Skip to content Skip to sidebar Skip to footer

MELIHAT KREATIVITAS “PENYAIR-PENYAIR" BENGKULU

Sebelumnya adalah makalah untuk Seminar dalam rangka Pameran dan Pergelaran Seni Se-Sumatera X (PPSS) di Pekanbaru-Riau, 23 November 2007


Saya berani mengatakan, bahwa adalah pembohong besar seseorang yang menyatakan bahwa ada puisi yang gagal (jadi puisi). Bagaimanapun juga, puisi tetap ada sebagai puisi, sebagai jembatan antara pembuatnya dengan dunia “sana” – dunia imajinasinya. Tak seorangpun bisa menghalangi transendensi seorang melalui puisi yang ditulisnya. Kita dapat saja mengatakan bahwa puisi ini rimanya kurang baik, puisi itu iramanya tidak menciptakan pesan, suasananya tidak tercapai, tetapi kita tidak bisa mengatakan puisi ini jelek atau puisi ini gagal.

Sebagai hasil perenungan puisi tidak pernah gagal!

Saya bicara tentang orang-orang yang menulis puisi dengan penuh kesungguhan. Mereka yang menerima utuh bahwa menulis puisi adalah pekerjaan serius. Saya berbicara tentang mereka yang menyiapkan, walau sedikit waktu, dan tenaganya untuk menggarap serentetan kata-kata, kemudian untuk memastikan diri bahwa hasil kerja itu telah tiba pada cita-citanya. Dan kemudian dengan penuh penyesalan, karena masih merasa bahwa puisinya belum sempurna, dia mempublikasikannya.

--------------------------------------------

Melalui perangkat-perangkat teori sastra yang kita kuasai, kita memang dapat menilai suatu puisi, dari hal pilihan kata, rima, irama, hingga pada kemauan.pembuatnya yang ingin disampaikan pada puisi tersebut. Menilai puisi a priori merupakan pekerjaan ilmiah, hingga banyak lahir sarjana, hingga professor kepala botak muncul karena menilai puisi. Namun kebalikannya, dengan ribuan teori sastra, para sarjana sastra atau itu profesor berkepala botak itu pun belum tentu mampu membuat sepotong puisi pun. Belum ada teori apapun yang dapat memberikan klaim tentang cara-cara menulis puisi yang baik.

Kita dapat mengatakan sekarang, orang dapat menilai puisi tanpa harus dia bisa membuat puisi, dan orang yang menulis puisi pun tidak harus dia pula menguasai teori sastra. Menilai puisi adalah proses ilmiah, sedangkan membuat puisi adalah proses kreatif.

Kita dapat memasuki ranah ilmiah itu dengan cara belajar, membaca dan menulis. Namun untuk memasuki ranah kreativitas, maka kita memerlukan kehendak, dengan tanpa mengenyampingkan bakat, karena bakatpun hanya akan imanen jika tidak ada kehendak yang mengembangkannya.

Apa maksud kehendak itu?

Kita yakin, bahwa sebuah puisi lahir pada awalnya adalah hasil spontanitas sebagai respon terhadap fenomena yang kita terima melalui panca indera dan perasaan. Sebatas ini kita telah dapat menyatakan bahwa sebuah puisi telah lahir. Namun, tahap berikutnya diperlukan kehendak untuk menjadikannya utuh sebagai sebuah puisi. Misalnya terhadap sebuah puisi yang lahir dari hasil spontanitas tersebut, si tukang berkehendak untuk merenunginya lagi, berkehendak menggali kosa kata yang dimilikinya untuk memilih kata-kata yang lebih mewakili gambaran dalam fikirannya.

Puisi dapat lahir dengan sendirinya, sebagai respon spontan, namun puisi tidak dapat menyusun dirinya secara langsung. Puisi yang lahir harus disusun, dibongkar dan disusun lagi. Dan dapatkan kita sekarang memberikan batasan untuk menentukan cara menyusun puisi yang baik sekarang?

Tidak! Kita tidak dapat memberikan batasan itu. Bahkan seperangkat teori pun tidak akan mampu menggugurkan puisi menjadi bukan puisi. Dunia puisi adalah dunia perenungan, di mana hanya perjalanan hidup dan pengalaman pribadi yang dapat membatasi perenungan seseorang.

Tetapi terakhir, saya ingin menyatakan, bahwa seorang pernyair adalah seorang yang tak percaya bahwa karyanya telah selesai. Sehingga, kita pun tidak mungkin mengatakan ada puisi yang gagal, karena yang kita hadapi adalah sebuah proses yang (memang) belum selesai dan masih berlangsung. Diperlukan kritikus yang arif dan pembaca yang bijak untuk meneruskan proses untuk kemudian mereproduksikan puisi tersebut sebagai pengetahuan yang utuh.

Penyair Bengkulu “Ada”-kah? 

Tulisan saya di atas secara jujur adalah sebagai perenungan saya terhadap kehidupan sastra dan orang-orangnya di Bengkulu. Sungguh, dengan harus menahan rasa malu, saya akui, cukup mudah untuk menjadi penyair di Bengkulu. Cukup dengan membuat puisi barang beberapa potong lalu antologikan, maka jadilah penyair.

Secara umum, secara kuantitas telah banyak antologi puisi “penyair” Bengkulu. Ini cukup menggembirakan, karena setidaknya puisi dan penyairnya telah memiliki sepetak lahan yang kecil dalam keriuhan pembangunan fisik dan material di provinsi Bengkulu ini.

Tetapi nyatanya, beberapa orangkah penyair Bengkulu yang dikatakan “ada”?

Tidak juga mudah untuk menjawab “ada” ini. Satu pihak berpandangan bahwa dia ada, jika telah menerbitkan antologi, baik sendiri maupun bersama-sama. Di lain pihak mengatakan bahwa ada itu harus dilihat dengan banyak jaringan penyair atau korespondensi antar penyair di luar Bengkulu yang ia miliki. Atau juga penyair dikatakan ada jika telah lolos publikasi di media-media besar dengan jangkauan seluruh Indonesia.

Jika ukurannya adalah kuantitas antologi, maka penyair Bengkulu memang ‘ada’. Namun, bukankah antologi secara hakikat merupakan makam pahlawan sang penulis puisi? Semua proses panjang perjalanan dan perjuangan melahirkan sebuah puisi akan berakhir pada antologi. Pada nisan tertulis nama penyair dan kolofon puisi-puisinya. Dan setelah dimakamkan, maka sang penulis puisinya purnalah sudah, dia menjadi seorang sarjana kehidupan dengan gelar penyair. Tugasnya kini adalah menunjukkan sebuah tanggung jawab, bahwa dia memang layak untuk disebut sebagai seorang penyair.

Namun, kebalikan dari semua kondisi dan parameter di atas, saya ingin menekankan, bahwa ukuran akhir seorang penyair atau seniman Bengkulu adalah imanensi tanggung jawab terhadap dunia kesenian yang adalah di sekitarnya. Mereka ingin berbuat agar dunia kesenian di Bengkulu jangan sampai padam, “di tengah-tengah harga BBM yang tinggi”. Tak terpikirkan untuk populer, tak terpikirkan bahwa dunia kesenian bisa menjadi sumber nafkah, dan tak terpikirkan untuk menasional.

Kepahiang, Media November 2007
Emong Soewandi
Emong Soewandi Blogger sejak 2014, dengan minat pada sejarah, sastra dan teater

Post a Comment for "MELIHAT KREATIVITAS “PENYAIR-PENYAIR" BENGKULU"