Skip to content Skip to sidebar Skip to footer

DRAMA: DAENG MABELLA

DRAMA: DAENG MABELLA
Emong Soewandi

Ilustrasi. Benteng Malborough

SINOPSIS

Drama Daeng Mabela bercerita tentang masa-masa pasca pemberontakan rakyat Selebar-Bengkulu, yang mengakibatkan tewasnya Residen Inggris di Bengkulu, Thomas Parr. Daeng Mabela, seorang keturunan bangsawan Bugis, yang datang ke Muko-Muko Bengkulu abad ke-15, yang kemudian menjadi kepala pasukan elit Inggris di Bengkulu, dituduh terlibat dalam makar yang menewaskan Thomas Parr tersebut.

Daeng Mabela kemudian dihadapkan pada pra-pengadilan, yang dihadiri oleh para anggota Dewan Pangeran (Pangerang Court), yang dipimpin oleh Hakim Martin, di hadapan Komisi Khusus English Indian Company (EIC) dan wakil-wakil rakyat dari kerajaan-kerajaan yang ada di Bengkulu.

Dalam drama ini, digambarkan bagaimana pandangan Daeng Mabela dan beberapa orang anggota Dewan Pangeran terhadap keberadaan Inggris di Bengkulu. Di satu sisi, Inggris dianggap sebagai penjajah, tetapi di lain pandangan Inggris harus diakui ikut berperan dalam melahirkan Bengkulu hari ini. Tanpa kehadiran Inggris, maka Bengkulu, yang sebelumnya terpecah-pecah dalam banyak budaya dan bahasa mungkin hari ini tidak akan ada.

PROLOG

Cerita yang pertama, ada pun mula-mula menunggu negeri Bangkahulu ialah Ratu Agung sebagai raja. Kata setengah cerita baginda itu bangsa manusia yaitu raja dari Majapahit, kata setengah dewa dari Gunung Bungkuk, adapun rakyat baginda itu ada satu bangsa manusia bernama Rejang Sawa dan rupanya tinggi dan besar dibanding manusia lainnya. Pada ujung tulang sulbinya ada sedikit berlebih seperti daging panjang satu jari melintang besarnya. Demikian bangsa itu dipanggil Rejang Berikur. Dan pada masa itu Bangkahulu lagi bernama Sungai Serut. Kampung istana ratu, di mudik kuala Bangkahulu, sebelah kanan mudik namanya Bangkahulu Tinggi. Maka ratu beranak tujuh orang:
1. Radin Cili
2. Manuk Mincur
3. Lumpang Batu
4. Tuju Rumpang
5. Rindang Papan
6. Anak Dalam Muara Bangkahulu; dan
7. Putri Gading Cempaka, yang kemudian menjadi ratu memerintah sekalian Rejang Sawa itu.

BABAK I

NARATOR :
Mount Felix, 23 Desember 1807

Suasana malam.
Residen Thomas Parr berbaring sakit di tempat tidur. Nyonya Parr duduk membaca di meja baca dekat tempat tidur.
Di sudut berdiri sikap sempurna seorang serdadu jaga Inggris dengan menyandang senapan.
Nyonya Parr keluar.
Mr. Perreau masuk dan memberi hormat kepada Thomas Parr.

THOMAS PARR
Aku berharap bahwa anda telah menjalankan instruksiku dengan tepat.

MR. PERREAU :
Ya, demikian Mr. Parr. Pengumuman tentang penundaan tanam kopi telah kusampaikan kepada raja Selebar dan Sungai Itam untuk diteruskan kepada rakyat melalui kepala-kepala adatnya.

Diam

THOMAS PARR :
Saya berharap itu dapat menjadi koreksi atas tindakan Fort Malborough yang salah. Bukan hanya sekedar untuk meredam gejolak rakyat Selebar dan Sungai Itam.

Thomas Parr mengangguk. Mr. Perreau memberi hormat dan keluar.
Sunyi.

THOMAS PARR :
Semoga itu menjadi koreksi atas tindakanku yang salah.
Semoga bisa memperbaiki hubungan Inggris dengan rakyat yang telah hampir kuhancurkan.

Sunyi diselingi beberapa kali bunyi gonggongan anjing di kejauhan.
Di depan pangung, lewat dua orang serdadu Inggris patroli.
Bunyi terompet pergantian jaga.
Sunyi.
Terdengar bunyi teriak dan tembakan.
Serdadu penjaga naik ke panggung kemudian berlari keluar. Dari sudut yang lain masuk beberapa serdadu Inggris dan berlari ke sudut lainnya.

TERIAKAN INGGRIS :
Malays come!
Melayu datang!
Assassin Malay band come!
Fire! Fire!

TERIAKAN MELAYU :
Bunuh Thomas Parr!
Bunuh Thomas Parr!

TERIAKAN INGGRIS I :
Fire!

TERIAKAN INGGRIS II :
God!
God!
Oh, my life!

TERIAKAN MELAYU :
Allahu akbar! Allahu akbar!
Bunuh Thomas Parr!
Mati ambo!
Tolong! Ambo kenai!

TERIAKAN MELAYU :
Bundung kau!

Nyonya Parr masuk dan berlari ke sudut, kemudian dengan cepat berlari ke arah tempat tidur membangunkan Thomas Parr. Thomas Parr bangun dan duduk di tepi tempat tidur.

NYONYA PARR :
The Malays come!
A band of Malay assassins come!

Nyonya Parr berlari ke sudut.

NYONYA PARR :
Help! Help!
Charles Murray! Charles Murray!
The Malays come!

Nyonya Parr kembali ke arah tempat tidur dan mengambil tombak dari bawah tempat tidur, kemudian memberikannya kepada Thomas Parr.
Tiga serdadu Inggris masuk dengan posisi mundur dengan melepaskan tembakan-tembakan. Sepuluh orang Melayu dengan masing-masing memegang keris masuk ke panggung.
Serdadu Inggris menembak, orang-orang Melayu menjatuhkan diri bertiarap, kemudian berdiri kembali dan menyerang.
Serdadu Inggris menembak.
Tiga Melayu jatuh tertembak.
Empat orang Melayu menyergap dan membunuh semua serdadu Inggris dengan keris.
Charles Murray keluar dengan membawa pistol, kemudian menembak secara acak ke arah orang-orang Melayu.
Dua orang Melayu jatuh. Melayu yang lain tiarap.
Charles Murray kehabisan peluru.
Satu orang Melayu menyerang Charles Murray dengan keris, yang kemudian menghujamkannya ke lambung Charles Murray.
Charles Murray jatuh sambil memegang perutnya yang terluka.

CHARLES MURRAY :
Mister Parr. Run! Run! Don’t againts Malays! Run, Mister Parr! Save your live! Run, Your Honour! Run!

Satu orang Melayu melompat dan menghujamkan keris ke dada Charles Murray sambil menekan lututnya ke dada Charles Murray.

MELAYU :
Mati kau!

CHARLES MURRAY :
Gooood!

Diam.

ORANG MELAYU I :
(menunjuk). Bunuh Thomas Parr!

Tiga orang Melayu berlari mendekati Thomas Parr di tempat tidur. Nyonya Parr menghalangi.
Satu orang Melayu mengayunkan keris ke kepala Thomas Parr. Nyonya Parr menangkisnya. Tangan Nyonya Parr terluka.

THOMAS PARR :
No!

Nyonya Parr menghadang para penyerang. Thomas Parr berdiri di belakang istrinya dengan memegang tombak.

NYONYA PARR :
Jangan! Jangan kelian bunuh dia. Dia seorang Residen!

MELAYU I :
Nyonya, menyingkirlah! Kami cuman mau bunuh dia, tak pula Nyonya!

NYONYA PARR :
Mengapa dia mau kelian bunuh!

MELAYU II :
Mengapa pula dia tak akan kami bunuh!

NYONYA PARR :
Berilah dia bangun , kalau dia sudah bunuh Melayu!

MELAYU I :
Bahkan taklah tanah kami cukup untuk bangun dia. Hanyalah nyawanya untuk bangun dia.
Bangun dia adalah nyawanya!

MELAYU II :
Thomas Parr harus dibunuh! Itulah bangunnya!

MELAYU III :
Tak mau kami lukai Nyonya. Pailah!

Melayu III menarik Nyonya Parr hingga jatuh.
Thomas Parr menyerang dengan tombak, namun dapat dipatahkan oleh Melayu I dan kemudian mendorong Thomas Parr hingga terguling di lantai.
Melayu I menindih tubuh Thomas Parr dan menusuk lambungnya dengan keris.
Melayu II dan III memegang kedua tangan Thomas Parr dan kemudian menyeretnya.

NYONYA PARR :
No! Don’t kill him!

Nyonya Parr bangkit dan menarik Melayu III.
Melayu I menarik hingga Nyonya Parr terjatuh, kemudian menghadangnya. Setiap Nyonya Parr mencoba berdiri didorong oleh Melayu. I.

MELAYU I :
Pailah! Jangan buyan!

THOMAS PARR :
Let me! Run, my wife. Run!

Tubuh Thomas Parr di seret keluar. Melayu I menyusul keluar panggung. Diikuti oleh Nyonya Parr.
Panggung kosong. adegan berikut semua terjadi di luar panggung.

(Mohon adegan berikut disesuaikan dengan repertoar ini. Jangan dieksplisitkan!)

THOMAS PARR :
Apa mau kelian, Melayu!

MELAYU I :
Bunuh orang ini!

MELAYU II :
Bunuh!

MELAYU III :
Bunuh!

MELAYU I :
Bundung kau!

MELAYU II :
Potong lehernyo!

MELAYU III :
Potong lehernyo!

THOMAS PARR :
Malay kills me!
My die... for... England!
Aaah!

Sunyi.

NYONYA PARR :
No!

Sunyi.

Dari sudut masuk tiga orang Melayu tadi dengan tangan berlumuran darah, kemudian berlari ke luar dengan mengendap-ngendap ke sudut lainnya.

Terdengar bunyi tembak-tembakan di kejauhan yang kemudian menyepi.

Sunyi.

BABAK II
Nyonya Parr masuk, diikuti empat orang serdadu Inggris yang kemudian mengangkat mayat Charles Murray dan tiga serdadu Inggris yang ada di panggung.
Nyonya Parr duduk di meja baca, kemudian pindah ke tempat tidur.

