Skip to content Skip to sidebar Skip to footer

KEPAHIANG TEMPO DOELOE DALAM WARNA I

1.

Markas dan klab sosial Belanda di Embong Ijuk, Kepahiang, circa 1860

Setelah ditandatanganinya Perjanjian Temedak yang menandai perdamaian antara orang Rejang dan Belanda, Belanda pun mengosongkan markas militer mereka di Temedak, untuk selanjutnya menepati markas di Embong Ijuk ini. Markas ini kemudian ditinggalkan juga, setelah Belanda membangun pusat administrasi dan garnisun militer di Distrik Kepahiang. Embong Ijuk merupakan garnisun terkuat militer Belanda di Onderafdeling Rejang, sebelum garnisun dipindahkan ke Distrik Kepahiang, 1890.

2.

Pusat administrasi dan garnisun Belanda di Distrik Kepahiang, circa 1860

Distric Kepahiang pada dasarnya adalah sebuah wilayah kecil yang dimaksudkan oleh Belanda membangunnya sebagai pusat administrasi dan garnisun utama militer untuk wilayah Rejang.
Wilayah yang kemudian menjadi Pasar Kepahiang hari ini aslinya adalah kawasan hutan dalam teritorial Marga Merigi, yang berpusat di Kelobak. Mulai dieksplorasi pada 1860, lalu dibuka pada awal 1870.

3.

Garnisun militer Kepahiang, circa 1869

Markas dua detasemen militer Belanda
Pada sudut kanan, satu regu vexilarius, pembawa pataka dan penabuh genderang yang merupakan ciri khas militer hingga Perang Dunia I. Mengikuti Perjanjian Temedak, 1859, perjanjian damai 4 Pasirah Rejang dengan Belanda, pada 1870-an seluruh militer Belanda di Kepahiang ditarik ke Empat Lawang
Tampak pada latar belakang Bukit Jupi.
Belanda mencatat, bagaimana orang Rejang benar-benar menepati Perjanjian Temedak, karena itu Belanda pun berani mengambil keputusan untuk memperkecil kekuatan militernya. Dengan ditariknya militer Belanda ke Empat Lawang, selanjutnya tidak ada lagi konsentrasi militer Belanda di Tanah Rejang. Selanjutnya orang-orang Eropah yang ada di Kepahiang adalah pejabat Belanda dan administratur/karyawan di perkebunan kopi dan teh.

4.

Suasana sebelum atau menjelang sholat Idul Fitri di Distrik Kepahiang, circa 1916

Bangunan yang tampak adalah lapakan pasar yang dibuka setiap hari Minggu, hingga umum pasar ini disebut sebagai Pekan Minggu.
Lokasi di jalan dan lapangan Distrik Kepahiang

5.

Rumah sakit kepahiang, circa 1926
Berdiri di depan bangunan dua dokter Jawa, Raden Mas Anatariksa dan Raden Mas Sahid
Sebelumnya mereka berdua bertugas di rumah sakit di Lebong, didatangkan ke Kepahiang untuk membantu penanganan penyakit gondok yang banyak diderita masyarakat Rejang dan epidemi kolera di kalangan kolonis SundaTampak pada latar belakang Bukit Jupi
Sumber foto: KITLV
Pewarnaan: Adobe Photoshop dan myheritage.com

Emong Soewandi
Emong Soewandi Blogger sejak 2014, dengan minat pada sejarah, sastra dan teater

5 comments for "KEPAHIANG TEMPO DOELOE DALAM WARNA I"

  1. What a wonderful from Kepahiang....

    ReplyDelete
  2. Sekarang, saya sedikit memahami.. kenapa para bangsawan minang kabau (moyangku. ) berpikir kalau kapahiang itu "penting"

    ReplyDelete
  3. menarik. tolong kalau ada foto2 lainnya

    ReplyDelete