Skip to content Skip to sidebar Skip to footer

KISAH PADI MENANGIS DI TANAH REJANG

Padi sawah di Tanah Rejang

Cengkeh (Sizygium aromaticum) bukanlah tanaman asli di Tanah Rejang. Kedatangannya di Tanah Rejang pun tak lepas dari kedatangan kolonialis Eropa ke wilayah pedalaman Rejang. Mungkin sekali masuknya cengkeh ini ke Rejang pedalaman dalam rentang waktu yang relatif sama dengan pembukaan perkebunan kopi oleh Belanda pada awal 1900-an di Onderafdeling Rejang.

Perkenalan orang-orang di Tanah Rejang dengan kolonialis Belanda memberikan dampak terhadap tradisi bertanam.  Sebelum interaksi dengan orang-orang asing itu, tanaman yang dibudidayakan secara luas oleh orang di Tanah Rejang pedalaman hanyalah padi. Masa-masa berikut orang Rejang mengenal bertanam kopi, pala dan cengkeh, mengikuti dibukanya perkebunan-perkebunan besar milik swasta Belanda di wilayah Kepahiang hingga Curup.

Dengan ketinggian wilayah 500-1000 mdpl, alam di Onderafdeling Rejang termasuk kondisi yang ideal bagi cengkeh. Pohon yang aslinya dari Indonesia Timur ini memberikan hasil yang cukup baik di pasar, karena itu menarik perhatian pribumi untuk pula menanamnya di sekitar ladang-ladang mereka. 

Cengkeh merupakan remah-rempah banyak memiliki manfaat, juga memiliki nilai ekonomis yang tinggi. Di Tanah Rejang, orang menanamnya hanyanya untuk mengisi bidang kosong di kebun atau halaman, karena awalnya mereka mereka tidak mengenal dan akrab dengan sisi-sisi manfaatnya.

Walaupun tidak sebaik di wilayah dataran rendah, namun faktor kesuburan tanah telah membuat cengkeh yang ditanam itu pun tetap memberikan hasil yang baik dan melimpah. Pemetikan bunga cengkeh, kabarnya dilakukan orang Rejang, setelah mendapat informasi dari pedagang-pedangan luar, betapa berharganya tanaman ini. Dengan adanya pengetahuan baru ini, maka orang Rejang pun memanen habis bunga-bunga cengkeh yang ada di kebun atau halaman mereka.

Kisah Padi Menangis di Tanah Rejang

Marga Merigi 1920-an:

Diperkirakan pada 1920-an adalah masa pertama orang Rejang memanen cengkehnya, setelah ditanam kurun 1900 atau 1910 lalu. Cengkeh dipanen, berbarengan dengan musim tuai padi.  Cengkeh dan padi pun dijemur berdampingan di halaman rumah.

Sebagaimana padi, cengkeh pun harus dijemur. Penjemuran ini bertujuan membuatnya kering dan rendah kadar air. Padi harus kering, agar saat ditumbuk bisa mendapatkan beras yang bernas dan keras. Sementara cengkeh harus pula dijemur, agar bunga cengkeh yang dipetik bisa menjadi bijian kering yang beraroma harum dan tahan lama. 

Saat tengah menjemur, hari mendung dan tak lama kemudian hujan mulai turun, dan sepertinya akan segera menjadi deras. Orang-orang pun berlari-lari untuk segera mengumpulkan jemuran cengkeh dan padi agar tidak kehujanan.

Cengkeh (Sizygium aromaticum). Sumber gambar ranaipos.com

Di sinilah kesalahan itu mulai terjadi. Padi yang mendapat tempat terhormat di Tanah Rejang, bukan yang pertama kali dikumpulkan. Sebaliknya, lebih memikirkan sebagai komoditas yang dijual dengan harganya yang tinggi, orang-orang mengumpulkan lebih dulu jemuran cengkeh, lalu dengan cepat membawanya ke bawah panggung rumah agar tidak kehujanan. 

Padi yang hampir kering pun menjadi kehujanan, karena hujan turun dengan cepat, sementara orang-orang lebih memilih cengkeh untuk dilindungi. Orang-orang sepertinya berpikir, jika padi akan kembali kering jika dijemur lagi saat matahari muncul lagi nanti atau besok hari.

Hujan turun hingga malam hari. Padi pun basah semalaman, terlungguk di tikar pandan di bawah kolong rumah.  Baru esok harinya padi bisa dijemur kembali.

Beberapa hari kemudian, padi pun kering dan siap untuk ditumbuk. Keanehan-keanehan pun mulai tampak. Pertama, saat padi di-irik (meremas padi dengan cara mengurut-urut padi dengan telapak kaki, guna memisahkan gabah dari tangkainya), padi terasa keras, sulit untuk memisah gabah-gabah dari tangkainya.

