Skip to content Skip to sidebar Skip to footer

TENTANG POT SERBA LIMA RIBU

Ilustrasi

Serba Lima Ribu

Apa yang kita pikirkan, ketika melihat tulisan: SERBU alias SERBA 5 RIBU. Tulisan itu, baik yang rapi dicetak dengan banner atau ditulis dengan spidol di atas potongan kardus seperti menegaskan semua barang yang dijajakan oleh pedagang seharga 5 ribu rupiah saja.

Seiring dengan gairah masyarakat bertanam bunga, walau seiring juga dengan berita-berita resmi yang mengatakan daya beli masyarakat menurun, namun banyak bermunculan pedagang-pedagang "baru" yang menjual pot. Rata-rata pedagang itu mengikuti aliran serbu. Tidak begitu perlu ada bangunan toko, cukup ada lahan kosong sedikit di tepi jalan raya, akan ada saja pedagang pot yang menggelar barang dagangannya.

Dengan sebuah mobil bak terbuka, pedagang itu juga mampu menjangkau desa-desa yang jauh dari pasar, karena trend menanam bunga juga sudah bukan lagi hanya milik masyarakat perkotaan. Bisa kita lihat sekarang di desa-desa, tak hanya ibu-ibu, termasuk kaum bapak, sepulang dari kebun ada saja bunga-bungaan yang diangkut dari hutan di sekitar kebun mereka. Keladi-keladian (Caladium sp.) yang tentram hidup di pinggir-pinggir kebun, tak menarik perhatian, sudah tidak mudah menemukannya lagi.

Belum lama berselang, ada berita tentang seorang suami yang hilang 3 hari 3 malam. Awalnya sang suami pergi menggembala kerbau, teringat keinginan istri untuk memiliki kembang janda bolong (Monstera adansonii), ia pun masuk hutan. Selanjutnya terjadilah, ia tersesat, hingga ditemukan warga dalam kondisi lemah. Janda bolong pun tidak ia dapatkan.

Kembali ke masalah pot serba 5 ribu. Tunggu dulu, jangan terlalu pede membawa uang 10 ribu rupiah berharap bisa dapat 2 buah pot besar. Apa yang dimaksud dengan serba 5 ribu itu, sebenarnya hanya untuk sekelompok barang yang harganya memang 5 ribu rupiah, umumnya untuk pot berdiameter 10 cm.. Sementara untuk pot-pot lain yang ukuran lebih besar tentu saja tidak lagi berharga 5 ribu rupiah. Tulisan 5 ribu rupiah itu sudah tidak ada gunanya, karena barang memang seharga itu.

Singkatnya, tidak pernah ada pedagang yang menjual semua barangnya seharga 5 ribu rupiah saja. Untuk adil dan jujur, seharus pedagang itu juga harus meletakkan tulisan harga bagi barang-barang lainnya. Ada kelompok serba 5 ribu, ada kelompok serba 10 ribu dan seterusnya.

Namun, setidaknya tujuan tulisan itu tercapai juga, yaitu mengumpulkan pembeli. Pembeli yang berharap semua barang seharga 5 ribu, mau tidak mau akan melihat barang-barang lain juga, walaupun mungkin perasaan masih kesal, karena sebelumnya merasa dibohongi oleh promosi serba 5 ribu itu.

Asal-Usul

Kapan munculnya fenomena serba 5 ribu ini?

Jauh sebelum menjamur pot-pot "bertopeng" serba 5 ribu itu, sudah banyak mata dagangan lain menggunakan trik memancing pembeli dengan harga yang lumayan dapat dijangkau itu. Alih-alih membeli barang dengan harga mahal, namun di toko tersebut kita bisa memperolehnya dengan 5 ribu rupiah saja.

Tentu saja trik berdagang dengan menentukan harga dengan tujuan mendorong pembeli untuk berbelanja lebih banyak, bukanlah sesuatu yang baru dalam dunia perdagangan. Cara-cara memancing pembeli dengan harga murah pastilah keberadaannya sudah cukup lama.

Saya teringat dengan buku cerita anak-anak yang berjudul Si Doel Anak Jakarta, yang dikarang oleh Aman Datuk Madjoindo. Dalam buku yang diterbitkan pertama kali oleh Balai Pustaka pada 1932 itu, diceritakan seorang bocah bernama Si Doel diajak oleh ayahnya ke pasar untuk belanja pakaian karena sebentar lagi akan lebaran. Di pasar, mereka berbelanja di lapak yang semua barang dagangan harganya serba delapan sen. Untuk lebih memastikan, sang pedagang pun terus berteriak-teriak: lapan sen! lapan sen! Baju buat entong, ikat pinggang, topi, kopiah atau kebaya hanya lapan sen!

"Serba-serba" ini juga merambah di mata dagang barang-barang elektronik. Namun, tentu saja tidak mungkin serba 5 ribu. Sesuai dengan jenisnya, maka terdapatlah serba 500 ribu. Gawai-gawai, kamera-kamera berbagai jenis, laptop dan sebagainya dipatok sangat murah. Terutama sekali di Instagram, pedagang-pedagang ini lebih kerap ditemui. Kehati-hatian sangat diperlukan untuk berbelanja di sini, karena telah sering harga 500-an ribu itu hanya modus pedagang-pedagang untuk melakukan penipuan. Lagi pula, secara logika saja manalah mungkin gawai, dari pasar gelap sekali pun, iphone jutaan rupiah bisa diperoleh sehara 500 ribu saja.

