Skip to content Skip to sidebar Skip to footer

CERPEN NAYYA: BIOLA UNTUK YANG TELAH PERGI

Sumber Gambar

BIOLA UNTUK YANG TELAH PERGI
 Firda Sabrina Lutfiyah 


***

Alina masih duduk di ruang musik sekolahnya. Dia menatap biola di hadapannya, kemudian mengusap-usapnya. Dia telah diajari oleh ayahnya bermain biola sejak dia baru bisa membaca. Alina selalu senang bermain biola. Tapi itu dulu, sebelum kejadian dua tahun lalu. 

Tiba-tiba pintu ruang musik terbuka. Seorang perempuan masuk sambil menatap ke arah biola yang dipegang Alina. Itu Vania. 

“Kupikir kau tak bisa lagi bermain biola. Ya, kau tahu, semenjak kejadian itu.” 

Alina terdiam. Ini untuk kesekian kalinya Vania membicarakan hal dua tahun itu kembali. 

“Kau tahu, Al. Kau benar-benar tak cocok menjadi seorang violinis. Karena semenjak kejadian itu, kau tak bisa lagi, bukan, memainkan biola? Mungkin kau seharusnya tak pernah memainkannya. Kau tidak pantas Alina. Tidak ada violinis yang memainkan biola dengan nada sumbang. Sementara kau, tak bisa menghasilkan nada lain selain sumbang.” 

Cukup. Alina sudah tidak tahan lagi. Dia meletakkan kembali biola itu di tempat semula, kemudian berjalan ke luar dari ruangan itu meninggalkan Vania. 

***

Sekolah telah usai. Alina berjalan menyusuri lorong sekolahnya. Hingga kemudian langkah kakinya terhenti di depan mading sekolah. Matanya tertuju pada sebuah pengumuman. Itu pengumuman perlombaaan musik se-daerah. Dulu, ayahnya sangat ingin Alina ikut kontes itu. perlombaaan itu merupakan perlombaan paling bergengsi. Para jurinya merupakan musisi terkenal. Alina tersenyum. Dia akan ikut perlombaan itu. 

Alina berjalan cepat ke rumahnya, lalu segera menuju ke kamarnya. Setelah menganti bajunya, Alina segera meraih sebuah benda di bawah tempat tidurnya. Benda itu sudah berdebu. Tanda sudah lama tak pernah dimainkan. alina menatap benda tersebut. Itu biolanya. Semenjak dua tahun lalu tak pernah dia mainkan. 

Alina membersihkan debu-debu di biola itu, kemudian mengusap-usapnya, menatap dalam biola itu. Berbagai pemikiran berkecamuk di kepalanya. Dua tahun dia tidak pernah berani menyentuh biola itu. Dua tahun dia takut bermain biola. Alina menarik napas panjang. Mungkin sekarang waktunya untuk mencoba kembali. 

Alina mulai memainkan biola itu, tetapi kemudian berhenti. Lagi-lagi nada sumbang. Selalu seperti ini setiap dia bermain biola, setidaknya sejak dua tahun lalu. Padahal, dulu dia selalu dipuji setiap bermain biola. Alina kembali menarik napas, mencoba kembali memainkan biola tersebut seperti yang sering ayahnya ajarkan. Alina terus bermain hingga terhanyut oleh dunianya sendiri. 

“Alina!” Permainan biolanya seketika berhenti. Ibunya berdiri di depan pintu kamarnya. Raut wajah ibunya tak dapat dia artikan. Ibunya berjalan masuk ke kamrnya, mendekat ke arahnya. Lantas, secara tiba-tiba, ibunya merebut biola yang dipegang Alina. 

“Sudah berapa kali ibu bilang, Alina, kau tidak boleh bermain biola. Apa itu belum cukup jelas untukmu? Kau itu selalu saja membangkang!” 

Alina menunduk ketakutan oleh suara teriakan ibunya. Wajah ibunya merah padam. Hal ini juga tak pernah dimengerti olehnya. Mengapa ibu bisa semarah ini hanya karena biola? Bukankah dulu ibu sangat senang mendengar permainan biolanya? Apa karena permainannya kini telah sumbang? 

“Maaf, bu. Tapi, Alina ingin ikut lomba itu.” 

“Kau itu benar-benar sulit untuk diberitahu. Ibu bilang, ibu tidak ingin kau bermain biola lagi.” 

“Tapi kenapa, bu? Apa karena kejadian dua tahun lalu?” 

“KARENA PERMAINAN BIOLAMU ITU MEMBAWA SIAL!!!” 

