Skip to content Skip to sidebar Skip to footer

AJAK SISWA KITA MENULIS PUISI

Ilustrasi

Pada suatu kegiatan Musyawarah Guru Mata Pelajaran (MGMP) bidang studi bahasa dan sastra Indonesia, tiga guru muda ditanya oleh tutor tentang pandangan mereka dalam kegiatan mengajarkan atu melatih penulisan dan pembacaan puisi kepada siswa.

Guru pertama menjawab: “aku kurang begitu bisa. Waktu kuliah tidak ikut-ikut sanggar atau teater, juga ‘kan waktu kuliah banyak yang bersifat teoritis.”

“Kalau begitu, nanti kita belajar sama-sama,” jawab sang tutor.

Guru kedua menjawab: “aku bisa, tapi kurang PD.”

“Nah, ini,” kata tutor kita. “Sering saya mengatakan, agar seorang guru bahasa dan sastra Indonesia di depan siswanya harus “genit”.

Guru ketiga menjawab: “aku kurang suka sastra.”

“Anda membutuhkan psikolog atau psikiater,” jawab sang tutor tanpa perlu berpikir lama lagi.

Anak dan Puisi

Menulis puisi selama ini yang dilaksanakan di kelas pada umumnya bersifat teroritis informatif. Siswa menulis puisi hanya karena penugasan yang diberikan oleh guru. Sedikit siswa yang menyukai menulis puisi, karena tidak memiliki dasar praktis yang bisa mereka pergunakan dalam mengolah imajinasinya. Sementara guru pun sering tidak tahu bagaimana cara mengajarkan mencipta puisi untuk siswa. Pun, penugasan yang diberikan oleh guru seringkali bersifat sangat verbal, di mana guru hanya meminta siswa menulis puisi tentang sesuatu yang diminati mereka, atau juga guru mengajak siswa berjalan-jalan ke luar kelas, mengamati fenomena yang ada, kemudian guru menugasi siswa menuangnya dalam puisi.

Hal ini kemudian membuat puisi pun menjadi berjarak dengan kehidupan siswa. Sementara menulis puisi tidak dapat dipisahkan dengan kehidupan dan diri siswa. Dunia siswa atau anak adalah dunia imajinasi, sementara puisi adalah salah satu ranah penuangan imajinasi yang paling kaya. Karena itu, imajinasi siswa perlu diarahkan dan dibimbing, dimulai oleh guru, yang pada akhirnya siswa sendiri akan dapat melakukannya.

Ada tiga kondisi potensial pada siswa dalam pembelajaran sastra, yang sebenarnya menjadi modal kuat bagi guru untuk mengajarkan sastra, khususnya puisi kepada siswa, namun jika diarifi pun akan menjadi persimpangan.

Siswa memiliki imajinasi yang luas. Guru memang mengakui kondisi ini, hingga guru pun membiarkan siswa berimajinasi seluas-luasnya. Ini benar, tetapi kurang tepat, karena dalam proses belajar mengajar agar pembelajaran pun lebih kognitif, lebih baik guru memberikan tanpa ruang lingkup bagi kegiatan siswa berimajinasi.

Siswa memiliki pengalamannya sendiri. Harus disadari oleh seorang guru, bagaimana lingkungan kehidupan dan lingkungan belajar siswa, agar pembelajaran dapat menjadi kontekstual. (Jangan terlalu terpaku dengan buku paket yang sering tidak begitu kontekstual dengan siswa); dan

Siswa memiliki mobilitas kehendak. Tentu dalam menghadapi kondisi potensial ini, guru membimbing siswa dalam PROSES mencapai tujuan belajar, bukan menentukan TUJUAN yang harus dicapai dan apa yang harus dilakukan oleh siswa.