Empat orang serdadu Inggris masuk kembali dan berbaris sikap berjaga-jaga.

Nyonya Parr berdiri dan menunjuk tempat tidur dan meja baca, yang kemudian diangkat keluar oleh para serdadu.
Nyonya Parr bersimpun di lantai dan membersihkan darah di panggung.

NYONYA PARR :
Your dying for Glorious of Great England.

Musik.
Sunyi.

NYONYA PARR :
Farewell, my Knight.

BABAK III
Nyonya Parr keluar.
Sunyi.
Satu atau dua orang Melayu masuk, dengan mengawasi di tepi panggung.

TERIAKAN MELAYU :
Inggris datang!
Tentra Bugis datang!

Orang Melayu berlari keluar.

TERIAKAN INGGRIS :
Fire!

TERIAKAN MELAYU :
Lari! Lari! Selamatkan diri!

Bunyi genderang dan pukulan dol.
Pertempuran antara rakyat melawan serdadu Inggris dibantu tentara elit Bugis yang dipimpin oleh Daeng Mabela.
Rakyat yang bersenjatakan tombak dan keris masuk panggung dengan posisi mundur.
Orang-orang Melayu menyerang maju kemudian terlempar ke belakang, terjatuh, kemudian bangun kembali dan berganti-gantian bangun-jauh-bangun-jatuh dengan teriak-teriak khas Melayu Bengkulu.
Inggris dan elit Bugis masuk berbaris dua berbanjar.
Di barisan belakang berbaris para budak pengisi peluru dan mesiu. Satu orang pembawa meriam masuk. Pada barisan paling belakang berbaris satu orang pemukul genderang dan satu orang pembawa panji-panji.
Posisi menembak berganti-gantian antara serdadu Inggris berdiri dengan serdadu elit Bugis berjongkok.
Serdadu elit Bugis setelah menembak ke belakang, kembali mengisi senapan dengan peluru dan mesiu. Posisi menembak digantikan penembak yang lain, yang juga selesai menembak ke belakang, posisinya digantikan oleh serdadu yang sudah mengisi peluru kembali.
Serdadu Inggris setelah menembak menyerahkan senapannya ke budak. Budak mengambil senapan yang diberikan sambil memberikan senapan baru.

Catatan
Para budak dan serdadu elit Bugis mengisi mesiu adalah lewat laras senapan, kemudian menumbuk-numbuknya dengan sebatang tongkat kecil yang panjangnya ± 1,25 m, yang dimasukkan ke laras senapan. Panjang senapan ± 1,75 – 2 m.

Di tengah panggung, 2 – 4 orang Melayu jatuh dan terbaring di panggung.
Satu orang komandan Inggris memegang pedang dan pistol. Mengucapkan “fire!” sambil mengacungkan pedang.

Dari masing-masing sudut berlari tiga orang serdadu elit Bugis ke tiap-tiap sudut dengan membawa obor yang diayun-ayunkan.

TERIAKAN BUGIS :
Panggang! Panggang!
Bakar! Bakaaaaar!

TERIAKAN INGGRIS :
Fire!
Fire!

PEMBACA PUISI MELAYU :
Gading Cempaka!
Putri Gading Cempaka!
dukamu membisu cemara angin padam
dukamu murka lanang pengawal anak Ratu Agung
dukamu dara-dara burai rambut kehilangan tembang
bersiaplah seribu bahtera
di lautan duka cita
di dermaga ke titik habis darah
jangan tebar pukat atau meluku tanah!
tepung setawar adalah
hidup atau mati

Pembaca puisi jatuh tertembak.
Beberapa serdadu Inggris dan Bugis masuk, kemudian menyeret keluar mayat-mayat yang ada di panggung.

Sunyi.

BABAK IV
Musik upacara kematian yang dimainkan dengan bagpipe atau terompet oleh seorang serdadu Inggris berpakaian Skot di tepi panggung.

Pejabat-pejabat Inggris, Dewan Pangeran dan serdadu Inggris berpakaian resmi berkabung diikuti Serdadu Elit Bugis masuk dan berbaris.

Pada latar belakang digambarkan siluet Monumen Thomas Parr.

ORANG INGGRIS I :
Thomas Parr, Esquire
Resident and Representative of the Honourable East Indian Company and their Settlement of Fort Marlborough of Bencoolen.
Who a benevolent friend to be Malay inhabitants, and solicitous to improve their Freedom and Prosperity by the prudent and gradual introduction of Spontaneous Industry.
Fell with circumstances of peculiar and savage Atrocity under the misguided and barbarous fury of a Band Assassins on the night of the 23 d December Anno Dominion 1807 in 39 th year of his age.

ORANG INGGRIS II :
Charles Murray, Esquire
Assistant to Resident of Fort Marlborough
His died for a Progress of the Band of Assassins on the night for protected Thomas Parr and protected Fort Marlborough.

Bunyi genderang dan salvo meriam dan senapan empat kali.
W.B. Martin maju, didampingi seorang serdadu yang membawa nampan berisi bendera Inggris/salib merah St. George.
Janda Thomas Parr berpakaian hitam dan berkerudung hitam maju didampingi dua wanita pengiring.
Martin mengambil bendera dan menyerahkannya kepada Janda Thomas Parr.

SERDADU INGGRIS :
Salut!

W.B. Martin dan orang Inggris lainnya memberi hormat, kemudian dengan orang-orang Inggris lainnya keluar, diikuti janda Thomas Parr dan pengiringnya ke luar.

BABAK V
Ruang pengadilan Inggris di Fort Marlborough.
Di masing-masing sudut berdiri satu orang pengawal dari serdadu Inggris.
Meja di tengah panggung kosong, di belakangnya berdiri bendera Inggris.

Di barisan kursi sebelah kiri dudu para anggota Dewan Pangeran (Pangeran Courts), yakni Pangeran Lenggang Alam, Datuk Caga Nagari, Letnan Raja Malin, Datuk Rajo Bilang dan Kalipa Raja. Di barisan kursi sebelah kanan duduk tiga orang komisi khusus Inggris, Daeng Mabela dan Rajo Lelo.

Hakim Martin dengan berpakaian hakim dan rambut palsunya masuk dengan tangan bersedekap di dalam tangan toga yang lebar, diiringi budak pemegang payung dan seorang pejabat pengadilan Inggris dan pemuka agama/imam.

Hakim Martin menuju meja di tengah panggung dan duduk.
Ketika Hakim Martin berdiri semuanya berdiri, duduk kembali setelah Hakim Martin duduk.

PEJABAT INGGRIS :
Yang Mulia, Hakim Martin, hakim dan pejabat ad-interim Inggris pada Fort Marlborough Bengkulu, Komisi Khusus East Indian Company Yang Mulia Mr. Perreau, Yang Mulia Mr. Henry Heath dan Yang Mulia Mr. Elphistone dan Yang Mulia Pangeran Courts atau Dewan Pangeran, serta para pejabat Fort Malborough, depati dan kepala adat pengunjung lainnya telah memenuhi undangan kami dalam acara ini.
Pertemuan ini adalah untuk mendengarkan keterangan dari Tuan Daeng Mabela berhubungan dengan peristiwa Mount Felix dan terbunuhnya Residen The Latest Esquire Thomas Parr.

Catatan :
Setiap yang disebutkan nama, berdiri dan menjura kepada Hakim.

HAKIM MARTIN :
Tuan-tuan yang mulia, kita sudah mahfum, bahwa pertemuan ini adalah untuk mendapatkan fakta yang sesungguhnya dari peristiwa Mount Felix. Dari keterangan-keterangan dari orang yang sudah berhasil kita amankan, seperti Depati Sukarami, Depati Lagan dan Depati Pagar Dewa serta beberapa kepala adat Proatin XII, maka Daeng Mabela sangat perlu kita mintakan keterangannya juga.
Saya kira taklah menjadi keberatan kita jika Tuan Daeng Mabela, dipersila untuk mendapat kesempatan pertama berbicara.
Namun, sebelumnya, sebagaimana tradisi dalam pengadilan Inggris, saya minta Daeng Mabela bersedia untuk menerima sumpah sebelum memberikan keterangan.

Para hadirin lainnya mengangguk.

Sunyi.

HAKIM MARTIN :
Tuan Daeng Mabela silakan.

Daeng Mabela berdiri.

Seorang pejabat pengadilan berdiri lalu berjalan ke tengah panggung, kemudian mempersilakan Daeng Mabela untuk berdiri di tempat yang ditunjuknya.

Seorang pemuka agama/imam yang bersorban maju membawa Al Quran. Di atas kepala Daeng Mabela Al Quran diulurkan.

PEJABAT PENGADILAN :
Mohon kiranya Tuan Daeang Mabela ikuti kata-kata saya:
demi Allah Seru Sekalian Alam saya bersumpah, bahwasanya saya akan memberikan keterangan yang sebenar-benarnyanya, dan tiada lain daripada yang sebenarnya.

Semua kata-kata pejabat pengadilan ditirukan oleh Daeng Mabela.
Pejabat pengadilan dan pemuka agam kembali ke tempatnya/keluar panggung.

Sunyi

DAENG MABELA :
Tuan Martin, selaku Hakim, Yang Mulia dan tuan-tuan Komisi EIC serta tuan-tuan di Dewan Pangeran.

Diam.

DAENG MABELA :
Ombak dan gelombang ‘lah bikin saya punya leluhur terdampar di tanah Bengkulu. ‘Lah saya letakkan kini punya jiwa dan kerja jadi tekad. Kepada Bengkulu dan kompani Inggris ‘lah saya beri bakti.
Adalah salah kalaulah saya dikecek duduknya saya di Dewan Pangeran adalah buat bela saya punya saudara-saudara sama-sama Bugis. Tidak! Saya tidak bela Bugis, saya bela Bengkulu.
Bugis memanglah saya punya tanah leluhur, tetapi Bengkulu saya punya tanah air. Jangan pula lupalah, Bengkulu saya punya bunda.
Maka hari ini saya ‘lah dihadapkan pada pengadilan atas tuduhan dan ikut terlibat pembunuhan Residen Thomas Parr.
Saya terima, dengan berkehendak, semoga seadil-adilnya majelis ini beri putusan pada saya. Kalaulah saya dinyatakan bersalah hendaknya bak ayam putih terbang siang, maka bisa pulalah tangan saya mencencang dan bahu memikul. Tapi kalaulah saya dinyatakan benar, maka simpul di tangan ini bisa diuraikan.