Fenomena serba 5 ribu hari ini sendiri diperkirakan mulai marak di 2000 awal, saat booming pakaian-pakaian bekas impor, konon dari Singapura. Di masyarakat pakaian-pakaian bekas ini lebih dikenal dengan sebutan Pakaian Batam, karena memang didistribusikan dari kota di Provinsi Kepulauan Riau tersebut. Hampir di setiap kota (dalam hal ini Provinsi Bengkulu) terdapat lapak-lapak pakaian bekas tersebut.

Kehadiran lapak-lapak pakaian bekas ini benar-benar disambut masyarakat. Harga murah dan kualitas barang yang bagus (walaupun bekas) membuat lapak-lapak itu tidak pernah sepi pembeli.
Ada seorang kawan bisa mengoleksi dasi-dasi fashionable bergengsi tinggi, hasil perburuannya di lapak-lapak itu. Merk-merk dasi dari brand-brand terkenal semacam House of Cuff, Bretel, Louis Vuitton atau Gucci benar-benar terbanting, dari rumah mode atau butik mewah turun derajat ke lapak-lapak berlantai tanah, dari harga ratusan ribu menjadi hanya 5000 rupiah (terbilang lima ribu rupiah saja).

Untuk keperluan wisuda, dilantik jadi pejabat atau mau akad nikah yang membutuhkan stelan jas lengkap, karena desakan waktu dan kondisi dompet yang tipis, maka lapak-lapak pakaian Batam akan sangat membantu. Tak ada yang akan "ngeh" atau peduli anda memakai jas bekas. Sialnya, jas itu atau pakaian-pakaian lainnya banyak juga yang ukurannya tidak pas dengan rata-rata tinggi tubuh orang Indonesia. Jadi, daripada memakai jas kedodoran atau celana panjang kepanjangan, mau tidak mau kita masih keluar biaya sedikit untuk mempermak pakaian itu, kecuali jika memang anda nekad menjadi terlihat seperti karung berjalan. Namun, ini masih sangat membantu, daripada menempa jas yang bisa ratusan ribu, lebih baik mempermak jas Batam itu, apalagi jas-jas itu masih sangat baik dan bermerk tentu saja.

Dengan terbitnya Peraturan Menteri Perdagangan Nomor 51/M-DAG/PER/7/2015 Tentang Larangan Impor Pakaian Bekas, penjualan pakaian-pakaian bekas ini kemudian perlahan meredup. Dengan pertimbangan akan merugikan industri garmen dalam negeri, juga demi menghindari nurturant effect (dampak ikutan) berupa terbawanya bibit-bibit penyakit berbahaya di pakaian-pakaian itu, maka impor pakaian bekas telah dilarang.
-----------------------------------------------------

Peraturan Menteri Perdagangan Republik Indonesia Nomor 51/M-Dag/Per/7/2015 Tahun 2015 tentang Larangan Impor Pakaian Bekas (Permendag 51/2015) menyebutkan, bahwa pakaian bekas asal impor berpotensi membahayakan kesehatan manusia sehingga tidak aman untuk dimanfaatkan dan digunakan oleh masyarakat. Berdasarkan pertimbangan tersebut dan untuk melindungi kepentingan konsumen, perlu adanya larangan impor pakaian bekas.

-----------------------------------------------------

Peluang

Peraturan ini cukup memukul perdagangan pakaian bekas impor. Walaupun tidak serta merta mati, namun dengan larangan ini, perdagangan pakaian-pakaian bekas impor saat ini tidaklah lagi semeriah tahun-tahun terdahulu. Kesulitan mendapatkan stok barang dan prosedur yang panjang serta ancaman hukuman mengakibatkan bisnis ini tidak banyak lagi melahirkan pemain-pemain baru. Sementara pemain-pemain lama pun bisa bertahan berkat masih terjaganya distribusi dari jaringan-jaringan lama, walaupun ada dugaan sebagian distributor sudah banyak yang hanya bisa bermain di lingkaran black market (pasar gelap).Menariknya, di sisi bidang garmen (dalam hal ini pakaian bekas) tidak banyak melahirkan pemain-pemain baru, justru pada hari ini dengan maraknya hobi masyarakat bertanam bunga, maka perdagangan pot pun telah banyak melahirkan pemain-pemain baru. Memang sesuatu yang komplementer, seperti antara kompor minyak tanah dan tali sumbu, demikian juga antara bunga dan pot. Setiap satu bunga artinya satu pot. Sekian bunga sekian pot.

Bunga perlu media, tak pernah peduli dengan apa pun yang menjadi wadah bagi medianya itu. Dia tak akan ambil pusing wadah itu pot mahal, pot murah, ember pecah, kaleng bekas cat, ember buruk sampai polybag. Apa pun wadahnya, tak akan pernah bisa menambah atau memadamkan keindahan bunga, manusia saja yang yang rewel mau wadahnya yang elok-elok.

"Kerewelan" inilah yang kemudian menjadi pangsa para pedagang. Memang, pandemi Covid19 telah memberikan berkah positif. Orang-orang yang banyak berdiam diri di rumah telah disibukkan dengan kesukaan bertanam bunga, sebaliknya, kesukaan itu telah memberikan peluang mata pencarian, dengan munculnya pedagang pot.

Emong Soewandi
Emong Soewandi Blogger sejak 2014, dengan minat pada sejarah, sastra dan teater

Post a Comment for "TENTANG POT SERBA LIMA RIBU"