Sebuah Model Pembelajaran Puisi: Teknik Pencitraan
Metode pencitraan imajinatif pada tulisan ini berangkat dari diri siswa sendiri, yakni alat inderawi siswa. Metode ini mengajak siswa berekreasi dalam dunia imajinasi mereka sendiri. Siswa melihat, mendengar, merasakan, membaui dan mengecap sebuah tempat dan peristiwa dalam imajinasi, sehingga siswa tidak perlu diajak ke obyek nyata, di mana sebelumnya siswa diajak untuk lebih kenal dan dekat dengan alat-alat inderawi mereka dan citra yang dihasil oleh indera mereka tersebut. Metode pun ini kontekstual, karena mengacu pada alam dan peristiwa yang dikenali dan dari mana siswa itu berasal.

Konteks Implementasi
Pembelajaran mencipta puisi dengan metode pencitraan imajinatif ini diarahkan pada siswa kelas VIII semester III. Penerapan empirik pernah penulis lakukan di SMP Negeri 2 Kepahiang dan di beberapa sanggar drama dan teater yang ada di Kota Bengkulu. Implementasi metode pada pembelajaran menggunakan media yang sederhana, yaitu kartu obyek (nama tempat dan peristiwa) dan alat tulis kelas dan siswa. Implementasi pembelajaran metode ini dapat disesuaikan dengan konteks kehidupan siswa.

Perencanaan dan Pelaksanaan
Pembelajaran menulis/mencipta puisi dengan metode pencitraan ini dilaksanakan selama 120 menit. Tujuan yang ingin dicapai adalah agar siswa dapat menyusun sebuah puisi berdasarkan pencitraannya terhadap alam dan lingkungan sekitarnya. Secara umum, media pembelajaran pada metode ini hampir tidak ada, hanya alat tulis seperti papan tulis dan spidol/kapur tulis serta beberapa gulungan kertas kecil. Sedangkan sumber pembelajaran adalah pengalaman dan imajinasi siswa.

Dalam pelaksanaannya, media yang dipakai guru dalam memberikan contoh cukup alat tulis dan papan tulis yang ada dalam kelas. Di papan tulis guru menuliskan satu kata yang berhubungan dengan nama tempat, nama peristiwa atau nama orang. Misalnya guru menulis kata ‘sawah’. Guru kemudian meminta kepada siswa untuk melakukan pencitraan terhadap tempat tersebut, di mana siswa diajak ‘seolah-olah’ berada di tengah sawah. Guru mengajak siswa bermain imajinasinya, dengan mengajak melihat, mendengar, merasakan, membaui dan mengecap segala sesuatu yang ada “di sekeliling” mereka. Dari pencitraan imajinatif tadi, kemudian guru bertanya kepada siswa.

Dari hasil pencitraan imajinatif, maka guru dan siswa telah mendapatkan sebuah “puisi mentah”. Tugas berikut adalah mematangkan puisi tersebut, di mana guru bersama siswa kembali merekonstruksi puisi mentah tersebut, agar tercapai rima dan unsur simboliknya. Seperti larik /padi menguning seperti emas//hamparan padi di kaki langit//alam yang begitu elok/, siswa harus diingatkan oleh guru bahwa kata /padi/ disebut berulang dan hendaknya dalam puisi yang baik tidak terdapat repetisi. Siswa boleh mengganti atau mencari kata-kata yang lebih tepat agar rima tercapai, baik rima secara asosansi, aliterasi, rima awal maupun rima akhir.

Puisi umumnya memiliki struktur kalimat yang padat, karena itu dalam kegiatannya nanti, guru membimbing siswa untuk “menggambar beberapa peristiwa” dalam kalimat yang padat dan simbolik. Larik /padi menguning seperti emas//hamparan padi di kaki langit//alam yang begitu elok/, jika direkonstruksi akan berbunyi /hamparan emas di kaki langit/ atau /emas di kaki langit//alam nan elok/.