Demikian Hakim Martin Yang Mulia.

Pangeran Lenggang Alam mengangkat tangan. Hakim memberi isyarat kepadanya untuk bicara.

HAKIM MARTIN :
Silakan, Pangeran Lenggang Alam.

PANGERAN LENGGANG ALAM:
Tuan Hakim Yang Mulia, dalam acara ini kami kembali mau nyatakan dan mintak penegasan, karena dalam anggapan kami bahwa Daeng Mabela ‘lah buat zalim bagi orang-orang Bengkulu dan merusak hubungan dengan Kompani Inggris. Perbuatan ini jelas kami pandang rugikan kita semua, baik kami di Dewan Pangeran, rakyat Bengkulu maupun bagi Kompani Inggris yang berkehendak berbuat kebaikan bagi kami.
Untuk itu, Tuan Martin, selaku Hakim yang mulia dan adil, maka kami ‘nuntut agar Daeng Mabela dihukum seberat-beratnya dengan tuduhan ‘lah gerakkan rakyat untuk berontak hingga terbunuhnya Tuan Residen Thomas Parr.
Tuntutan yang ‘lah kami maui adalah buang Daeng Mabela ke luar tanah Bengkulu dan bayar bangun dengan uang ringgit Spanyol.

Letnan Raja Malin mengangkat tangan.

HAKIM MARTIN :
Silakan Letnan Raja Malin.

LETNAN RAJA MALIN :
Maaf, Hakim Martin Yang Mulia. Walaupun sama-sama duduk di Dewan Pangeran, tetapi karena pengadilan resmi belum digelar, maka tidak berarti suara satu orang anggota Dewan Pangeran adalah suara Dewan Pangeran.

Begini, saya kira, belum saatnya kita berbicara tentang soal tuntut-menuntut atau dakwah-mendakwahi. Kita sepakat dulu, bahwa acara ini adalah untuk mendengarkan keterangan dari Tuan Daeng Mabela.

Datuk Caga Nagari mengangkat tangan. Hakim Martin mengangguk.

DATUK CAGA NAGARI :
Sayo Datuk Caga Nagari, sepakat dengan apa yang dikatakan oleh Letnan Raja Malin. Lebih dahulu harus kita ketahui, mengapa Tuan Daeng Mabela sebagai pokok orang yang harus kita dengarkan keterangannya.

HAKIM MARTIN :
Tuan-tuan Dewan Pangeran yang terhormat, lazimnya sebelum pengadilan resmi atas seorang pejabat EIC digelar, maka ya, saya sendiri sepakat dengan apa yang disampaikan oleh Letnan Raja Malin dan Datuk Caga Nagari, terdakwa belumlah ada. Tuan Daeng Mabela statusnya adalah saksi dan orang yang kita minta keterangannya.
Saya kira demikian penjelasan singkat saya.
Dan, sebagaimana pertanyaan dari Datuk Caga Nagari, baiklah, dari mana akan kita mulai?

DATUK CAGA NAGARI :
Tuan Hakim Martin, dugaan keterlibatan Tuan Daeng Mabela pada peristiwa Bukit Palik adalah didasarkan pada prasangka sakit hatinya Tuan Daeng Mabela karena pemecatannya dari Dewan Pangeran.
Tanpa maksud mengulang-ulang cerita, baiklah kita mulai dari sana saja acara ini, mungkin berguna bagi Tuan-Tuan dari Komisi Khusus Kompani yang sudah jauh-jauh datang dari India.

Demikian, Tuan Hakim Martin.

HAKIM MARTIN :
Tuan Daeng Mabela, sudah dengar apa yang disampaikan anggota Dewan Pangeran.

DAENG MABELA :
Sayo, Tuan Hakim.

HAKIM MARTIN :
Tuan Daeng Mabela boleh bicara, pertama apa benar Tuan kecewa dengan pemecatan Tuan dari Dewan Pangeran?

DAENG MABELA :
Tidak begitu, Tuan Hakim....

Datu Rajo Bilang mengangkat tangan dan langsung berbicara.

DATU RAJO BILANG :
Maaf menyela, Tuan Hakim.

Hakim Martin mengangguk.

DATU RAJO BILANG :
Pertama, kepada Tuan Daeng Mabela mohon jangan beri keterangan ngicuh. Kerna apa. Kita di Dewan Pangeran memiliki pendapat yang berbeda-beda untuk saat ini. Jadi, dengan keterangan yang benar yang diberikan oleh Tuang Daeng Mabela, bisa saja jadi kita punya pandangan yang sama terhadap kasus yang ada ini.

Nah, itu nang pertama. Kedua, maaf Tuan Hakim, sayo juga berpandangan bahwa pernyataan dari Pangeran Lenggang Alam tadi belum merupakan sikap resmi Dewan Pangeran, karena belum terbukti Tuan Daeng Mabela bersalah atau tidak.

Nah, ini, cuba, saya mintak dulu ke Tuan Daeng Mabela, bahwa kecek kicuh tak akan ada keluar dari mulutnya.

DAENG MABELA :
Datu Rajo Bilang serta Tuan-Tuan lainnya, bukankah sebelum memberikan keterangan ini tadi hamba telah bersumpah di depan tuan-tuanku sekalian?
Maka dikutuk bisa kawila, dikutuk Qur’an tigo puluh jus, di bawah tidak berakar, di atas tidak berpucuk, di tengah digerek kumbang, ke dasar tak boleh makan, ke air tak boleh minum, jatuh murka Allah Ta’ala seberat-beratnya, kalulah sayo kecek kicuh.

PANGERAN LENGGANG ALAM:
Tapi, ngapa Tuan ngicuh kalau Tuan tidak kecewa karena pemecatan Tuan dari Dewan Pangeran?

DAENG MABELA :
Bilakah saya pernah bilang tidak kecewa, Tuan Pangeran Lenggang Alam?

Diam.

DAENG MABELA :
Benarlah saya kecewa. Saya kecewa dengan putusan Mister Residen Thomas Parr pecat saya dari Dewan Pangeran. Tapi adalah kecekan ngicuh kalau dikarenakan rasa kecewa saya punya niat mau bunuh Mister Thomas Parr.

Pangeran Lenggang Alam mengangkat tangan sambil berdiri.

PANGERAN LENGGANG ALAM:
Tuan Hakim, dari keterangan-keterangan yang sudah kami peroleh, Tuan Daeng Mabela sudah punya rencana yang sifatnya rahasia setelah dipecat itu.

DAENG MABELA :
Pangeran Lenggang Alam, mohon jangan potong ucapan saya. Biarkan saya berbicara dulu.

Diam.

HAKIM MARTIN :
Ya, Tuan Daeng Mabela, mohon tuan jawab pernyataan dari Pangeran Lenggang Alam tadi. Agaknya kita perlu tahu hal-hal yang selama ini tergelapkan.

DAENG MABELA :
Benar, Tuan Hakim, punya rencana saya sudah dipecat itu. Tapi....

Diam.

HAKIM MARTIN :
Apa rencana Tuan kemudian setelah pemecatan itu?

DAENG MABELA :
Saya kira diusir sudah saya dari tanah Bengkulu ini, karena itu saya pun pikir biarlah bikin persiapan buat pulang ke kampung halaman saya punya leluhur – Daeng Marupa, yakni Bugis.

PANGERAN LENGGANG ALAM:
Mengapa Tuan sampai berpikiran untuk pulang ke Bugis, padahal bukankah di sini Tuan telah berpunya?
Segala sesuatu ‘lah Tuan peroleh di sini, hingga kami yang punya darah sejati anak negeri pun tak memilikinya.

DATUK RAJO NEGERI :
Lagi pula saya kira, Daeng Mabela juga sudah kehilangan akar di Tanah Bugis sana. Daeng Mabela kini adalah anak Daeng Makule, tentulah bukan Daeng Mabela anak Daeng Marupa yang datang ke Muko-Muko dahulu kala.

PANGERAN LENGGANG ALAM:
Ya, saya kira Daeng Mabela kini tentulah lebih sebagai anak Bengkulu daripada seorang anak Bugis. Tapi ini hanya persoalan tentang nama, ‘kan?

Diam.

DAENG MABELA :
Tuan Pangeran Lenggang Alam berkata demikian seolah hamba orang yang tak tahu membalas budi, bukan?

PANGERAN LENGGANG ALAM:
Buk-bukan, demikian, maksudku....

DAENG MABELA :
Tapi baiklah.

Diam.

DAENG MABELA :
Apa artinya harta, Tuan-Tuan, kalau tak sedikit bisa beri hamba perlindungan dari malu. Berkalang tanah manusia pun bersedia kalau malu ‘la mengulit diri.

HAKIM MARTIN :
Jadi, Tuan Daeng Mabela merasa malu karena pemecatan Tuan dari Dewan Pangeran itu?

DAENG MABELA :
Demikan, Tuan Hakim.

HAKIM MARTIN :
Apakah ada hal lain yang menjadi keberatan Tuan Daeng Mabela terhadap Residen Thomas Parr?

DAENG MABELA :
Kecekan Mister Thomas Parr saya ‘lah makan uang rakyat jadi sakit hati saya. Dipecatnya pula saya laju dari Dewan Pangeran. Dicambuk ‘lah sudah anak saya dengan cambuk yang hanya pantas dirasai oleh kuda atau kerbau.
Siapa lagi merasa masih punya muka, kalau dicemitukan.

HAKIM MARTIN :
Kemudian Tuan Daeng Mabela jadi punya maksud mau bunuh Thomas Parr?

Diam.

DAENG MABELA :
Tuan Hakim Martin, Hakim Kompani Inggris Yang Mulia, kalaulah saya punya maksud itu ‘lah merupakan kesalahan, maka teranglah saya ini salah dan patutlah untuk dihukum.

Tapi, hukum mana pula yang nyatakan bahwa tidak bolehlah orang punya maksud untuk membunuh. Padahal maksud belum berubah jadi.

