasa Arab mulai dipakai dan menggantikan mantera-mantera, atau pun gabungan mantera dengan doa-doa Islam, namun tata cara sumpah tidak mengalami perubahan.

Rajah yang digambarkan di tanah untuk Sumpah Rajo Sulaiman

Sumpah Rajo Sulaiman

Sumpah ini dilakukan sebagai penutup upacara damai antara orang yang berseteru dan sebagai pengikat perjanjian. Mereka yang bersumpah, menempelkan sebatang tongkat bambu di sudut-sudut segitiga terbalik atau semua sudut, sebagai simbol dusun/marga mereka, sedangkan dukun menempelkan tongkatnya di ujungnya.. Dia disumpah, yang disaksikan penguasa setempat, tokoh-tokoh adat dan agama serta roh-roh nenek moyang. Roh-roh nenek moyang atau "penjaga mistis" yang hadir menyaksikan akan menghukum dengan segala macam kejahatan jika ada yang bersumpah berbicara tidak benar atau melanggar sumpahnya. Untuk memanggil roh-roh nenek moyang ini dilakukan oleh seorang dukun. Ketika sumpah diucapkan telapak tangan kanan dukun memegang gambar bulatan di samping gambar segitiga.

Sumpah Di Atas Kuburan

Sumpah ini diberlakukan kepada sepasang laki-laki dan wanita yang dituduh berbuat serong, untuk membuktikan mereka melakukannya atau tidak. Mereka yang akan bersumpah membawa masakan ayam yang dipanggang dan nasi kuning ke kuburan. Bawaan ini gunanya untuk menyenangkan hati hantu di kuburan itu dan membangkitkan semangat yang ada dalam kuburan, untuk menyaksikan sumpah yang akan diucapkan itu. Kemenyan dibakar, kemudian sumpah pun diucapkan di atas batu yang diletakkan di tanah kuburan, disaksikan oleh yang hadir serta dalam kegiatan itu. Setelah mengambil sumpah, korban (ayam dan nasi kuning) dimakan oleh yang mengambil sumpah. Jika setelah mengambil sumpah dalam waktu 3 hari akan turun hujan, maka itu alamat sumpahnya benar, tapi jika tidak terjadi perubahan apa-apa di langit, maka orang itu dianggap telah mengambil sumpah palsu; dan cepat atau lambat dalam waktu yang dekat dia akan mati.

Sumpah Kelamuan

Sumpah ini dipergunakan sebagai tanda kesetiaan kepada penguasa atau akan melakukan peperangan. Sumpah dilaksanakan di bawah "barang kelamuan" seperti senjata pusaka, senjata penusuk atau pemukul yang memiliki kekuatan khusus. Arti penting dari sumpah ini adalah bahwa orang yang bersumpah palsu akan terkena senjata dari jenis yang sama sebagai kelamuan dari sumpah diambil. Kemenyan juga dibakar, roh-roh nenek moyang dipanggil untuk menyaksikan kata-kata orang yang mengambil sumpah.

Sumpah Di Pinggir Air

Sumpah bagi orang yang dituduh melakukan kejahatan. Orang yang akan mengambil sumpah di antar menuju sungai. Dari dari sungai, ia mencari batu datar, lalu membawa dan meletakkannya di tepi sungai. Kaki yang satu menginjak batu, dan kaki yang lainnya berada di dalam air sungai. Makna simbolis dari ini adalah bahwa orang yang mengambil sumpah, jika ia berbicara dusta akan menderita baik di darat maupun pergi ke air, juga segala apa yang ia lakukan tidak akan menemui keberuntungan, seperti batu yang tenggelam ketika dilemparkan ke dalam air. Kemenyan kemudian dibakar di atas batu itu. Seorang pemuka agama yang memimpin upacara itu memegang tangan kanan orang yang bersumpah ke atas batu, lalu mengucapkan mantera-mantera. Akhirnya, batu dilemparkan ke dalam air.

Sumpah Tanah Bumi

Sumpah ini dipergunakan bagi seseorang yang dituduh sumbang mulut (cempalo mulut), memfitnah, menghina, menghasut seseorang atau pun mengucapkan kata-kata yang tidak sopan menurut adat, hingga dapat menimbulkan kemarahan makhluk halus. Di tanah dipasang kayu bersilang, kemenyan dibakar dan dukun menggumamkan mantera memanggil roh-roh. Orang yang mengambil sumpah itu meletakkan tangan kanannya di atas kayu bersilang, lalu mengambil sumpah. Jika ia berbicara tidak benar, atau mengulangi perbuatannya, maka ia akan terkena penyakit dan akan mati dalam waktu dekat

Pemandangan Akhir

Dalam Kronik Agung Empat Petulai, terdapat beberapa kisah tentang orang-orang Rejang bersumpah, seperti Rajo Depati dan Depati Tiang Empat bersumpah untuk selalu bersama menjaga Tanah Rejang. Pun setiap keputusan yang diambil dalam permufakatan, orang Rejang selalu menggenapinya dengan sebuah persumpahan, bersumpah bersemayo, berjanji bersetio.

Bagamana bentuk dan tata cara sumpah itu dilaksanakan?

Sangat sedikit orang Rejang yang mengetahui gagasan jiwa dan tata cara sumpah yang telah disebutkan di bagian atas tulisan ini. Khazanah lisan tidak ada yang bercerita tentang kedua hal ini. Pun tidak ada literatur tentang Rejang yang membicarakannya, termasuk juga dua buku "dunia" Rejang yang dianggap paling berwibawa, yakni "De Redjang" karangan Hazairin dan "Hukum Adat Rejang" karangan Abdullah Siddik, tak ada yang menyentuh-nyentuh sistem religi asli Rejang ini.

Kedua hal ini, sementara hanya ditemui dalam laporan J.L.M. Swaab tentang Onderafdeling Redjang, yang ditulisnya pada 1913; dan dalam laporan tahunan yang dibuat W.G. Swaab, Kontrolir Onderafdeling Redjang, 1913. Apa yang ditulis mereka berdua ini cukup identik isinya, seperti memperlihatkan kedua orang ini telah bekerja sama melakukan pengamatan terhadap orang Rejang, walaupun dengan masing-masing tujuan yang berbeda.

Situasi sangat terbatasnya pengetahuan tentang sistem kepercayaan dan sumpah orang Rejang ini cukup memberikan pertanyaan-pertanyaan yang bersifat kewaktuan. Apakah konsep jiwa dan sumpah itu masih ada saat kedua orang Belanda ini membuat catatannya?Ataukah mereka hanya menerima laporan lisannya saja lagi, karena sebenarnya telah tak dipergunakan lagi oleh orang-orang Rejang.
____________________________________
Referensi:

Siddik, Abdullah. Hukum Adat Rejang. Jakarta: Balai Pustaka. 1981
Swaab, W.G. Memorie van ....... 1913. (ANRI)
Emong Soewandi
Emong Soewandi Blogger sejak 2014, dengan minat pada sejarah, sastra dan teater

Post a Comment for "GAGASAN JIWA DAN TATA CARA SUMPAH ORANG REJANG"