Ibunya segera ke luar dari kamar Alina. Alina terdiam oleh perkataan ibunya. Dia menatap ke luar jendela. Hari sudah malam. Hanya satu-dua bintang yang terlihat. Bulan bersembunyi di balik awan-awan. Langit mendung. Semendung hatinya saat ini. 

Alina terisak. Dia kembali mengingat kejadian dua tahun lalu. Apa kejadian dua tahun itu memang salahnya? 

***

Dua tahun lalu. 

Alina duduk di antara para peserta. Dia melirik jam tangannya gelisah. Lomba akan dimulai 30 menit lagi, tapi ayah dan ibunya belum menampakkan diri mereka sama sekali. Alina menatap peserta yang lain. Semuanya sudah bersama keluarganya masing-masing. 

Alina memang pergi lebih awal dari orang tuanya. Kata ayah tadi, ada yang ingin mereka urus terlebih dahulu, hanya sebentar. Tapi, sampai sekarang mereka belum juga muncul. 

“Namamu Alina, kan?” seorang panitia bertanya padaku. Aku mengangguk. 

“Tadi, ada telepon. Orang tuamu kecelakaan diperjalanan kemari.” 

Alina segera meninggalkan perlombaan itu. Langsung menuju ke rumah sakit yang disebutkan panitia tadi. Sesampainya di sana, Alina melihat pamannya. Dia segera menuju ke tempat pamannya dan menanyakan keadaan kedua orang tuanya. 

“Ibumu sekarang koma. Tapi, ayahmu tidak. Dia meninggal di tempat kejadian.” 

Alina tergugu. Air matanya mulai berjatuhan. Bukankah tadi dia ingin menunjukkan kehebatannya kepada ayahnya? Tapi, sekarang, ayahnya bahkan tak bisa bangun lagi. Dia tak bisa lagi menunjukkan permainan biolanya kepada ayahnya. 

Menurut cerita pamannya, sebelum pergi ke tempat berlangsungnya lomba itu, ayah Alina dan ibunya pergi ke sebuah toko alat musik. Ayahnya ingin membelika Alina biola yang selama ini diinginkan perempuan itu. Ayahnya ingin, Alina memainkan biola itu nanti. Tapi, sekarang, biola itu telah hancur karena kecelakaan tadi. 

Semenjak itulah, ibunya membenci permainan biolanya. Semenjak itu, Alina hanya bisa mengeluarkan nada sumbang. Dan semenjak itu, Vania, yang memang tidak pernah menyukainya, selalu mengejeknya. Bahkan mengajak teman-temannya yang lain juga. 

***

Ternyata perkataan ibunya tidak membuatnya patah semangat. Alina yakin ibunya masih menyukai permainannya. Alina rutin latihan bermain biola di ruang musiknya. Dia berhasil mengatasi ketakutannya. Dia yakin, ayahnya juga ingin dia mengikuti lomba itu. Ayahnya pasti ingin dia menjadi seorang violinis. 

Vania masih sering mengejeknya. Tapi dia anggap itu angin lalu saja. Dia ingat yang dikatakan ayahnya dulu. Dia bermain biola untuk kebebasan. Dia bermain biola untuk penghiburan atas dirinya. Baginya, ejekan orang lain tak akan memengaruhi masa depannya. 

Alina berjalan memasuki rumahnya. Dia telah mendaftar dalam lomba itu. keputusannya sudah bulat. Dia ingin ikut lomba itu. Tiba-tiba, telepon genggamnya berbunyi. Dia mengangkatnya. Dan setelah itu, dia segera berlari ke rumah sakit. Ibunya terkena serangan jantung. 

***

Ini sama seperti dua tahu lalu. Alina kembali ke sini. Duduk di antara banyaknya peserta. Penonton sudah ramai sejak satu jam yang lalu. Alina sendirian di sini. Ibunya masih di rumah sakit. Belum sadar sejak awal masuk ke sana. Semenjak ibunya sakit, waktu latihannya berkurang banyak karena harus menemani ibunya. Tapi, itu bukan masalah bagi Alina, latihannya itu sudah cukup. 

Perlombaan telah dimulai. Sebentar lagi giliran Alina tampil. Alina gugup. Biasanya saat ini ayahnya akan menyemangatinya. “Alina, kau pasti bisa. Anggap saja hanya ada ayah di sana. Yang lain itu cuma boneka-boneka yang sering kamu mainkan biola.” Dulu ayahnya selalu berkata seperti itu. 