Hukum mana pula yang tidak boleh baru maksud belum jadi sudah pula bersalah?

HAKIM MARTIN :
Jadi, Tuan Daeng Mabela memang pernah punya maksud mau bunuh Residen Thomas Parr?

DAENG MABELA :
Saya akui memang begitu, Tuan Hakim.

Sunyi.
Hakim Martin menulis.

HAKIM MARTIN :
Yang Mulia Mr. Perreau, Yang Mulia Mr Henry Heath dan Yang Mulia Mr Elphistone, Komisi Khusus EIC dalam acara ini, kami kira dapat memberikan penilaian sementara atau ada pendapat yang harus dikemukakan sekarang?

Tiga orang Komisi Inggris berbisik-bisik.

HAKIM MARTIN :
Silakan untuk mengajukan pertanyaan atau pernyataan, Tuan-Tuan.

Perreau berdiri.

PERREAU :
Tuan Martin yang mulia, kami kira, kita sementara dapat memegang kata-kata Tuan Daeng Mabela. Belum ada bukti yang kuat bahwa Tuan Daeng Mabela terlibat pada peristiwa pembunuhan Residen Thomas Parr.
Sekiranya Tuan Daeng Mabela pernah punya maksud untuk membunuh Residen Thomas Parr, kami kira kita juga tidak bisa menghukum Tuan Daeng Mabela untuk memiliki suatu maksud, yang kami yakin juga itu merupakan cetusan emosional Melayu. Bagaimana itu Tuan-Tuan Dewan Pangeran.

Anggota-anggota Dewan Pangeran berbisik-bisik.

LETNAN RAJA MALIN :
Kami kira memang demikian, Tuan. Kalau Melayu marah biasanya langsung ngecekkan ndak membunuh.

DATUK CAGA NAGARI :
‘Lum tebelum ‘lah ndak membunuh. Kek nyolah tulah gerot.

DATU RAJO BILANG :
Mati kau kelak.

PANGERAN LENGGANG ALAM:
‘Lah gerot nian kau ko.

DATUK CAGA NAGARI :
Gerot kek nyo sorang tulah pokok e.

KALIPA RAJA :
Mlah kito uji dulu.

PANGERAN LENGGANG ALAM:
Ndak nian kau ko, ha.

DATU RAJO BILANG :
Tengoklah, ambo bunuhnyo. Bedesai pacak palak e.

Para pangeran Dewan Pangeran tertawa. Hakim Martin mengetok palu.

Diam.

HAKIM MARTIN :
Maaf, Tuan-Tuan, kita dalam majelis yang resmi, tidak pada tempatnya untuk bersenda gurau. Jadi mohon dihentikan dulu main-mainnya.

KALIPA RAJA :
Ngapo kito nang begelut dak keruan ko?

DATUK CAGA NAGARI :
Sapo nang mulai duluan tadi? Sayo idak. Kamu kalu?

KALIPA RAJA :
Sapo pulo?

Hakim Martin mengetokkan palu.

HAKIM MARTIN :
Tuan-Tuan Pangeran yang terhormat, maaf.

Diam.

HAKIM MARTIN :
Silakan dilanjutkan Tuan Perreau.

PERREAU :
Jadi artinya, tuan Daeng Mabela belum bisa dikatakan ikut terlibat dalam peristiwa Mount Felix, karena hanya maksud semata yang ada dan buka pula bersifat ancaman. Kami kira India juga tidak akan menggelar pengadilan secara resmi untuk sementara.

Perreau berbisik-bisik dengan anggota yang komisi yang lain. Elphistone mengangkat tangan.

ELPHISTONE :
Tuan Daeng Mabela, benar pasukan Tuan, Serdadu Elit Bugis ikut dalam pembersihan setelah peristiwa Mount Felix?

DAENG MABELA :
Sayo, Tuan. Saya diminta sendiri oleh Tuan Martin untuk mengamankan Bukit Palik.

PERREAU :
Hakim Martin....?

HAKIM MARTIN :
Benar demikian, Mister. Selaku pejabat ad-interim kepala Fort Marlborough yang ditunjuk oleh EIC di India, saya telah memerintahkan semua pasukan di Fort Marlborough untuk melakukan pembersihan di Mount Felix.

PERREAU :
Apa yang menjadi dasar Tuan Daeng Mabela melaksanakannya?

DAENG MABELA :
Tuan, selain saya memang pernah duduk di Dewan Pangeran, saya sendiri adalah pegawai pada kompani Inggris dengan jabatan Kepala Pasukan Elit Bugis, yang merupakan pasukan resmi Fort Marlborough.

Diam

DAENG MABELA :
Empat keturunan anak Bugis telah bersama Kompeni Inggris. Terabadikan dua kali nama Daeng Marupa dan Daeng Mabela demi untuk selalu mengenang hubungan yang harmonis ini, agar keharmonisan ini pun akan tetap abadi.

Diam.

Henry Heat mengangkat tangan.

HAKIM MARTIN :
Silakan Mr. Henry Heat.

HENRY HEAT :
Apa betul Residen Thomas Parr telah pernah bertindak keras terhadap anak Tuan Daeng Mabela?

DAENG MABELA :
Mr. Henry Heat, Residen Thomas Parr memang keras, bahkan kejam.

HENRY HEAT :
Demikian pandangan Tuan Daeng Mabela terhadap Residen Thomas Parr?

DAENG MABELA :
Ya. Tetapi lagi-lagi tilik saya, Residen Thomas Parr hanya berusaha agar tiap raja dan depati berpegang teguh pada janji yang yang telah mereka sepakati dengan Kompani Inggris. Walaupun kemudian dalam usahanya Residen Thomas Parr banyak tidak mengindahkan prihal kami punya adat dan kami punya mau.

Diam

DAENG MABELA :
Satu hal, saya sudah mendengar bahwa sebenarnya pun Tuan Parr sudah punya kehendak baik untuk memperbaiki keadaan dan juga memperbaiki sikapnya.

Diam.

PERREAU :
Eh, Hakim Martin, ada yang perlu saya sampaikan menyambung pernyataan Tuan Daeng Mabel yang terakhir ini.

HAKIM MARTIN :
Silakan, Mr. Perraeau.

Diam.

PERREAU :
Sebenarnya beberapa hari sebelum Insiden Mount Felix, Mr. Parr sudah memberikan instruksi kepada saya tentang pembatalan penanaman kopi di Silebar dan Sungai Itam. Instruksi itu sudah saya sampaikan kepada para depati di Kerajaan Silebar dan Kerajaan Sungai Itam. Namun, ya, sebagaimana kita ketahui sendiri, bahwa instruksi itu tidak terlaksana.

DAENG MABELA :
Maaf Mr. Perreau, setahu saya instruksi itu tidak sampai kepada para kepala kampung dan proatin serta masyarakat Suku Lembak.

MR. PERREAU :
Ya, demikianlah kejadiannya. Lalu kejadian berikut ya.... Maka saya berkesimpulan, bahwa urusan dendam pribadi tampaknya telah terlibat dalam rencana pembunuhan atas Mr. Parr.

ELPHISTONE :
Menurut catatan yang sampai ke India, Mr. Parr sering ikut campur dalam urusan adat dan peradilan pribumi. Benar kami kira pendapat Mr. Perreau, bahwa urusan dendam pribadi sepertinya lebih berperan dalam rencana makar terhadap Mr. Parr.

Diam.

HENRY HEAT :
Tuan Daeng Mabela, apa pandangan Tuan sejujurnya terhadap Residen Thomas Parr?

Diam

DAENG MABELA :
Terima kasih Tuan sudah tanya itu?
Inilah jawaban saya.

Diam.

DAENG MABELA :
Saya tidak suka Thomas Parr!

Sunyi.

DAENG MABELA :
Tuan-Tuan sekalian, leluhur saya sudah lama berhubungan dengan kompani Inggris, bahkan sejak kedatangan mereka di Tanah Bengkulu ini. Lalu terciptalah hubungan yang harmonis antara anak negeri dengan kompani Inggris. Dan.... Residen Inggris bernama Thomas Parr pun datang, kemudian menghancurleburkan hubungan yang baik itu.

Diam.

DAENG MABELA :
Thomas Parr sudah khianati janji kompani Inggris yang pernah mereka ucapkan kepada Orangkaya Lela.
Dia ‘lah sakiti hati anak negeri. Dia ‘lah kacau-kacaukan adat pegangan. Dia ‘lah ingin injak tanah Bengkulu.
Demikian jawaban jujur saya, Tuan.

Sunyi.

HENRY HEAT :
Sekian dari saya, Mr. Martin.

Diam.

HAKIM MARTIN :
Dewan Pangeran silakan.

Kalipa Raja mengangkat tangan.

HAKIM MARTIN :
Silakan Pangeran Kalipa Raja.

KALIPA RAJA :
Kepada Tuan Rajo Lelo.

Tuan Rajo Lelo berdiri sejenak.

TUAN RAJO LELO :
Saya, Tuan Rajo Lelo.

Tuan Rajo Lelo duduk kembali.

KALIPA RAJA :
Tuan Rajo Lelo, benarkah Tuan Daeng Mabela sudah kasih janji kepada Tuan untuk mengasihkan uang sebanyak 500 ringgit Spanyol dan sebuah cincin berlian?

TUAN RAJO LELO :
Benar, Tuan Kalipa Raja. Memang Tuang Daeng Mabela sudah kasih saya janji demikian, uang 500 ringgit Spanyol dan sebuah cincin berlian.

HAKIM MARTIN :
Hendaknya Tuan Rajo Lelo berucap dengan diberi saksi. Dan tolong lupakan sementara hubungan darah Tuan Rajo Lelo dengan Daeng Mabela. Apa maksud Tuan Daeng Mabela beri itu semua kepada Tuan?

Diam.

TUAN RAJO LELO :
Pertama hamba akan berkata bahwa Daeng Mabela beri itu semua kepada saya adalah untuk dikasih ke Depati Sukarami dan Depati Lagan untuk suruh rakyat biar berontak kepada kompani Inggris. Daeng Mabela juga mau suruh orang-orang saya bunuh Residen Thomas Parr.

Suasana agak ribut. Beberapa orang anggota Dewan Pangeran berdiri.