Sebelum siswa bekerja, pesan terpenting dari guru adalah agar siswa harus benar-benar berada dalam ‘obyeknya’, di mana kelompok kerja atau siswa nantinya dapat saja tiba-tiba menjadi ‘jauh’ atau berada di luar kelasnya. Selama kegiatan berlangsung, pun guru dapat saja mendorong dan memotivasi, bahkan mensugesti siswa tentang tempat dan keberadaan mereka saat itu, sehingga terjadi suasana teaterikal atau keadaan yang didramatisasikan.

Pembahasan

Proses pembelajaran mencipta puisi dengan menggunakan metode pencitraan imajinatif memberikan pengalaman baru pada siswa. Hal ini disebabkan karena metode ini belum pernah dialami oleh siswa. Dari pengalaman-pengalaman, pencitraan dalam pembelajaran puisi hanya diterapkan pada kegiatan siswa memahami puisi, dan belum pernah diterapkan dalam pembelajaran mencipta puisi.

Pencitraan imajinatif mengajak siswa benar-benar berada pada obyek yang ada dalam imajinasi mereka. Siswa tidak hanya sekedar memanggil pengalaman mereka, namun ‘memang’ kembali dan sedang mengalami pengalaman itu. Siswa melihat burung yang sedang terbang, atau merasakan angin dingin malam yang mengusap tubuh, mendengar air berlomba-lomba menuruni jurang atau membaui sampah yang busuk di sekitar mereka.

Keunggulan lain metode ini adalah dapat dilaksanakan secara kelompok maupun individual. Untuk siswa kelas VII metode ini lebih baik dipergunakan secara kelompok, namun dalam kelompok kecil (3 – 4 orang siswa), di mana masing-masing-masing siswa dapat saling mengingatkan fungsi dan citra dari alat indera temannya. Sementara untuk kelas VIII telah bisa dilakukan secara sederhana. Sedangkan untuk kelas IX, selain secara individul, tingkat kerumitannya juga dapat dinaikkan dengan memberikan obyek-obyek yang abstrak.

Guru hendaklah selalu mengingatkan kepada siswa, bahwa mereka telah berhasil mencipta puisi. Tidak ada puisi yang gagal. Metode pencitraan imajinatif telah mengarahkan dan membimbing imajinasi siswa. Pada gilirannya, guru pun mengajak siswa untuk merekonstruksi ‘puisi’ yang telah dibuat oleh siswa tersebut. Layaknya sebuah rumah yang baru dibangun, puisi juga harus dibenahi, dihiasi dan lebih diperindah lagi.

Penutup

Tulisan ini berangkat dari karya tulis dari penelitian tindakan kelas yang pernah dilakukan penulis. Metode pencitraan dapat dipergunakan untuk melatih siswa dalam mencipta puisi. Metode ini berangkat dari citra yang ditangkap oleh alat-alat indera siswa dari sebuah tempat atau peristiwa dalam imajinasi siswa. Metode ini memadukan antara pengalaman fisik dan pengalaman batin siswa, di mana faktor-faktor imajinasi dan pengalaman inderawi siswa dapat serentak dilakukan.

Metode ini dapat mencipta suasana kelas yang dramatik dan teaterikal, karena permainan imajinasi siswa. Siswa akan berbuat seolah-olah memang berada pada obyek dalam imajinasi yang dipandu dengan pertanyaan dan pernyataan pencitraan alat indera mereka. Dari segi kosa kata, metode ini juga dapat memperkaya siswa dalam menentukan kata-kata yang spesifik yang berhubungan dengan alat indera mereka.

dipersiapkan sebagai makalah pada Seminar Sastra Nasional di Universitas Bengkulu, 11 April 2011, disarikan dari Makalah dengan judul Pencitraan sebagai Teknik Inovatif Untuk Mengajarkan Penulisan Puisi Bagi Siswa. Makalah non-CTL untuk Simposium Nasional Guru Mata Pelajaran Bahasa dan Sastra Indonesia, Cisarua, Oktober 2006

Emong Soewandi
Emong Soewandi Blogger sejak 2014, dengan minat pada sejarah, sastra dan teater

Post a Comment for "AJAK SISWA KITA MENULIS PUISI"