Alina menarik napas panjang. Permainannya kali ini sebagai salam untuk ayahnya, sekaligus pembuktian bagi ibunya dan teman-temannya. Nama Alina dipanggil. Dia segera berjalan menuju ke tengah panggung. Dia menatap ribuan penonton dihadapannya. 

Di antara penonton banyak yang berbisik-bisik. Entah itu soal Alina, violinis yang diduga telah pensiun kembali bermain biola. Atau pun bisik-bisik berupa celaan terhadapnya. Alina mencoba rileks. Dia mulai menggesek biolanya. Memainkan lagu “Canon in D” karya Johaan Pachelbel. Lagu itu kesukaannya dan ayahnya. Para penonton terkesima oleh penampilannya. Bahkan teman-teman yang dulu mengejeknya, termasuk Vania. Penampilannya di tutup oleh tepuk tangan yang meriah dari penonton. 

***

Selesai sudah perlombaan itu. Impiannya menjadi pemenang dalam lomba itu terwujud. Dia bergegas ke rumah sakit. Dia tidak sabar untuk menceritakan hal ini pada ibunya. 

Sesampainya di rumah sakit, dia mendapati Kirana, tangan kanan ibunya sedang duduk di depan ruangan ibunya. Alina menghampirinya. 

“Alina, aku sudah menunggu kedatanganmu.” Kirana menatap piala yang dipegang Alina. 

“Kau menang? Selamat. Sesuai perkiraan ibumu. Ibumu memintaku mengucapkan selamat kepadamu.” 

Alina tersenyum. “Ibu di mana?” 

“Ibumu telah dijemput oleh ayahmu.” Kirana mengucapkan itu dengan mata berkaca-kaca. 

Seketika tubuh Alina membeku. Bukankah tadi dia sangat bersemangat ingin menceritakan ini pada ibunya. Ini persis seperti kejadian dua tahun lalu. 

“Kapan ibu meninggal?” Suaraku bergetar. Tetes demi tetes air mata mulai jatuh. 

“Dua jam yang lalu. Saat perlombaan itu masih berlangsung.” 

“Lalu, mengapa tidak memberitahuku?” 

“Ibumu bilang, jika terjadi sesuatu padanya, jangan menelponmu saat lomba masih berlangsung. Karena dia tidak ingin penampilanmu yang kali ini kacau seperti waktu itu.” 

Alina tersentak oleh pernyataan Kirana. 

“Ibumu ingin aku menyampaikan padamu. Dia bilang, dia selalu senang mendengarmu bermain biola. Permainanmu sangat mirip dengan ayahmu. Dan itu selalu membuat ibumu rindu, membuatnya ingin menolak kenyataan. Dia tahu hal itu sudah takdirnya, tapi terkadang dia merasa benci sekali mendengar suara biolamu. Karena itu selalu mengingatkannya kepada ayahmu. Ibumu... ingin aku menyampaikan permohonan maafnya kepadamu. Dia minta maaf karena membentakmu.” 

Alina terduduk di lantai rumah sakit. Ini seperti de javu. Apa aku memang tidak ditakdirkan bermain biola? Apa biola hanya menyebabkan kepergian orang-orang yang aku sayang? 

“Alina, ibumu ingin kau melanjutkan cita-citamu ini, menjadi violinis. Di bilang, kau tak boleh menyalahkan dirimu atas kepergiannya dan ayahmu. Itu sudah takdir. Kau tak perlu menyalahkan siapapun. Wujudkan cita-citamu dan juga ayahmu itu.” 

Alina masih menangis. Hari ini, tepat dua tahun ayahnya meninggal, ibunya menyusul. Hari ini, hari di mana dia tahu perasaan ibunya. Hari ini, hari di mana Alina menjadikan biola sebagai penghantar rindu dan pesannya kepada mereka yang telah pergi. 

***





Emong Soewandi
Emong Soewandi Blogger sejak 2014, dengan minat pada sejarah, sastra dan teater

1 comment for "CERPEN NAYYA: BIOLA UNTUK YANG TELAH PERGI"

  1. Lagu itu kesukaannya dan ayahnya. Para penonton terkesima oleh penampilannya. Bahkan teman-teman yang dulu mengejeknya, termasuk Vania. Penampilannya di tutup oleh tepuk tangan yang meriah dari penonton.
    Cepat nian terkesimanya, mungkin klo boleh berpendapat, di bagian ini ada pencitraan bagaimana si tokoh memainkan biolanya dengan begitu mempesona dengan ini itunya... Dan bagaimana keterpukauan dan reaksi penonton atas penampilan dari gesekan biola yg selama ini sumbang,

    ReplyDelete