DATUK RAJO BILANG :
Tuan Hakim Martin yang mulia, saya minta Tuan Rajo Lelo jangan memperkeruh lagi suasana.

DATU CAGA NAGARI :
Tiga orang utusan resmi kompeni Inggris sudah memutuskan tadi, bukan?

DATUK RAJO BILANG :
Dan Tuan Kalipa Raja juga mengapa Tuan baru bertanya dan berkata ketika kata putus sudah ada.

KALIPA RAJA :
Kata putus? Kata putus yang mana Tuan-Tuan? Kata putus apa yang sudah kita ambil?
Ingat Tuan-Tuan, semua yang kita perkatakan dalam majelis ini bukankah semua sumbernya adalah ingatan. Tuan sudah ingat dari tadi, nah, sayo, baru ingat sekarang yang mau saya kecekkan ini. Bukan, bukan, Tuan-Tuan, bukan maksud sayo ndak memperkeruh lagi suasana sana. Sayo sudah kecekkan tadi, kalu sayo....

Hakim Martin memukul-mukul palu ke meja.

HAKIM MARTIN :
Cukup. Cukup, Tuan Kalipa Raja.
Baiklah, saya kira Tuan Kalipa Raja sudah memberikan bahan baru buat kita semua, bahan yang mungkin dapat semakin membikin terang masalah ini.

Diam.

HAKIM MARTIN :
Tuan Rajo Lelo, saya tertarik untuk bertanya, mengapa Daeng Mabela suruh orang-orang Tuan untuk bunuh Residen Thomas Parr?

Diam.

TUAN RAJO LELO :
Tidak, Tuan Hakim Martin yang mulia, bukan Daeng Mabela yang langsung suruh!

Diam.

TUAN RAJO LELO :
(Setengah berbisik) Kabarnya Daeng Mabela disuruh dan dibayari oleh Mister Bedar.

Majelis ricuh.

KALIPA RAJA :
Master Bedar? Apa maksud Tuan adalah Mister Coles?

Masing-masing-masing pihak berbisik-bisik yang kemudian cepat berubah menjadi berbicara dengan keras.

PANGERAN LENGGANG ALAM:
Tuan Rajo Lelo, Tuan memfitnah orang yang kita hormati!

KALIPA RAJA :
Saya bertanya, bukan suruh Tuan Rajo Lelo memfitnah dan menghina Tuan Edward Coles yang selalu kami dihormati!

LETNAN RAJA MALIN :
Tuan Rajo Lelo, mau Tuan bawa kemana masalah ini. Tuan memang kerabat Daeng Mabela, tapi jangan Tuan menyeret orang lain yang tak bersalah demi menyelamatkan Daeng Mabela.

TUAN RAJO LELO :
Katanya! Kabarnya! Kabarnya Daeng Mabela di suruh oleh Tuan Coles.
Ini kabarnya! Maaf! Apa yang salah!

LETNAN RAJA MALIN :
Tuan Rajo Lelo, ucapan Tuan jelas tidak dapat kita selesaikan hanya dengan kata maaf....

Hakim Martin memukul-mukul palu ke meja.

DARI ARAH PENONTON :
Saya perlu bicara!

Diam.
Edward Coles masuk dari arah penonton dan mengangkat tangan.

EDWARD COLES :
Saya perlu bicara!

Edward Coles memasuki majelis, namun dengan cepat ditahan oleh dua orang tentara Inggris.

HAKIM MARTIN :
Sebentar, Mr. Coles. Tuan Rajo Lelo, bagaimana Tuan dapat menyatakan hal itu semua. Mohon anda beri saksi.

EDWARD COLES :
Hakim Martin yang mulia, saya perlu bicara....

HAKIM MARTIN :
Sebentar, Mr. Coles. Kita minta Tuan Rajo Lelo memberi penjelasan lebih dahulu.
Silakan Tuan Rajo Lelo.

EDWARD COLES :
Saya perlu bicara, Hakim Martin!

HAKIM MARTIN :
Sebentar, Mr. Coles. Mohon bersabar sebentar.
Tuan Rajo Lelo.

Diam

TUAN RAJO LELO :
Ini saya dapat cerita dari Depati Sukarami. Katanya Tuan Coles sakit hati dengan Residen Thomas Parr, karena Tuan Parr itu pernah rebut tanahnya yang di Jenggalu buat tanam kopi. Katanya.

HAKIM MARTIN :
Mister Coles, walaupun sebenarnya Tuan tidak terlibat dalam majelis ini, namun karena nama Tuan telah disebut-sebut, maka saya harus melibatkan Tuan dalam majelis ini.
Silakan Tuan memberikan penjelaskan.

Edward Coles maju dan mendekati meja Hakim Martin.

EDWARD COLES :
Terima kasih, Hakim Martin yang mulia. Memang saya tidak terlibat dalam majelis ini, karena saya hadir sebagai pengunjung yang diundang bersama para depati dan proatin serta pengunjung-pengunjung lainnya untuk menyaksikan pengadilan ini. Tetapi jelas, di luar dugaan saya, bahwa saya kemudian harus terlibat dalam majelis ini, karena ini menyangkut nama saya yang jelas sudah diterima dan dihormati oleh masyarakat Bengkulu.

Diam.

EDWARD COLES :
Tuan Hakim yang mulia, saya tidak tahu, itu kesimpulan Tuan Rajo Lelo sendiri atau bagaimana. Juga, setahu saya Depati Sukarami itu adalah seseorang yang tidak dapat dipercaya di kalangan Fort Marlborough.

Diam.

EDWARD COLES :
Tapi baik, saya akan beri sedikit penjelasan terhadap masalah saya dengan Residen Thomas Parr.

Diam.

EDWARD COLES :
Mr. Martin yang mulia, sebagaimana telah anda ketahui, setelah berhentinya saya sebagai Gubernur dan Presiden di Fort Marlborough hampir 20 tahun yang lalu, saya menjadi seorang pengusaha partikelir. Saya beli tanah di Silebar, kemudian saya tanam pala. Kemudian apa, sama seperti Residen Wolter Ewer yang dulu juga mau ganggu estate saya, maka Mister Parr kemudian juga mau jadikan tanah saya seperti tanah rakyat.

Diam.

EDWARD COLES :
Mister Hakim yang mulia, tentu itu tidak bisa saya terima. Saya sudah lapor ini ke Benggala. Tanah itu saya punya modal sendiri untuk belinya dan lalu tanam pala. Jadi tak bisa pula tanah itu ditanam kopi seperti kehendak Fort Marlborough.

Elphistone mengangkat tangan

ELPHISTONE :
Maaf, Yang Mulia Hakim Martin, Mr. Coles, sadarkah anda, kalau yang beri itu perintah adalah Residen, pejabat pemerintah yang sah ditunjuk oleh England. Jadi, tidak pada tempatnya Mr. Coles menentang perintah dari Residen Thomas Parr.

EDWARD COLES :
Mr. Elphistone, saya datang kembali ke Bengkulu bukan lagi sebagai orang politik, tapi saya datang sekarang ini sebagai pedagang.
Dengan izin dan kuasa penuh dari Benggala saya telah beli tanah dan tanam pala. Pertanggungjawaban saya adalah ke India, bukan ke Fort Marlborough.

ELPHISTONE :
Dari keterangan-keterangan yang diberi depati dan kepala adat Proatin XII dibawah sumpah, mereka menyatakan Tuan membayar orang-orang Sukarami dan Pagar Dewa untuk memberontak terhadap Fort Marlborough. Bagaimana penjelasan anda Mr. Coles tentang hal ini?

EDWARD COLES :
Mungkin saya bisa larang itu rakyat buat bikin huru-hara, Tuan Hakim. Tapi bisakah saya larang rakyat marah.
Saya juga marah pada Tuan Parr, tapi saya juga hormat pada EIC yang diperlindungi oleh Residen Thomas Parr.
Kalau rakyat marah pada perlakukan Mr. Parr mereka punya cara sendiri buat bertindak, maka saya sebagai pedagang juga punya cara sendiri, yang tentu berbeda dengan cara rakyat, karena bagaimana pun saya harus melindungi usaha dan modal saya. Saya datang ke Bengkulu ini sebagai pedagang, maka saya harus pulang ke England sebagai pedagang yang berhasil.

Diam.

EDWARD COLES :
Lagi pula Tuan-Tuan, kuli-kuli di estate saya semuanya adalah orang-orang Cina, Tambi dan Maluku, tak seorang pun anak negeri Bengkulu. Anak negeri Bengkulu yang ada di estate saya semuanya adalah berpangkat mandor.

PERREAU :
Mr. Martin, bagaimana terakhir perselihan antara Residen Thomas Parr dengan Mr. Edward Coles?

HAKIM MARTIN :
Ya, memang ada beberapa pihak di Fort Marlborough yang pernah coba kembangkan perselihan itu ke arah politik. Namun, sebagaimana Tuan-Tuan memaklumi, perselisihan tersebut merupakan perselisihan pribadi antara Thomas Parr dengan Edward Coles.

EDWARD COLES :
Saya kira, Tuan-Tuan, perselisihan saya dengan Thomas Parr saya kira telah berakhir dengan sendirinya, seiring dengan kematian Thomas Parr.
Sekian dari saya. Dan kepada Tuan Rajo Lelo, tolong beri bukti ucapan dan pernyataan Tuan tadi.

Diam.

ELPHISTONE :
Mr. Coles, anda lebih merasa Inggris atau Melayu?

Diam.

EDWARD COLES :
Mungkin... saya lebih merasa Melayu, Mr. Stone. Janganlah lupa, saya memiliki darah Melayu. Bukankah ibunda saya berasal dari kalangan bangsawan Kerajaan Selebar.

Diam.

EDWARD COLES :
Ah, Tuan-Tuan, sebenarnyalah saya adalah anak Melayu.

Edward Coles keluar.
Sunyi.

HAKIM MARTIN :
Baiklah. Tuan Rajo Lelo, saya ingin bertanya, dalam pandangan Tuan, bagaimana hubungan Depati Sukarami dengan Daeng Mabela. Bukankah kita ketahui sendiri, hubungan mereka berdua tidak begitu baik.

