Skip to content Skip to sidebar Skip to footer

BENGKULU KETIKA KRAKATAU MELETUS, 1883

Satu lukisan tertua Krakatau, circa 1670
From the Secret Atlas of the East India Company, 1670

Krakatau Meletus

Letusan Gunung Krakatau tahun 1883 adalah salah satu letusan gunung berapi paling dahsyat yang pernah tercatat dalam sejarah. Letusan ini terjadi di Selat Sunda, antara pulau Jawa dan Sumatra, dan menewaskan lebih dari 36.000 orang.

Letusan Krakatau dimulai pada tanggal 20 Mei 1883, dan berlangsung selama lebih dari lima bulan. Letusan terbesar terjadi pada tanggal 27 Agustus 1883, dan menghasilkan suara yang terdengar hingga lebih dari 3.000 kilometer jauhnya. Ledakan tersebut juga menghasilkan gelombang tsunami yang melanda pesisir Jawa dan Sumatra, dan menewaskan lebih dari 36.000 orang.

Letusan Krakatau juga memiliki dampak yang signifikan terhadap iklim dunia. Abu vulkanik yang dimuntahkan ke atmosfer menutupi matahari selama beberapa tahun, dan menyebabkan suhu global turun hingga 1,2 derajat Celcius. Dampak ini dirasakan di seluruh dunia, dan menyebabkan gagal panen dan kelaparan di banyak negara.

Letusan Krakatau adalah salah satu bencana alam paling dahsyat yang pernah terjadi dalam sejarah. Letusan ini memiliki dampak yang sangat besar terhadap kehidupan manusia dan lingkungan, dan merupakan pengingat akan kekuatan alam yang tidak dapat dikendalikan.

lukisan litografi Krakatau meletus, 1883

Rogier Diederik Marius Verbeek (7 April 1845, Doorn - 9 April 1926, Den Haag) adalah seorang ahli geologi dan ilmuwan alam berkebangsaan Belanda.

Karyanya yang paling terkenal adalah jurnal Krakatau, yang diterbitkan pada tahun 1884 dan 1885 atas perintah Gubernur Jenderal Hindia Belanda. Jurnal ini membahas tentang erupsi gunung berapi Krakatau pada tahun 1883 dan menjadikan vulkanologi sebagai ilmu yang menonjol secara ilmiah. Dua tahun sebelumnya, Verbeek telah melakukan penelitian di daerah tersebut. Tinggal di Buitenzorg di Jawa, dia adalah saksi langsung letusan tersebut. Dalam film dokumenter BBC Krakatoa: The Last Days, dia adalah protagonis dan diperankan oleh Kevin McMonagle.

Pada tahun 1909, ia memperoleh gelar doktor kehormatan dari Delft University of Technology. Dia adalah anggota kehormatan Koninklijk Nederlands Geologisch Mijnbouwkundig Genootschap dan anggota Maatschappij der Nederlandsche Letterkunde

 Dampak Letusan Krakatau di Wilayah-Wilayah Bengkulu

Kontrolir Krui (Krui pada masa ini masih menjadi bagian Keresidenan Bengkulu- ES), D. W. Hort melaporkan, pada 26 Agustus 1883, di pusat kota Krui, sejak pukul 3 sore, suara seperti tembakan meriam terus terdengar di arah tenggara, bergantian dengan gemuruh seperti guntur. Suara-suara itu disertai getaran dan guncangan, yang membuat rumah bergetar bergoyang. Suara letusan ini terus terdengar hingga lewat magrib.

Selanjutnya, pada pukul 3 dini hari, 27 Agustus 1883, mulai terjadi hujan abu tipis turun. Suara-suara letusan yang telah berkurang setelah matahari terbenam, kembali terdengar dan meningkat intensitasnya.

Mulai pagi hari, di perairan di sekitar Krui hingga Pulau Pinang, laut terlihat tidak gelombang dan juga terlihat surut lebih jauh dari biasanya. Langit keabu-abuan dan matahari tertutup. Hujan abu halus masih terus turun.  Kota pun telah diselimuti lapisan abu berwarna kekuning-kuningan setelah 4 mm. Di mana-mana tercium aroma belerang.