Pada saat ditumbuk, ternyata padi hampa semuanya. Di dalam kulitnya kosong sama sekali, tak ada titik putih beras sama sekali.

Keanehan lainnya, padi-padi menghilang dari lumbung. Padi-padi yang telah dituai, tetapi belum dijemur selalu disimpan dalam lumbung. Ketika membuka lumbung, gundukan padi-padi itu telah susut, apa yang ada dalam lumbung banyak berupa tangkai-tangkai padi yang tidak ada lagi padinya.

Kemana padi-padi itu pergi? Dicuri oleh orang lain?

Jelas itu tidak mungkin terjadi, karena kesakralannya, tidak akan pernah terjadi peristiwa pencurian padi oleh orang Rejang. Padi-padi di petak ladang pun saat masa-masa tuai tidak pernah dijaga saat malam. Selain di Rejang, di wilayah Pasemah dan Serawai yang juga begitu menghormati padi, pun tidak akan pernah terjadi padi di ladang dicuri atau dirusak oleh tangan manusia.  

Beberapa warga juga melaporkan, saat menjemur, mereka melihat ikatan-ikatan padi itu bergerak-gerak sendiri, seperti meloncat-loncat. Penduduk mengatakan, padi-padi itu terlihat seperti orang yang tengah ketakutan. 

Malam hari, di sudut-sudut dusun-dusun yang memang gelap terdengar suara-suara seperti tangisan-tangisan perempuan. Dari lumbung-lumbung terdengar jelas suara itu. Suara itu mengalun-alun dibawa angin terdengar begitu memilukan. Beberapa orang yang berani mencoba mendekati sumber suara itu, namun mereka tidak melihat siapa pun. Suara itu menghilang ketika didekati, lalu muncul kembali saat orang-orang menjauh.

Peristiwa padi menjadi hampa, hilang dari lumbung dan juga suara-suara tangian, ternyata terjadi juga di beberapa dusun lain di Marga Merigi, seperti di Suro dan Durian Depun. Masyarakat pun menjadi gelisah dan ketakutan. Apa yang telah terjadi? Mungkinkah malapetaka sebuah "kutukan" telah jatuh pada mereka?

Menghadapi situasi itu, maka beberapa tokoh dari dusun-dusun di Marga Merigi berembug. Hasil rembugan itu mereka memutuskan akan ke Rindu Hati, untuk mendapatkan kejelasan apa yang terjadi. Di dusun Rindu Hati, setelah menjalani beberapa ritual, mereka menyadari, bahwa mereka telah membuat padi-padi menangis. Padi telah marah kepada orang-orang di Merigi. Semangat pada padi telah hilang.

Pangkal masalah, tak lain karena orang-orang telah mendahulukan cengkeh untuk diangkat ketika hari hujan. Atas kesalahan itu, maka orang-orang Rejang harus meminta maaf kepada padi, untuk mengembalikan semangat padi itu.

Dengan dipimpin oleh sesepuh Rindu Hati, maka dilaksanakan sebuah ritual minta maaf orang Merigi kepada padi. Sebakul gabah yang telah didoakan oleh penghulu padi rindu Hati dan iman masjid Rindu Hati diberikan kepada orang dari Merigi. Gabah ini nanti akan dicampurkan dengan gabah-gabah yang dipersiapan untuk menjadi bibit pada penanaman berikut. 

Permintaan maaf itu dipercaya telah meredam tangisan padi dan kemarahannya kepada orang Rejang. Terbukti dengan masa panen berikutnya, padi kembali memberikan hasil yang baik, bulir-bulir bernas padat berisi.

Setelah kejadian-kejadian itu, orang Rejang di Merigi tidak pernah lagi menomorduakan jemuran padi saat turun hujan, jika padi itu dijemur bersama yang lainnya. Konon pula, sejak itu juga orang Rejang tidak pernah ingin lagi memetik cengkeh dalam dalam jumlah besar untuk dijual. Cengkeh yang dipetik dan dijemur biasanya tidak lebih dari setalam kecil, hanya untuk kepentingan dapur sendiri. Pun, hingga hari ini memang tidak ada orang-orang Rejang yang membudidayakan cengkeh secara luas, walaupun mereka tahu jika cengkeh memiliki nilai ekonomi yang bagus.

Narasumber:
Ibu Hapiah, usia 68 tahun, domisili Taba Tebelet-Kepahiang. Wawancara pada 3 Agustus 2021
Emong Soewandi
Emong Soewandi Blogger sejak 2014, dengan minat pada sejarah, sastra dan teater

8 comments for "KISAH PADI MENANGIS DI TANAH REJANG"