TUAN RAJO LELO :
Kalulah tadi kecekan saya tidak bersaksi, maka ini kali kecekan saya pakai saksi.
Demi Allah seru sekalian alam, maka taklah uang dan cincin berlian yang dikasih Daeng Mabela kepada saya buat suruh rakyat berontak kepada kompani.

HAKIM MARTIN :
Mengapa Tuan Rajo Lelo berkata lain tadinya, bahkan membawa-bawa nama Mr. Edward Coles?

TUAN RAJO LELO :
Itulah cerita yang dikembangkan oleh beberapa depati yang tidak menyukai Residen Thomas Parr dan Daeng Mabela.

HAKIM MARTIN :
Jadi, bagaimana yang sebenarnya cerita tentang uang dan cincin itu, Tuan Rajo Lelo?

TUAN RAJO LELO :
Sebenarnyalah, bahwa Daeng Mabela mau kasih saya cinderamata dengan cincinnya itu, karena dia mau balik ke ranah leluhur di Bugis. Dan uang itu, Daeng Mabela mau suruh saya bayar utang-utangnya yang mungkin ada di Bengkulu ini.

Daeng Mabela memang pernah punya maksud mau bunuh Residen Thomas Parr. Katanya kepada saya, dia bisa saja menggerakkan orang Selebar untuk berontak kepada kompani Inggris. Tapi, sebagaimana kita ketahui yang terlibat di Bukit Palik bukan orang-orang Selebar.
Sebenarnyalah Daeng Mabela tidak membunuh Residen Thomas Parr dan tak pernah suruh orang buat bunuh Tuan Thomas Parr.

Panggung gelap.

BABAK VI
Panggung terang kembali. Di panggung, Daeng Mabela bersama empat orang pangeran.

Penggung merupakan pendapat rumah adat Bengkulu. Di lantai tergelar tikar pandang dengan du buah cerana dan beberapa tempat ludah sirih berada di tengahnya.

Pengeran I menumbuk-numbuk sirih.

PANGERAN I :
Daeng Mabela telah khianat! Bukankah dia ‘lah bunuh orang-orang anak negeri? Tidak boleh jadi!

DAENG MABELA :
Tidaklah saya buat itu kehendak saya! Tapi atas perintah kompanilah saya mau bikin begitu. Di samping itu, secara tidak langsung saya ingin menolong rakyat.

PANGERAN II :
Bohonglah. Daeng Mabela mau bela rakyat!

PANGERAN III :
Tak ada asap kalau tak ada api! Thomas Parr memang harus dibunuh. ‘Lah banyak dia bikin susah kita. ‘Lah dipaksanya pula kita tanam yang tidak kita suka.

PANGERAN I :
Mengapa Daeng Mabela lebih bela kompani dari pada rakyat!

DAENG MABELA :
Saya lebih bela rakyat. Tapi saya tak bela angkara murka. Jangan kait-kaitkan peristiwa Bukit Palik dengan rakyat. Rakyat tak mau bunuh Thomas Parr.

PANGERAN I:
Jadi siapa?

DAENG MABELA :
Yang bunuh Thomas Parr hanyalah bangsawan-bangsawan yang tak puas dengan memperalat rakyat. Tak seluruh rakyat itu tidak senang dengan Thomas Parr. Akui itu!

Diam.

PANGERAN III :
Ah, Thomas Parr ‘lah paksa kita tanam-tanam!

DAENG MABELA :
Siapa yang paksa. Kompani Inggris tak pernah paksa kita tanam yang tak kita suka.
Nah, siapa yang tak suka. Ah, rangkayo sekalianlah yang tak suka, apa rakyat memang.
Dan ingat, rangkayo sekalian, kita sebenarnya yang tak mau bekerja sama dengan kompani.

PANGERAN I :
Nak ngapo pulo kito turut penjajah!

DAENG MABELA :
Oya? Kalau memang kita tidak ingin turut mereka, karena mereka penjajah, mengapa pula kita mau duduk di Dewan Pangeran yang dibentuk oleh mereka?

Hitung, hitunglah, rangkayo sekalian, berapakah jumlah orang Inggris di Bengkulu ini. Hitung juga berapa jumlah serdadu mereka yang bukan orang Inggris tulen?

Diam

DAENG MABELA :
Tanyalah ke rakyat, apakah memang mereka itu, kompani Inggris, menjajah kita. Kalau memang, ya maka siapa dan apa yang dijajah!

Inggris tidak pernah menekan rakyat secara langsung. Kitalah yang menekan rakyat. Mengapa? Karena kita adalah pegawai pada kompani Inggris. Dan kita ingin menunjukkan kepada mereka bahwa kita adalah pegawai mereka yang baik.

Diam.

DAENG MABELA :
Juga yang selalu kita perdebatkan bukanlah kebun-kebun kecil milik rakyat. Yang kita hadapi adalah perkebunan-perkebunan besar, yang kita urus dan dibiayai oleh Inggris.

Sunyi.

PANGERAN IV :
Sebenarnya kalau dipikir-pikir, sebagai apa dan siapa itu orang-orang Inggris datang ke Bengkulu ini?
Kalau datang sebagai penjajah, mengapa tak ada upeti yang harus kita bayar. Mengapa kita tidak ditindas. Kalau sebagai sahabat, mengapa pula dia ada di setiap penjuru kehidupan anak negeri.

PANGERAN I :
Jelaslah mereka adalah penjajah. Tengok, kita tidak bisa kuasa kepada rakyat kita sendiri. Para raja tak ada artinya di mata rakyat. Tak bisa kita tarik upeti seenaknya dari rakyat kita, karena pasti itu orang Inggris akan berang.

PANGERAN III :
Ya, itu kalau kita ukur dari kita sebagai kaum bangsawan, namun bagaimana pula kalau kita ukur dari segi rakyat?

PANGERAN II :
Tapi dengan sedikit kejujuran kita juga, maka banyak kebaikan orang Inggris ‘lah berikan kepada kita, bukan? Bahkan kadang-kadang saya merasa orang Inggris adalah serdadu bagi tiap raja, yang bisa mengamankan wilayahnya.

PANGERAN IV :
Tapi apakah mungkin bersatu dan lebur nama Bengkulu dan nama Inggris?

PANGERAN III :
Manalah bisa jadi! Yang ada di Bengkulu ini Inggris sebagai pedagang atau Inggris sejati sebagai bangsa?

Sunyi.

DAENG MABELA :
Yang mana Bengkulu itu, rangkayo semuanya?

PANGERAN III :
Tuan Daeng Mabela bertanya, yang mana Bengkulu itu?

DAENG MABELA :
Ya, yang mana sebenarnya Bengkulu itu?

PANGERAN III :
Ya, kita ini orang Bengkulu.

DAENG MABELA :
Kita?

PANGERAN :
Bukan kita, tetapi kami, anak keturunan Ratu Agung yang mulia dari Gunung Bungkuk!

DAENG MABELA :
Kata siapa?

PANGERAN I :
Kata tambo!

DAENG MABELA :
Ratu Agung tidak menulis tambo, tapi tertulis dalam tambo.

PANGERAN II :
Jadi....!

Sunyi.

DAENG MABELA :
Bengkulu itu tidak ada!

PANGERAN II:
Kata siapa?

DAENG MABELA:
Kata kenyataan!

PANGERAN IV:
Mengapa Bengkulu tak ada?

DAENG MABELA :
Ya, memang, Bengkulu tak ada.
Ratu Agung adalah Sungai Lemau.
Inggris adalah Bengkulu.
Tak ada kata tambo Ratu Agung jadi Inggris.
Tak ada kata tambo Sungai Lemau jadi Bengkulu.
Inggris datang Bengkulu ada.
Jadi, Bengkulu tak ada.

Diam.

DAENG MABELA :
Rangkayo semua bertanya, orang Inggris itu datang sebagai apa?
Sebagai sahabat atau sebagai penjajah?
Pertanyaan itu juga boleh ditujukan kepada saya.
Sebagai apa orang Muko-Muko datang ke Bengkulu?
Pertanyaan itu juga boleh ditujukan kepada beta punya ayah, Daeng Marupa.
Sebagai apa orang Bugis datang ke Bengkulu?
Pertanyaan itu juga boleh ditujukan kepada Wiriodiningrat.
Sebagai apa orang Madura datang ke Bengkulu?
Pertanyaan itu juga boleh ditujukan kepada Suanda.
Sebagai apa orang Palembang datang ke Bengkulu?
Pertanyaan itu juga boleh ditujukan kepada Maharaja Sakti?
Sebagai apa orang Minangkabau datang ke Bengkulu?
Pertanyaan itu juga boleh ditujukan kepada Ratu Agung.
Sebagai apa orang Rejang Sawa datang ke Bengkulu?

Sunyi.

DAENG MABELA :
Sebagai penjajah atau sahabat?

Sunyi.

PANGERAN I :
Ya, Daeng Mabela datang lalu diangkat jadi keluarga oleh Sultan Muko-Muko.

PANGERAN II :
Wiriodiningrat datang lalu diberi tanah oleh Pangeran Sungai Lemau.

PANGERAN III :
Suanda datang lalu diberi tanah oleh Baginda Sebayam Sungai Lemau.

PANGERAN IV :
Maharaja Sakti datang karena dijemput oleh Empat Pasirah Tanah Rejang.

DAENG MABELA :
Ratu Agung datang lalu lahirlah semua teka-teki ini!

Sunyi.

DAENG MABELA :
(kesal). Ah, pasti Bengkulu lahir dari tanah tak bertuan!

Sunyi.

PANGERAN I :
Dan Inggris datang karena dijemput oleh Orang Kaya Lela Muko-Muko dan disambut oleh Raja Sungai Lemau.

PANGERAN II :
Kalau Inggris tak datang, maka masihlah dengan terpaksa kita bayar upeti ke Banten. Masihlah kita dijajah oleh Banten. Tenggelam nama lada kita di bawah nama itu.

PANGERAN III :
Lagi pula siapa yang mau dan sanggup masuk ke sarang badai Ketahun. Perancis mundur, Portugis kandas, bahkan bajak laut paling gerot sekalipun teminta-minta ampun dengan benteng badai Bengkulu. Neh, mangko Inggris lemak ajo mereka datang pergi, bentang tutup layar ke Bengkulu.

Sunyi.