Antara pukul 8 sampai 10 pagi, suara-suara gemuruh letusan tak terdengar lagi, namun hujan abu masih turun. Suhu di termometer menunjukkan  22° C, suhu yang lebih dingin dari biasanya di Krui.

Pukul 10, langit benar-benar gelap. Kontrolir menggambarkan, jika di dalam rumah, tidak ada yang bisa dilihat untuk menulis. Udara di mana-mana disinari oleh kilat, disertai dengan gemuruh guntur terus-menerus. Kegelapan semakin meningkat.

Pada pukul 11 jam, kegelapan menjadi lebih pekat dari malam hari. Hujan abu yang jatuh telah lebih tebal. Kontrolir memerintahkan agar pintu-pintu dan jendela rumah-rumah harus ditutup. Semua celah ditutup untuk mencegah masuknya abu halus. Beberapa atap rumah telah terancam runtuh karena beban beratnya abu yang terus jatuh.

Pukul 12, kegelapan tebal menyelimuti kota, walaupun abu yang jatuh telah lebih halus. Namun, gemuruh guntur dengan jeda pendek belum berhenti, diselingi oleh ledakan berderak.  Udara masih dingin, seperti yang ditunjukkan termometer suhu 22,7° C.

Melalui laporan Kontrolir Krui, dapati diketahui bahwa di utara Teluk Belimbing, gelombang besar yang disebabkan oleh letusan Krakatau menyebabkan beberapa kerusakan di Desa Bengkunat. Beberapa rumah dilaporkan runtuh, namun  tidak ada korban jiwa yang dilaporkan.

Pantai Mengering di Bengkulu

Berdasarkan laporan-laporan warga yang dicatat oleh Verbeek, di Bintuhan, distrik Kaur, pada sore hari 27 Agustus 1883, terjadi kenaikan gelombang laut, hingga jauh memasuki muara Sungai Sambat. Ombak telah naik setinggi 2 meter, juga menyebabkan jalan ke arah Kedurang digenangi air laut.

Sebelas jam setelah letusan pertama, di Manna, dilaporkan laut tidak surut sampai sekitar jam 10. Ketinggian air di pantai naik lebih dari biasanya hingga mencapai 1 meter. Namun, air tidak sampai memasuki kota, karena letak kota Manna cukup tinggi dari permukaan laut.

Kenaikan air yang cukup tinggi terjadi di Pino. Air laut naik hingga mencapai 3 meter, menggenangi wilayah hingga 2 kilometer dari garis pantai. Sawah-sawah yang berada di pesisir Sungai Pino terendam dan mengalami kerusakan total.

Verbeek melaporkan, berdasarkan pengamatan beberapa orang, bahwa di Bengkulu, pada pukul 11, 27 Agustus, laut surut sangat jauh, sehingga pantai menjadi kering sepenuhnya dengan lebar 50 meter lebih. Air kembali naik, lalu kembali surut. Pasang naik dan surut ini terjadi berulang-ulang hingga malam 28 Agustus.

Pada saat air surut pukul 11 itu, ketika pantai kering, banyak ikan dan kura-kura tertinggal di pasir dan ditangkap oleh penduduk. Penduduk melaporkan juga, ada dua ikan duyung kandas di pasir pantai, yang juga ditangkap oleh mereka. Verbeek mengatakan, bahwa duyung yang dimaksud oleh mereka ini sebenarnya adalah sapi laut (dugong, dugong dugon).

Setelah jam 11 pagi, 27 Agustus, gelap mulai menyelimuti Bengkulu. Pada tengah hari, suasana telah gelap, diikuti mulai turun abu, hingga pukul 11 keesokan harinya.

Berdasarkan laporan resmi Residen Bengkulu, di wilayah pantai barat mencakup Muko-Muko hingga Distrik Inderapura tidak terlihat abu jatuh. Di utara Muko-Muko angin telah membawa hujan abu berbelok melintasi Sumatra dan menuju wilayah Jambi.

Referensi:

Verbeek, R.D.M. Krakatau. Publie Par Ordre de Son Excellence Le Gouverneur-General Des Indes Neerlandaises. Batavia: Imprimerie de L'Etat, 1886



Emong Soewandi
Emong Soewandi Blogger sejak 2012, dengan minat pada sejarah, sastra dan teater

Post a Comment for "BENGKULU KETIKA KRAKATAU MELETUS, 1883"