DAENG MABELA :
Inggris telah ingatkan kita akan persatuan yang pernah dibentuk oleh para leluhur kita dulu. Lalu Inggris ‘lah datang dan kembali mengikat kita dalam satu ikatan lama yaitu Bengkulu!

Karena, tak ada alasan untuk Muko-Muko, Pekal, Rejang, Lebong, Serawai, Lembak, Kaur, Lampung dan Melayu bisa bertemu dan bersatu dalam suatu ranah yang luas terpecah-pecah oleh hutan bahasa, belantara tradisi dan lautan adat.

Diam.

DAENG MABELA :
Oleh Inggris maka dipersatukan kita dari ujung di Krui hingga ke ujung di Inderapura, dalam satu negeri Bengkulu. Kelak akan ikut juga dalam ikatan ini orang-orang Rejang di pedalaman. Ditimbulkannya pada kita semua rasa bersatu, rasa yang sama dengan kata Bengkulu.
Mungkinlah, kalau tak ada Inggris, kita ‘lah saling perang-berperang, saling bunuh-membunuh.
Tak ada Inggris tak ada Bengkulu!

Diam.

PANGERAN IV :
Tak ada Inggris, tak ada Bengkulu.

Sunyi.

DAENG MABELA :
Jadi, mengapa saya ikut menghukum orang-orang di Bukit Palik dan ikut tangkap pembunuh Thomas Parr, karena saya tak ingin tengok persatuan yang bernama Bengkulu itu hancur.

Diam.

DAENG MABELA :
Rangkayo sekalian, yang terbunuh di Bukit Palik itu bukanlah rakyat biasa, bukan serdadu berpangkat rendah, bukan opsir, bukan pula pegawai rendah, tapi yang mati itu adalah seorang residen. Seorang yang diberikan kuasa penuh oleh Ratu Inggris melalui kantor pusatnya di India situ.

Diam.

DAENG MABELA :
Tidak! Saya tidak mau lihat rakyat jadi korban sia-sia karena tindakan balas dendam kompani Inggris. Saya gerakkan pasukan saya untuk bersihkan Bukit Palik, demi menghindari tindakan Inggris lebih jauh lagi, Rangkayo sekalian.
Saya tidak ingin lihat kompani Inggris berbuat kepada anak negeri tidak beda dengan kompani Wolanda di Tanah Jawa. Sudah rangkayo semua dengar, bukan, bagaimana perlakukan kompani Wolanda di Tanah Jawa terhadap anak negeri Jawa?

Sunyi.

PANGERAN I :
Jadi untuk apa orang Inggris datang ke Bengkulu?

Sunyi.

PANGERAN II :
Kalau sebagai penjajah, mengapa kita bersedia bersama mereka?
Kalau sebagai sahabat, mengapa mereka membikin undang-undang di atas undang-undang anak negeri?

Sunyi.

PANGERAN III :
Kalau mereka datang sebagai penjajah, mengapa kita tidak menolaknya?

Diam.

DAENG MABELA :
Orang Inggris datang, sama seperti yang lainnya datang?
Dulu, Aceh pernah marah, karena anggap Sungai Serut ganggu mereka. Laju Inderapura pernah marah, karena Inggris ganggu mereka. Sebaliknya Inggris marah karena Inderapura ganggu mereka. Orang Sungai Itam pernah marah, karena Silebar ganggu mereka. Silebar pernah marah, karena Sungai Lemau ganggu mereka.

Sunyi.

DAENG MABELA :
Terjajah atau tidak, itu sekarang kembali kepada anggapan kita. Kalulah Inggris kita anggap memang penjajah, marilah kita dari Silebar, Sungai Itam, Sungai Lemau, Muko-Muko, Kaur dan Krui bersatu melawan mereka.
Yakinlah, kita lebih kuat dari Inggris. Peristiwa Thomas Parr sudah membuktikan, residen mereka saja mampu kita bunuh, padahal pada peristiwa itu tidak semua kita ikut. Nah, apalagi kalau kita bersatu, Melabero pun bisa kita runtuhkan.

PANGERAN III :
Mungkin karena kita takut?

DAENG MABELA :
Takut? Residen mereka sudahlah terbunuh. Dulu ‘lah lagi sudah pernah kita usir mereka dari Sungai Lemau. Hanya karena kita yang meminta mereka datang kembali ke sini. Lagi pula, tak ada sahabat bagi mereka itu, mereka dikelilingi Wolanda, Portugis, Spanyol dan para bajak laut yang menjadi musuh-musuh mereka. Mereka harus ke India yang jauh kalaulah ndak minta tolong.

Daeng Mabela keluar.

Sunyi.

PANGERAN I :
Mungkin awalnya Bengkulu ini... adalah tanah tak bertuan!

PANGERAN II :
Bukan! Bengkulu adalah tanah bertuan yang ditinggalkan tuannya menjadi tak bertuan!

PANGERAN III :
Ah, jangan-jangan kita sendiri yang sudah jual Bengkulu ini ke orang-orang Inggris.

PANGERAN IV :
Benar, tapi ingat, kita tidak jual Sungai Itam, kita tidak jual Silebar, kita tidak jual Muko-Muko dan kita tidak jual Sungai Lemau.

PANGERAN I :
Ada yang belum terjawab, bahwa bukankah Daeng Mabela datang ke Bengkulu adalah karena undangan orang Inggris untuk jadi serdadu mereka.

PANGERAN II :
Ya, Daeng Mabela menyembunyikan faktanya sendiri!

PANGERAN I :
Tentunya Daeng Mabela tak bisa kita samakan dengan Daeng Marupa. Daeng Mabela pasti ‘lah jadi orang asing kini.

PANGERAN III :
Tapi Daeng Mabela yang mana? Dan Daeng Marupa yang mana?
Ingat! Kita berbicara tentang dua orang yang bernama Daeng Marupa dan dua orang yang bernama Daeng Mabela.

Sunyi.

PANGERAN I :
Ah, tak bulilah kita lama berdiam begini. Tak berakar tak berpucuk, maka sukarlah kita temukan jalinan darah dengan Daeng Mabela, juga itu orang-orang Madura dan juga itu orang Selebar Daun.

PANGERAN III :
Jalinan darah apa! Janganlah menegak benang basah, membangkitkan batang terendam. Apa urusan darah di sini. Permasalahannya sekarang bagaimana kita tetap utuh dalam satu kesatuan.
Kalaulah Inggris memang tidak memecah-mecah kita, maka janganlah kita buat sendiri berpecah-berai!
Kalaulah Inggris telah memecah-belah kita, maka janganlah pula kita saling beradu-berlaga memecah periuk makan bersama.

Sunyi.

PANGERAN IV :
Aku terima kata-kata Daeng Mabela.
Itu saja.
Yang pasti, tak ada anak negeri sejati Bengkulu. Bugis, Madura, Palembang, Inggris, India, Cina, Melayu, Minangkabau, Rejang ‘lah campur aduk semuanya menyesakkan negeri Bengkulu ini. Sekarang hanya Rejang di pedalamanlah yang mungkin masih jadi anak negeri sejati untuk negeri mereka sendiri.

Sunyi.

PANGERAN IV :
Daeng Mabela, juga yang lainnya, adalah sekelumit kulit ari dari bumi Bengkulu, kalaulah kita semua mau mengatakan kita semua ini adalah Bengkulu.bahkan kelak, kalau ‘lah semua asal-usul menjadi kabur mungkin kita sendiri akan saling beradu antara kita.
Yakinlah, kulit ari akan berganti terus dengan kulit yang lebih baru lagi. Kelak juga, mungkin ada orang Sungai Itam lebih berbangga menyebut dirinya keturunan Bugis atau Palembang, atau orang Silebar lebih berbangga sebagai keturunan Madura.
Kelak....

Diam.

PANGERAN IV :
Tak lama lagi.

Sunyi.

PANGERAN II :
Ah, mengapa pulalah dulu kita terimo orang-orang itu di tanah kita?

PANGERAN I :
Mengapa mereka mau datang?

Diam.

PANGERAN IV :
Karena mereka orang yang berani.

PANGERAN III :
Berani?

PANGERAN IV :
Ya, berani. Hanya orang yang berani mau masuk ke sarang badai ketahun. Hanya mereka yang berani bersedia datang ke negeri dalam lembah keterpencilan ini.

PANGERAN III :
Dan keberanian kita?

PANGERAN IV :
Kita tak berani, hanya nekad.

Sunyi.

PANGERAN IV :
Sudahlah, sejarah tak bisa kita ubah lagi. Kalau memang tak begitu ceritanya, maka tambo telah punya suara sendiri, yang mau tak mau harus kita dengarkan begitu.

PANGERAN III :
Siapo pulo klera nang ‘lah membuek tambo tu!

PANGERAN IV :
Nak mengubah tambo, itu bisa pula kita buat. Kalu kita memang endak. Tapi siapa pula bisa mengingkari kalaulah seperti Daeng Mabela,orang-orang Madura dan orang-orang Palembang memang sudah ada di tanah Bengkulu ini. Tentulah tak mungkin pula hendak kita binasakan semua mereka itu.

PANGERAN II :
Bagaimana pula hendak kita binasakan mereka. Kekuatan kita pun ‘lah jadi kekuatan mereka, ditambah dengan kekuatan mereka sendiri. Kompani sendiri sudah pakai mereka malah jadi serdadu istimewa, yang kita anak negeri sejati tak memilikinya.

Diam

PANGERAN II :
Bahkan dalam darah kita pun telah ada darah mereka. Dan pada darah mereka pun telah ada darah kita!

Koor “Yo Botoi-botoi”.

Tuan Rajo Lelo masuk.

TUAN RAJO LELO :
Marilah kita sepakati, bahwa kita adalah pewaris tanah Bengkulu ini dari leluhur Maharaja Sakti, suami junjungan kita Putri Gading Cempaka yang keramat hingga mereka itu telah beri Bengkulu cahaya kejayaan.

Diam.

TUAN RAJO LELO :
Marilah kita, Sungai Lemau, Inderapura, Muko-Muko, Silebar, Serawai, Kaur dan Krui sepakat dan tetap bersepakat beribu pertiwi Bengkulu, tak peduli siapa menyatukan kita dan mengapa kita bersatu. Yang terpenting bagi kita adalah bagaimana untuk tetap bersatu!

Sunyi.

PANGERAN I :
Tapi tengoklah kelak, saya yakin mereka mengubur nama-nama kita dalam tambo. Kita jadi sampingan dalam tambo!

TUAN RAJO LELO :
Mungkin jadi, tapi mungkin juga mereka kelak adalah perhiasan dalam tambo. Karena mereka hanya sekedar mengisi dari apa yang sudah kita bangun.

PANGERAN II :
Ah, Tuan Rajo Lelo, apa yang sudah kita bangun.

TUAN RAJO LELO :
Citra!

PANGERAN II :
Citra? Citra apa?

TUAN RAJO LELO :
Citra tentang kita yang membuka pintu bagi tamu yang datang sebagai saudara kandung!
Citra Bangkahulu membangun tambonya yang khas!

Sunyi.

PANGERAN III :
Dan..., mungkin juga citra tentang Bangkahulu yang bersinar terang-benderang, yang kelak akan redup di antara ribuan benderang waktu.

Diam.

TUAN RAJO LELO :
Ya, mungkin.

Panggung gelap.

BABAK VII
ORANG-ORANG :
Gempa! Gempa!
Gempo! Gempo!

Dua orang masuk mengibas-ngibaskan kain panjang dan lebar yang dibentang dari sudut ke sudut, sehingga bergelombang di tengah-tengah panggung. Para pangeran berlari bercerai-berai ke lain-lain sudut
Musik irama gamat Bengkulu dalam tempo cepat.
Orang-orang masuk berlarian dan jatuh bangun.
Tentara Inggris, serdadu elit Bugis dan para pangeran masuk membantu orang-orang.

Dua kelompok yang masing-masing kelompok terdiri 4 orang (1 orang tentara Inggris, 1 orang serdadu Bugis, 1 orang pangeran dan 2 orang rakyat) saling berlari ke dua penggerak kain gelombang, kemudian mendorongnya.

Orang-orang penggerak kain terdorong keluar, dan posisinya diambil alih oleh empat orang masing-masing-masing-masing kelompok.

Keempat kelompok kembali menggerakkan kain bergelombang.

Musik “Yo Botoi-Botoi”.

BABAK VIII
Di dinding belakang panggung silhuet tiga kapal Inggris. Orang-orang yang memegang kain, bergerak ke belakang panggung. Kain digerak-gerakkan sebagai gelombang lautan.

Seorang serdadu Inggris memegang panji-panji Inggris diikuti seorang budak membawa payung agung dan dikawal dua serdadu masuk, kemudian berjalan perlahan dan keluar ke sudut lain.

TERIAKAN INGGRIS :
Sir Thomas Stamford Raffles was coming!

TERIAKAN MELAYU :
Raffles sampai!

Bunyi genderang dan terompet diikuti salvo meriam empat kali.

NARATOR :
Di atas puing-puing gempa besar yang telah menimpa Tanah Bengkulu, Raffles tiba menapakkan kakinya.

NARATOR :
Fort Marlborough, first June 1820
Where a Pangerang Nata de Radjah off Sillebar finding that the Revenue derivable by him from Districts under his authority does not afford him subsistence, and having request to be revelied from the said charge, and that Honourable Company Would grant him a monthlen salary in lieu Honourable the Lieutenant Governor is pleased.

Signed by Sir Thomas Stamford Raffles .

BABAK IX

Bunyi marching genderang perlahan.

Di dinding belakang silhuet dua kapal Belanda bergerak. Pada latar depannya bendera Belanda, merah-putih-biru melambai-lambai.

Sunyi.

Daeng Mabela berdiri di tepi panggung, mengawasi ke kejauhan. Daeng Mabela keluar, kemudian masuk kembali diikuti empat orang pangeran.

DAENG MABELA :
Lihat....

Diam.

DAENG MABELA :
Di tengah laut itu.

Semua bergerak dan berbaris ke tepi panggung.
Sunyi.

PANGERAN I :
Merah, putih, biru.

TUAN RAJO LELO :
Siapa itu?

Diam.

DAENG MABELA :
Itulah agaknya tamu yang dikatakan oleh Raffles.

TUAN RAJO LELO :
Siapa mereka?

DAENG MABELA :
Mereka menyebut diri mereka pedagang oranye.
Mereka dari Batavia
Mereka menukar Malaka dan Singapura dengan Bengkulu kepada Inggris.
Pedagang-pedagang paling kasar dan licik.

Diam

DAENG MABELA :
Mereka adalah Kompani Wolanda.

Sunyi

PANGERAN II :
Apa mau mereka ke sini?

DAENG MABELA :
Apa mau mereka, hampir sama dengan apa mau Inggris ke sini.

TUAN RAJO LELO :
Apa maksudnya?

DAENG MABELA :
Mencari rempah-rempah katanya.

TUAN RAJO LELO :
Mereka sama dengan Kompani Inggris?

DAENG MABELA :
Mereka sama-sama dagang. Mereka sama-sama kompani.

TUAN RAJO LELO :
Untuk apa mereka rempah-rempah?

DAENG MABELA :
Bukti bahwa mereka benar-benar mencari rempah-rempah.

PANGERAN III :
Apa di negeri mereka tidak ada rempah-rempah?

DAENG MABELA :
Ada, tapi katanya mutunya kurang baik, karena kurang dapat sinar matahari.

TUAN RAJO LELO :
Bagaimana kalau di negeri kita rempah-rempahnya habis?

DAENG MABELA :
Mungkin mereka akan membawa pulang matahari kita!

PANGERAN :
Bedakan matahari kita dengan matahari mereka?

DAENG MABELA :
Ya, katanya matahari mereka itu merah menyala dan dingin.

PANGERAN IV :
Dan kita jelas bakal tidak punya matahari lagi, ‘kan?

PANGERAN III :
Tentunya matahari itu untuk mereka gunakan menanam rempah-rempah di negeri mereka sendiri?

PANGERAN I :
Kapan mereka bakal mengambil matahari kita itu?

DAENG MABELA :
Kelak, ketika rempah-rempah habis.

Sunyi.

DAENG MABELA :
Kelak, ketika kita tidak lagi mau menanam rempah-rempah.
Kelak, ketika ranah untuk bertanam lada dan kopi serta cengkeh tak ada lagi.
Kelak, ketika matahari memang tak bersahabat lagi dengan kita.

Sunyi.

DAENG MABELA :
Kelak, ketika ranah hati nurani telah kering.

Sunyi.

PANGERAN IV :
Dan mungkin kita yang bakal kelak membeli rempah-rempah dari mereka. Mungkin saat itu kelak, kita juga tidak perlu datang ke negeri mereka untuk mencari rempah-rempah, seperti mereka kini datang ke negeri kita. Sebaliknya rempah-rempah itu nanti mereka sendiri yang mengirimkannya ke kita di sini.

Mereka akan memaksa kita untuk membeli rempah-rempah mereka, seperti mereka memaksa kita menanam dan menjual rempah-rempah kepada mereka.

Sunyi.
Koor “Yo Botoi-Botoi”.

PANGERAN I :
Tentu itu malapetaka.

Sunyi.

DAENG MABELA :
Kepada kebodohan kita
Kepada ketamakan kita
Kepada kebutaan kita
Kepada kelumpuhan kita
Kepada kegelapan kita
Telah merebut kita....
Dan....
Kehidupan kita

Sunyi.

TUAN RAJO LELO :
Apa yang harus kita lakukan sekarang?

DAENG MABELA :
Menunggu.

TUAN RAJO LELO :
Menunggu apa?

Diam.

DAENG MABELA :
Menunggu mereka mendarat, di tepi pantai ini. Menyambutnya. Dengan tarian adat beserta sekapur sirih.
Kemudian berharap....

Diam.

DAENG MABELA :
Semogalah mereka tak akan mengambil matahari kita.

Sunyi.

DAENG MABELA :
Mari, kita harus menyambut mereka sekarang.

Koor “Yo Botoi-Botoi”.

Tamat

Kepahiang, 10 Maret 2003
Kepahiang, 27 Maret 2003
Revisi-Akhir, 5 Juli 2007

Emong Soewandi

Keterangan:
Ambo : Saya, aku
Bedesai : Pecah, berserak
Bundung : Kata makian yang sangat kasar dalam bahasa Melayu Bengkulu
Buyan : Bodoh
Cemitu : Singkatan dari macam itu, seperti itu
Gerot : Jago
Kecek : Bicara, Bilang. Apo kecek kau? = Apa kata kau?
Kek : Dengan, bersama. Kek kau = dengan kau
Klera : Kata makian dalam bahasa Bengkulu
Mlah : Ayo
Nang : Yang, Nang pertamo : Yang pertamo
Ndak : Mau
Ngapo : Mengapa, kenapa
Nyo : Dia
Kicuh : Bohong, dusta, Ngicuh: berbohong
Pacak : Bisa, cakap, dapat
Proatin : Distrik pedesaan
Pulo : Pula, juga
Sapo : Siapa
Sayo : Saya, (bentuk yang halus dibanding ambo)

GLOSARIUM
Ambo : Saya
Bangun : Hukum Bangun; hukum ganti nyawa yang diberikan kepada seseorang yang melakukan pembunuhan. Dalam tradisi Melayu umumnya, hukum ini dijatuhkan dengan menetapkan denda berupa uang ringgit bagi pelaku pembunuhan.
Bundung : kata makian yang sangat kasar
Buyan : bodoh, tolol
Gerot : jago
Kalu : kalau
Kecek : kata, mengecek = berkata-kata
Kek : dengan, kek kau = dengan kau
Klera : kata makian
Mlah : ayo
Nang : yang, nang membuek = yang membuat
Ngicuh : bohong
Nyo : dia
Pai : pergi
Bedesai : hancur; rusak
Palak : kepala
Pacak : bisa, pintar
Sayo : saya
Cemitu : begitu
Ndak : mau, akan
Sorang : seorang, sendirian
Ko, Iko : ini
Ngapo : Mengapa
Begelut : Bergelut, bercanda
Endak : lihat ndak
Emong Soewandi
Emong Soewandi Blogger sejak 2014, dengan minat pada sejarah, sastra dan teater

Post a Comment for "DRAMA: DAENG MABELLA"